Dilan 1990

Dilan 1990

Elŝuti Indonesian Subtekston

Eldonaj informoj

Dilan 1990 2018 NF WEB-DL
Komentaĵo de Putra14
Netflix Retail.

Etikedoj

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Publikigita je: 2020-05-13
Elŝutoj: 199
Aŭdhandikapuloj: No

Antaŭrigardo de Indonesian subtekstoj

La unuaj 189 linioj.

Namaku Milea. Milea Adnan Hussein.

Lahir di Jakarta.

Ibuku orang Bandung yang dulu dikenal sebagai vokalis band.

Ayahku seorang TNI Angkatan Darat. Orang Sumatra Barat.

Setelah menikah, mereka pindah ke daerah Slipi di Jakarta.

Tahun 1990, ayahku pindah tugas ke Bandung.

Di Bandung, aku sekolah di salah satu SMA yang ada di Buahbatu.

Dan di sinilah ceritaku dimulai.

Tentang dia yang mengajarkan aku

betapa pentingnya mengucapkan selamat tidur.

[lagu "Dulu Kita Masih Remaja" oleh Pidi Baiq]

- Selamat pagi. - Pagi.

Kau Milea, ya?

Ya.

- Boleh aku ramal? - Ramal?

Ya. Aku ramal nanti siang kita akan bertemu di kantin.

- Mau ikut? - Tidak, terima kasih.

Tapi suatu hari kau pasti akan naik motorku.

Percayalah.

Aku pamit dulu.

Kau tahu, tidak?

Tadi pagi aku diramal sama anak yang naik motor.

Diramal bagaimana?

Katanya akan bertemu dia di kantin.

- Siapa? - Tidak kenal.

Jadi, ke kantin tidak?

Tidak.

Lia, tidak terasa sudah dua minggu kau bersekolah di sini.

Ya.

Lia, aku mau menawarkan untuk menjadi sekretaris kelas.

- Sekretaris? - Nandan ketua kelas.

Ya, aku tahu, tapi kenapa aku?

Sudah, mau saja.

Mau, ya?

Ya sudah, tidak apa-apa.

Permisi.

- Milea, ya? - Ya.

- Ada surat. - Surat?

Dari kawanku.

- Mana Wati? - Sudah ke kantin.

Ya. Aku pamit dulu.

Dia Piyan anak kelas 2 Fisika 1.

- Kau kenal? - Tidak.

"Milea, ramalanku kita akan bertemu di kantin ternyata salah."

"Maaf, tapi aku mau meramal lagi."

"Besok kita pasti bertemu."

- Bukankah besok hari Minggu? - Apa, Lia?

Tidak, tidak apa-apa. Jadi, tugasku sebagai sekretaris apa saja?

- Non, ada tamu. - Cari aku?

Ya, laki-laki.

- Ada undangan. - Undangan apa?

- Bacalah, tapi nanti. - Oke.

- Piyan, bahasa Arabnya? - Apa?

Oh!

Iqro, Milea. Aku pulang dulu.

- Bagaimana tahu rumahku? - Aku juga tahu ulang tahunmu.

- Aku juga tahu siapa Tuhanmu. - Allah.

Sama. Pamit dulu.

Assalamualaikum atau jangan?

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Piyan.

Bismillahirrahmanirahim. Dengan nama Allah.

Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah

pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu.

Kak, telepon dari Kak Beni.

Pacar!

Halo?

Hari itu aku sibuk sekali. Cuci sepatu....

mengobrol lewat telepon sama pacarku yang di Jakarta.

Padahal, yang ingin kulakukan senyum sendiri...

memikirkan undangan ajaib dari Sang Peramal.

Istirahat di tempat, gerak!

Pengumuman kepada anak-anak yang belum membayar iuran SPP bulan September

harap segera melunasinya.

Ayo! Maju!

Bajunya dimasukkan. Ayo.

Pengumuman selanjutnya akan disampaikan oleh Pak Suripto.

Baris, baris.

Bajunya yang rapi.

- Dia lagi. - Siapa dia?

Dilan.

Upacara bendera adalah cara kita bersyukur kepada para pahlawan yang telah gugur.

Negara ini butuh siswa-siswi yang disiplin.

Pagi itu akhirnya aku tahu, nama Sang Peramal adalah Dilan.

...bangsa ini. Upacara, malah tidak masuk.

Kata Rani, Dilan anak kelas 2 Fisika 1.

Anggota geng motor terkenal di Bandung.

Jabatannya di geng motor cukup menyeramkan.

Panglima Tempur.

Serang!

Kau pulang naik angkot? Boleh aku ikut denganmu?

- Ke mana? - Naik angkot.

- Tidak usah. - Tapi angkot buat siapa saja.

- Kau naik motor. - Mudah.

Ini hari pertama aku duduk denganmu.

Milea...

kau cantik.

Terima kasih.

Tapi aku belum mencintaimu.

Tidak tahu kalau sore ini.

Tunggu saja.

Aku ramal, kau akan segera tahu namaku.

Mendengar dia bilang begitu, astaga, aku ingin bilang, "sudah tahu".

"Tidak usah meramal. Lebih baik kau turun."

Kau tahu, semua siswa itu sombong?

Siapa yang mau ke ruangan BP menemui Pak Suripto?

- Siapa? - Cuma aku!

Oh.

Maaf kalau aku mengganggumu.

Itu angkotmu.

Tadi aku cuma mengantar. Takutnya ada yang ganggu.

Ya.

Kiri!

Setelah dia pergi, anehnya aku merasa bersalah bersikap judes.

Dia pasti kesal.

Pada dasarnya dia cukup asyik dibandingkan Beni, pacarku di Jakarta yang monoton

yang kalau memberi puisi, menjiplak dari buku Khalil Gibran

atau majalah remaja.

Aneh. Kenapa juga aku harus membandingkan si Peramal dengan Beni?

Itu Ridwan, di sampingnya Hanafi.

Nah, kalau yang ini Jenar, terus itu Revi.

Lia, ada surat.

Surat dari siapa?

Ini, terus yang duduk di sini siapa?

Sudah, nanti saja dilanjutkan sudah mau bel.

Oh, ya sudah.

Pemberitahuan!

"Sejak sore kemarin, aku sudah mencintaimu."

- Surat apa, Lia? - Tidak. Tidak apa-apa.

- Kau lapar, Ran? - Mau ditraktir Nandan.

Memang kantin kita cuma satu ini?

Ada yang sebagian di sini, ada juga sebagian di warung Bi Eem.

- Apa itu? - Warung Bi Eem.

- Ada di belakang sekolah. - Ya, biar bisa merokok.

Banyak anak SMA lain juga ada di sana.

Namanya juga markas.

- Hai, Lia. - Hai.

Aku mau menyapa.

- Kau tahu tidak? - Apa?

Aku suka Lia.

- Tapi malu mau bilang. - Itu tadi bilang.

Bilang ke kau, bukan ke Milea.

Tapi dia bisa dengar, 'kan?

Insyaallah.

Piyan!

Bisa kubaca dari mata Nandan.

Dia terganggu dengan kata-kata Dilan.

Aku bukan ahli membaca bahasa tubuh.

Tapi kata Rani, dia taksir aku.

Padahal banyak wanita-wanita yang suka kepadanya.

Dia lumayan ganteng dan jago main basket.

Dilan, sedang apa?

- Rani, boleh ikut duduk? - Apa?

Ikut duduk?

Boleh aku minta kertas?

Pinjam, ya?

Kenapa semuanya dicoret kecuali namamu?

Semuanya akan gagal.

Kecuali kau?

Ya. Doakan.

- Selamat siang. - Siang, Pak.

Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang morfologi.

Ada yang sudah tahu apa itu morfologi?

- Belum. - Bagus.

Karena kalau kalian sudah tahu, saya tidak jadi mengajar morfologi.

Hei! Kau bukan siswa kelas sini, 'kan?

Sini.

- Kau kenapa ada di sini? - Salah masuk kelas, Pak.

- Keluar. - Permisi, Pak.

Rapikan bajunya.

Anak-anak, kalian harus banyak makan ikan, biar cerdas

dan tidak lupa ingatan.

Seperti si Abdul. Kelas sendiri saja dia lupa.

Dilan, Pak!

- Abdul Dilan, 'kan? -

- Tadinya mau ajak kau pulang naik motor. - Tidak usah.

Tapi tidak jadi. Karena aku tahu, kau pasti bilang "tidak usah".

- Nanti malam aku mau ke rumahmu. - Jangan, ayahku galak.

- Memang gigit? - Serius, jangan.

Aku tidak takut ayahmu. Dia baik.

- Kau mau apa? - Mau datang.

- Terima kasih, Bu. - Sama-sama, Yah.

- Bi, tolong pintu, Bi. - Bibi sedang ke warung.

Sudah, Ayah saja.

- Assalamualaikum, Pak. - Waalaikumsalam.

- Memang siapa? - Orang aneh.

Aneh?

- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.

Dilan 1990 subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Dilan 1990

Komentoj

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left