La unuaj 200 linioj.
Namaku Kalis,
aku kelas tiga SMA.
Tenang, ini bukan anakku.
Karena ini bukan Dua Garis Biru.
Ini bukan bapaknya.
Nah, ini bapaknya.
Dia berengsek.
Yang ini ibunyaโฆ
Sahabatku.
Namanyaโฆ
Saudari Rahayu.
Dan ini sidang perceraian mereka.
Rahayuโฆ
Dan si berengsek.
Nah, itu temen-temenku.
Eh, bukan.
Maksudku yang ini.
Yang pirang, Fatimah, yang berhijab, Wanti.
Kalian ini ngerti nggak sih?
Ngurusin anak itu susahnya kayak apa?
Nggak usah cerewet, kami dapetin ini pake perjuangan.
Menurutmu?
Loh, Wan?
Kok air teh?
Gimana nih?
Nurcholis dikasih air teh aja, anakku juga gitu.
Ini namanyaโฆ
"Thai Tea".
Udah.
Cepetan, Fat, Wan.
Kalian berdua yang udah punya anak, malah aku yang ngurusin.
Lisโฆ
Emangnya kami mau punya anak di umur segini?
Iya, iya. Maaf.
Kamu itu hati-hati kalo ngomong.
Aku dan Fatimah trauma sama tempat ini.
Kalo bukan karena Rahayu, aku nggak mau ke sini lagi.
Iya maaf, cepetan.
Kalo nanti saya jadi korban kekerasan suami saya lagi
dan anak saya tumbuh besar
jadi zalim seperti bapaknya,
bersediakah yang mulia bersumpah dengan nama Allah
untuk menanggung semua dosa suami saya dan anak saya?
Akhirnya kami merayakan kehidupan dengan makan ayam geprekโฆ
- Nih, spesial buat Rahayu. - โฆDi warung Fatimah. Murah, meriah,
tapi uenak.
Terima kasih selalu ada buat aku sampai aku bebas dari Akmal.
Udah lah, Yu.
Legaโฆ
Urusannya selesai sebelum aku pergi kuliah.
Kalau nggak telanjur hamil saat SMP, aku bisa jadi sainganmu loh.
Aku kalo punya ijazah SMA,
mau lanjut kuliah jurusan "sepikologi".
Psikologi!
Nah itu!
Biar bisa ajarin anakku,
cara bedain cowok yang nggak beres sama yang beres.
Dalem banget.
Ini malam terakhirku bersama mereka
sebelum Wanti jadi TKI di Malaysia dan aku berangkat kuliah ke Solo.
Satu, dua, tiga!
Kami menerbangkan harapan untuk hidup yang lebih baik.
Setelah empat tahun kuliah, aku menemukan passion- ku sebagai penulis.
Bahwa perempuan bisa punya suara.
Hari ini aku akan bertemu penulis favoritku di Jogja.
Tapi aku grogi.
Tau gitu aku nggak berangkat.
Ya gimana, orang tua Mas Pangat tiba-tiba datang.
Aku diajak ketemu mereka.
Aku malu sendirian.
Kamu cari kenalan aja.
Biar tulisanmu makin bermutu,
mumpung penulis-penulis keren berkumpul.
Nah, yang mulutnya manis ini sahabat kosku,
Yana Wijaya.
Tapi kalo nggak ada temennya,
nanti dicuekin gimana?
Nggak mungkin.
Kamu udah nulis untuk media besar.
Kata Mas Pangat,
orang kalo mau maju,
harus muka tembok kepala batu.
Begitulah Yana.
Semua yang diomongin berdasarkan pertimbangan Supangat, tunangannya.
Oh, ini?
Ini Mas Puthut EA, yang punya Mojok.
Udah di sini ternyata.
Makasih ya.
- Selamat. - Terima kasih.
- Puthut EA. - Sang Penunggu Mojok.
Udah izin RT belum, Mbak?
Aku ini Kalis Mardiasih,
berkali-kali kirim artikel ke Mojok.
Aku udah tau.
Aku editormu.
Oh, ini bentukannya Agus Mulyadi.
Editor yang selalu nyoret-nyoret tulisanku.
Aku jadi ingin corat-coret mukanya.
Malah bengong.
Sobat Mojok, kita sambut,
Rusdi Mathari.
Lis.
Aku itu seneng loh akhirnya bisa ketemu sama kamu.
Tulisanmu itu loh.
Runtut, dalem, tajem.
Tapi ringan. Renyah. Gitu loh.
Kamu ikut tur aja, Lis.
Tur apa?
Itu loh, workshop di Jawa Timur.
Jadi, keliling ke kampus-kampus gitu.
Tapi aku bukan sopo-sopo loh, Mas.
Gimana sih?
Kamu itu Kalis Mardiasih.
Aktivis, feminis.
Manis.
Jurusnya keluar.
Makasih ya.
Lis.
Kalo aku sering telepon kamu, ada yang marah nggak?
Ada.
Aku sendiri yang marah.
Sungguh penolakan yang tanpa basa-basi, ya, Lis?
Ya, kamu?
Aku nge- add Facebook-mu
udah enam bulanan yang lalu belum di- confirm sampe sekarang.
Ya, maaf.
Aku belum siap punya banyak penggemar, Lis,
sampai melewatkan request -mu.
Ntar kalo kamu ngetop kayak aku juga paham.
Awas kalo nggak di- confirm, nanti aku santet.
Siap.
Hati-hati, ya.
Kabarin kalo udah sampe Solo.
Iya.
- Ya udah, Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Aduh, kok aku jadi deg-degan ya?
Pake senyam-senyum lagi. Ngapain sih, Kalis?
Ikut tur bareng Mojok,
aku jadi makin deket sama mas Agus.
Sebentar.
Kok aku jadi manggil "Mas"?
Udahlah.
Menurut analisis Mas Pangat,
Mas Agus itu pria dengan komoditi khusus.
Pesonanya hanya menarik untuk kalanganโฆ
"Pecinta barang antik".
Kayak kamu.
Sialan!
Mau coba latihan dulu nggak cie cienya mau gimana?
Cie cie.
Atauโฆ
- Cie. - Apa-apaan?
SUARANYA REMUK GINI AJA AKU BAHAGIA, APALAGI KALAU BISA NYANYI BENERAN.
Mas! Ih, apaan sih?
Sejak saat itu, kami jadi tambah dekat.
Cie, Kalis. LDR.
Jogja-Solo.
Lis, kalo ada konsernya Mas Bes,
kamu mau aku bayarin nonton bareng nggak?
Jangan macam-macam, Mas.
Yang berhak manggil "Mas Bes" itu cuma aku.
Itu panggilan sayangku.
Jadi, nggak mau?
Ya jelas mau banget.
Aku cuma jelasin posisiku sebagai fans.
Tapi, beneran, 'kan, ini?
Iya, beneran.
Dicatat malaikat loh ini.
Aku punya rencanaโฆ
Kok mati?
Halo, Mas?
Kok malah telepon?
Halo, Lisโฆ
Maksud WA-mu gimana sih?
Iya, Mas.
Kuota internetku mau habis nih.
Kamu aja yang video call aku.
Loh, terus kamu terima video call -ku emangnya nggak pakai kuota?
Oh iya juga ya!
Cuma sidang skripsi, tapi dikasih bunga sebanyak itu.
Sayangnya yang nganterin cuma kurir.
Harap maklumโฆ
Mas Pangat sedang kerja keras buat modal nikah.
Yang namanya Mas Supangat mana sih?
Aku belum pernah lihat wajahnya kayak gimana?
Sabar semua ada waktunya.
Oke.
Aku kira nggak jadi dateng.
Selamat ya, Lis.
Selamat ya, Yan.
Aku minta maaf
aku udah mengusahakan supaya bisa menemani sidangmu,
tapi di tengah jalan ternyata aku sakit perut.
Lalu aku mampir pom bensin cari toiletโฆ
Setelah selesai, ternyata nggak ada gayungnya.
Jadi, denah toiletnya itu kayak gini.
Di sini tuh bak mandi. Lis, Yan.
Di sini kakusnya.
Terus aku jongkok,
bumi dan langit jaraknya.
No comments yet. Be the first to leave one.