Las primeras 200 líneas.
Baik. Mari kita lihat sudah sampai mana kita.
Singkirkan ini, singkirkan itu, matikan itu.
Membuatku stres. Tidak butuh dia. Kita bisa menyingkirkan itu.
Selesai. Kita bisa mulai dengan ini.
Aku tahu, ini kritikan, tapi bersemangatlah, ini Internet.
Kita butuh trafik. Apa yang kalian dapatkan?
- Bagaimana dengan ini? - Sempurna.
Apa dia tampak cerdas dan berwawasan luas dalam reformasi imigrasi?
- Ya. - Ya. Benar.
Aku bergurau. Ini bukan situs porno.
Siapa kita, kutu buku yang ingin melihat payudara?
Ayo, teruslah mencari.
Sial! Halo?
Hei, Sayang. Di mana kau? Masih bekerja?
Tidak! Sama sekali tidak.
Asal tahu saja, filmnya akan dimulai 10 menit lagi.
- Aku tahu. Berikan celanamu. - Apa?
- Aku akan belikan makan siang besok, ayo. - Tidak.
Aku atasanmu. Berikan celanamu.
Tolong, jangan terlambat. Aku benci melewatkan awalnya.
Aku tahu.
Berikan celanamu. Aku datang, Sayang.
Hampir tiba!
- Seberapa jauh? - Sepertinya aku melihatmu!
- Kau di mana? Aku di sini. - Aku juga.
Begitu banyak orang. Kau pakai baju apa?
Aku pakai satu-satunya pakaian di luar bioskop
karena aku satu-satunya orang di luar bioskop!
Aku suka pakaian itu. Kau terlihat sangat seksi.
Kau tahu aku suka film ini.
Jika seorang pelacur dan pebisnis yang kejam bisa jatuh cinta
maka siapa pun bisa.
Aku tahu ini sangat berarti bagimu, jadi, itu juga sangat berarti bagiku.
Tampaknya tidak.
Aku melihatmu sekarang, aku bisa lihat!
Jamie!
Hei!
- Hei. - Kau datang juga.
- Ya. Hei. - Hai.
- Maaf aku terlambat. - Tidak apa. Aku bawa roti lapis.
Aku punya roti bebas gluten isi kalkun tanpa keju untukmu.
Kau yakin ini disiapkan di pabrik bebas kacang?
Ya, aku sepenuhnya mempertimbangkan alergimu.
Hei, aku di sini! Aku benar-benar minta maaf.
Kita melewatkan "Your Body Is a Wonderland".
Baik, hanya satu lagu. Tidak terlalu buruk, 'kan?
Ini "Your Body Is a Wonderland"!
Kabar baiknya, dia punya begitu banyak lagu yang bagus.
Begini. Lain kali
daripada terlambat, buang hajat saja di wajahku.
Karena itu sama saja dengan melewatkan Your Body Is a Wonderland.
Baik, ayo. Kita harus masuk.
Julia Roberts hampir memakai sepatu botnya yang sangat tinggi.
Kita perlu bicara.
Kupikir kita sebaiknya berhenti bertemu sementara.
Aku hanya merasa kita harus beristirahat sebentar.
- Kau melakukan ini? - Kau mau putus denganku?
Kau bilang aku belahan jiwamu.
Oh, ya? Kapan?
Ketika kita berhubungan seks di losmen itu.
- Kau tahu, itu tidak... - Tidak apa?
- Termasuk. - Aku sibuk di tempat kerja. Maaf.
Mungkin kau harus kurangi kepedulian tentang pekerjaan
dan lebih memedulikan perempuan yang sedang kau kencani.
Karena terakhir kali aku lihat, bekerja tidak memastikan
kalau suka jari ada di bokong bukan berarti kau homoseks.
Aku tidak pernah bilang "Ke atas."
Aku hanya bilang perlahan di sekitar... Ini seperti tombol kecil.
Kau tahu? Ini bukan urusanmu lagi.
Apakah karena ini kau terlambat?
Khawatir bagaimana putus denganku?
Bukan. Aku memutuskan apa yang harus dipakai.
- Akhirnya pakai sepatu kets dan jaket. - Ya.
Kau akan ikut SAT setelah ini?
Jangan marah, ya?
- Kau lebih baik dari itu. - Aku tidak marah.
Kupikir arah hidup kita berbeda.
Ya, kau ke konser John Mayer dan aku tidak.
Terima kasih telah melakukan ini sebelum konser, omong-omong.
Perpisahan terbaik yang pernah ada.
Dia adalah Sheryl Crow dari generasi kita!
Aku ada satu pertanyaan singkat.
Asal kau tahu, aku sama sekali tidak hancur oleh perpisahan ini.
Jadi jujurlah. Kenapa?
- Apakah ini sebuah trik? - Bukan.
Hanya penelitian antropologis murni.
Baik. Kau menginginkan seseorang jatuh cinta padamu dalam waktu singkat
tapi kau lebih tertarik dalam hal dicintai
daripada orang yang jatuh cinta.
Kelihatannya kau baik-baik saja
tapi sebenarnya kau benar-benar mengalami kerusakan emosional.
Kau juga punya mata yang sangat besar dan terkadang membuatku takut...
Terima kasih. Itu cukup.
Ini bukan kau sama sekali.
Tentu saja ini aku! Kau tidak bisa bilang begitu. Kau putus denganku!
Bukan, ini aku. Aku tidak menyukaimu lagi.
Ini salahku. Kau pantas dapat yang lebih baik dariku.
Kau orang yang hebat.
Bisa dibilang, agak menjaga jarak.
- Tidak. - Aku benar-benar ingin tetap berteman.
- Kita berteman saja. - Tentu.
Pasti.
John Mayer.
John keren Mayer!
Kemarilah.
Kau sanggup melewati ini.
Kenapa hubungan selalu dimulai begitu menyenangkan
dan berakhir menyebalkan?
Aku harus memercayai omong kosong Hollywood tentang cinta sejati.
Diam, Katherine Heigl! Kau pembohong bodoh!
Aku hanya akan bekerja dan bercinta. Seperti George Clooney.
Aku akan menutup diri secara emosional.
Seperti George Clooney.
Halo.
Naikkan tempat duduknya, Pak.
Itu Hudson River?
Bukan. Itu East River.
Jadi kita tidak akan mendarat di atasnya, seperti pesawat itu
dengan kapten yang terus mendapatkan medali.
Pilot itu adalah pahlawan.
Bajingan.
Pesawat ini benar-benar bekerja keras.
Sepertinya kutemukan pria sempurna untuk mengisi lowongan itu di GQ.
Tidak, dia mendarat terlalu awal. Aku berjuang keras.
Dia belum menerima tawaran kerja, tapi aku selalu bisa meyakinkannya.
Aku bahkan menjemputnya dengan mobil hibrida.
Dia dari LA. Pasti dia percaya omong kosong itu.
Hei Pak, apa gedung tinggi itu di sana?
- Empire State Building. - Bukan. Yang satunya.
Yang sangat tinggi. Dengan antena di atasnya dan jendela.
Itu Empire State Building.
Oh, ya. Kau benar. King Kong.
Hei...
Oh, hei! Kau sudah selesai? Sudah ketemu semua?
Selamat datang di New York, Nyonya Penderghast.
Ya.
Tidak. Maaf.
Baiklah.
- Bisa ambilkan tasku? - Tentu. Yang mana?
- Yang bertali. - Baik.
Ini.
Baik.
- Terima kasih. - Selamat datang di New York, Pak.
- Permisi. - Ya.
- Itu aku. - Yang mana, biru atau kuning?
Tidak, papan nama darurat yang dibuat dari lipstik. Itu aku.
Kau Dylan Harper.
- Benar. - Aku Jamie Rellis.
- Kau menjemputku dari bandara. - Hai. Ya.
Kau selalu jemput orang seperti ini?
Ya, aku suka membuat hal-hal menjadi menarik.
- Selamat datang di New York. - Terima kasih.
Kau tidak mirip pencari tenaga kerja yang ada dalam bayanganku.
Ya, aku lebih suka "perekrut eksekutif." Pencari tenaga kerja menakutkan.
Kau mengawasiku selama enam bulan. Agak menakutkan.
Sini. Akan kubawa.
Kau akan membawakan tasku? Kau gadis seperti itu?
Tidak. Aku akan ubah hidupmu. Aku gadis seperti itu.
Hidupku sudah cukup baik.
Benarkah? Karena kau takkan datang ke sini jika hidupmu baik.
Perjalanan gratis ke New York. Pasti bodoh jika kutolak.
Berarti kau telah jadi orang bodoh enam bulan belakangan ini.
Ya, orang-orang akan bilang lebih lama dari itu.
Ini peluang besar, Dylan.
Penata artistik majalah GQ. Ini liga utama.
Aku tak menghina blog kecilmu di Internet.
Yang mencapai enam juta hit bulan lalu.
Aku bisa unggah videoku sedang mencampur adonan dengan payudaraku
dan akan mendapat delapan juta hit.
Benarkah?
Tak diragukan lagi kau berbakat di bidangmu
tapi ini GQ.
New York sangat padat.
Lihatlah. Aku dari LA.
- Aku suka ruang terbuka. - Kau seekor rusa?
Sudahlah, apa kekhawatiranmu?
Entahlah. Aku tak mau mengambil hal legendaris
dan merusaknya. Maafkan omonganku.
Kalau begitu, jangan merusaknya.
Maafkan omonganku.
Jadilah orang yang membuatnya jadi legenda lagi.
Dengar, kami akan membawakan kopi sebelum wawancara. Kau akan baik saja.
Maaf, jangan kopi.
Teh hijau, susu kedelai, minuman sehat.
Panas sekali di New York.
Tidak panas di LA?
Ya, panas di LA, tetapi kelembabannya.
Di LA, jika suhunya 32 derajat, terasa 32 derajat. Tetapi...
- Benar. - Jika panas di New York
suhunya 32 derajat, terasa 55.000 derajat.
Percakapan tentang cuaca ini sangat menarik
tetapi untunglah, kita sudah sampai.
Semoga berhasil.
Apa pun yang terjadi, terjadilah. Kubilang, aku tak terlalu menginginkannya.
Bisa bantu aku? Bersikaplah seolah menginginkannya.
- Aku bisa melakukannya. - Baik. Berjuanglah.
Omong-omong, minuman ini enak.
GQ
Awas!
- Hei! - Kau masih di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.