Las primeras 200 líneas.
ZainuddinAri
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
Episode 18
Ini musibah yang sudah ditakdirkan oleh Allah.
Allah sudah menguji negeri ini dengan tak adanya lagi Rasulullah.
Seperti saat ini.
Musibah atas meninggalnya Rasulullah
dan kekhawatiran akan terpecahnya persaudaraan Islam sesudah ia wafat.
Padahal dulu kita hidup bersama-sama.
Allah menjadikan manusia yang sempurna dan diwahyukan pula kepadanya.
Kita semua menjadikannya petunjuk dan menaatinya.
Dan sekarang...
Ia telah meninggalkan kita dalam keadaan krisis dan ujian yang berat.
Bisa jadi ini akan membawa kemaslahatan bagi umat,
atau sebaliknya.
Atas kebijaksanaan Allah pula
ini semua ditinggalkan agar kita saling bermusyawarah,
yang nantinya akan dijadikan pedoman kapan pun dan di mana pun.
Tak ada yang sempurna
kecuali hanya berusaha untuk bertakwa dengan meluruskan niat dan tujuan.
Demi kemaslahatan umat Islam,
dengan selalu berpegang teguh terhadap hasil musyawarah dan ijmak.
Kalau semuanya benar,
mereka telah diridai.
Kalau tak seperti itu,
maka janganlah saling menuduh yang tak benar.
Dan kembalilah untuk selalu berdialog dan berdamai.
Seperti yang selalu dilakukan para pendahulu kita.
Kau benar, Umar.
Itu semua adalah penilaian yang akan selalu diingat oleh umat muslim.
Yang akan dijadikan sebagai pedoman ketika nanti berperang.
Tak ada yang pantas untuk diikuti setelah meninggalnya Rasulullah saw.,
kecuali hanya menjadikan Alquran dan sunah rasul sebagai petunjuk,
dan kesepakatan bersama setelah adanya dialog.
Sehingga tak ada yang beranggapan
adanya permahaman yang salah terhadap kitab Allah.
Karena sesungguhnya makna yang terkandung di dalamnya bisa dipahami.
Ini dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan manusia.
Tapi, sebagian orang telah mengutarakannya begitu saja.
Kemudian datang setelahnya suatu kaum yang membenci Allah dan rasul-Nya.
Sehingga orang-orang saling berselisih dan berbeda pendapat dan sebagian lain diam begitu saja.
Sampai akhirnya orang-orang setuju dengan perkataan Abu Bakar.
Itu sudah biasa, Abdullah.
Manusia saling berbeda pendapat, pemikiran dan ijtihadnya.
Kemudian sebagian dari mereka atau mayoritas dari mereka
bersepakat atas suatu perkara yang akan dijadikan ijmak.
Mengenai perbedaan yang berhubungan dengan hawa nafsu manusia,
Allah lebih mengerti akan hal itu.
Janganlah mempertanyakan apa yang ada di hati manusia.
Dan janganlah kita sombong terhadap yang lain.
Serta janganlah menghukumi sesorang tanpa bukti yang jelas.
Karena Allah tak menyucikan kita dari perbuatan dosa.
Maka bersalah orang yang salah asal niatnya benar.
Bisa jadi orang itu berkata benar
tapi apa yang dikehendaki adalah kebatilan.
Janganlah kita meninggalkan kebenaran hanya karena siapa yang berbicara.
Dan kita lebih utama akan kebenaran itu.
Kebijaksanaan itu harta yang berserakan bagi setiap muslim,
barang siapa yang mendapatkannya, maka ia berhak atasnya.
Dan ingatlah hal ini.
Sesungguhnya manusia telah beranggapan salah terhadap para sahabat
dengan menganggapnya suci tanpa dosa.
Ini telah berlebihan dalam meninggikan tingkatan manusia
meskipun di balik itu semua muncul atas dasar ketakwaannya.
Kalau begitu, saat mereka lihat ada yang berbeda pendapat dengannya,
mereka akan menjatuhkannya dan akan menghina agamanya.
Kemudian datang setelahnya suatu kaum yang membenci Allah dan rasul-Nya.
Kemudian mereka saling menjatuhkan agamanya masing-masing.
Ya, kalau manusia beranggapan bahwa para sahabat itu suci dari kesalahan,
lalu mereka berkata "Di mana kita?" sehingga kita bisa mengikutinya.
Padahal kita sebagai para sahabat tak mempunyai sifat tersebut.
Kemudian mereka menjadikan itu semua agar terpecah belah.
Kalau yang mereka anggap itu suatu yang baik
dengan menyebutkan bahwa para sahabat itu hanyalah manusia biasa,
yang bisa salah dan bisa benar.
Itu akan jadi sesuatu yang lebih baik bagi mereka,
lalu mereka ikuti kesepakatan para sahabat,
dan menjauhi apa yang menjadi perselisihan di antara mereka.
Semuanya.
Seperti yang aku dengar tadi malam mengenai telah wafatnya Rasulullah saw.
Aku hanya katakan apa yang ada dalam pikiranku.
Dan apa yang kudapat dari Alquran,
adalah sebuah petunjuk yang telah diberikan oleh Rasulullah.
Dan apa yang telah menjadikanku seperti saat ini,
karena aku ingin membacakan satu ayat berikut ini.
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
QS. Al-Baqarah: 143
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil,
لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia,
وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمِ
Maha benar Allah dengan segala firmanNya.
Demi Allah, aku mengira bahwa Rasulullah
akan bersama umatnya sampai akhir nanti.
Aku mengharapkan agar kalian mengatakan apa yang aku katakan.
Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kitab yang dengannya
kita mendapatkan petunjuk dari Allah dan rasul-Nya.
Kalau kalian meyakininya,
maka kalian telah mendapatkan petunjuk yang benar.
Allah telah menjadikan urusan kita pada kebaikan kita sendiri.
Sahabat Rasulullah,
dia salah seorang dari dua orang saat keduanya berada dalam gua.
Ia adalah orang yang paling tahu akan urusan-urusan kalian.
Jadi berdirilah dan berbaiatlah.
Segala puji bagi Allah,
yang telah memberikan kita petunjuk,
dan kita tak akan diberi petunjuk kalau Allah tak memberi petunjuk.
Aku di sini sebagai pemimpin kalian
dan bukan yang terbaik di antara kalian.
Kalau aku benar maka ikutilah, dan kalau aku salah maka luruskanlah.
Kejujuran itu adalah amanah
dan kebohongan itu adalah sifat khianat.
Orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat bagiku.
Sampai aku ambil kebenaran untuknya.
Dan orang yang kuat di antara kalian, adalah orang yang lemah bagiku
sampai aku mengambil kebenaran darinya, insya Allah.
Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan rasul-Nya.
Kalau aku tak taat kepada Allah dan rasul-Nya,
maka janganlah kalian menaatiku.
Sekarang berdirilah untuk menegakkan salat.
Keluarga Abdi Manaf,
siapakah Abu Bakar itu bagi kalian?
Orang-orang telah membaiatnya.
Padahal ia dari tanah, dari tanah.
Dari kaum Quraisy yang kecil.
Kalau kalian menghendaki, aku akan memeranginya dan membasminya.
Dan aku akan mengambil apa yang mereka punya dengan paksa.
Aku berlindung kepada Allah.
Aku berlindung kepada Allah atas keraguanmu terhadap orang muslim.
Demi Allah, yang kauinginkan hanyalah fitnah.
Kita tak butuh nasihatmu.
Terserah kau, Abu Hasan.
Aku hanya ingin menolongmu kalau kau terlahir untuk ini.
Demi Allah, Abu Sufyan.
Hatimu tak bisa lepas dari kejahiliahan.
Kau masih melihat bahwa kenabian adalah hal yang diperebutkan layaknya kekuasaan.
Allah telah memecah belah kaum jahiliah dan pengikutnya.
Apa kau tak tahu bahwa Rasulullah bersabda:
"Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah."
Kau telah menghina Abdi Manaf.
Bersikaplah amanah, Abu Sufyan.
Kau orang yang paling tahu bawa itu adalah risalah yang diturunkan Allah untuk seluruh umat manusia.
Adapun soal kepemimpinan setelah Rasulullah,
kalau kami melihat Abu Bakar adalah orang yang tak mampu,
maka kami pasti kami tak akan memilihnya.
Ali bukanlah seorang yang menyukai kebatilan,
atau mengambil kebenaran dari orang yang suka mencela.
Bukankah kau lebih pantas darinya?
Karena kau adalah sepupu Rasulullah dan suami dari anaknya.
Muhammad adalah nabi dan Rasulullah, bukan raja.
Demi Allah aku tak ragu lagi akan keislaman seseorang
dan tak akan merendahkan kekuatan yang mereka punyai.
Sudah banyak orang Arab yang murtad karenanya.
Aku tak akan sembunyi di rumahku
ketika orang-orang muslim itu
memerangi orang yang murtad dan membela agamanya.
Aku berlindung kepada Allah, Abu Sufyan.
Abu Hasan, kenapa kau tak hadir dalam pembaiatan Abu Bakar?
Semua orang tak melihatmu.
Kau tahu, Umar.
Aku sangat terpukul dengan meninggalnya Rasulullah.
Begitu juga dengan istriku, ia sangat sedih sekali.
Aku tak ingin kau mengetahui hal ini agar tak jadi beban pikiran bagi kita.
Allah Mahamengetahui. Aku tak menyegerakan hal ini
dengan tujuan untuk menguji ketaatan umat muslim
dan bermalam tanpa ada kelompok.
Telah muncul kekhawatiran dari semua penjuru.
Ali sudah datang?
Jangan heran dengan kedatanganku, Khalifah Rasul.
Genggam tanganku dan akan kubaiat.
Kaum muslimin!
Khalifah telah memerintahkan untuk mengutus Usamah bin Zaid,
seperti yang telah direncanakan Rasulullah sebelum wafat.
Diharap para pasukan Usamah agar menyiapkan bekal peperangan.
Kaum muslimin!
Jangan ada yang berselisih atas diperintahnya Usamah.
Dan agar menyiapkan kepergiannya mulai saat ini
sampai nanti khalifah melepas kepergiannya ke medan perang.
Khalifah Rasul.
Seperti yang telah kauketahui bahwa bangsa Arab banyak yang murtad,
dan kau hendak mengirim pasukan Usamah,
yang mana di antaranya adalah orang-orang muhajirin,
ansar dan orang-orang pilihan yang lainnya.
Kami mengkhawatirkanmu kalau ada yang menikam dari belakang.
Lalu orang Arab dan orang musyrik mengepung Medinah
dan mereka akan membunuhmu serta umat muslim.
Juga di Medinah terdapat para istri-istri rasul.
Andai saja kau menahan pasukanmu
karena kekuatanmu belum sepadan dengan mereka orang-orang yang murtad.
Kalau aku tahu bahwa pedang yang akan membunuhku,
aku akan tetap memerintahkan Usamah seperti yang Rasulullah perintahkan.
No comments yet. Be the first to leave one.