Las primeras 117 líneas.
Hari ini ada peraturan sederhana untuk makan.
Tak satu pun dari kalian boleh menekuk siku saat kalian makan.
Kalian boleh mulai makan sekarang.
Mengapa kita harus melipat tangan, Duryodhana?
Kita bisa memberi makan satu sama lain.
Bagus sekali!
Itulah cara yang tepat untuk makan, Yudhishtira.
Kalian semua boleh mengikuti apa yang Yudhishtira lakukan.
Yang Mulia ...
Yang Mulia raja memanggil Anda.
Para pangeran ...
Ini bukan hanya cara yang tepat untuk makan
tapi sebuah cara untuk hidup.
Selama kalian para saudara
peduli satu sama lain
itu akan membantu keluarga tetap bersatu
dan itu membuat kerajaan lebih makmur.
Kalian Semua harus menikmati cara makan seperti ini.
Duryodhana, saatnya bagimu menyuapiku.
Saya mau 'laddoo'.
Kita harus mengikuti aturannya dengan baik.
Ketika seseorang membalas
kasar dengan apa yang kau lakukan,
atau jika seseorang mendapat ganjaran karena kekasarannya,
Kemudian ada yang terpaksa berpikir
apa gunanya berbuat baik
dan bertindak etis?
Tapi akan ada orang yang berpikir, Betapa kasar prilaku manusia,
Seorang manusia yang memiliki prilaku yang kasar.
Jarang Mendapatkan kedamaian, dan tak pernah merasakan stabilitas.
manusia seperti itu akan selalu merasa gelisah.
Keyakinan, membuatnya mengejar hal itu selamanya...
Apakah itu kebahagiaan?
Tetapi, tapi dia yang punya etika dan yang memiliki kebaikan
serta dia yang memiliki prilaku ramah..,
akan merasakan kedamaian.
Tidak ada yang membuktikan tantangan seperti itu bagi manusia.
manusia seperti itu selalu menerima penghargaan
dan mengalami ketenangan.
Itu, membuktikan bahwa sikap yang baik
bukanlah cara untuk mencapai kebahagiaan di masa depan.
Bahkan orang yang seperti itu, sebenarnya bisa bahagia.
Sikap buruk, sebenarnya juga mungkin tidak berarti penderitaan.
Ketidakadilan pada saat itu, Juga bisa menghasilkan penderitaan.
Kebenaran tidak akan selalu menjadi kebahagiaan.
Kecuali kebahagiaan itu sendiri.
Jayalah Dewa Shiwa!
Agar jiwa Pandu bisa beristirahat dalam damai
Aku sudah mengatur acara untuk memuliakan Dewa Kaleshwara.
Itu bagus.
Aku baru ingin menyarankan hal yang sama.
Tapi kenapa jiwa orang yang baik seperti Pandu
tidak merasa damai, paman?
Kitab agama menyatakan bahwa sampai anaknya melakukan ritual terakhir
maka jiwa yang pergi akan tetap ada di dunia lain.
Aku ingin sampaikan,
anaknya harus menikah
dan merasakan pengalaman menjadi seorang ayah.
Itu akan membantu jiwa sang ayah mendapatkan keselamatan.
Maksudmu, kebahagiaan anak-anak adalah yang terpenting
bagi seorang ayah, paman.
Tapi masyarakat kerajaan juga
seperti anak-anak Raja, Yang Mulia.
Kebahagiaan mereka juga sangat penting baginya.
Jangan berdiplomatis, Widura.
Setiap kali aku membicarakan tentang anakku,
Kau selalu bicara soal ajaran agama.
Itu tidak benar, Yang Mulia. - Jika itu tidak benar
Kenapa setiap kali aku membicarakan tentang penobatan Duryodana,
kenapa kau selalu menentangnya? - Aku tidak menentang Duryodhana.
Tapi ini belum waktunya untuk penobatannya, Kak.
Wanita Bhil yang berasal dari Pegunungan Malanchala di Selatan
Menggunakan sendal kayunya sebagai kayu bakar.
Kau pasti tahu itu, kak.
Jika seseorang diberikan hal tidak layak,
dia mungkin tak menghargainya, kak.
Itu mungkin akan membuat dia tidak bertanggung jawab terhadap tugas- tugasnya juga.
Apa kau tahu Raja Mathura Kamsa
telah dibunuh oleh keponakannya.
Ku harap kau tahu itu, nak.
Jika Raja tidak dicintai dan dihormati oleh rakyatnya
dia tidak bisa lama menjadi Raja.
Apakah Kau ingin nanti anakmu Duryodhana terbukti menjadi penguasa
yang tidak mempunyai kemampuan?
maka kau harus menguji kemampuannya, Paman.
Sebelum itu, aku perlu menunjuk seorang guru
untuk para pangeran.
Aku ingin mereka semua mengikuti
ajarannya dulu.
Mereka harus menjadi sosok yang mampu.
Kemampuan mereka tidak dapat diuji
sebelum mereka menjalani pelatihan yang ketat.
Widhura, Buatlah pelatihan yang sama.
Tapi begitu mereka selesai menjalani pelatihan
Duryodhana harus dinobatkan menjadi Raja.
Bagaimanapun caranya.
Setelah mereka menjalani pelatihan
pangeran yang memenuhi syaratlah
yang akan dimahkotai Raja.
Itu janjiku, nak.
Tapi kau harus menilai semua dari mereka sebagai seorang Raja.
Bukan sebagai seorang ayah.
Nakula, Sahadewa ...
Kalian berdua masih terjaga?
Kami tidak bisa tidur, ibu.
Bukankah Yudhisthira dan Bhima sudah tidur sebelum kalian?
Aku akan menghukum mereka berdua besok pagi.
Ibu, aku belum tidur.
Kita semua masih terjaga.
Hutan jauh lebih tenang dan damai, ibu.
Tetapi tidak ada kedamaian di sini.
Itu benar, nak.
Disini para prajurit tetap terjaga sepanjang malam dan siang.
Dan para pelayan di dapur, tetap terjaga sepanjang malam
untuk membuat makanan besok.
Dan kakak Bhima pasti sudah lapar lagi, bu.
Mungkin karena kau harus makan banyak.
No comments yet. Be the first to leave one.