Las primeras 200 líneas.
Baiklah.
Hai.
-Holly. -Eric.
-Aku Messer. -Messer.
Semuanya memanggilku Messer.
Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Messer.
-Apa aku terlambat? -Baru satu jam.
Tapi aku baru selesai berdandan, kata Alison itu kebiasaanmu, jadi...
Kata Peter kau mungkin akan mengatakan sesuatu.
Begitu, ya? Baiklah.
-Bagus. Kita pergi sekarang? -Ya.
Ya, ayo kita makan malam. Aku lapar sekali. Ini sudah sejam.
-Kudengar kau baru pindah ke Atlanta. -Ya.
-Berapa lama kau mengenal Pete? -Sejak SMU.
Terima kasih.
Aku mengenal Alison sejak kuliah. Kami satu perkumpulan mahasiswi.
-Di mana mobilmu? -Di sini.
Ini dia.
Ayo.
Pegangan yang kuat. Aku janji takkan berasumsi apa-apa.
-Dandananku bukan untuk angin... -Apa?
Dandananku bukan untuk angin berkecepatan 64 km/jam.
Maaf. Aku hanya...
Sepertinya kakiku tak bisa naik setinggi itu, jadi...
Tetapi aku bersedia menyetir.
Mobilku di sini. Masih baru, jadi aku suka mengendarainya.
-Mobil yang bagus. -Terima kasih.
Masuklah.
Bagus.
Jadi kita mau pergi ke mana?
Di mana kau memesan tempat?
Katamu kau akan memesan tempat. Kau tak memesannya?
-Aku bilang begitu? -Tak apa-apa. Terserahlah.
Ya, tak apa-apa. Kita bisa ke mana saja, terserah.
Kita bisa... Kau yang pilih.
Kita pilih meja dan langsung masuk.
Baiklah. Bagaimana dengan Cafe Five? Kau pernah ke sana?
-Kedengarannnya bagus. -Temanku di sekolah kuliner...
-Itu ponselku. -Aku tahu.
-Jawab saja... -Tidak, itu akan masuk ke kotak suara.
-Baiklah. -Hanya saja...
Tadi aku mau bilang, temanku dari sekolah kuliner adalah--
Kau tahu? Angkat saja teleponmu, tak apa-apa.
-Aku... Aku bisa menunggu. -Baik. Ini terlalu berisik.
Hei, kau.
Kau tahu aku, selalu sibuk melakukan sesuatu.
Ya, baik. Pukul sebelas?
Ya. Kau tahu? Bagaimana kalau pukul 10:30?
Baik, sampai nanti.
Baik.
Maafkan aku, itu... Itu temanku yang sakit.
Kau tahu, kita tak perlu melakukan ini.
Benarkah?
-Baiklah. -Astaga, kau serius?
Baik, kita jujur saja.
Kau tahu begitu kau melihatku kau tak menyukaiku.
Tapi teman kita mengatur ini, jadi kita berutang kepada mereka...
Untuk apa, menghabiskan waktu untuk bicara basa-basi?
Dengar, kemungkinan terbaik adalah kita mabuk lalu bercinta.
Bajingan macam apa kau ini?
Dengar, ini malam Minggu. Aku hanya ingin bergembira.
Aku bisa menemui temanku yang sakit tadi, dan kau bisa...
...lakukan apa pun yang kau sukai di malam Minggu.
Sepertinya kau suka membaca. Kau bisa membaca buku.
-Kau suka menulis blog? -Apa aku suka menulis blog? Kau tahu?
Jika kau tak mau ini menjadi malam Minggu yang buruk, ini kiat untukmu...
Jangan datang terlambat dan merayu lewat telepon di depanku.
-Temanku sakit. -Benar.
Kau akan menyembuhkannya dengan alat kelaminmu yang ajaib?
Baiklah.
-Baiklah. Jika kau ingin berkencan... -Astaga, tidak.
Sekarang aku tak mau berkencan denganmu. Apa kau gila?
Keluar dari mobilku. Keluar dari mobil Smart-ku.
-Entah apa yang mereka pikirkan. -Aku juga.
Alison, astaga. Satu hal yang bisa memperbaiki ini...
...adalah jika kau berjanji aku takkan bertemu dengannya lagi.
Sungguh, kau adalah wanita terpenting dalam hidupku...
...dan Alison sudah seperti saudari yang tak pernah kumiliki.
Aku amat menyayangimu dan ikut bahagia untukmu dan Peter.
Lihat Mess. Di belakang.
Bagus.
Ya.
Jadi, aku hanya ingin bilang aku ikut senang untuk kalian...
Aku mencintaimu. Alison.
Messer, ini giliranku. Ini giliranku. Kau sudah menyampaikan pidatomu.
-Kau pengiring pengantinnya? -Ya.
Bisakah kalian tukar tempat? Aku ingin kau dekat mempelai wanita.
Aku ingin di dekat kalian.
Jangan sentuh aku. Sudah kuduga kau akan melakukannya.
Jangan sentuh aku. Jangan menyemangatinya.
Hentikan. Aku bersumpah. Hentikan.
Maaf, aku tak bisa berdiri di dekatnya.
Hai, teman-teman. Kami sedang di pesta liburan. Ada Holly, Ben.
Ini.
Bagaimana kencan pertama kalian?
Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan kepadaku.
Mess. Mess.
-Dia harus bekerja. -Sobat.
-Bantu aku. Pegang kamera ini. -Berikan kameranya.
Lihat itu.
Kemari. Lihatlah kandungan Alison.
Kandungan. Permisi, teman-teman. Sayang?
Lihat itu.
-Ini putriku. -Takkan lama lagi.
Jangan tekan perutnya.
Hei, Holly. Apa ini?
Ayo, sedikit ciuman Natal. Beri dia...
Bagus. Hore, selamat liburan.
Kau bajingan.
Hai, Bayi Perempuan.
Hai. Astaga.
-Sayang. -Hai.
Tunggu. Messer, aku baru memegangnya.
-Kini dia bersama Bibi Holly. -Bung.
-Hati-hati, Messer. Pelan-pelan. -Aku sudah memegangnya.
-Sayang. -Aku hanya bercanda.
-Itu tidak lucu. -Dia baik-baik saja.
-Dia seperti bola futbol kecil. -Bisakah kau hentikan itu? Messer.
-Baiklah. -Hentikan itu, sungguh.
Dia bisa muntah jika kau terus melakukan itu. Dia sudah mau muntah.
Tidak, dia menyukainya.
Kau menyukainya, 'kan, Soph?
Aku hanya rela mencukur jenggot demimu. Kau tahu itu?
Kenapa Liz tidak datang? Kukira hubungan kalian serius.
Kami putus beberapa minggu lalu. Hubungan kami tak berhasil.
-Apa yang terjadi? -Entahlah.
Aku tak membayangkan kami bisa bersama sampai mati.
-Itu salahku. Kukira kau menyukainya. -Itu kau. Aku hanya merasa dia seksi.
Sayang, jangan lupa memberi tip kepada petugas kastel itu.
Mereka telat dan aku yang harus mengerjakannya sendiri.
-Tetapi, baiklah, kita beri mereka tip. -Belalang.
Aku mulai membawa Sophie ke praktik dokter keluarga yang baru.
Ada dokter di sana. Dia tampan sekali.
Aku telah menggantikan ketertarikanku terhadap Anderson Cooper.
-Kulihat dia tak memakai cincin... -Minggir.
...jadi aku mulai bicara dengan perawatnya.
-Tidak. -Aku pura-pura memuji kukunya.
-Kita sudah sepakat ingin menunda. -Bagaimana kau tahu kau takkan suka?
Kau punya reputasi terburuk dalam menjodohkan.
-Contohnya siapa? -Si Pengutil. Pria berkawat gigi itu.
Sulit kupercaya. Kau tetap menyalahkanku.
Aku bahkan tak mau bicara soal bencana Messer di tahun 2007.
Itu rencana Peter. Aku tak mengenalnya dahulu.
Kau tahu dia menyebut dirinya Messer, . Kau sahabatku.
Jangan jadi wanita yang suka menghakimi karena aku tak memakai cincin kawin.
Aku tidak begitu.
Sementara itu, teruslah membuat bayi yang cantik...
...dan aku akan terus memanjakan mereka dengan ini.
Sungguh, itu lebih baik daripada kue pernikahanku.
-Aku yang membuat kue itu. -Kue itu agak kering.
Jangan biarkan ada orang tua gemuk yang masuk saat anak-anak di dalam.
Apa kalian habis mengisap ganja?
-Itu dilarang. -Kalian teler.
Apa yang kau pegang? Coba kulihat. Ayo, kau mau aku memanggil polisi?
Kumohon jangan. Ayahku seorang pendeta.
Baiklah, kuambil ini. Lain kali, kalian akan terjerat masalah besar.
-Pergi dari sini. -Itu...
-Pergi dari sini. -Pergi dari sini!
-Aku membeli barang itu. -Ini sama sekali tak bisa diterima.
Semua kurir datang dalam keadaan teler.
-Siapa yang butuh pengedar? -Bukankah kau sudah menjadi pria baik?
Tenang. Setahun sekali, saat kondisinya tepat...
...Alison dan aku suka membangkitkan jiwa muda kami lagi.
-Setahun sekali? -Ya...
-Yang benar saja. -Baik, mungkin dua kali setahun.
Kau ingin coba? Ayo, ayo.
-Messer, jangan terlalu diguncangkan. -Tak apa-apa, dia suka. Lihatlah.
-Mess, aku memperingatkanmu. -Ayolah, dia baik-baik saja.
Astaga. Dia...
Astaga.
Tak khawatir, Sophie, kau bukan gadis pertama yang memuntahi Paman Messer.
Sophie, lihat. Seperti itulah wajah sengit.
Messer, ambillah baju di lemari Peter sebelum yang lain tiba.
-Kenapa, pukul berapa sekarang? -Pukul 11.00.
Tetapi menurut Messer baru pukul 10.00. Aku kaget kau sudah bangun.
-Kau memakai arloji saat bercinta. -Setidaknya aku tak selalu pakai topi.
Kau bisa melepas topimu. Kami tahu rambutmu mulai menipis.
Ini memang jenis rambutku. Rambutku tidak menipis.
Ini ulang tahun bayiku. Berdamailah. Angkat gelas kalian.
Ulang tahun pertama, lepas saja topimu untuk difoto.
-Itu dia. -Sebelum yang lain datang...
...kami ingin bersulang untuk dua orang favorit Sophie.
Serta sahabat karib kami.
Kami berhasil melewati tahun pertama dengan baik berkat kalian.
-Kami menyayangi kalian. -Kau menangis?
Tangisan ibu.
-Pengasuh bayi sudah datang. -Kenapa kalian butuh pengasuh?
Karena dia jenius.
Saat Sophie mengamuk, hanya dia yang bisa menenangkannya.
-Kami menjulukinya pawang bayi. -Pawang bayi, ya?
-Hei, apa dia seksi? -Seksi sekali.
-Ada apa denganmu? -Hai, semuanya, ini Amy.
-Halo, Amy. -Lihat siapa yang datang.
Sophie.
Ayo kita ganti bajumu.
Terima kasih.
Kau serius? Itu pawang bayinya?
Jika dia cukup umur untuk bercinta dengan Peter, aku akan tak berguna.
Kau takkan pernah tak berguna. Kemarilah.
Astaga. Bisakah kau menjauh? Kau bau muntah bayi.
No comments yet. Be the first to leave one.