Las primeras 200 líneas.
Suruh dia buka pintunya. Sekarang!
Jatuhkan senjatamu. Suruh dia...
Buka pintunya!
Minggir. Ayo!
Ayo!
Kemari.
Kemari!
Hei!
Aku datang.
Masood, jatuhkan senjatamu!
Kecilkan suaramu, sipir.
Kau sedang bicara dengan Masood Ali.
Aku mimpi buruk terburuk tiap pemerintah.
Ayo, jalan. Gerak!
Buka gerbangnya sebelum aku melangkahi mayatmu.
Cepat! Ayo!
Ayo, minggir!
Hei!
Matikan lampunya!
Rathod!
Tinggalkan kuncinya di mobil... dan minggir.
Deepak, aku tak percaya... kita mendapat kesempatan ini secepat itu.
Apa maksudmu?
Maksudku menembaknya.
Pemerintahmu ingin aku tetap hidup, Rathod...
...dan kau bertanggung jawab atas keamananku.
Oh, ya? Apa kita harus membiarkannya hidup?
Begitulah keinginan pemerintah.
Apa yang terjadi jika kita menembaknya?
Penyelidikan akan menyusul.
Jika dia kabur, dia akan membunuh lebih banyak orang.
Memang! Itulah yang dia lakukan.
Mari ambil risiko. Kita bisa korbankan nyawa dokter.
Dokter itu mungkin bisa selamat.
-Tapi Masood tidak. -Rathod!
Hei!
Aku tidak mengampuni nyawamu karena takut pada pemerintah
atau penyelidikan.
Aku ingin membunuh Azhar Khan...
...dan aku akan melakukan apa pun untuk membawanya padaku.
Dia pasti akan datang menyelamatkanmu.
Selama kau hidup, aku masih punya harapan.
Bawa dia pergi.
Bisnis kita bisa rugi.
India dan Pakistan yang dulu musuh, kini jadi teman.
Ini bagus bagi kedua negara, tapi buruk bagi kita.
Kita tak peduli berapa banyak Hindu atau Muslim mati.
Kita tak mengikuti agama apa pun.
Uang adalah satu-satunya agama kita.
Masood Ali adalah kunci yang menjalankan bisnis kita,
dan saat ini dia dalam tahanan polisi Mumbai.
Kita harus mendapatkan Masood Ali bagaimanapun caranya.
Semua persiapan sudah dilakukan.
Kita telah menyesatkan banyak anak muda atas nama agama.
Jihad!
Waktunya perang suci.
Masood Ali harus diselamatkan.
Kita sudah memilih beberapa pemuda beruntung untuk tugas ini...
...dan menunjuk Azhar Khan sebagai pemimpin kelompok.
Orang kafir telah merobohkan masjid itu.
Rehman, Abdul, cepat kemari!
Tolong jangan lakukan ini!
Mundur. Ayo.
Amjad, jangan ikut campur.
Mereka merobohkan dinding masjid.
Jadi pergi dan robohkan dinding rumahnya!
Mundur. Gerak!
-Bakar bus itu. -Hei!
Apa yang kau tunggu? Bakar itu!
Aku akan membunuh siapa pun yang berani maju.
Kau mau membunuh kami demi orang kafir ini.
Sebagai Muslim, kau mau membunuh orang komunitasmu sendiri!
Dia bukan Muslim sejati.
Kau benar. Aku bukan Muslim.
Menurut Quran , memungut bunga pinjaman itu buruk
tapi bunga adalah penghasilanmu.
Kau telah membangun banyak gedung
dengan membebankan bunga tinggi pada orang miskin.
Aku bukan Muslim sepertimu.
Kenapa kau tertawa?
Quran juga menyatakan minum itu dilarang,
tapi dia mabuk setiap saat.
Apa aku benar, Fuqroo?
Dia sedang mabuk, dan dia ingin melindungi agama.
Aku bukan Muslim sepertimu.
Islam mengajarkan untuk melindungi anak, lansia, dan wanita,
tapi kalian semua ingin membunuh mereka!
Kau cepat lupa, Amjad,
mereka adalah orang yang sama
yang merobohkan dinding masjid.
Tuan,
lihat ke sini. Aku di sini.
Kau sudah dua kali kena serangan jantung dan yang ketiga akan menyusul.
Kau hampir mati,
tapi kau masih dramatis.
Kau tak punya harapan hidup, setidaknya biarkan kami hidup tenang.
Tapi, Amjad, bagaimana dengan masa lalu?
Sampai kapan kau akan terpaku pada masa lalu, membuat kami menderita di masa kini
dan menghancurkan masa depan kami?
-Di mana sopirmu? -Paman Wasim.
-Wasim? -Ya.
Itu nama Muslim. Dia seorang Muslim.
Ayo. Pukuli dia. Bunuh dia.
Ayo, mari pergi.
Pergi dan lakukan pekerjaanmu. Kau juga pergi.
Berapa yang harus kupaketkan untukmu?
-250 gram. -250 gram?
Ya, hanya aku dan putraku di rumah.
Ini dia.
Munna!
Munna?
Munna?
Bu!
-Munna. -Ambil kembaliannya.
Munna?
Bibi, apa yang kau lakukan?
Hei, apa kau buta?
Apa kau baik-baik saja?
Itu bukan putraku.
Amjad, jangan tinggalkan ibumu sendirian dalam kondisi ini.
Setidaknya sewakan perawat untuknya.
Harus ada seseorang bersamanya setiap saat.
Sesuatu bisa saja terjadi hari ini.
Aku tak tahu cara menjelaskan pada Ibu.
Dua tahun lalu, dalam kerusuhan Gujarat, saudaraku Munna...
Jika dia masih hidup, dia pasti sudah pulang.
Setiap hari aku terus memberi harapan palsu pada Ibu.
-Kopi. -Ibu.
Meghna itu sangat malas.
Dia baru muncul setelah sekian lama.
-Ini, minumlah. -Ya.
Dia benar.
Apa kesibukanmu akhir-akhir ini?
Aku mengajar karate untuk anak-anak dan juga melanjutkan kuliah.
Bagus! Dia mengajar karate dan ingin masuk saluran berita juga.
-Kenapa kau tidak menikah? -Pikirkan dirimu sendiri.
Apa kau akan terus bermesraan dengan Heena sampai tua?
Diam atau aku siram kopi panas ini padamu...
Aku akan meninjumu!
Mulai hari ini kupanggil kau Ratu Karate.
Pergi sana!
-Ibu, aku berangkat sekarang. -Baiklah.
Dah.
Dah, nanti kita bicara lagi.
Dia gila.
Tuhan, sudah sore, dan aku belum dapat satu penumpang pun.
Tuan, mau naik angkutan?
-Apa becak ini bisa disewa? -Salam, tunggu sebentar.
Terima kasih, Allah!
Ke mana, Nyonya?
Jalan terus.
-Ke mana? -Jalan terus saja.
Jalan ini ke Ahmedabad. Mau ke sana?
Aku tak peduli ke mana jalannya,
kau jalan terus dan berhenti di mana kuminta.
-Apa kau punya korek api? -Buat apa korek api?
Aku mau merokok.
Apa kau merokok?
Tidak, aku butuh untuk menyalakan lilin! Kau tidak merokok?
Aku tidak merokok, dan tak mengizinkan siapa pun merokok di becakku,
apalagi seorang wanita.
Putar lagu Hindi romantis.
Pemutar musiknya tidak berfungsi.
-Kenapa kau tidak menyanyi? -Tenggorokanku sedang sakit.
Baiklah, aku saja yang menyanyi.
- Bertemu dan bicara denganmu terasa indah -Entah dari mana dia datang!
Apa kau sudah menikah?
Belum.
Kenapa? Belum ketemu atau belum ada yang cocok?
Aku tak bisa mendapatkan yang kusuka, dan tak suka yang kutemukan.
Baiklah. Bagaimana sifat gadis itu?
Sifat gadis itu baik-baik saja.
Tapi mentalitasnya seperti ayahnya.
-Maksudnya? -Maksudku, dia sombong dan gila.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Ayahnya, Dildar, punya semua kualitas
seorang penjahat.
Tapi jangan merasa kasihan padaku.
Suatu hari aku akan menikah. Aku takkan mati membujang.
Aku pasti menikah. Hidup Rashid!
-Apa kau mau menikahi Rashid? -Bukan Rashid,
aku akan menikahi putrinya.
Dia punya empat taksi.
Dan, Nyonya, hidup ini terlalu singkat.
Kita akan bahagia dan mengendarai taksi berbeda tiap hari.
-Berhenti! -Kenapa?
Apa kita sudah sampai Ahmedabad?
Kau penipu! Kau curang! Ini hal terakhir yang ingin kudengar!
Kau mau menikahi putri Rashid!
Dasar serakah! Kau berubah pikiran hanya demi empat taksi!
Ya Allah! Hidupku hancur! Tamat sudah!
Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghinaku di depan umum?
Semua orang melihat ke sini.
Lagipula, orang cari alasan untuk memukuli sopir.
-Kau pantas mendapatkannya! -Kau mau aku dipukuli!
Kau yang naik dan menyuruhku jalan terus!
Itu salahmu sendiri.
Aku menunggumu di luar kampus selama empat hari!
Kenapa kau tidak datang menemuiku?
Aku datang, tapi kau sibuk makan burger di kantin!
No comments yet. Be the first to leave one.