Las primeras 200 líneas.
Translate Spanish~Indo Risqi Adittya
LIDAH KUPU-KUPU
Andrés...
Andrés, bangun.
Ada apa?
Kau dipukul di sekolah?
Tentu saja.
Ke mana?
Ke sekolah.
Lagipula, aku sudah bisa membaca.
Aku akan pergi ke Amerika, seperti paman kita
agar terhindar dari perang.
Apa maksudmu?
Aku tidak mau dipukul.
Oleh siapa?
Oleh guru. Wajahnya terlihat kejam.
Tidurlah.
Kau tidak mau tertidur di sekolah.
Kalau begitu kau benar-benar akan dihukum.
Biarkan aku naik dulu sebelum guru datang. - Tidak.
Lihat, itu dia.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Ini dia.
Jadi kau sudah bisa membaca?
Ayahnya yang mengajari saat dia sakit.
Katamu dia asma.
Ya, tapi sekarang sudah membaik.
Dia pemalu.
Dia memerlukannya kalau asmanya kambuh.
Tidak bisa bernapas.
Cium, Nak.
Bersabarlah dengannya, dia itu seperti burung gereja,
baru pertama kali keluar dari sarang.
Ayo, Nak.
Selamat pagi,
Selamat pagi, Don Gregorio!
Kau, anak baru,
Berdiri!
Namamu?
Burung gereja! Namanya Burung Gereja!
Tolong!
Kemari.
Jawab. Atau kau mau kami semua memanggilmu Burung Gereja?
Dia mengompol!
Tunggu... Kembali ke sini!
Ada apa, Nak?
Moncho, apa yang kau lakukan di sini?
Moncho!
Kau mau ke mana?
Seperti yang sudah kubilang. Rencananya dia mau
ke La Coruña lalu naik kapal ke Amerika.
Anak nakal itu.
Makan kejunya.
Kau tidak perlu repot-repot, Nyonya.
- Bagaimana keadaannya sekarang? - Baik-baik saja
Aku tidak percaya.
Semalaman
di luar tanpa makanan,
kedinginan, dan dia bahkan tidak masuk angin.
Kenapa dia pikir aku memukul murid?
Mereka memukulku di sekolah...
Aku tidak. Aku tidak pernah memukul siapa pun.
Apalagi anak kecil.
Katakan padanya aku datang untuk minta maaf.
Tolong, Don Gregorio,
ini bukan salahmu...
Dia anak yang perasa.
Aku ingin minta maaf
dan memintanya kembali ke sekolah.
Kau tidak mau kejunya?
- Tolong panggil dia. - Baik, Tuan.
Aku suka nama itu. Burung gereja.
Kita hanya akan memakainya kalau kau suka.
Dan maafkan teman sekolahmu, mereka tidak seburuk itu.
Suatu hari kau akan menertawakan mereka.
Ini enak sekali.
Tenang! Tenang!
Duduk!
Hari ini kita punya murid baru.
Itu kebahagiaan bagi kita semua
dan kita akan menyambutnya dengan tepuk tangan.
Bagus sekali.
Tarik kursi itu dan duduk di sampingku.
Hari ini kita akan mulai dengan puisi.
Siapa?
Romualdo. Apa yang akan kau baca?
Puisi, Pak.
Puisi yang mana?
"Kenangan Masa Kecil" karya Antonio Machado.
Bagus sekali. Silakan.
Ingat,
pelan dan jelas. Dan perhatikan tandanya.
"Sore musim dingin yang dingin dan kelabu.
Para murid sedang belajar.
Monotonnya hujan di balik jendela.
Ruang kelas. Sebuah gambar
menampilkan Kain, buronan,
dan Habel yang mati,
di samping noda merah darah."
Apa artinya...
"monotonnya hujan", Romualdo?
Kalau hujan, hujannya deras, Don Gregorio. - Bagus.
Sekarang, dikte...
Halo.
Masuk, masuk.
Apa kabar?
Aku baik. Tapi anak itu tidak.
Aku tidak paham.
Kemarin aku kasih dia soal matematika,
dan dia payah sekali.
Ya... memang dia harus lebih giat belajar, tapi...
Kalau tidak pakai rotan...
Paksa angka-angka itu masuk ke kepalanya.
Kasih ke gurunya.
Tidak, aku tidak bisa terima...
Kau tidak mau permalukan aku?
Tolong, Don Avelino, aku tidak bermaksud...
Itu ayam yang bagus.
Seperti yang kubilang: perhatikan anak itu baik-baik.
Selamat tinggal.
Bawa ayam jago ini.
Apa?
Masukkan ke lacimu dan kembalikan ke ayahmu.
Baik.
Tapi dia akan marah.
Dia akan menamparku. Ya Tuhan...
Baiklah, kalau begitu...
Katakan padanya aku tidak bisa makan daging.
Ayam, maksudku.
Benar, katakan itu padanya.
Ngomong-ngomong soal ayam...
Kalau ayam jago bertelur
di perbatasan antara Spanyol dan Prancis,
telurnya milik negara mana?
Spanyol!
Kenapa Spanyol?
Kita lebih jantan!
- Kau bilang apa? - Ayam jago tidak bertelur.
Bagus sekali, Moncho. Itu jawaban yang benar.
Moncho,
duduk di sana, dengan Roque.
Romualdo, kau bisa mulai diktenya.
"Sore yang dingin dan kelabu...
musim dingin..." Baris baru.
"...sore."
Titik.
Aku mengompol hari pertamaku sekolah.
- Halo. - Halo, Nak.
Don Gregorio tidak memukul!
- Benarkah? - Benar.
Dan dia mengembalikan beberapa ayam jago
ke orang kaya yang berkuasa.
Siapa yang bilang begitu?
Anaknya, José María, yang bilang padaku.
Ayahnya lebih berkuasa daripada walikota.
Lalu ayam jagonya?
Hadiah untuk guru agar anaknya jadi pintar.
Tapi anaknya tidak mau belajar.
Dia bilang dia tetap akan jadi orang besar.
Kau tahu kentang asalnya dari mana?
Dari ladang, dari mana lagi?
Kentang itu dari Amerika.
Jangan konyol.
Itu benar! Don Gregorio yang bilang!
Sebelum Colombus, tidak ada kentang di Spanyol.
Lalu orang makan apa?
Kastanya. Jagung juga tidak ada.
Guru ini bagus.
Aku suka dia.
Kau berdoa tadi?
- Di mana? - Di sekolah.
Ya. Tentang Kain dan Habel.
Kau tidak bisa percaya gosip.
Don Gregorio, seorang ateis!
- Ateis? - Orang yang tidak percaya Tuhan.
Seperti Ayah?
Bagaimana kau bisa bilang begitu?
Dia mengutuk Tuhan.
Ya, itu... Itu dosa.
Hanya dosa.
Tapi dia percaya Tuhan, seperti semua orang baik.
- Bagaimana dengan iblis? - Dia ada?
Tentu saja ada!
Dia dulu malaikat yang memberontak pada Tuhan.
Dia jadi pucat di Neraka.
Jadi sekarang dia malaikat maut.
Lalu kenapa Tuhan tidak membunuhnya?
Tuhan tidak membunuh, Moncho.
Katanya mereka membakar gereja di Barcelona!
Orang Republik memang begitu!
Mereka tidak membakar gereja.
Dan berkat Republik, kami para wanita bisa memilih.
Lalu apa? Aku hanya akan memilih Kristus Sang Raja.
Raja tidak dipilih.
Keadaan sedang buruk.
Tapi aku tahu solusinya, ya, aku tahu.
Solusi apa?
Bakar Madrid.
Jangan biadab.
-Boleh, Don Gregorio? -Tentu saja.
No comments yet. Be the first to leave one.