Las primeras 200 líneas.
Gue dulu enggak punya malu, setiap saat pakai Narkoba.
Iya, gue - Bob. Anak kesayangan mama.
Gue dan kawanan merampok Apotek.
Udah semuanya, disana sini didaerah Pacific Northwest,
Walaupun mereka sedang buka ataupun tutup.
Enggak masalah buat gue. Kecuali tekniknya.
Tapi jangan pikir ini gampang.
Susah buat pecandu macam gue. Dan lebih susah lagi mimpin kawanan itu.
Dianne adalah istri gue.
Gue cinta sama dia. Man, dia juga cinta sama Narkoba.
Kita jadi pasangan serasi.
Kapanpun gue lagi ada. Gue habisin bareng Dianne.
Rick adalah karib gue. Otot gue.
Dia bukan pemula dalam hidup tindak kriminal.
Catatan kriminalnya naik dari penjahat muda ke maling kelas teri.
Dia melakukan segalanya dengan benar.
Nadine adalah ceweknya Rick. Penjaga toko yang dia godain pas kita lagi tugas.
Dia dapat diandalkan.
Dia enggak punya catatan kriminal. Cuma senyum pas dia mergok kita.
Gue pimpinan yang tak terbantahkan.
Gue memikul seluruh tanggung jawab di pundak gue kaya memikul anak gue yang berumur 4 tahunan.
Tapi menurut gue, dari lubuk hati,
Gue tahu kita enggak bakal menang.
Kita memainkan permainan yang enggak bakal kita menangin...
sepenuhnya.
Selamat pagi. Saya suka topi Anda.
- Apa Anda memiliki permen karet Wintergreen? - Saya kira tidak ada.
Hei!
Hei! Kemari! Wanita ini penyakitnya kambuh! Hei!
Ayolah, dia membuat barang-barang disini terjatuh!
Ayolah!
Kupikir, dia baru saja menelan lidahnya.
Lihatlah. Dia membiru!
Permisi. Apakah Anda terlalu sibuk untuk menukar uang dengan sirup obat batuk?
Sebentar saja, nyonya.
Tunggu sebentar, man. Dia mulai berbusa.
Saya butuh ambulan. Seorang wanita sedang kambuh kejang-kejang epilepsinya.
- Jadi gimana kita? - Eh... seperti biasa.
Apa Anda yakin tidak apa-apa?
Hei! Cepat. Masuk.
Cepatlah.
- Gue sudah bilangin untuk berjalan, bukan merangkak. - Lu bilang jalan itulah yang kita lakukan.
Iya, gue bilang jalan, enggak kaya orang yang lagi melihat-lihat barang dibalik kaca toko.
Parah lu, Bob.
Lu kenapa memakai didalam mobil? Lu enggak bisa menunggu sampai di ruamh kaya yang lainnya?
Diam, nyetir aja sudah.
Ya Tuhan. Lihat macetnya ini. Tai.
Kita harus pulang. Idiot, minggir lu!
Setelah perampokan ini, kawanan gue merasa puas.
Gue ketawa-tawa bayangin Biru atau Dilaudid bertumpuk-tumpuk
sampai sendok enggak muat menampung.
Saat obatnya mengalir ke badan gue mulai terasa hangat-hangat gatal
bakalan mengalir terus sampai otak. Otak pun mengelumatnya pelan-pelan.
Sudah mulai terasa dibelakang leher dan naiknya cepat bangat
dan gue merasakan kesenangan padahal dunia sedang bersedih
semuanya terasa lambat.
Semuanya terasa nikmat.
Musuh terburuk lu adalah seseorang yang enggak terlalu payah.
Semut di rumput, mereka hanya, tahulah, melakukan tugasnya.
Semuanya sedang menikmati merahnya mawar dari kesuksesan tak berujung.
Selama lu enggak berbuat kesalahan. Selama itu tetap terjadi, hidup... itu indah.
Sialan.
Oh, bajingan lu, kawan. Minggir lah.
Lu bikin SIM dimana?
Palkon!
Baiklah, sekarang, semuanya tenang. Kaya kita baru pulang dari gereja.
Ada yang lihat korek gue?
Jadi, Gue pernah kerja dengan seorang pria dia dipanggil El Valdez.
Dan dia yang punya ide gila ini...
Taruh BR-nya terus di cairin.
- Nadine? - Kasih gue yang sama kaya Rick, gue pikir begitu.
Gue enggak berpikir begitu.
- Kenapa enggak? - Lu enggak boleh nyuntik Biru.
Kasih dia separuh, Bob. Dia bakalan giting sepanjang siang.
Sialan. Gue disana sama juga kaya lu. Gue kira bakal dapat sama kaya yang lain,
walaupun gue enggak nyuntiknya sekarang.
Itu bukan hal yang bekerja disini, Nadine. Maksud gue, lu enggak ngapa-ngapain.
Gue yang berani ambil resiko gede.
Bagaimana dengan Dianne? Dia juga enggak ngapa-ngapain.
Yang benar?
Itu yang lu pikir? Jangan kasih dia apa-apa, Bob.
Buang aja dia ditempat kita nemuinnya.
Enggak, enggak. Adil ya adil.
Lu mau bagianlu. Ini gue kasih, Nadine.
Tapi gue enggak tanggung jawab sama pemula yang ngambil dosis penuh jatah gue.
Lu ambil...
dan lu keluar.
Nadine, separuh aja Biru-nya, terus suntik, abis itu muntah-muntah sebentar.
Sh.
Semuanya tenang. Nadine, bawain... Ayolah! Bawain BR-nya.
Rick, ambil pistol lu. Ambil di kamar. Bantu gue.
Ini David. Cuma David. David, mau ngapain lu?
Gue cuma mau ketemu lu sebentar. Biarin gue masuk.
- Lu sendirian? - Iya.
Lu pikir gue bawa nenek gue yang mukanya kaya tikus gandeng gue?
David, lu itu bangsat.
Ada apa, kawan? Apa lu sekarang lagi gila gara-gara sesuatu?
Lu mau ngapain, anjing?
- Lu megang apaan itu? - Gue enggak megang wajan, buat main masak-masakan.
Gue tadinya mikir mau ke tempat lu cuma mau tahu lu punya Shabu enggak.
Iya, gue... gue ada Shabu.
Benar? Sini masuk. Bajingan cilik.
Aw, ayolah, Rick.
Baiklah, lu bilang lu punya Shabu? Shabu yang kaya gimana?
Gue punya Crystal Methedrine. Mantap BR ini, man.
Gue semaleman giting ini.
Ini, man. Cobain aja satu.
Berapa banyak yang lu bawa sekarang?
Ada sepuluh gram.
Gue ngomong ke Dianne dulu. Kenapa lu enggak duduk manis dan nonton TV aja dulu?
Okelah.
Sayang? Bocah didepan itu punya Shabu.
Bakal apaan Shabu? Lu tahulah, gituan udah enggak terasa buat lu.
Gue tahu, tapi dengerin dulu. Malam apa sekarang? Ini malam sabtu, kan?
Mari kita Nyhabu. Kita lemesin dulu, baru dah kita babatin Apotek gede.
Lu tahu kan. disebelah kantor pengangguran.
Sayang, lu sudah tahu permainannya. Ini permainan tai.
Ketika lu lagi panas, lu harus nugas. Ketika lu lagi dingin, santai-santai aja dulu.
Ya... sekarang, gue lagi panas sayang, Gue lagi panas, api meluap-luap di badan gue.
Baiklah, jagoan.
Kalo lu lagi panas bangat, kenapa lu enggak taruh gue di kasur dan kita esek-esek?
- Ayolah, Dianne. Lu paham maksud gue. - Iya, Gue paham maksud lu.
Apa, lu nonton I Spy semalam?
Enggak, gue nonton Outer Limits.
Gue lagi panas mau mencuri. Nyutik doang mah, kita bisa kapan aja. Ayolah.
Lagian juga, kita punya kawanan.
Jadi, lu bisa bawain gue TV?
- Iya, gue bisa. - Warna?
Iya, tapi lu mau ngasih gue apaan, man?
Bagaimana kalo Valium, man? Kayaknya lu nampung itu.
- Sepuluh milligram. 60 Valium. - Enggak apa-apa.
Okeh, dengar.
Jangan kasih tahu Bob.
Enggak bakal gue bilang ke Bob. Anjinglah dia.
Hei, cubluk. Mulai sekarang transaksinya.
Lu punya Biru?
Biru? Gue? Kagaklah. Lu tahu sekarang lagi susah dapatin itu, David.
Bagaimana kalo Morphine? Gue punya Morphine yang kane.
Yang kaya gimana yang lu punya, man? Morphine Sulphate?
Lu gila, man, soalnya gue enggak bisa baca tanda "dilarang berhenti" pas giting itu.
Mata gue enggak bisa fokus.
Lagian juga, Gue enggak transaksi barang mahal ditukar sama barang murah.
Mau bagaimana lagi? Itu yang gue punya. Itu yang gue kasih.
Omong-kosong, man.
Lu pikir gue goblok. Gue enggak segoblok yang lu kira.
Hei, David? Sayang sekali, kita enggak bisa bisnis lagi, kawan.
Okelah, man. Anjing. Maafin gue, Oke?
- Gue enggak bermaksud begitu. - Santai saja. Semuanya enggak jadi masalah.
Jadi seberapa banyak Morphine yang mau lu kasih buat ini?
2.25 gram per paketnya, gue kasih banyak karena gue lagi baik.
Karena lu pejantan tangguh, gue ambil 10 gram aja.
10 gram? Okelah. jadinya 9 kotak. 9x10, uh...
Jadi, uh, 75.
Iya, 75. Benar.
Jadinya 90, Bob.
Iya, Bob. Jadinya 90.
Hei, Bob, seberapa banyak buat dia? Seberapa banyak buat dia?
Ha?
Seberapa banyak BR ini untuk gadis beringas ini?
Hei. Lu kira gue apaan? Seorang germo?
Gue enggak pernah dengar penyelewengan hak atas wanita seumur hidup gue.
Cuma penasaran, seberapa banyak kotak Shabu lu mau ngelepasin cewek ini?
Gue, uh... enggak tahu.
Cubluk lu! Lu senggol gue dan Gue patahin gigi lu.
Dia galak, man.
Baiklah, Baiklah. Kita kelarin transaksinya.
- Maaf. - Ambil barang lu, David, dan pergilah.
Kita lagi mau ada acara.
Baiklah. Maaf, Dianne. Nih, Bob.
Iya.
- Baiklah, man. - Baiklah. Trims.
Baiklah. Semoga sore kalian menyenangkan.
Besok lagi kalo lu ngomong pas gue lagi itung-itungan,
Gue tuker lu ke orang gila yang matanya satu di karnaval buat se-pak permen karet.
Lihat gue, sayang. Gue lagi histeris.
Maaf, Bob.
COba ingat-ingat. mengenakan kaos O-neck, atau baju berkerah, atau gimana?
Mengenakan blouse. Blouse.
Um...
Saya tidak terlalu mengingatnya.
Dianne, apa lu sudah mulai gila?
Dianne, lu mau ngapain?
Lu giting apaan? Lem? Dianne, dengar. kita harus nugas.
Gue ingat rumah sakit didaerah pantai. Setahu gue masih perawan. Setahu gue begitu.
Maksud gue, tempat itu enggak ada keamanannya.
Gue berani taruhan pasti ada Kokain, mami. Semua rumah sakit, pasti ada banyak Kokain.
Lu gila, Bob. Kita baru saja membuat pencurian terbaik bulan ini.
dan lu mulai terobsesi buat lebih.
Man, lu enggak mau istirahat dulu.
Ayolah, Bob.
Lu paham gue. Gue enggak sanggup kalo harus kaya begini selamanya.
Ayolah. kenapa lu enggak mau gendong gue ke kamar dan kita pegang-pegangan sebentar?
Lu mau gue megangin apa? Dengar, Dianne, kita seharusnya keluar nyuri.
- Gue pikir lu cinta sama gue. - Kenapa kita enggak...
Lu enggak mau kentu sama gue dan gue selalu harus nyetir.
Dengar, kenapa kita enggak, uh, uh, meluncur ke rumah sakit itu sekarang
dan coba kalo kita bisa berhasil sebelum matahari terbit?
Maksud gue sayang, lu bakalan senang kalo berhasil, man.
Maksud gue...
Gue bisa sikat semua botol pil yang ada dirumah sakit itu sekarang.
No comments yet. Be the first to leave one.