Las primeras 200 líneas.
"Episode 46"
Apa kamu mendengarkan?
Ayo bertemu sekarang. Kumohon.
Ada apa?
Apa kamu mau mencoba gaun pengantin yang lain?
Kamu juga cocok mengenakan yang ini.
Aku akan memakai ini.
Aku harus kembali bekerja sekarang.
Aku ada rapat.
Baiklah. Telepon aku nanti.
Halo?
Kenapa kamu meneleponku?
Ada yang harus kukatakan langsung. Ayo bertemu sekarang.
Tidak. Kurasa kita tidak perlu bertemu.
Sekali ini saja. Kumohon.
Aku yang memohon.
Tolong jangan hubungi aku lagi.
Selamat tinggal.
Begitu rol busanya sampai ke betis,
rentangkan kakimu.
Saat menegakkan badan,
kamu bisa mengulangi gerakannya...
Hei!
Kamu kejam sekali.
Kupikir Bibi bilang tidak akan melakukan ini lagi.
Bukan begitu. Kalau tidak tahu, diam saja.
Bibi sedang menyiapkan diri untuk tinggal di Amerika.
Bibi harus mencari pekerjaan saat di sana.
Bibi tidak bisa diam saja di rumah.
Aku tidak suka Bibi melakukan ini. Itu menggelikan.
Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?
Kami tidak bertengkar.
Kenapa pula aku bertengkar dengan keponakanku?
Aku menegurnya.
Dia merekam dirinya untuk diunggah ke internet.
Kenapa kamu melakukan ini lagi?
Kamu belum kapok?
Saat ini, orang-orang ingin berolahraga di rumah
tanpa menghabiskan banyak waktu dan uang.
Aku melakukan olahraga rumah.
Aku mengunggah beberapa video dan itu menarik banyak perhatian.
Semua orang menonton videoku.
Sekali lagi kamu melakukan hal ini, kakak tidak akan diam saja.
Jangan cemas.
Katanya Kakak akan ke Amerika untuk melihat-lihat sekolah.
Ya, kakak akan naik penerbangan pertama besok.
Jaga anak-anak dan jangan sampai bertengkar.
"Interogasi Saksi"
Anda diinterogasi sebagai saksi, jadi, jangan khawatir.
Jawab saja pertanyaan kami.
Baik.
Se Bang.
Ibu.
Kamu seharusnya berada di Tiongkok, bukan?
Aku pulang hari ini.
Cepat sekali.
Tiongkok sangat dekat.
Aku menyelesaikan urusanku, lalu langsung kembali.
Tapi kenapa kamu ada di sini?
Apa ada yang harus diurus?
Temanku seorang kepala polisi. Aku mampir untuk menyapanya.
Dia berteman dengan kepala polisi? - Benar.
Sepertinya menjadi pengusaha membuat dia menemui banyak orang.
Dia mengenal banyak orang.
Orang-orang yang ditipu sedang bersiap menuntutnya.
Ada banyak orang yang marah kepadanya.
Kenapa kamu ke kantor polisi?
Tidak perlu khawatir? Kamu yakin?
Tentu saja aku khawatir.
Bagaimanapun juga, kamu memiliki kriminal...
Soal anak-anak...
Kenapa?
Kamu menyembunyikan apa?
Tidak ada. Aku sedang menelepon.
Kamu bicara soal kriminal. Kamu menelepon siapa?
Itu...
Orang yang kukenal. Kenapa anak-anak?
Kamu mengenal orang yang punya catatan kriminal?
Tentu saja, aku mengenal berbagai macam orang.
Orang dengan catatan kriminal dan anggota geng.
Mendengarnya saja aku sudah takut.
Aku ingin membicarakan anak-anak.
Sebelum Jae Soon menikah,
Jeon Se Bang dan Gab Dol harus diperkenalkan secara resmi.
Itu ide bagus.
Mereka harus diperkenalkan secara resmi agar akur.
Ayo buat pangsit dan undang mereka. Ibu akan berbelanja.
Baik, Bu.
Kimchi-nya enak, jadi, pangsitnya pasti lezat.
Gab Dol menyukai pangsit. Dia akan langsung bangun saat mendengarnya.
Se Bang juga menyukai pangsit.
Kalau begitu, kedua menantu ibu menyukai pangsit.
Akan kubuat juga kimchi segar. - Ya.
Dia membuat sup pangsit?
Pastikan aku mendapat porsi lebih.
Baik, aku akan membuat pangsitnya.
Kamu akan pergi ke rumah mertua? - Ya.
Memangnya tidak boleh?
Bukan begitu.
Kamu harus berhati-hati agar tidak terkena masalah.
Tolong perbaiki laporan ini. - Baiklah.
Memangnya terkena masalah apa?
Kamu mahir sekali membuat pangsit.
Kamu akan memiliki anak yang cantik.
Benarkah?
Aku akan memakan semua pangsit buatanku.
Aku bisa makan pangsit seharian.
Sudah kuberi tahu mereka bahwa kamu suka sekali pangsit.
Apa pangsitnya siap? Supnya sudah mendidih.
Sudah hampir beres berkat Gab Dol.
Jae Soon, suamimu datang.
Aku datang.
Selamat datang. Tepat sekali.
Apa ini berlian?
Ini hadiah pernikahannya.
Kamu beruntung sekali.
Cantiknya.
Cantik.
Berapa harganya?
Pasti mahal sekali.
Dia memberikan itu saat kali pertama mereka menikah.
Kita sudah lama menjualnya.
Aku membeli yang lebih besar.
Kamu menyukainya?
Tentu saja.
Dia berbicara kepada Jae Soon, bukan kamu.
Jawabannya juga sama.
Aku sudah melalui semua itu.
Aku bukti hidup. Benar.
Sungguh? Aku yakin kamu tidak pernah melihatnya.
Cobalah.
Nanti.
Apa?
Apa ada sesuatu untuk kami?
Ambilkan pangsit untuk bibimu.
Ibu. Ini uang belanja.
Terima kasih sudah mengundangku makan malam.
Ini bukan acara istimewa.
Aku sedih sekali karena tidak punya menantu.
Apa kamu punya sesuatu untuk kami, Gab Dol?
Dia membuat semua pangsit itu.
Benar, jika tidak punya uang, setidaknya harus bekerja keras.
Se Bang, ibu akan membawakan sup pangsit untukmu.
Kamu mau pangsit kukus juga? Kamu menyukainya, bukan?
Ya, terima kasih.
Mungkin tidak cukup.
Aku tidak sabar mencicipi pangsitnya.
Cepat berikan kepada Gab Dol.
Ya. Ini terlalu banyak.
Se Bang, tambah lagi.
Aku yang membuatnya. Aku bisa tambah lagi.
Ibu lupa pangsit kukusnya.
Kamu sudah menyisakannya untuk Dal Pa, bukan?
Ya. Aku sudah menyisakannya.
Lezat sekali.
Ini.
Supnya juga lezat.
Karena kalian sudah diperkenalkan, jadilah seperti kakak adik.
Baik. - Baik.
Jika ada masalah, bilang aku saja. Anggap aku kakakmu.
Kita harus akur. Itu akan membuat mereka senang.
Baiklah.
Tapi siapa yang akan punya anak lebih dahulu?
Apa kamu, Se Bang, atau Gab Dol?
Aku. - Tidak, kakak dahulu.
Kita bisa melakukannya, bukan?
Makan saja pangsitmu.
Se Bang, ini.
Pangsit Ibu sungguh yang terbaik.
Jangan memuji ibu. Ibu senang kamu menyukainya.
Ibu, boleh aku tambah pangsit lagi?
Ibu seharusnya membuat lebih.
Aku membuat banyak.
Jika tidak dikukus, seharusnya ada banyak untuk semua.
Ada yang kulitnya robek.
Berikan mangkukmu. Makan yang ini. Makanlah.
Kimchi juga enak.
Kimchi segarnya juga.
Kenapa? Kamu tidak suka pangsitnya?
Aku kesal karena diperlakukan tidak adil.
Kamu kenapa?
Kalian bertengkar lagi?
Tidak, Ibu.
Ikut aku.
Katakan. Apa yang tidak adil?
Ada apa dengan keluargamu?
Kamu mengungkitnya lagi. Ada apa dengan keluargaku?
Kamu selalu mengkritik ibuku.
Kenapa kamu marah?
Apa keluargamu suka mempermalukanku?
Haruskah mereka membuatku malu dengan penghasilan tetapku?
Haruskah dia memberi uang belanja di depanku,
agar aku tampak buruk?
Apa memberi uang belanja itu salah?
Kamu seharusnya malu karena tidak memberi,
bukannya malah mengkritik.
Lagi pula, dia yang memberikan uang. Apa salah ibuku?
Kamu pikir tidak ada yang ingin kukatakan kepadamu?
Kamu lihat Se Bang memberi kakakku satu set berlian?
Apa kamu merasakan sesuatu?
No comments yet. Be the first to leave one.