Las primeras 200 líneas.
24 - 06 - 2013 VLADIVOSTOK, RUSIA
Tuan Matsunaga.
Hey, kita pernah bertemu dimana?
Kita pernah bertemu di jalan Roppongi di Tokyo.
Lalu Matsunaga-san pernah mengajakku makan bersama.
Kapan itu?
Sebulan yang lalu.
Ah. Eh? Tapi hanya sekali itu saja kan?
Sejak itu anda tak pernah menghubungiku lagi, saya penasaran.
Sejak itu saya terus mencari tuan Matsunaga, setelah mencari kesana kemari...
Saya mendengar bahwa anda sudah tidak berada di Jepang lagi, sudah ke Rusia.
Dan kemudian sayapun datang kemari.
Ah, aku menyerah.
Itu kopermu?
Iya.
Tak boleh lho, digeletakin di tempat begitu.
Maaf.
Kemari.
Memang waktu itu aku mengajakmu bicara dan mengajakmu ke restoran
tetapi waktu itu ada banyak temanmu dan akupun agak sedikit mabuk...
Aku hanya merasa daripada makan sendirian, mending makan beramai-ramai.
Tidak punya perasaan buruk apapun kok.
Begitu ya?
Begitu keluar dari restoran langsung melupakanku yah?
Ya.
Agak sedikit bikin shock.
Dengar baik-baik ya, karena aku orang Jepang, maka hal seperti ini tidak apa-apa, tapi
kalau di luar negeri tolong jangan sembarangan percaya dengan orang tak dikenal.
Terlebih lagi lelaki yang tiba-tiba mendekatimu dan mengajakmu makan bersama.
Ya.
Berikutnya...
Mau kemana?
Cuma mau bayar tagihannya saja.
Tuan Matsunaga?
Tuan Matsunaga? Tunggu!
Saya mesti bagaimana sekarang?
Saya Matsunaga, senang bertemu dengan anda.
Ya, senang bertemu anda juga. Semoga kita dapat menjadi mitra bisnis yang baik.
Kuharap begitu.
Tolong ya, mulai sekarang jangan mengikuti aku terus.
Tuan Matsunaga...
Kau lagi ngapain?
Ini bukan tempat yang pantas didatangi turis.
Kau tidak apa-apa? Sekujur badanmu penuh luka.
Asalmu darimana? Orang China?
Kalau lapar, mau kuberi makan apa gitu di rumahku?
Tak usah pedulikan saya.
Perlu menu dengan bahasa Jepang?
Iya.
Kau...
Saya bukan orang Jepang, saya orang China.
Apa itu?
Bayarannya.
Sama sekali tak cukup.
Saya cuma punya segini.
Gawat. Tunggu sebentar ya.
Apa? Makan dan kabur tanpa bayar?
Para turis Jepang jarang melakukan hal seperti ini.
Paspor dan dompet, serta koperku dicuri orang.
Kalau begitu bengong di tempat ini juga tak ada gunanya.
Cepat ke kedubes sana.
Pasti akan dideportasi pulang Jepang kan?
Itu pasti.
Saya masih belum bisa pulang. Saya masih ingin berada di kota ini untuk sementara.
Ada seseorang yang sedang kucari.
Mencari siapa? Cowok?
Iya.
Orang Rusia?
Bukan, orang Jepang.
Hm? Kau tak punya sepersen uangpun, bagaimana mencarinya?
Saya... barusan menyadari...
Dari jendela ini kelihatan orang-orang yang lalu-lalang di jalan ya?
Ya.
Dia mungkin akan melewati sini.
Ya.
Bolehkah saya tinggal disini untuk sementara?
Eh?
Ijinkan saya untuk bekerja disini.
Tidak, tidak mungkin. Seperti yang kau lihat, pengunjung kami sedikit sekali.
Kami bahkan memutuskan untuk menutupnya bulan depan.
Tetapi saya kan masih harus melunasi tagihan makan saya barusan.
Aku mengerti. Aku anggap saja tak pernah melihatnya, cepat pergi.
Jadinya makan dan kabur dong.
Ya, kira-kira seperti itu.
Saya tak suka begitu.
Kalau begitu kau mau ke kedubes dan meminjam uang dari sana?
Tidak bisa.
Jadi kau maunya bagaimana?
Siapa namamu?
Akiko.
Nona Akiko, namaku Xiao Yan, senang bertemu denganmu.
Saya juga, senang bertemu dengan anda.
Perjalanan wisata yang direncanakanmu jadi kacau deh ya.
Ya apa boleh buat, karena aku ceroboh sekali.
Nona Xiao Yan mengapa bisa berada di kota ini?
Saya bertemu dengan orang itu di Da Lian.
Seharusnya saya ke Jepang.
Orang yang barusan tadi itu?
Benar, namanya Saito.
Aku mengikutinya karena dia mengatakan mau membawaku ke Jepang.
Entah mengapa akhirnya sampai di kota ini.
Sudah setengah tahun berlalu.
Oh begitu ya.
Sebaiknya kau jangan terlalu banyak terlibat dengan Saito.
Dia pelit.
Sewaktu di Jepang dia lelaki tak berguna, di luar negeri pun demikian.
Hehe.
Nona Akiko demi mencari seseorang tiba di kota ini kan?
Iya.
Kalau tidak cepat mengejarnya
dia mungkin bakal pergi lebih jauh lho.
Rusia luas lho.
Salah lihat orang.
Stok tepung terigu sudah habis katamu, bagaimana bisa?
Aku tak bisa menunggu sampai 1 bulan, restoranku akan jadi apa ini?
Apa? Ganja?
Aku tak perlu barang seperti itu, sama sekali tak ada hubungannya denganku.
Oke, aku tak akan meminta tolong padamu lagi.
Aku akan mencari jalan lain.
Benar-benar nih.
Aku jadi tidak mengerti sebenarnya negara ini punya apa dan kurang apa.
Kalau tepung terigu ada koq di supermarket.
Mahal sekali, dengan itu sama sekali tidak bisa mendapatkan keuntungan.
Kalau begitu bikin saja makanan yang tak memerlukan tepung terigu.
Kalau begitu bagaimana caranya bikin roti?
Cuma perlu sedikit trik. Ganti saja dengan gandum hitam atau gandum liar.
Aku ingin menjadikan tempat ini restoran paling terkenal se-Vladivostok.
Kau, katanya mimpimu adalah mengumpulkan 100 juta yen.
Ya benar.
Bagaimana? 100 juta yen.
Nggak tau.
Mimpi akhirnya hanya akan berupa mimpi belaka.
Kau kurang keras berusaha.
Aku sudah berusaha, hanya saja keberuntunganku sudah habis.
Berkelana ke kota ini dan akhirnya gagal juga.
Ah, sepertinya sejak saat aku meninggalkan Jepang memang sudah ditakdirkan untuk gagal.
Tak apa-apa itu, pasti akan ada caranya.
Bagaimana mungkin kau memahami perasaanku.
Pengecut!
Maaf, hanya ada barang-barang seperti ini.
Dengan ini sudah cukup koq.
Saya bisa tidur dimana saja.
Tak ada orang Jepang yang akan datang ke sini.
Akiko, kalau kau bertemu dengan cowokmu,
apakah kalian berdua akan terus tinggal di kota ini?
Nggak tau.
Atau kalian berdua akan pulang Jepang bersama?
Bisa jadi ya? Saya sendiripun tidak tahu.
Saya tak begitu mengerti tentang dia.
Apa?
Oleh sebab itu ada banyak yang ingin kutanyakan kepadanya.
Kemudian dia akan menjawab apa?
Dan setelah mendengar jawabannya saya akan melakukan apa?
Kalau bisa bertemu dengannya sekali lagi
pada saatnya nanti pasti akan ada suatu keputusan.
Menarik.
Xiao Yan, mengapa bisa tinggal bersama dengan Tuan Saito?
Saya juga tak tahu.
Mungkin dengan siapapun juga tak masalah.
Asalkan orang yang bisa memberiku kekuatan.
Kekuatan?
Saya menginginkan kekuatan.
Kekuatan yang dapat mengubah dunia ini ke arah yang kuinginkan.
Demi ini, pasti butuh uang kan?
Tetapi, sampai saat-saat terakhir Saito juga tak bisa mengerti.
Walaupun saya memaksanya untuk melakukan hal itu.
Walaupun saya masih berkata "saya pasti akan mengumpulkan uang 100 juta yen"
namun dia hanya ingin membuka toko yang disukainya.
Membangun sebuah keluarga, atau memakan makan yang enak.
Dia hanya berminat pada hal-hal seperti ini.
Apakah bukannya karena ingin mendapatkan kekuatan barulah mengumpulkan uang?
Bukankah semua orang berpikir bahwa... kalau punya uang, akan juga diikuti dengan mendapatkan kekuatan yg diinginkan?
Apakah orang Jepang tidak berpikiran begitu?
Bagaimana ya...
Terima kasih.
Tak usah buru-buru seperti itu.
Bagaimanapun juga siang ini tidak akan ada pengunjung lagi.
Baik.
Ah, mengapa?
Kupikir ingin menjual makanan yang murah dan enak.
Orang Rusia, selalu memakan makanan enak di rumahnya.
Begitu di luar, asalkan bisa kenyang, makan apapun tak jadi masalah.
Sepertinya ini tradisi yang diturunkan sejak jaman Uni Soviet ya.
Tuan Saito apakah juga membuka restoran sewaktu berada di Jepang ?
Saya? Tidak.
Aku terus mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan asuransi kesehatan di kantor walikota.
Tetapi kalau memikirkan aku akan melakukan itu untuk seumur hidupku, rasanya tak puas sekali.
Makanya aku meninggalkan Jepang, melanglang buana ke banyak tempat.
Yah, kira-kira seperti itulah.
Mengapa bisa datang ke Rusia?
Karena kupikir mungkin caviar akan menjadi populer di Jepang.
Caviar... ya?
Ya, caviar.
Disini murah sekali, kira-kira hanya sepersepuluhnya harga di Jepang.
Walaupun aku mencoba menjualnya di departemen store dan supermarket, namun...
Hasilnya gagal.
Hampir tidak ada orang Jepang yang memakan caviar.
Benar juga sih.
Kemudian madu.
Ini juga gagal.
No comments yet. Be the first to leave one.