Las primeras 179 líneas.
Apa itu?
Bukankah itu Cho Sae Ho?
Aku terkejut.
Apa kau sering latihan?
Aku hanya latihan beberapa kali. Aku meminta bantuan...
manajerku untuk tes di jalanan.
Aku belum mengatakannya, tapi aku sudah latihan.
Aku tak mau mengulang kejadian di hari pertama.
Aku tak mau terlihat seperti pecundang lagi.
Aku ingin dapat SIM dan mengemudi.
Aku pernah mengambil tes disini dan gagal.
Benarkah?
Aku gagal tes...
- sekali disini. - Jadi kau lulus yang kedua kalinya.
Ini membuatku gugup.
Aku pasti akan dapat SIM dan mengajakmu jalan-jalan.
Aku akan menyemangatimu.
Di saat seperti itu semua orang gugup.
- Benar sekali. - Wajah Jota memperlihatkan...
- kalau dia gugup. - Gugup, bukan?
Aku tidak boleh gagal tes ini.
Kenapa?
Aku tidak boleh duduk di kursi penumpang lagi.
Kau bisa duduk di kursi belakang.
- Tidak. - Tidak apa-apa.
- Aku harus lulus. - Aku bisa melihatmu dari cermin.
Ku rasa aku perlu melihat kau menyemangatiku untuk mendapatkan SIM.
Kau bilang begitu seolah-olah kau sudah menantikannya.
Ku rasa aku perlu semangat darimu untuk mendapatkan SIM.
Tentu saja aku akan menyemangatimu.
Masalahnya aku perlu...
- melakukan aegyo untukmu, oppa. - Itu keinginannya minggu lalu.
Kau kalah bukan?
Aku ingin kau melakukan aegyo.
- Aegyo? - Aku belum pernah melakukan itu.
Kalau begitu lakukan jika kau sudah siap.
Aku akan latihan dulu.
- Oke. - Aku akan latihan.
Aku menyiapkan sorakan singkat dan enerjik.
Semoga kau berbaik hati meskipun kau tak menyukainya.
Kenapa malu?
- Oppa, kau menjauhlah. - Dia bilang menjauh.
Aku tidak malu. Aku hanya senang.
- Baiklah. - Apa begini tak apa-apa?
Ya. Sangat singkat.
Singkat, jadi tetap buka lebar mata mu dan...
telinga mu lebar-lebar. Oke?
- Aku ingin tahu. - Oke.
Aku sangat gugup.
- Eyy. - Hei.
- Aku sangat gugup. - Apa sulit?
Mungkin sulit bila menaruh harapan.
Jota, aku bahkan belum mulai. Jangan malu.
Kau sangat lucu.
Aku sangat gugup, bagaimana ini.
Tunggu sebentar. Aku sangat gugup.
- Aku akan mulai. - Ya.
Sayang.
- Dia sangat menyukainya. - Sayang.
Semangat.
Semangat.
Astaga, dia sangat lucu.
- Bagus. - Aku suka.
Aku suka.
Lihat, dia suka. Dia senang.
Aku tahu bagaimana Jin Kyung biasanya...
dan aku juga tahu dia tidak pandai melakukan hal itu.
Apa yang dia tunjukkan padaku itu lebih dari harapanku.
Aku tidak bisa berhenti tertawa...
karena itu sangat lucu. Aku sangat senang.
Bahkan wajahnya sangat merah. Dia sangat menyukainya.
Benar.
Sebenarnya, itu bukan aegyo penyemangat,
jadi ku rasa dia bisa sedikit kecewa.
Tapi telinganya merah...
dan dia tersenyum sangat lebar.
Melihatnya malu dan senang...
juga membuatku senang.
Oppa, aku akan segera kembali.
Aku akan segera kembali, jadi tolong sambut aku.
Dia tampaknya benar-benar senang.
- Oppa, apa kabarmu? - Hei.
Dia sangat malu sampai-sampai bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Oppa, kau akan mengambil tes mengemudi hari ini?
Oppa, hari ini...
Kenapa? Kau harus menyambutku secara alami.
- Apa kabarmu? - Dia pasti malu.
- Apa kabarmu? - Baik.
Kenapa wajahmu sangat merah?
Pasti terjadi sesuatu. Ada apa?
Dia kelihatannya benar-benar senang.
- Tidak, tapi... - Jangan tertawa.
Caramu berbicara itu lucu.
Astaga, dia tampaknya benar-benar senang.
Astaga. Dia lupa soal tes nya.
- Aku menonton video setiap hari, - Benarkah?
seolah-olah aku sedang kursus online.
Aku belajar.
Hanya saja aku sangat senang.
Aku tidak tahu.
Kau seharusnya tidak memintaku melakukan hal seperti itu.
Lucu.
Aku berjanji akan lulus tes.
Tidak perlu.
Aku akan lulus.
Karena aku melihatmu melakukan aegyo hari ini,
aku pasti akan lulus tes dan membawamu jalan-jalan.
- Apa video nya sudah mulai? - Itu cukup penting.
- Apa itu? - Itulah yang mereka lakukan hari ini.
Tuan Lee Jong Hwa.
- Ow. - Silahkan keluar.
Semangat.
Kau bisa melakukannya kan?
- Jangan terlalu gugup. - Aku percaya diri.
Jika kau gagal,
kau harus melakukan aegyo.
Sekarang, giliran nya.
Jika kau lulus, aku akan melakukan aegyo lagi.
Ku rasa aku harus lulus.
Aku terus memikirkan aegyo yang kau lakukan sebelumnya.
Sangat lucu.
Aku sangat malu.
Lihat betapa bahagianya dia.
Aku bisa melakukannya.
- Tuan Lee Jong Hwa, kemari. - Oke.
Tuan Lee Jong Hwa, semangat.
Semangat.
Aku pergi.
Bagaimana...
- Itu dia, mobil kuning menyeramkan. - Mobil kuning.
Halo.
Aku hampir lupa. Aku perlu memeriksa sesuatu.
Jangan lupa untuk memeriksa semua kelayakan mobilnya.
Aku harus memeriksa mobil.
Baiklah.
Halo.
Dia berkarisma.
- Kursus... - Semoga saja bukan B.
- Kau akan mengemudikan kursus C. - Ya.
- Syukurlah. - Dengarkan instruksinya.
Jika kau tidak tahu rute,
- kau boleh bertanya kapan saja. - Ya.
Periksa kaca spion samping dan belakang.
Pakai sabuk pengaman.
Ya.
Astaga, aku gugup.
Tes akan segera dimulai.
- Silahkan mulai. - Ya.
- Side breaknya. - Side break?
- Posisi parkir. - Oh, ya.
- Astaga. - Maaf.
- Aku gugup. - Aku bisa melihat betapa gugupnya dia.
Aku sangat gugup.
- Aku tidak yakin. - Aku setuju.
Kenapa dia sangat lambat?
Bukankah dia terlalu lambat?
Aku gagal tes sebelumnya karena aku bergerak terlalu lambat.
- Tidak akan bisa lulus jika terlalu lambat. - Batas kecepatannya 60km per jam.
Jika kau menghentikan mobil di lampu merah,
Jangan lupa memindahkan gigi ke netral.
- Dia pasti sangat gugup. - Dia terlihat cemas.
Berangkat.
Dia sangat hati-hati.
Putar balik di 150m.
- Ayo pergi. - Ya.
- Dia membuat banyak sekali kesalahan. - Apa idia akan mengurangi poinnya?
Dia sangat berhati-hati padanya.
- Ow.. Bagaimana ini.. - Tidak.
- Tidak. - Dia mengintipinya.
Dia terus menulis sesuatu di laporan.
Ku pikir, "Apa aku melakukan kesalahan?"
Aku sangat khawatir gagal.
Setelah melihat Jin Kyung melakukan aegyo,
aku terus memikirkan itu selama tes.
- Aku terus memikirkan aegyo nya. - Dia harusnya tidak melakukannya.
- Dia tidak bisa fokus pada tes. - Aku ingin melihat itu lagi.
Jadi ku rasa aku harus mendapatkan SIM.
Karena aku terus memikirkan tentang itu,
- aku menjadi lebih gugup. - Dia romantis.
No comments yet. Be the first to leave one.