Las primeras 93 líneas.
Penggerak kehidupan manusia adalah
rasa takut.
Manusia selalu berhasil menemukan alasan untuk punya rasa takut.
Jalan hidup yang kita pilih dalam hidup kita
Itu juga diputuskan dari rasa takut.
Tapi, apa semua rasa takut ini nyata?
Pikirkan tentang hal ini.
Rasa takut berarti, di masa mendatang
haruslah bisa mengatasi semua masalah.
Tapi, siapakah penguasa waktu?
Penguasa waktu itu adalah kita sendiri, musuh kita atau pesaing kita.
Waktu itu sepenuhnya milik Dewa.
Jadi, jika seseorang punya rencana jahat pada dirimu,
Apakah dia memang bisa jahat padamu?
Tidak.
Tapi hati yang penuh dengan ketakutan, akan banyak merugikan kita.
ini benar, khan?
Pada masa yang sulit, hati yang penuh dengan rasa takut, akan membuat keputusan yang salah
dan membuat masalah itu jadi lebih sulit.
Tapi hati dipenuhi dengan iman
mampu mengatasi masalahnya laksana hembusan angin.
Dengan kata lain,
alasan rasa takut itu ada dalam hati manusia
tergantung pada tindakan yang kita lakukan dalam menghadapinya.
Ini benar, bukan?
Coba kau pikirkan!
Mangga-mangga ini rasanya manis, kak?
Apa pun didapat dengan kekuatan, akan terasa manis.
Mari, kita makan saja.
Selama kakakmu Bhima masih hidup
Kalian akan terus makan buah-buahan yang manis.
Mari kita makan!!. - Dan selama Duryodhana masih hidup
ia akan terus membuat buah-buah yang manis rasanya menjadi pahit.
Mengapa kau berkata demikian, Duryodhana?
Adik-adikmu telah merusak pohon-pohonku.
Mereka mencuri mangga-mangganya
Dia telah menghina mereka.
Dia adalah saudara ku juga, Duryodhana.
Seperti juga Bhima, kau juga saudaraku.
Dan saudara itu harus diberi pelajaran ...
Bhima, tenang dulu.
... ketika mereka menjadi kurang ajar.
Kau mau mengajari kami pelajaran itu?
Kau?
Siapa yang telah datang ke kerajaan kami sebagai pengungsi?
Kau mau beri kami pelajaran?
Bhima, berhenti! Bhima!
Duryodhana adalah saudaramu juga.
Bhima, Duryodhanaa, berhenti!
Berhenti, Pangeran! Apa yang kalian lakukan?
Lepaskan aku ...
Aku akan membunuhnya hari ini!
Lepaskan aku. - Aku bilang berhenti, Pangeran Duryodhana!
Kau sudah Kurang ajar!
Seperti buah yang jatuh
kebijaksanaanmu pun menghilang bersama waktu.
Beraninya kau bersikap begitu dalam istana ini?
Kalian akan dihukum untuk ini.
Maafkan kami, kakek!
Meskipun Bhima telah diserang oleh Duryodhana.
Dia sama bersalahnya seperti Duryodhana.
Maka, kalian berdua harus dihukum.
Berdiri di depan kuil semalaman
akan menjadi hukuman pertobatan kalian.
Sekarang yang lain, kembalilah ke tempat kalian.
Kembali!
Ibu, kami mendapat masalah besar.
Apapun masalah yang kalian dihadapi,
harus kalian rasakan bersama. .
Apakah mereka itu bodoh, paman?
Bagaimana seseorang bisa begitu bahagia bahkan saat sedang dihukum?
Mereka tidak bodoh.
Tapi, mereka itu cerdik.
Mereka telah belajar seni menipu orang lain.
Ketika mereka datang,
Aku pikir kau tidak terlalu takut pada anak-anak ini
tapi sekarang ...
Tapi sekarang, akupun takut pada mereka, Duryodhana.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, paman?
Sekarang kau harus selesaikan hukumanmu.
bersama dengan mereka.
Dan berpikirlah.
Sebelum memakai karangan bunga,
jika ada satu saja duri disana,
maka adalah sepatutnya untuk kau singkirkan, Duryodhana tercinta.
Ada lima duri di sini.
berarti lima duri...itu,
perlu kau singkirkan segera.
Aku akan menghancurkan mereka dan membuangnya, paman.
Dan pertama-tama, Aku akan berurusan dengan Bhima.
Aku akan mengirim dia pada kematiannya.
Bhima!
Bhima!
No comments yet. Be the first to leave one.