Las primeras 176 líneas.
Apa itu?
- Apa kau manusia?. - Dia mulai.
Mereka punya waktu yang menyenangkan.
Astaga.
Sekarang kita harus pergi. Aku akan mengemudi.
Dia bilang dia yang akan mengemudi, tapi dia tak punya SIM.
Ayo.
Ini, ini dimana oppa?
Kau bilang kau akan mengemudi.
Ya, itu yang tertulis di sana.
- Trek gokart. - gokart.
Meskipun aku yang menyarankan ini, aku merasa malu.
Kenapa?
Aku tidak bisa mengemudi ketika kami pertama kali bertemu,
jadi, aku ingin menunjukkan aku bisa berkendara dengan baik.
Aku membawanya kesana.
Idenya lucu.
Mengendarai keduanya sama tetapi tetap saja berbeda.
Bersyukur kalau dia ingin membawaku mengendarai gokart...
karena dia tidak bisa mengendarai mobil sesungguhnya.
- Dia bilang bersyukur. - Pakai alat pelindungnya disini.
- Oke. - Kau harus pakai yang pink.
Pas?
Pakai yang sama denganku.
Bagus.
Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya.
Apa? Alat pelindung?
Bukan, maksudku melakukan ini.
- Melakukan ini? - Iya.
Maksudku melakukan sesuatu yang seperti ini.
- Benarkah? - Iya.
Kelihatannya seperti melakukan sesuatu bersama-sama membuatnya bahagia.
Siap?
- Iya. - Iya.
Siapa yang akan mengemudi?
Aku.
- Disini? - Mereka naik bersama-sama.
Aku sudah pernah mencobanya. Sangat cepat dan mendebarkan.
- Kecil. - Gokart nya pendek.
Tunggu sebentar.
- Apa? - Dia membuka baju lagi.
Berhentilah membuka baju.
Kenapa dia begitu?
Dia melakukannya untuk menutupi kakinya.
Terima kasih.
Jota seperti pria gentle.
- Dia terbiasa berperilaku seperti itu. - Benar.
- Ayo berangkat. - Oke.
Aku takut.
Ayo.
- Kelihatannya menyenangkan. - Mereka terlihat manis.
- Ya. - Mereka manis.
- Mereka tampak seperti dua korek api. - Tunggu.
Astaga, tunggu.
Tunggu sebentar.
- Cepat sekali. - Dia sekarang berkendara sungguhan..
- Kita dalam perjalanan. - saat Jota mengendarai gokart.
- Aku pandai, bukan? - Bukankah ini terlalu cepat?
Astaga, tunggu.
- Ayo. - Rasanya seperti wahana permainan.
Kelihatannya lambat dari kejauhan,
tapi rasanya jauh lebih cepat naik gokart karena...
- dekat dengan tanah. - Iyakah?
Ya. Rasanya cepat.
Bagus.
- Menyenangkan. - Menyenangkan.
Menyenangkan.
Ku rasa aku bisa berkendara.
- Mau tukeran? - Iya.
Ku rasa aku merasakan nuansanya. Ku rasa aku bisa.
- Astaga. - Tampaknya menyenangkan.
- Mereka bertukar. - Sekarang mereka bertukar.
Aku rasa sepertinya Jin Kyung akan menjadi pengemudi tangguh.
Aku setuju.
Kau harus berputar disini.
Dia memegang dua roda pada saat yang sama.
Bukankah sebelumnya dia takut?
- Ayo. - Ayo.
Bagus.
Dia berani.
Kau lebih pandai dariku.
Bergerak cukup cepat.
Ini sangat menyenangkan.
- Ayo kita balap taruhan. - Oke.
- Ayo balap taruhan keinginan. - Oke.
- Benar. - Ku rasa aku bisa mengalahkanmu.
- Bagus. - Sekarang aku tahu cara mengemudikan ini.
- Kami ingin gokart single. - Jota dan Jin Kyung...
sangat menikmati kompetisinya.
Menyenangkan. Kau lebih pandai dariku.
Aku ingin menang.
Karena kami melakukan Judo, yang notabene nya Jota pandai disana,
kali ini, aku benar-benar ingin menang.
Dan karena dia membawaku ke sana,
ku rasa dia sedikit iri jika aku mengalahkannya.
Aku ingin terlihat keren.
Tapi tidak mudah mengendalikan gokart.
Ku rasa, Jin Kyung lebih pandai dariku.
Dia bahkan mengendalikan dua roda di saat yang sama.
Dia pandai mengemudi.
- Ayo balap taruhan keinginan. - Oke.
- Apa kau bisa mengalahkanku? - Ku rasa Jin Kyung akan menang.
- Ku rasa juga begitu. - Tentu saja.
Astaga.
- Tiga lap. - Tiga lap? Oke.
Tunggu. Tunggu.
Aku yakin balapan akan berjalan seperti drama.
Benar. Jin Kyung akan menang.
Mereka sudah berangkat.
Wow sangat cepat.
Lihat.
Dia ngebut.
Jota lebih baik ngebut sekarang.
Bukankah dia terlalu jauh di belakang?
Dia menikung.
Wow, kenapa ini menyenangkan...
- Dia ngebut. - Dia ngebut.
Bagus.
- Bagus. - Dia punya harga diri maskulin.
Tidak.
Ketika balapan di sekolah, anak laki-laki akan mulai dibelakang anak perempuan...
untuk menunjukkan kemampuannya.
Kau pasti senang sampai-sampai kau ngebut.
Dia tidak bisa mengejarnya.
Jota pandai mengemudi.
Kenapa begini. Cepat.
Apa?
Cepatlah.
Dia jauh di depan. Dia harus terlihat olehnya.
Kenapa aku sangat lambat begini?
Dia menghentikannya.
Kenapa kau berhenti di situ?
Harga dirinya akan terluka jika dia membiarkannya menang.
- Dia tancap gas lagi. - Astaga.
- Jota menang. - Wow.
Itu kebalikan dari yang kita harapkan.
Kita yakin Jin Kyung akan menang.
Astaga, jahat sekali.
Yey.
- Aku menang. - Kau sengaja berhenti di sana kan?
Aku tidak bisa percaya ini.
Aku menang.
Tidak bisa dipercaya. Kenapa gokart-nya sangat cepat?
Oh, menang.
- Dia terlihat sangat senang. - Pasti ada sesuatu.
- Dia tidak mengakui kekalahannya. - Rodaku jauh lebih besar.
Itu karena anginnya kencang.
Bisa jadi.
Aku bisa mengalahkanmu jika angin tidak bertiup sekencang ini.
Kau mengakui kekalahanmu?
Ya. Aku kalah.
Yey.
- Dia senang. - Dia terlalu bersemangat.
Ya. Aku kalah.
- Aku menang, kan? - Iya.
Kau pasti berbangga diri. Benarkan?
- Ya. Kompetisi... - Ya.
- harus fair. - Dia marah.
- Kau marah padaku? - Sama sekali tidak.
- Kau marah padaku. - Tidak.
Aku tidak marah sama sekali.
- Ku rasa iya - Sama sekali tidak.
Aku mengakui kekalahanku.
- Kau sangat pandai mengendarai gokart. - Astaga.
Dia marah.
- Dia marah. - Benar.
- Kelihatannya kau marah. - Aku tidak marah, Jota.
Aku berkecenderungan berbicara formal ketika marah.
Dia menghentikan gokart dan menungguku di tengah lap terakhir.
Jadi, ku kira dia akan membiarkanku menang.
Tapi dia mulai bergerak saat aku menyusulnya.
Dan disitulah aku mulai benar-benar marah.
Dan setelah balapan, dia tersenyum sangat bahagia.
Dan bahkan membuatku tambah marah.
Aku tak akan pernah membiarkan dia menang.
Aku tak melepas gas saat menikung.
No comments yet. Be the first to leave one.