Las primeras 159 líneas.
THE BOTHERSOME MAN
SELAMAT DATANG
Halo.
Selamat siang.
- Namaku Andreas Ramsfjell. - Kedatanganmu sudah dinantikan.
- Spanduk tadi untukku? - Ya.
Masuklah.
Aku senang menyibukkan diri. Spanduk yang bagus.
Aku punya mobil yang lebih baru, tapi sekarang ada di bengkel.
- Nyaman tidak? - Ya.
Radionya bisa kunyalakan jika kau mau.
Lebih baik tidak.
- Ke mana tujuan kita? - Ke tempatmu.
Ini nomor 42. Kau tinggal di apartemen F di lantai satu.
Ini kunci apartemennya.
Dan ini kantormu yang baru.
Bekerja sebagai apa?
Akuntan di sebuah perusahaan kontraktor di kota.
Perusahaan bagus.
Ada masalah?
Tidak.
Kau akan terbiasa dengan itu.
- Ada yang bisa kubantu? - Seharusnya aku mulai bekerja di sini.
- Ravnsfjell, bukan? - Ramsfjell, dengan M.
- Hvard. - Andreas.
- Selamat datang. - Terima kasih.
- Mau permen karet? - Tidak, terima kasih.
- Mari lihat kantormu. - Sebaiknya aku bertemu dengan bos dulu.
Aku bosnya. Perkenalkan ini Andreas.
- Halo. Harald. - Andreas.
Andreas, ini Vigdis. Dia bekerja di bagian akuntansi.
- Bagus. Itu Ivar. - Halo.
Ini ruang kerjamu.
- Kantor yang bagus. - Ya.
Sedikit uang tunai. Sampai kau punya rekening bank.
Ada yang salah dengan minuman keras di tempat ini.
Dicampur dengan air putih atau semacam itu.
Tak ada yang salah dengan minuman kerasnya.
Aku minum-minum sepanjang malam, tapi sama sekali tak mabuk.
Tak mabuk. Pikiranku masih jernih.
Buruk sekali.
Jangan dengarkan dia. Dia mabuk.
Aku habiskan semua uangku untuk minum, tapi tak mabuk sedikitpun.
Tak ada gunanya.
Orang mabuk dan filosofis.
Aku sudah mencoba semuanya. Tak ada rasanya.
Dulu aku suka coklat panas. Tapi tak berasa apapun sekarang.
- Semuanya terasa hambar. - Jangan dengarkan dia.
Coklat panas seharusnya terasa enak. Coklat hitam yang lezat.
- Bayangkan saja aromanya. - Kau akan terbiasa dengan itu.
Bukan hanya coklat panas. Itu sekedar contoh.
Tak ada rasanya. Semua terasa hambar.
Coklat panas, wanita dan burger.
- Tak ada rasanya. - Apa maksudmu?
Semua ini tak harus menyenangkan sepanjang waktu. Tapi sesekali...
Aduh!
Aduh...
Andreas, apa yang terjadi?
Jangan duduk di sana.
Jangan sentuh aku.
Harald? Kemarilah sebentar.
Andreas, apa yang terjadi?
Jangan sentuh aku. Aku baik-baik saja.
Maaf tentang semua ini.
Keteledoranku.
Terima kasih atas tumpangannya.
- Halo. - Halo, Andreas.
- Mau kue? - Terima kasih.
Halo. Mau kue?
Ada yang bisa kubantu?
Kebahagiaanmu adalah yang terpenting.
Bilang saja kalau butuh komputer atau meja baru atau apalah.
- Semuanya baik. - Pekerjaannya berat?
Tidak. Cukup sederhana. Tak terlalu berat.
Bilang saja padaku.
Jangan takut jika ingin makan siang. Istirahatlah semaumu.
- Boleh duduk di sini? - Silakan.
- Pilihannya ada banyak. - Aku suka yang ini.
- Harus terasa nyaman. - Benar. Harus nyaman saat diduduki.
- Semuanya bagus. - Tidak semuanya.
Banyak yang bagus. Yang itu keren.
- Tapi makan tempat. - Tak bisa ditaruh di pojok.
- Tak bisa ditaruh di pojok. - Bagaimana dengan yang itu?
- Terlihat nyaman dan... - Bukankah terlalu santai?
- Aku tak ingin sok pandai, tapi... - Gaya santai. Ide bagus.
Kita bisa membeli kursi minimalis dengan meja itu.
Kurasa kau benar. Susah untuk memilih.
Ada acara malam ini?
Tidak.
Aku mengadakan jamuan makan malam di rumahku.
Kalau mau, silakan datang.
- Ada masalah? - Tidak.
- Bagaimana kerja gadis baru itu? - Melebihi harapanku.
Bagus.
- Apa pekerjaanmu? - Aku menjual interior dapur.
Menarik.
Dan kegiatanmu di sore hari?
Aku ikut sebuah kelas. Aku tertarik di bidang desain interior.
Menarik.
Mungkin kapan-kapan kita bisa keluar? Menonton konser atau apalah?
Boleh.
Bagus.
Bersulang.
Senang kalian semua bisa hadir di sini.
Sudah sampai.
- Wilayahnya bagus. - Rumahnya sedikit berantakan.
Aku sedang mendekorasi ulang. Terlalu besar untuk ditinggali sendiri.
Selamat malam. Terima kasih sudah mengantarku pulang.
Dengan senang hati. Selamat malam.
Kecuali kalau kau ingin masuk...
Warnanya biru langit?
Bukan, oranye. Oranye muda.
Cantik.
Aku yakin itu biru langit.
Mungkin saja.
Kurasa pabrik pembuatnya menamakan warnanya sendiri-sendiri.
- Benarkah? - Itu perkiraanku.
Pabrik yang satu menyebutnya oranye muda, yang lain menyebutnya biru langit.
Kamar mandi itu penting.
Beberapa orang menganggap dapur adalah bagian rumah terpenting...
...tapi menurutku kamar mandi lebih penting.
Bagaimana menurutmu?
Kamar mandi lebih penting.
Andreas?
Ya!
Aku tak suka warna putih untuk ruang tengahnya.
- Tak bisa tidur? - Tidak, aku terbangun.
Aku bermimpi aneh sekali.
Kau ada dalam mimpiku, juga orang di toko pojokan itu.
Butuh waktu untuk mengecat. Tentu kau merasa lelah.
Dan seekor rusa besar, berlarian di jalanan...
Jangan membicarakannya.
Aku tak suka.
Aku sedang menjelaskan kenapa aku tak bisa tidur.
Entah apa yang kau lakukan, tapi tolong hentikan.
Masih banyak yang harus dikerjakan.
Andreas?
Ya?
Bagaimana kalau menaruh bak berendam di kamar tidur?
- Bak berendam? - Kita bisa meruntuhkan dinding ini.
Bisa saja.
Aku melihat sejumlah perabotan rotan di majalah.
Perabotan rotan cocok tidak?
Ya...
Lihat ada teh celup?
Tidak.
Aku peminum kopi.
- Mau kucarikan? - Tak perlu.
Ingeborg? Mau menonton film denganku?
Tak harus menonton film.
Boleh saja.
- Ini Anne Britt. - Hai, ini aku.
Malam ini aku pulang agak terlambat. Kau akan makan malam sendirian.
- Ada urusan di kota. - Baiklah.
Sampai nanti.
Dah.
Aku antar sampai ke pintu.
- Malam ini menyenangkan. - Filmnya kurang bagus.
- Tak buruk-buruk amat. - Lumayan juga.
No comments yet. Be the first to leave one.