Las primeras 200 líneas.
Siapa yang mengizinkan kalian membunuh orang?
Kepala Kasim.
Kepala Kasim.
Jalanku hanya satu!
Kepala Kasim!
Kepala Kasim!
Katakan di mana Kepala Kasim bersembunyi?
Mana kutahu?
Dia dibawa pergi Jeon Woo Chi.
Kenapa kau mengancamku?
Dia tidak bohong.
Dia tak tahu apa-apa sekarang.
Kanselir.
Bukankah Anda bilang kalau aku mengatakan rencana Kepala Kasim, Anda janji memberiku posisi?
Uang dan tanah yang Anda janjikan, aku tak menginginkannya lagi, biarkan aku pergi.
Orang yang berkhianat, pasti akan bekhianat lagi.
Dia sama sekali tak berguna sekarang.
Kanselir. Tolong aku! Tolong aku!
Kepala Kasim, kau sudah sadar?
Yang Mulia.
Tetaplah berbaring.
Mohon Baginda maafkan hamba karena tak setia.
Tidak. Ini karena aku tak berdaya.
Yang Mulia, mohon singkirkan kecurigaan Baginda pada Jeon Woo Chi.
Kalau bukan karena Jeon Woo Chi, mungkin aku telah mati.
Aku sendiri melihat Inspektur Polisi menggunakan sihir Tao.
Ketika Kepala Dayang tewas terbunuh, orang yang kulihat adalah Inspektur Polisi.
Baginda... Anda harus berhati-hati.
Kepala Kasim...
Kepala Kasim.
Bisa kau bawa Kepala Kasim ke tempat yang lebih aman?
Selama Kepala Kasim masih hdiup, Kanselir tak akan tinggal diam.
Baik, saya mengerti.
Mari kita pergi. Saya akan mengantar Baginda bertemu dengan Ratu.
Terima kasih.
Karena tak mempercayaimu sebelumnya
Aku minta maaf, tolong maafkan aku.
Tidak, Yang Mulia.
Harusnya kau menyalahkan aku.
Kalaupun begitu aku tak bisa berbuat apa-apa.
Mana mungkin hamba berpikiran begitu?
Aku punya satu permintaan.
Kalau aku melakukan kesalahan, tegur saja aku.
Agar aku tak salah arah, kau harus selalu mengingatkanku.
Akan hamba lakukan.
Kau harus berjanji.
Baik.
Kenapa kau selalu senang menerimanya?
Aku iri dengan sihir Tao dan keyakinan dirimu.
Kau bisa saja meninggalkanku karena aku telah mengecewakanmu.
Sejak awal kau teguh pada pendirianmu. Aku banyak belajar darimu.
Kuharap suatu hari aku bisa mengajarimu juga.
Hamba sudah belajar banyak dari Yang Mulia.
Mari kita pergi. Hamba telah memberitahukan pada Ratu, mungkin beliau sedang menunggu.
Baiklah.
Yang Mulia, udara di luar dingin.
Silahkan Baginda masuk ke dalam.
Bagaimana aku begitu tega? Yang Mulia berjalan begitu jauh ke sini.
Apa kau punya cermin?
Paduka Ratu terlihat tambah cantik setelah mengenakan pakaian bagus.
Jangan khawatir, Ratu.
Aku bukannya ingin berdandan cantik. Hanya saja kalau aku terlihat kurus
aku takut Yang Mulia akan sedih. Itu yang kucemaskan.
Ratuku.
Yang Mulia.
Kau kurus sekali.
Tidak. Saya bahagia tinggal di sini.
Malahan Yang Mulia yang makin kurus.
Dinda jangan menangis.
Jangan menangis.
Bisa melihat Yang Mulia, saya...
Karena saya bisa bertemu Yang Mulia, saya harus tersenyum.
Wajahmu dingin.
Yang Mulia.
Angin di luar dingin, ayo kita masuk.
Syukurlah. Mereka masih mesra seperti sebelumnya.
Aku khawatir kalau mereka berpisah, apa yang mesti kita lakukan?
Kau terluka?
Tidak.
Kau telah banyak menerima sihir Tao, mungkin tubuhmu masih belum bisa menyerap semua energi Tao itu.
Kekuatanmu belum sepenuhnya pulih sementara ini.
Aku tahu.
Kau tahu rasanya terpisah dari orang yang kau cintai?
Semuanya seperti mereka berdua.
Seperti tumpukan salju, bintang berkelap-kelip di langit malam
dan seperti dedaunan yang jatuh karena angin. Semuanya.
Mereka berdua juga harus seperti itu.
Kita jangan berpisah lagi.
Kita harus mempersatukan mereka.
Rang Seon.
Kau sedang apa?
Kalau tak punya uang, pergilah ke kedai saja.
Ini kan Paviliun Myeong Wol.
Iya tahu, Ini paviliun Myeong Wol.
Apa makanan di sini masih sama seperti yang dulu?
Lagipula, kau dan aku kan punya hubungan istimewa.
Kau sedang apa sih? Ya ampun...
Jangan pegang-pegang.
Coba lihat dirimu, kau tuh banyak berhayal.
Lihat gadis satu ini... sekali dia marah
makin terlihat cantikl.
Rang Seon, kau tahu siapa aku?
Aku ketua pengikut Jeon Woo Chi yang tersohor itu.
Jeon... Jeon Woo Chi?
Dasar tukang bohong.
Aku tak bohong.
Jeon Woo Chi punya sihir Tao yang hebat dan sangat tampan.
Mana mungkin dia punya pengikut sepertimu?
Kalau kau tak percaya...
Mau kubuktikan?
Buktikan apa?
Sihir Tao.
Sihir Tao?
Sihir Tao.
Bagaimana?
Sungguh menyenangkan.
Orabeoni, lebih cepat larinya!
Baiklah, akan kupercepat.
Orabeoni, aku takut.
Tapi berhentinya bagaimana?
Jangan khawatir, aku punya cara untuk berhenti.
Rang Seon, turun. Turun.
Orabeoni, kau tak apa?
Jidatku sakit
Rang Seon, yang ini kejedot juga. Sakit sekali.
Aiiih sana pergi...
Kau ini... apa yang membuatmu begitu senang?
Bagaimana aku tak senang? Belakangan ini, bisnisku laris manis. Laris manis.
Kau senang karena banyak orang sakit?
Kalau berpikir tuh yang positif.
Aku tak berbuat jahat. Mereka sakit dengan sendirinya.
Kalau tak ada orang yang sakit, bagaimana aku cari nafkah?
Tapi kenapa bisa tiba-tiba banyak orang sakit?
Belakangan ini banyak orang di pasar terluka karena sabetan pedang.
Yang terluka cukup banyak.
-=Geom Gye - komplotan preman=- komplotan Geom Gye berkeliaran dan melukai banyak orang.
Makanya harga obat untuk luka sayatan pedang naik 2 kali lipat.
Aku sampai kehabisan stok.
Kalau saja aku tahu akan begini, aku pasti akan meramu obat lebih banyak.
Apa katamu?
Ke sini sebentar.
Aku sangat sibuk, nanti saja.
Cuman sebentar saja. Cepat.
Tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali.
Ada apa? Aku benar-benar lagi sibuk.
Kau tak lihat banyak yang antri?
Kenapa tiba-tiba banyak orang terluka?
Kau tahu sebabnya?
Dengar-dengar ada pengacau di pasar
dan pemilik pasar pun tiba-tiba diganti.
Sewa lapaknya pun naik 3 kali lipat.
Makanya mereka mau melapor ke Kantor Polisi.
Geom Gye?
Iya, lengkapnya nanti kuceritakan di rumah.
Pemimpin Redaksi.
Apa ini?
Silahkan dibaca.
Belakangan ini di Hanyang, komplotan preman meningkat tajam.
Untuk dapat wilayah kekuasaan, komplotan preman-preman itu bahkan bertarung sampai berhari-hari.
Apa layak ditulis sebagai berita?
Tak sama kali ini.
Secara mendadak komplotan preman muncul
mereka seperti prajurit yang telah dilatih
dan bekerja secara terencana begitu rapi.
Tanpa ragu menakut-nakuti masyarakat dan memperluas wilayah mereka.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres, kan?
Tidak juga.
Tentu saja preman kalau mau punya wilayah memang begitu, mana ada preman yang sopan?
Jangan menulis berita yang tidak ada gunanya.
Cari berita yang bagus-bagus. Yang bagus.
Pemimpin Redaksi! Ada berita khusus.
Berita khusus?
Apa ini?
Pangeran Jeong Seong meninggal dunia?
Apa?
Pangeran Jeong Seong... meninggal dunia?
Bagaimana kejadiannya?
Aku tak tahu berita jelasnya.
Tunggu... wartawan yang lain belum pada datang?
Aku akan ikut mencari berita ini.
Sudah sana pergi dan siapkan alat tulismu.
Dapatkan beritanya secara jelas.
Lantas, kita keluarkan di edisi khusus.
Baik, Pemimpin Redaksi.
Tuan, tuan. Siapa sebenarnya pangeran Jeong Seong?
Beliau adalah adik kandung Baginda Raja.
Kalau Yang Mulia meninggal dan tak punya keturunan,
beliaulah yang akan terpilih menjadi Raja selanjutnya.
Pewaris Tahta?
Iya.
Kau sudah siap?
Ya, ya, Pemimpin redaksi. Mari berangkat.
Ayo.
Tuan. Tuan. Tuan!
Berhenti.
Aku Pemimpin Redaksi Bagian Pemberitaan.
Jangan banyak bicara, cepat minggir!
Tapi Wakil Inspektur Polisi sedang--
Kunyuk, cepat minggir!
Kau sudah selesai memeriksa jenazahnya?
No comments yet. Be the first to leave one.