Las primeras 156 líneas.
Rach, tahukah kau bahwa selama hamil
jari-jarimu membengkak dua kali lipat untuk selamanya?
Ya ampun. Coba aku lihat.
Kau selalu tertipu.
Aku bawakan bajuku saat hamil.
Kau baik sekali. Bagus sekali.
Lihat. Dia melar seiring kehamilanmu membesar?
Setelah kau melahirkan, bisa dipakai untuk mengutil melon.
Bagus, kalian di sini. Thanksgiving besok, 4:00.
Tebak aku mengundang siapa. Ingat Will Culvert teman SMA?
- Tidak. - Dia teman sekelas Ross.
Ikut marching band, agak gemuk. Sangat gemuk.
Aku teman kurusnya.
Aku tidak ingat.
Kau yakin maksudmu bukan pacar khayalanmu?
Bukan, itu mah Jared.
Sudah lama aku tidak memikirkannya.
Will di sini karena pekerjaan.
Dia tidak tahu harus kemana jadi aku mengundangnya.
Itu bagus.
Dia sudah lebih kurus.
Dia tampak tampan. Sangat, sangat menawan.
- Aku masih mencintai Chandler. - Tak ada salahnya mengungkapkannya sesekali.
Aku tidak masak kalkun tahun ini.
- Apa? - Phoebe tidak makan kalkun.
Kalkun adalah hewan cantik dan cerdas.
Tidak. Kalkun itu jelek, bodoh, dan lezat.
Bukan karena Phoebe saja. Will masih diet.
Chandler tidak makan masakan Thanksgiving.
Dan Rachel sedang mabuk unggas.
Benarkah?
Ingat aku harus pergi ketika kau makan ayam?
Kupikir karena aku memakainya di tanganku
dan membuatnya berjalan di meja.
Rasanya tidak sepadan kalau memasak kalkun untuk 3 orang.
Terlalu repot.
Tapi Thanksgiving kan harus ada kalkun.
Thanksgiving tanpa kalkun seperti Hari Kemerdekaan tanpa pai apel.
Atau Jumat tanpa 2 pizza.
Baiklah jika begitu berarti buatmu. Tapi pasti banyak yang tersisa.
Tidak. Aku janji menghabiskannya.
Kau sanggup menghabiskan satu kalkun sekali duduk?
Benar. Karena aku seorang Tribbiani. Itulah yang kami lakukan.
Kami mungkin bukan pemikir besar atau pemimpin dunia.
Kami tidak suka membaca atau berlari cepat, tapi kami sanggup makan.
Alih Bahasa: Nisa Mardani
Aneh ya mengingat tahun depan akan ada bayi?
Bayi Rachel. Tapi senang mengetahui pendapatmu.
- Selamat Thanksgiving. - Kau juga.
- Ada yang bisa kubantu? - Ada.
Chandler biasanya membantu, tapi dia asyik menonton. Aku tidak mau mengganggu.
- Boleh tolong lipat serbet? - Baik.
Aku ke sana memeriksa ubi.
Tidak sayang. Tidak begitu.
Ini bukan pesta dansa di lumbung.
Lipatlah seperti angsa. Seperti yang kuajari saat Natal, ingat?
Iya, ingatan itu berteriak padaku.
- Bagaimana pertandingannya? - Entahlah.
Apa?
Aku pura-pura menonton agar tidak harus membantunya.
Tak bisa kupercaya. Itu... cerdas.
- Monica tidak tahu? - Tidak.
Aku tinggal sesekali meneriaki TV.
- Timmu unggul, sayang? - Iya. Anderson mencetak angka lagi.
Tidak ada yang namanya Anderson.
Aku juga mau. Hey, Mon?
Sepertinya aku tidak bisa membantu. Aku baru sadar ada pertandingan ini.
- Aku baru tahu kau suka bola kaki. - Biasanya tidak.
Tapi, Green Bay sedang bermain.
- Kau suka Green Bay? - Itu teluk kesukaanku.
- Selamat Thanksgiving. - Trims.
Aku senang kau datang. Kau tampak tampan.
Beratmu turun...
68 Kg.
Aku akan membintangi iklan roti lapis Subway.
- Pai. - Tanpa lemak, gula, dan susu.
- Tidak enak. Buanglah. - Mau berkenalan?
Ini suamiku, Chandler. Chandler, ini Will.
Aku mau berjabat tangan, tapi aku sibuk menonton.
Dan, lebih baik untuk harga diriku jika kita tidak berdiri bersebelahan.
Ini Phoebe.
Kerja bagus.
- Boleh minta tolong? - Tentu.
Aku masih terpesona melihatmu. Kau tampak menawan.
- Kau juga tampan sekali. Sangat bugar. - Aku menonton tapi tidak tuli.
Tadi aku mau bilang, Ross akan datang.
Bagus, aku suka Ross.
Baguslah. Dan Rachel Green juga.
- Ada masalah? - Tidak apa-apa.
Hanya saja...
Aku dulu membencinya.
- Apa? - Aku dulu membencinya.
Dia jahat padaku saat SMA.
Tapi itu sudah lama. Sekarang aku sudah tenang.
Pasti menyenangkan bertemu dengannya lagi.
Ada kue atau biskuit?
Jangan, Will.
Sudah lama dari terakhir kita berteriak. Mungkin sekarang saatnya.
- Oh tidak! - Ayolah!
Wasit sialan. Terbakarlah di neraka!
Sedang apa kau? Jangan kenyang dulu.
Kau harus makan hampir seluruh kalkun.
Biar kujelaskan cara kerja tubuh manusia.
Perutku harus pemanasan dulu.
Makan keripik itu seperti peregangan.
- Tenang, Tribbian tidak pernah kenyang. - Aku tahu benar maksudmu.
Aku beritahu ya.
Kau bisa makan terus-terusan, tapi kekosongan itu tidak akan pernah terisi.
- Siapa sih laki-laki ini? - Ini Will, teman SMA.
Halo.
- Will. - Ross.
Kau datang. Kau tampak tampan. Seksi.
- "Seksi"? - Senang bertemu denganmu.
Aku juga. Apa kesibukanmu?
- Aku makelar barang. - Benarkah? Menarik.
Tidak sebenarnya.
Tapi aku kaya dan kurus.
Kita belum bertemu lagi semenjak pesta kelulusan Lance Davis.
Malam yang seru.
Lebih senang andainya kita boleh masuk, tapi tetap saja, seru.
Kita dulu culun sekali. Ingat dulu kita suka dinasaurus?
Apa pekerjaanmu?
Berapa lama kau di New York?
Hey, sayang. Bagus.
Rachel Green.
Oh iya. Kau tidak apa-apa?
Tidak apa-apa. Aku benci dia, Ross.
Will, SMA sudah lama berlalu.
Lihat dia di sana dengan ubi itu.
Dua musuh terbesarku, Rachel Green dan karbohidrat kompleks.
Ya Tuhan, Monica. Siapa itu?
- Will, teman SMA. - Aku tidak ingat.
Keseksiannya begitu membara.
Ya Tuhan. Lihat caranya memandangku.
Sepertinya dia mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak menangkapnya.
"Aku membencimu."
Makan malam sudah siap.
- Usaha yang bagus. - Siapa yang menang?
- Green Bay. - Detroit.
- Apa? - Lions yang menang.
Tapi kemenangan mental untuk Green Bay Mermen.
- Will, benar? - Benar.
Aku Rachel Green.
- Aku mengingatmu. - Benarkah? Kau baik sekali.
Tapi aku masih belum bisa mengingatmu.
Sebentar. Sepertinya aku ingat.
Apa kita bercumbu di pesta kelulusan Lance Davis?
- Kau luar biasa. - Terima kasih.
Rachel, duduk lah di sini. Will, jauh di sana.
Hanya itu? Tidak dibantu pun, bisa. Tak masalah.
Setidaknya beri aku tantangan.
Ini ayam untuk Chandler.
Ini kalkunnya.
Berapa besarnya?
- Sekitar 8 Kg. - Seperti aku saat lahir.
Ada yang mau ubi? Will?
No comments yet. Be the first to leave one.