BBC Natural World   Birds of Paradise

BBC Natural World Birds of Paradise

Descargar subtítulo en Indonesian

Información de lanzamiento

BBC Natural World S28E08 Birds of Paradise Blu-ray
Comentario por cortex

Etiquetas

BluRay
Publicado el: 2019-04-10
Descargas: 40
Para personas con discapacidad auditiva: No

Vista previa de los subtítulos en Indonesian

Las primeras 200 líneas.

Bayangkan makhluk hidup yang begitu indah...

sehingga orang mengira mereka turun langsung dari Surga.

Begitu mencolok...

sehingga orang-orang Eropa awal yang melihat mereka

mengira mereka pelarian dari Taman Eden.

Rupanya, Eden itu adalah New Guinea...

...pulau yang terakhir kali dirambah orang Eropa.

Dan di situ masih menjadi satu-satunya tempat

di mana kau bisa melihat makhluk mempesona ini.

Mereka adalah burung,

tapi tak seperti burung yang pernah terlihat sebelumnya.

Mereka membawa citra keindahan yang nyaris di batas absurditas.

Dan unjuk penampilan mereka

bahkan lebih luar biasa dan ajaib dari rupa mereka

sebagian yang paling kompleks dalam dunia hewan.

Mereka mungkin bukan dari Taman Eden,

tapi mereka layak menyandang nama

yang diberikan para ilmuwan Eropa awal -

burung dari surga (cenderawasih).

Masih banyak yang belum diketahui tentang mereka.

Lebih dari 150 tahun sejak obsevasi ilmiah pertama pada hewan ini,

meski sudah ada banyak ekspedisi

dan observasi ilmiah yang tak terhitung lamanya,

kita tetap saja hanya menangkap sekilas - kilasan yang menggoda -

tentang mahkluk surga ini.

Sebuah generasi baru ilmuwan, dan kru film,

berupaya melakukannya dengan benar.

Tapi burung memukau ini tak mudah begitu saja menyerahkan rahasia mereka.

Ekspedisi berikut dipersiapkan untuk mencari burung cenderawasih.

Tapi kali ini berbeda.

Ekspedisi ini dilakukan oleh orang New Guinea sendiri.

Generasi baru konservanis lokal ini

mencemaskan jumlah cenderawasih yang merosot.

Tim ini dipimpin oleh Miriam Supuma.

Bersamanya adalah seorang pakar burung Paul Igag.

Sepatuku basah kuyup!

Kecintaan Miriam pada alam dimulai di sekolah desa kecil di pegunungan.

Untuk mengikuti hasrat itu, ia belajar bahasa Inggris,

masuk perguruan tinggi dan menyelesaikan tugas lapangan ekologi di Australia.

Tiga bulan ke depan,

ia berniat melihat dan mendokumentasikan sepuluh spesies cenderawasih.

Ia mengizinkan kru kamera kami ikut bersamanya.

Mereka memulai dengan keluarga terkecil -

cenderawasih raja.

Miriam melacak tanda-tandanya.

Kau harus tahu apa yang harus dicari... dan ia tahu.

Bisa kau lihat bekas patukan pada buah ini.

Itu suara panggilannya,

tapi ia tak bisa melihatnya.

Ia cenderung menyukai kawasan ini.

Salah satu alasannya karena cahaya yang menembus masuk.

Mereka burung yang suka pamer, suka memamerkan bulu mereka

dan cahaya menyempurnakan kecerahan bulu mereka.

Pertanda bagus.

Mereka memutuskan untuk membangun persembunyian.

Harus cukup besar untuk menampung dia dan kru film.

Tapi ada satu masalah.

Bangkai pohon pisang menghalangi kamera.

Miriam harus hati-hati memangkasnya!

Ia yakin burung-burung itu akan kembali.

Ini musim kawin, saat mereka tak terlalu malu.

Ia menemukan hal ini saat masih kuliah.

Bekerja di hutan pada suatu pagi,

ia lihat seekor cenderawasih di ketinggian pohon...

...dan di bawahnya, yang lain sedang mendandani bulunya di bawah matahari pagi.

Lalu mereka memamerkan tampilan.

Pemandangan itu mengubah hidupnya.

Hari itu, kulihat sekitar enam atau tujuh cenderawasih,

bernyanyi dan menari, berlanjut selama lima atau sepuluh menit.

Kuhentikan pekerjaanku - kuukur pepohonan pada saat itu.

Aku memandanginya - hanya memandangi dengan takjub.

Para naturalis jatuh cinta pada alamnya, lalu kembali lagi.

Tujuh tahun berlalu, pengalaman telah mengajarkan Miriam

bahwa cara terbaik mengamati cenderawasih raja jantan

adalah menemukan tempat bertenggernya, lalu menunggu kedatangannya.

Mengajarimu bersabar, bukan?

Dan kesabaran sering memberi hasil.

Itu dia. Wow!

Cenderawasih raja

Ia mengarah ke sana membelakangi kita.

Bisa kau lihat punggung merahnya.

Ia naik menuju kanopi.

Ia berwarna merah tua dengan dada seputih salju.

Dua untaian panjang menjulur dari ekornya,

masing-masing berujung cakram hijau seperti koin.

Itu peristiwa langka.

Oh, ada lagi. Wow!

Ia kegirangan.

Dengan adanya pejantan lain yang memanggil dalam hutan,

Miriam yakin telah menemukan populasi yang bagus di sini.

Cenderawasih raja jantan akan memanggil betina di kawasan ini.

Jika tak ada yang datang, ia akan tampil sendirian.

Setelah terengah-engah,

ia jentikkan untaiannya di atas kepala dan mengoyang-goyangkannya,

membuat kedua cakram menari-nari di atasnya.

Ia masih berharap adanya penonton.

Tanpa terpengaruh, ia akhiri dengan lambaian.

Ia berayun turun-naik dan mengunci kakinya...

...mengubah dirinya menjadi pendulum.

Cenderawasih raja adalah pemain tunggal.

Banyak pejantan dari spesies lain yang unjuk penampilan secara berkelompok.

Ini cenderawasih yang lebih besar.

Para jantan berkumpul setiap hari di pohon khusus, menunggu kedatangan seekor betina.

Saat ada yang datang, mereka seketika beraksi.

Dan si betina memilih salah satu yang ia sukai.

Ia hadiahi dengan pertemuan, dimulai dengan patukan di kepala.

Akhirnya si betina menerimanya.

Meski semua jantan sama menawannya di mata kita,

betina rupanya bisa mendeteksi perbedaannya.

Terlebih lagi, mereka hampir selalu kawin dengan jantan yang sama.

Dengan memilih bulu terbaik melalui cara ini,

betina telah meningkatkan keindahan pejantan, dari generasi ke generasi

sehingga mewujudkan tarian-tarian yang cemerlang ini.

Keindahan spektakuler burung-burung ini memukau warga New Guinea,

seperti yang kutemukan di tahun 1957.

Sudah kuduga bulu cenderawasih begitu penting,

dan dengan segera kutemukan seberapa pentingnya.

Bulu-bulu itu dihargai uang

dan pembayaran penting dalam tawar-menawar di antara keluarga

saat dijadikan syarat pernikahan...

...dan saat pria ingin menari.

Apa yang kusaksikan 50 tahun lalu masih berlangsung hingga kini.

Kota Goroka, di tengah pegunungan.

Tiba saatnya festival, dan bulu burung masih menjadi hiasan kepala yang penting.

Mulai dengan foto kalau bisa, atau...

Saatnya momen penting di tahun ini bagi penelitian Miriam.

Perhatikan ini dan lihat pada apa yang ada di hiasan kepala.

Bulu dari berbagai spesies burung digunakan untuk hiasan kepala,

dan tim ingin mencari tahu berapa banyak yang berasal dari cenderawasih.

Adegan ini tak jauh berbeda dari yang pernah kurekam

setengah abad lalu.

500 pria ini,

berhentakkan naik turun secara monotan tanpa henti.

Dengan menyaksikan mereka, aku sadar

di sinilah alasan kenapa tak ada yang membawakan kami cenderawasih.

Miriam ingin melihat catatan kakiku dari tahun 1957

agar ia bisa bandingkan jumlah dan spesies yang digunakan para penari masa lalu dan kini.

Tiap pria mengenakan bulu dari 30 hingga 40 burung.

Pada satu tarian ini, kami lihat

bulu dari 20.000 cenderawasih yang dibantai.

Hasrat untuk memiliki keindahan burung

adalah obsesi kuno yang masih hidup di tanah suku ini.

Kepulauan New Guinea sangat besar.

Sepanjang 1.000 mil,

terbentang di antara Australia dan khatulistiwa,

terangkat ke atas dari dasar laut dalam rentang waktu geologis.

Sedikit mamalia darat dari Australia yang berhasil mencapai ke sini,

termasuk hewan berkantung seperti kanguru pohon yang aneh.

Tapi tak ada mamalia karnivora yang asli dari sini.

Dengan bertumbuhnya buah di sepanjang tahun, ini jelas surga bagi burung.

Kemudian, sekitar 30.000 tahun lalu,

ancaman terbesar bagi keberlangsungan mereka berjalan masuk dengan dua kaki.

Tapi kini, ada orang-orang yang berniat melindungi burung-burung itu.

Paul Igag dibesarkan di pantai, anak seorang nelayan.

Paul meninggalkan kehidupan nelayannya untuk belajar biologi.

Ia menikahi gadis dataran tinggi

dan tinggal di sini untuk mengejar kecintaannya pada burung hutan.

Panggilan cenderawasih jingga.

Bisa kau lihat pejantan di atas sana dengan bulu dewasa yang lebat.

Ia berusaha memikat betina.

Paul sudah banyak melihat spesies burung hutan terlangka.

Ia membangun serambi di atas kanopi di mana ia bisa duduk tenang dan menunggu.

Beberapa burung cukup berani dan tampak tak terusik oleh kehadirannya.

Yang lain lebih waspada, seperti cenderawasih belah rotan.

Paul telah mengamati burung secara intensif selama 15 tahun.

Keahliannya melacak sangat penting bagi proyek ini.

Bersama, Paul dan Miriam mulai mengindentifikasi

populasi burung yang harus dilindungi.

Paul membawa Miriam ke desa terpencil sebelah tenggara Goroka.

Seperti penjelajahan yang pernah kualami sendiri,

mereka harus melintasi pegunungan tinggi yang diselimuti hutan.

Di antara dinding-dinding batu ini terbentang lembah besar seperti Wahgi.

Ratusan suku telah mendiami pulau ini selama ribuan tahun

terpisah oleh sungai dan bebatuan ini.

800 bahasa telah berkembang,

sebagian berbeda dari satu sama lain seperti halnya bahasa Inggris dan Cina.

Bahasa desa Haia hanya digunakan di sini.

Bahkan kini, satu-satunya penghubung antara warga ini dan dunia luar

adalah pesawat yang mengangkut biji kopi mereka.

Ini sambutan hangat atas kembalinya Paul.

Ia ke sini selama beberapa tahun terakhir untuk membantu memetakan batas-batas wilayah suku.

Hutan ini milik warga Haia.

Mereka selalu menjadi pemburu,

tapi kini mereka membantu mencatat kekayaan alam.

Suatu saat, semua ini akan menjadi cagar alam yang dilindungi.

Untuk sekarang, ini adalah hutan gunung tak terjamah seluas ratusan mil persegi.

Bagi warga desa, suaka margasatwa bisa membawa pekerjaan dan pendidikan.

Banyak yang dipertaruhkan.

Pengetahuan berburu warga lokal sangat berharga bagi proyek ini.

Paul dan Miriam harus menemukan jalur alami dan pohon berbuah

jika ingin menemukan semua spesies yang terancam.

Bulu ekor sepanjang tiga-kaki dari burung paruh-sabit kurikuri jantan

adalah alasan kenapa jenisnya hampir punah di tempat ini.

Bulunya mencapai harga tertinggi

tapi kini berburu di sini dilarang.

Perjalanan ini bertujuan menemukan dua cenderawasih istimewa

yang belum dilindungi pemerintah.

Salah satunya kadang terlihat di pagi hari,

sibuk di dasar bagian tergelap dari hutan.

Miriam mencari cenderawasih jenis parotia,

BBC Natural World Birds of Paradise subtitles in other languages

Comentarios

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left