Las primeras 200 líneas.
Penelepon Tak Dikenal
Tidak.
Sekali tidak tetap tidak.
Carl, aku tahu ini kau.
Hai, Bung.
Aku baru saja hendak meneleponmu. Aneh sekali.
Baru aku memutar nomormu, akan menekan tombol "kirim."
Kau memblokir nomormu?
Benar. Kau tak pernah mengangkat teleponku waktu belum kublokir.
Kau sedang apa sekarang?
Bersantai di apartemenku.
- Tapi kau terima SMS-ku, 'kan? - Apa? SMS? Apa?
Kita akan pergi malam ini.
Menyenangkan sekali. Andai aku bisa ikut.
Tapi aku sibuk sekali.
Aku benar-benar lelah. Mengerti maksudku?
Tidak. Aku sama sekali tak tahu.
Aku ada pekerjaan. Harus mengerjakan sesuatu.
Mungkin lain waktu. Aku menyesal sekali.
Sesuatu? Sesuatu apa?
Sesuatu, kau tahu, sesuatu saja.
Kalau sesuatu itu di depanku, aku bisa katakan apa
- tapi aku tahu ada sesuatu. - Sesuatu.
Aku yakin tak ada acara apa pun di jadwal kalender palsumu.
Tidak, di sini kutulis spesifik.
Sesuatu yang spesifik. Seperti "mengantre di rental video"?
Apa? Apa maksudmu?
Aku tak di rental video. Aku di apartemenku.
Aku bisa melihatmu, Carl. Aku di depan rental video.
- Itu bukan aku. - Bukan?
Aku tahu. Ada pria yang mirip denganku
dan dia sering ke toko yang biasa kudatangi.
Mungkin itu yang kaulihat.
Luar biasa
karena gerakan mulutnya persis dengan kata-katamu.
Carl, aku tahu kau tak mengucapkan apa-apa.
Carl, keluarlah. Aku tahu kau tak sedang bicara.
- Apa? Baik! - Carl.
- Lihat siapa yang datang. - Hei. Kau.
Hai.
Astaga. Rooney.
Carl Allen. Ini benar-benar tak terduga.
- Hei. - Kupikir kau sudah tak ke klub.
Tidak, aku sedang sibuk saja
pekerjaan tertunda, membuatku sibuk sekali.
Benarkah? Aku mengerti, Pembohong.
Kami senang sekali kau mau datang, Carl
karena kami akan mengumumkan sesuatu.
Sayang, tunjukkan padanya.
Itu dia. Hadapi itu.
Kami bertunangan.
- Astaga. Yang benar? - Sungguh?
- Langkah yang besar, ya? - Ya, langkah besar. Besar sekali.
Astaga. Cepat sekali. Tak apa-apa.
Berapa lama pacaran, enam bulan?
- Tidak. - Dua tahun.
Ya. Kalau begitu memang sudah waktunya.
Jadi kami akan meresmikannya tanggal 21 nanti. Bar gratis.
Sialan kau. Selalu tahu cara merayuku.
Bagus. Carl, kau juga terayu?
- Ya, kita lihat saja nanti. - Apa yang harus dilihat?
Lihat siapa yang datang.
Aku tak bisa kautipu, Carl. Apa yang harus kaulihat?
- Bar gratis. Apa masalahnya? - Aku serius. Stephanie di bar itu.
- Stephanie yang itu? - Ya, mantan istriku. Dia di bar.
Astaga, itu Stephanie.
- Sepertinya dia juga tak sendiri. - Mereka bahagia. Bagus untuknya.
Mereka saling menyentuh kemaluan. Luar biasa, ya?
Aku senang bisa datang. Baik, kalian tahu? Aku harus pergi.
- Tidak. Carl, kau tak boleh pergi. - Apa?
Sudah lama kalian cerai. Kau kabur jika ia datang.
Tak ada hubungannya dengan Stephanie.
Carl. Peter.
- Rooney. - Stephanie, Teman-teman.
Hei.
- Ini pacarku, Ted. - Hei.
- Aku yakin kita belum. - Benar, kita belum.
- Kau mau pulang? - Ya, sayangnya begitu.
Waktunya juga tak tepat, karena kau baru datang.
Kau juga baru datang, Carl.
Ya, tapi dia ada 'sesuatu.'
Ya, ada sesuatu. Dan waktuku tak banyak.
Waktuku sempit, dan waktu itu penting.
Jadi, aku pergi dulu.
Ungkapan yang salah. Sudahlah.
Sampai nanti.
- Hai, Tillie. - Pagi, Carl.
Kau mau sarapan bersamaku?
Sepertinya itu menyenangkan, tapi aku tak bisa.
- Makan sereal dan yogurt? - Ya, tidak.
Bagaimana kalau roti bakar?
Kau tahu, aku harus ke kantor, tapi terima kasih.
Malam ini kami tampil. Tontonlah kami.
Kau yang rugi. Kau mau lihat konser rock malam ini?
- Kau. Coba kutebak, tidak? - Ya.
- Ya? - Tidak, maksudku ya untuk tidak.
Ya, sampai nanti.
Pesta kostum. Ya, tidak.
Astaga.
Ini dia.
- Carl Allen dipanggil bertugas. - Aku bukan prajurit, Norman.
Kau prajurit garis depan di divisi keuangan.
Norman. Saluran satu.
Kau mau mengangkatnya? Di ruang pribadimu?
- Di sini saja. - Ya, atau itu.
Di sini Norman.
Kau yakin? Karena... Baiklah. Terserah kau saja.
Baik.
Ingat promosi yang kita bicarakan?
- Ya. - Itu tak akan terjadi.
Aku sudah memperjuangkannya untukmu di telepon tadi.
Pilihannya antara kau dan Demko, dan mereka memilih Demko.
Aku tak peduli. Aku juga tak berambisi.
Tapi kupikir setelah 5 tahun, aku pilihan logis, tapi sudahlah.
Anggap saja seperti ini: setidaknya kau tak dikandangkan.
- Kau tahu apa artinya? - Dipecat?
Bagaimana kau tahu artinya? Pernah dengar aku mengatakannya?
Tidak, itu ungkapan biasa.
- Di pergaulanku, aku pengarangnya. - Ungkapan itu cepat menyebar.
Ini bisa menghiburmu. Aku akan kumpul-kumpul di rumahku.
- Pesta topi dan atau rambut palsu. - Astaga.
Sayangnya aku harus ke luar kota.
- Kau belum tahu hari apa pestanya. - Kapan?
- Jumat. - Aku ke luar kota.
Kau bicara bersamaan denganku.
Seperti kau sudah yakin akan mengatakan apa
tanpa perlu mendengar ucapanku.
Kuakui, bisnis kita sedang sepi.
Permintaan turun jauh untuk toko kecil Rollerblade
dibandingkan dengan Big 5 dan Sport Chalet
tapi rancanganku akan merevolusi industri sepatu roda.
Aku tahu, Marv, tapi kau tak punya tanggungan properti.
- Tak ada. - Dan kreditmu...
Buruk, tapi aku tak mau terdengar putus asa.
- Ya - Aku tak punya pilihan lagi.
DITOLAK
Penelepon Tak Dikenal-Abaikan
Carl. Hei. Lama tak bertemu.
Nick Lane? Hei.
- Kau masih bekerja di bank, 'kan? - Ya.
Itu alasan aku duduk di luar, makan siang, memakai namaku.
Kau pasti pengelola bank ini sekarang.
Bisa jadi. Ada beberapa tawaran. Aku tak mau terikat.
- Bagaimana Stephanie? - Baik.
Astaga.
Dia baik-baik saja. Apa saja kegiatanmu sekarang?
Aku berkeliling dunia. Menikmati hidup.
Aku mendaki Gunung Kilimanjaro. Makan kelelawar di Laos.
Aku menembak sapi dengan bazooka.
Aku tak bangga untuk yang terakhir, tapi aku melakukannya.
- Sepertinya menyenangkan. - Kau ingin tahu rahasiaku?
Aku selalu bilang "ya."
Kata "ya" telah mengubah hidupku. Ini.
Tidak, terima kasih. Aku tak perlu.
"Tak perlu"? Aku lap pantatku "tak perlu."
Baiklah.
- Kau tak mau bekerja di sini, Carl. - Ya, aku mau.
Tidak.
Bagaimana kalau kau ambil batu ini
dan lemparkan ke bank itu dan hancurkan jendelanya?
- Tidak, terima kasih. - Suruh aku melakukannya.
- Kau mau melempar batu ke bank itu? - Ya.
Astaga.
- Kau sudah gila? - Ikutlah seminar itu, Carl.
Diam di tempatmu.
- Dia mau kabur. - Berhenti.
Carl, nikmati hidupmu! Kau tak akan menyesal.
Hei, berhenti. Berhenti!
Penelepon Tak Dikenal-Abaikan
- Aku tahu kau mau menonton band-ku. - Tidak.
Maaf.
DITOLAK
- Halo? - Stephanie?
- Carl. - Ya, ini aku.
Aku ingin meneleponmu. Kurasa aku rindu padamu. Aneh, ya?
Ya, Carl. Sudah dulu, ya.
- Ted dan aku akan pergi berlayar. - Itu bagus.
Bagus untukmu.
Astaga, Pete. Aku sedang tak ada atau aku sedang sibuk.
Ayolah. Kau sudah setengah jalan, potong sampai putus.
- Pete? Hei. Dari mana saja? - Kau tak menerima teleponku?
Apa? Astaga, tidak. Teleponku hilang.
Kau pembohong besar.
- Ini ponselku. - Ya. Itu dia.
Kau tahu, Bung? Kau tak datang ke pesta tunanganku malam ini.
Astaga. Sial, kau bercanda? Malam inikah?
Aku benar-benar menyesal. Aku lupa.
Dengar. Aku akan menebus kesalahanku. Aku janji.
Pilih harinya. Kapan saja, kita akan pergi, swashbuckle.
- Apa artinya? - Entahlah.
Ini bukan sekedar minum-minum. Ini pesta tunanganku.
- Kau hanya menikah sekali. - Aku tak mau melakukannya lagi.
Aku tahu, Carl. Aku tahu Stephanie meninggalkanmu.
Dan aku tahu itu jadi masalahmu, tapi ini bukan tentang kau. Tapi aku.
Kapan terakhir kau bersenang-senang? Kau selalu mencari alasan.
"Aku tak mau berkomitmen. Aku tak mau terikat."
Kau tahu nama keluarga tunanganku?
Ya. Fisher. Fishman.
- Tunggu. Fishwall? - Fishwall?
- Kaupikir namanya Lucy Fishwall? - Bukan? Aku salah?
No comments yet. Be the first to leave one.