Las primeras 200 líneas.
Pada hitungan ketiga.
Satu, dua, tiga!
Lempar cincinnya. Tiga kali, 25 sen. Lihat betapa mudahnya.
Ya, seperti itu, kau juara!
Sekarang, untuk babak finalku yang mengejutkan.
Bukan untuk orang yang mudah pingsan.
Bukan juga untuk yang berhati lemah.
Aku menyebut trikku ini "Rahang Kematian."
Sekarang. Katakan.
Harold, gunakan kekuatanmu
untuk menyelamatkanku dari penderitaan ini.
Kau takkan celaka! Abrakadabra!
Tolong aku!
Aku akan menjadi artis.
Aku tak percaya pada Natal sebelumnya
aku dan Harmony mengubah dunia.
Kami tak berniat begitu dan itu tak bertahan lama.
Hal seperti itu takkan bertahan lama.
Karena kini aku di LA, aku berpesta. Di sana, jika gadis bernama Jill,
ejaan namanya J- Y- L- L- E, omong kosong itu.
Itu aku, namaku Harry Lockhart, aku akan menjadi narator kalian.
Selamat datang di LA.
Selamat datang di pesta.
Yang merokok itu Dabney Shaw, produserku. Dia yang menemukanku.
Pria yang bersamanya adalah Perry Van Shrike, alias Perry Homo.
Detektif swasta yang jujur, konsultan film dan TV. Semuanya.
Dia sangat sukses. Dia juga homo.
Jangan mulai, Perry, ya?
Aku melihatmu main bola. Kau kuat. Namun saat kau lihat pria telanjang
otakmu berkata, "Aku menginginkan itu."
Aku tak begitu. Seolah berkata, "Lihat, ada gajah. Cepat.
Ayo kuras darahnya untuk mengecat rumah kapalku."
Itu bukan hal pertama yang kau pikirkan.
LA.
Mungkin kalian penasaran kenapa aku bisa ada di sini, atau mungkin tidak.
Mungkin penasaran bagaimana Silly Putty menjiplak komik.
Intinya, aku tak melihat ada narator lain, jadi diamlah.
Bagaimana aku bisa ada di sini? Cari tahu saja sendiri.
TOKO MAINAN MARGOT'S
Chloe, sebutkan nama itu sekali lagi
karena aku pasti melewatkan sesuatu.
Aku mulai gila. Sudah tiga kali aku ke toko ini.
Cyber Agent. C-Y-B-E... Kenapa tidak tanyakan saja
- ke pegawainya atau siapa pun? - Tidak, mereka sibuk.
"Protocop, pelindung manusia." Yang itu? Dia melindungi manusia.
Paman Harry, lihat sekeliling. Ada papan namanya.
Acara itu dibatalkan dua tahun lalu. Tanya saja... Tunggu, apa tokonya buka?
Ya, ini jam hari libur. Begini... Menjauhlah dari jendela itu.
Sudah dulu, ya, akan kutemukan barang itu.
- Bagus. - Harry, alarm itu bermasalah!
Berikan pistolnya!
- Tidak. Berikan pelurunya! - Jangan bergerak!
- Kau pasti bercanda. - Tunggu di sini dan tunggu polisi.
Jatuhkan pistolnya. Kami tak berbuat apa-apa. Kami tak berbahaya. Jatuhkan.
- Bu, pistol ini tak berpeluru... - Ritchie, jangan!
Richie!
Sial!
Astaga.
Santai saja.
Astaga. Tidak. Kami belum siap mengaudisimu.
- Tunggu di luar bersama yang lain. - Grace, biarkan dia masuk.
- Dia sudah siap. Kau siap? - Siap?
Baiklah, ayo.
Kau sudah tahu skenarionya? Ada pertanyaan?
Dia tak punya pertanyaan. Lihatlah dia. Ayo.
Bacalah.
- Di mana dia? Di mana Raphael? - Di mana dia?
Di mana...
Pukuli saja aku. Jika kau ingin aku bocorkan soal klienku, mati saja kau.
Pukuli saja aku. Jika kau ingin aku bocorkan soal mitraku, mati saja kau.
Berhentilah berlagak menjadi orang baik, Bajingan.
Mitramu tewas.
Dia terlibat terlalu dalam, kau tahu itu.
Mungkin kau juga yang menembaknya.
Kau membunuhnya!
Tidak, aku tak membunuhnya. Dia ingin ikut.
Kenapa?
Kenapa?
Aku tak ingin dia ikut. Dia yang bersikeras.
Aku bilang, "Di rumah saja." Namun dia tak mau dengar. Dasar bodoh.
Aku membunuhnya, 'kan?
Sial, ini salahku. Aku menyesal.
Maaf.
Semoga berhasil.
Lihat, inilah yang kumaksud. Kuno. Metode.
- Studio. - Brando. Kirim ini ke LA.
Hubungi Perry Homo.
Simak ini, mereka mengaudisiku untuk film. Hebat, 'kan?
Sebelumnya aku mencuri Xbox di East Village,
selanjutnya, aku minum sampanye di LA.
- Hai. - Hei.
Apa pekerjaanmu?
Aku sudah pensiun. Aku menciptakan dadu sewaktu kecil.
- Bagaimana denganmu? - Aku menggeluti seni peran.
Aku ingin tahu siapa lagi di sini.
Itulah kisah bagaimana aku bisa ke pesta ini.
Sementara Harmony, ceritanya berbeda.
Sebagian orang mengatakan dia kemari karena robot raksasa.
Akan kutunjukkan itu sebentar lagi.
Namun bagiku, dengan atau tanpa robot, dia ditakdirkan berada di sini.
Astaga, lihat kaki itu?
Bukan berarti itu menjelaskan kenapa dia harus ada di sini.
Ya, rasialis, aku serius.
Rusa kutub lain menertawakannya. Lalu mendadak mereka membutuhkannya.
Dia hampir seperti lampu kabut.
Coba katakan, apa bedanya,
"Jangan bicara dengan Reggie, dia berkulit hitam.
Tunggu, dia bisa bermain basket. Masukkan dia."
Rudolph, Reggie.
Harmony Faith Lane, gadis khas LA, artinya dia bukan berasal dari sana.
Dia besar di kota kecil di Indiana Selatan.
"Jika ragu, potong babi." Itu moto kota kecil tersebut.
Seperti mayoritas wanita yang akan menjadi kacau, Harmony sangat pintar.
Tentu saja, ada orang lain yang berkontribusi,
dia punya mentor yang hebat. Bukan wanita ini.
Dia.
"Pergilah, Jonny Gossamer!'
Dia memakai gaun yang rapi.
Dari penampilannya, dia menumpahkan sedikit."
Jonny berbicara dari halaman-halaman kertas buku murah
dan bercerita tentang negeri menjanjikan, yakni "Pesisir"
dan kota ajaib yang disebut Los Angeles.
Seiring bertambahnya tahun, Harmony berharap Jonny itu nyata.
Berharap Jonny bisa ke Indiana untuk menyelamatkan adiknya, Jenna.
Ayahnya menjamah Jenna tiap malam.
Namun Jonny tak pernah muncul.
Lalu pria penulis buku-buku itu pun meninggal.
Di usia 16 tahun, Harmony pergi.
Naik bus ke LA, negeri yang menjanjikan.
Dia akan kaya dan terkenal lalu membantu adiknya.
Sebelum Jonny meninggal,
penulis buku-buku itu mengatakan bahwa Jonny hanyalah lelucon.
Dia menulis demi uang dan semua itu omong kosong.
Harmony mengabaikan ini. Dia lebih tahu. Memangnya dia siapa?
Dia hanyalah seorang penulis.
Begitulah Harmony bisa ada di pesta yang sama sepertiku...
Sial, aku melewatkan sesuatu.
Bagian robot itu. Aku menganggapnya penting, lalu melupakannya.
Ini narasi yang buruk. Seperti saat ayahku melucu.
"Tunggu, balik lagi. Ayah lupa, si koboi naik kuda biru." Sial.
Entah apa kalian ingin melihatnya, tapi ini bagian tentang robot sialan.
Bolehkah kubilang "sial" lagi?
Kini kembali ke Protocop, yang dibintangi Jeff Neal.
GADIS AJAIB
Apa-apaan?
Astaga.
Hei!
Menurut sumber dekat Neal, yang sudah tak menjadi aktor selama dua tahun,
Neal terlihat sangat sedih malam ini
selama tayangan ulang Protocop.
Sang aktor, yang masih memiliki kostum yang dia kenakan di acara itu
diduga memakai kostum itu,
tersandung di jalur sepeda, dan masuk rumah pantai Venice ini,
di sana artis ambisius Harmony Faith Lane, kaget menemukannya.
Aku berjalan santai dan menyapanya.
- Siapa dia? - Aku kasihan dengannya.
Kota ini tak ada habisnya mengacaukan orang-orang.
Seperti menaruh bantal kentut di kursi listrik.
- Seperti itu. - Mereka selalu melakukan ini.
Kita tak bisa melihat yang di bawah pinggang. Seperti Playmate tahun 1964.
Selalu ada di belakang dipan atau ada bayangan. Tak pernah...
Untuk apa aku menjelaskannya kepadamu? Undang dia ke suatu acara.
Itu dia. Bingo.
Takdir.
KISAH SERU KARYA JONNY GOSSAMER DIE JOB
SAAT JONNY GOSSAMER TERLUKA KETIKA MENCUKUR
Semoga kau adalah dokternya.
Pergilah. Jangan berpikir, lakukan saja.
Kau saudara lelakinya? Ini bukan urusanmu.
- Aku akan menghabisimu. - Tidak, kau akan mencobanya.
Lalu eksperimenmu akan berakhir dengan kau menangis, Teman.
Sekali lagi, jika kau tak dengar, jangan berpikir, pergi sajalah.
Atau kau dan aku keluar sekarang juga.
Ini sudah lewat waktu tidurku.
Pilihlah.
Berengsek.
Kau baik-baik saja?
Ya.
Terima kasih.
Suatu saat aku akan belajar cara berkelahi.
- Perry Van Shrike. - Aku Harry Lockhart.
Aku pernah dengar tentangmu. Kau adalah sang konsultan.
- Kau pasti... Omong-omong... - Perry Homo?
Ya. Benar. Dabney memanggilmu itu.
- Kurasa kalian kawan lama. - Lima tahun.
Astaga, lima tahun.
- Kau masih homo? - Aku? Tidak.
Aku pecinta wanita. Aku hanya suka nama itu, dan tak bisa membuangnya.
Seharusnya kau tahu jangan tidur di pesta. Banyak orang aneh di sini.
Dabney ingin kau mengikuti kursus detektif.
- Apa? - Untuk aktingmu.
Aku akan mengintai besok. Mau ikut?
Seperti apa orangnya? Gembong kriminal?
Yang benar saja. Tebakanku, dia pria kesepian yang sedih
yang seorang diri menghantui rumahnya sendiri di Hollywood Hills.
Itu benar-benar homo.
- Astaga. - Kau harus melihat lawanku tadi.
Harry, ini tuan rumah kita yang baik, Harlan Dexter.
Ya, tentu. Kau anak emas Dabney dari wilayah Timur.
Semoga ini belum lewat waktu tidurmu.
No comments yet. Be the first to leave one.