Esimesed 200 rida.
Aku ingin memberikan penghormatan pada Buddha Gautama.
Aku mohon ampuni semua dosaku.
Bersukacitalah dalam kebaikanku.
Dan kamu telah membuat kebaikan. Kumohon, berbagilah denganku.
Sadu. Aku bersukacita atas kebaikanmu.
Sial.
Sial.
Tolong!
Tolong!
Tolong!
KUIL THUMMANAKANIMIT
Cepat.
Bus terakhir ke Bangkae dan Tha Phra
segera berangkat.
Sebaiknya cepat.
Tunggu kami.
- Tunggu kami. - Ayo.
Astaga.
- Kenapa topimu begitu? - Cepat.
Sial.
Beri tahu sebelumnya jika busanamu begini.
Anggap saja ini perjalanan ke Milan.
Astaga. Kendaraan macam apa itu?
Berhenti bersikap seperti putri, Pertama.
Hei.
Di sini dingin.
Sangat mudah bernapas.
Balon.
Aku senang
kamu menang lotre. Namun,
apa kamu memberi pacarmu mobil untuk ke Bangkok saat aku tidur?
Hanya karena dia lupa memberi makan anjing?
Teman-teman,
anjing pacarku kasihan.
Jika dia tak makan…
Hei.
Apa anjing pacarmu lebih penting dari temanmu?
Kubilang sewa mobil pribadi, tapi kamu cuek.
Apa mobil itu atas nama pacarmu?
Kamu pindah kepemilikannya?
Tidak. Kamu gila?
Aku takkan mengalihkannya.
Berengsek.
Kamu melakukannya, ya?
Ada apa?
Ada apa? Tenanglah.
Maaf.
Epilepsinya kambuh.
Dia tampan sekali.
Di sana.
Serahkan padaku.
- Kawan-kawan. - Kenapa?
- Bagaimana dia? - Dia tampan.
Halo? Namaku Balon.
- Ya. - Teman-teman, cepat kemari.
- Pongsit! - Pongsit!
Ya, ini aku.
BANGKOK KE NAKHON PATHOM
- Apa? - Terus berjalan lurus.
Hati-hati di jalan.
Kawan-kawan.
Jangan berisik.
Teman-teman, aku rindu saat kita berkuliah.
Ingat? Aku sudah lama tak melihatmu.
Apa kabarmu?
Awalnya tak apa, tapi karena ada kalian…
Kini pasti lumayan.
Jadi, katakan padaku,
di mana kamu bekerja sekarang?
Aku baru dipecat.
Kata orang karena usiaku yang sial,
tapi kurasa itu omong kosong.
Usiamu yang sial?
Apa kamu 25 tahun sekarang?
Ya, hari ini usiaku 25 tahun.
Kawan-kawan.
Ini hari ulang tahunnya.
Satu, dua, tiga.
- Selamat ulang tahun - Poon.
- Ya? - Jangan ribut.
Suruh mereka diam.
- Oke. - Selamat ulang tahun
- Kepadamu - Hei.
Selamat ulang tahun…
- Berhenti. - Selamat ulang tahun untukmu
- Poon. - Hentikan.
Jangan pergi. Kemarilah.
- Apa? - Lihat. Kamu melihatnya?
Selamat ulang tahun untukmu
- Bagaimana? - Tak kelihatan apa-apa.
- Selamat ulang tahun - Tidak? Kamu lihat apa?
- Lihat cermin, bukan jalan. - Selamat ulang tahun
- Cermin. - Selamat ulang…
Aku tak melihat apa pun.
- Kita lihat bersama. - Selamat ulang tahun
- Oke. - Selamat ulang tahun
Astaga. Pengemudinya pingsan.
- Oh, tidak. - Oh, tidak.
Oh, tidak. Bagaimana ini?
Harus kamu.
- Bagaimana ini? - Kendalikan.
- Tak bisa. - Kendalikan dirimu.
Cepatlah.
Tenang. Got…
- Apa dia bisa mengemudi? - Sial. Lihat jalan.
Baik.
Baik.
Aku berusaha.
- Got. - Balon, bantu aku mengemudikannya.
Aku tak mau mati hari ini.
BANGKOK KE NAKHON PATHOM
Kini pasien sudah aman.
Nong.
Bagaimana perasaanmu, Nong?
Nong.
Got tewas.
Got.
Nong.
Kamu tak bisa bilang kecelakaan itu takdir.
Bagaimana dengan yang tewas?
Apa hubungannya?
Lalu Balon dan Pertama?
Apa yang mereka lakukan?
Kenapa terjadi pada mereka?
Aku percaya takhayul.
Apa kamu mau mati seperti temanmu?
Jadi, haruskah aku ditahbiskan
agar hidupku lebih baik?
Aku tak akan tertabrak mobil jika lewat jalan tol.
Aku tak akan terbakar jika kena api. Begitu?
Aku akan jadi biksu atau Avenger?
Nong.
Semua.
Tunggu aku di sana.
Kamu lihat orang yang baru masuk?
Kamu tahu,
Keberuntungannya
tak ada separuhnya dibanding dirimu
karena orang tuanya
meninggal sebelum dia bisa ditahbiskan.
Dia tak berkaitan denganku.
Kurasa penahbisan itu tak penting.
Bukankah penting tidaknya
tergantung dari orang yang ditahbiskan?
Apa penting jika ibumu
yang memintamu ditahbiskan?
KUIL THUMMANAKANIMIT
Kepada siapa
kamu berjanji untuk ditahbiskan?
Kepada siapa kita berjanji?
Kami tak berjanji pada siapa pun.
Aku berjanji.
Aku membuat sumpah
bahwa akan ditahbiskan jika menang lotre.
Itu masalahmu. Itu bukan urusanku.
Itu urusanmu juga.
Aku bersumpah
jika aku menang lotre,
kita bertiga akan ditahbiskan.
Kita bertiga?
Balon,
kamu gay.
Kenapa kamu bersumpah ditahbiskan?
Aku tak berpikir.
Harus kamu pikirkan.
Luang Loong.
Ya?
- Karena dia sudah bersumpah, - Ya.
apa yang harus kami lakukan sekarang?
Penuhi sumpahmu
di tempat kamu membuatnya.
Ini pura tempat Pertama dan aku bersumpah.
PURA PEE NAK
Ini.
Kenapa kamu berikan padaku?
Simpan saja.
Kamu akan tahu
kapan harus memakainya.
Pee Nak,
aku datang untuk memenuhi sumpahku.
Kami kemari untuk ditahbiskan
karena si jalang ini membuat sumpah.
Sadu.
Astaga.
Halo Luang Pee.
Kami kemari untuk ditahbiskan.
Balon.
Dia tampan.
Aku tak keberatan di sini tiga phansa .
Pertama.
Kamu tak akan pernah kesepian.
- Ya ampun. - Ya ampun.
Kalian akan masuk neraka.
Kamu cemburu, Nong?
Kok bisa kamu memilih kuil ini?
Apa ada internet di sini?
- Apa-apaan? - Oh, tidak.
Kenapa dia?
Kami minta maaf.
Kenapa aku minta maaf?
No comments yet. Be the first to leave one.