3 Heroines

3 Heroines (3 Srikandi)

Laadige alla Indonesian subtiiter

Väljalaske info

3 Srikandi 2016 NF WEB-DL
Kommenteerib Putra14
Netflix Retail.

Sildid

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Avaldatud: 2019-02-28
Allalaadimised: 15
Kuulmispuudega: No

Indonesian subtiitrite eelvaade

Esimesed 200 rida.

Saudara-saudara pendengar setanah air.

Setelah sekian lama Indonesia haus akan gelar internasional,

dapatkah kali ini mendapat medali?

Kita saksikan siapa pemenang di SEA Games ini!

Persaingan ketat antara Nurfitriyana Saiman dari Indonesia

dan Maria De Larosa dari Filipina.

Tampaknya muncul lagi dalam recurve perseorangan ini.

- Tanpa kejutan... - Ya!

...sekali lagi Nurfitriyana Saiman masih menduduki peringkat pertama.

Pertahankan terus.

Sembilan bulan lagi, Olimpiade Seoul.

Ini kesempatan emas untukmu!

Ya, Pak. Tetapi kita butuh pelatih yang bagus.

Sudah setahun ini, kita tiga kali ganti pelatih.

Sayang jika peluang tak kita raih.

- Benar. - Ya.

Semoga sejarah tak akan lagi terulang.

Tahun 1980, Indonesia berpeluang meraih medali pada Olimpiade.

Robin Hood Indonesia pun sudah siap, namun Indonesia tak kirim satu kontingen pun.

Dan sejak insiden itu, Robin Hood Indonesia menghilang.

Ibu!

Selamat, ya!

Bapak mana? Aku mau tunjukkan ini.

Matikan lampu itu! Malam-malam masih buat ramai.

Aku menang, Pak!

Lalu Bapak harus apa?

Mengalungkan karangan bunga? Loncat kegirangan?

Sudahlah, Pak. Jangan terlalu keras.

Kenapa Bapak bicara begitu? Medali ini caraku menuju Olimpiade.

- Cukup! - Pak!

Kau boleh membuat bangga negara seribu kali.

Itu bisa berarti bagi orang lain, tetapi tidak untuk keluarga ini!

Kau membuat pusing kepala Bapak.

Kita di sini untuk satu tujuan, membela saudara-saudara kita di Afghanistan!

Hentikan perang!

Untuk apa kami berlatih, bekerja keras bertahun-tahun

jika pada akhirnya batal berangkat ke Moskow?

Tenang, aku akan jelaskan nanti.

Jadi, tolong dicatat ini, ya!

Aku paling tidak suka urusan politik dicampur aduk dengan olahraga!

Catat itu!

Satu pertanyaan lagi, Pak!

Nona!

- Ada ukuran nomor 38? - Ukuran 38? Sebentar.

- Aku cari di belakang. - Ya.

Kenapa kau mengganti bajumu?

Aku sudah beri tahu, hari ini giliran kerjamu dua kali.

Kau harus gantikan Kinuri yang sakit.

Maaf, Pak, tetapi aku harus pergi latihan hari ini.

Sebentar lagi aku ikut seleksi di Jakarta.

Jika sibuk latihan, tak usah masuk bekerja!

Sudah beberapa kali kau tolak bekerja sore

padahal karyawan lain patuh.

Tetapi, Pak...

Jika kau berkeras pergi, besok tak usah masuk lagi.

Masih banyak orang mengantre untuk melamar kerja di sini, paham?

Baik Pak, kalau begitu.

Suma!

Ayo, Lies.

Ingat, lepaskan anak panahmu

dan beri tekanan yang sama seperti pelepasan.

Jadi, busur tetap diam sebelum anak panah menancap ke sasaran.

Katamu kau mau ikut seleksi Olimpiade.

Lies!

Apa yang kaulakukan?

Kau terlalu terburu-buru.

Tahan sebentar!

Astaga!

Sudah, cukup latihan hari ini.

Bu, Ibu pulang lebih dahulu saja.

Kau mau berkeluyuran ke mana? Tidak boleh!

Aku ada perlu, Bu.

Aku tahu.

Ibu sudah katakan, tak boleh bertemu atlet pencak silat itu lagi.

Lilies!

Pak, awas, Pak!

Kau tak apa-apa?

Urus kambing-kambingmu!

Ajari dia berbagi dengan manusia.

Tak apa-apa, Pak.

Aku harus nyalakan motor.

Kita dorong saja, ya?

Suma, kapan ada obral lagi di toko tempatmu bekerja?

Bapak mau belikan adikmu sepatu.

Aku sudah tak bekerja di situ.

Sejak kapan? Kenapa Bapak tidak tahu?

Sejak tadi, sebab aku lelah

selalu disuruh bekerja sore. Bagaimana aku bisa latihan?

Sebenarnya bapakmu lebih senang kau jadi PNS.

Ikutlah kontes PNS besok lusa.

- Hei, Jang! - Ada apa, Pak?

Kau masih ingat Donald?

- Maksudnya Pandi? - Ya, Donald Pandiangan.

Aku akrab sekali dengannya. Mau tahu apa tentang dia?

Dari makanan favorit, penyanyi, sampai nomor sepatunya aku tahu.

Bukan begitu. Kau tahu di mana dia tinggal sekarang?

- Itu, aku kurang tahu. - Dasar bodoh.

- Ayo, bantu aku mencarinya. - Ada uang lemburnya?

Duit melulu! Ayo cepat!

Apa pernah lihat orang ini tinggal di daerah sini?

Tidak, Pak.

Maaf, pernah bertemu Donald Pandiangan di sini?

- Ini tempat apa? - Tempat berdansa.

Cantik.

Lihat saja ini.

Ayo, bayar.

Kita harus sering ke sini.

Kenapa?

Para gadisnya cantik.

Mau ke mana, Yan?

Ke Melawai sebentar, mau jalan-jalan.

Kembali!

Ganti baju, dan teruskan skripsimu!

Jadikan malam Minggu sebagai pengganti waktu

yang kaubuang untuk latihan!

- Tetapi, Pak... - Tidak ada tetapi! Masuk!

Bapak kenapa?

Aku cuma mau pergi sebentar, Pak.

Jangan buat aku jadi seperti tentara, semua mau Bapak atur.

Skripsiku pasti selesai!

Selama kau masih tinggal di bawah atap rumah ini,

kau harus ikuti aturan Bapak!

Ayo masuk!

Ayo!

Sudah kukatakan jangan manjakan anak itu!

Dia harus belajar bertanggung jawab dengan skripsinya!

- Pak... - Ya?

Bulan depan, aku mau ikut seleksi Olimpiade di Jakarta.

Apa?

Aku mau beli satu set anak panah dan penahan lengan.

Yang lama sudah tipis talinya, Pak.

Semua itu ratusan ribu harganya.

Apa tak ada anggaran dari Dispora provinsi?

Kau atlet, kau perlu protein.

Ini untukmu.

Kau dapat dua potong.

Pandi...

Mau apa lagi kau?

Belum cukup kau menghancurkan hidupku?

Pandi!

Aku ke sini untuk memintamu melatih

tim panahan Indonesia untuk Olimpiade.

Aku tak butuh kesempatan itu sekarang.

Delapan tahun lalu aku butuh kesempatan ini saat kita batal berangkat ke Moskow.

Pandi! Dengarkan aku!

Jika saja aku bisa katakan, aku akan bela atletku mati-matian!

Tetapi aku bisa katakan apa?

Pemerintah sudah membuat keputusan untuk memboikot.

Ini soal politik!

Ini jam kerja. Aku mau bekerja, tolong jangan ganggu!

Baiklah.

Bengkel busuk seperti ini bukan tempatmu, Pandi.

Apalagi minum-minum di bar murahan.

Itukah yang kauinginkan?

Sampai-sampai kau mengabaikan untuk membela negara?

Bukankah medali Olimpiade itu menjadi impianmu?

Sudah sampai.

Ada apa?

Ada dia lagi! Bosan aku.

Siapa?

Itu, pengusaha mebel Java Craft yang terkenal.

Pujaan ibuku.

Biarkan saja.

Ya sudah.

- Ibu! - Hei! Itu ibumu.

Ini Denny, Bu.

Dia baru saja menang di kejuaraan. Ya?

Ya, Bu.

Lies, Pak Wijanarko sudah menunggumu dari tadi.

Hai, Dik. Baru pulang latihan?

Lies, duduk.

Bu, langsung pamit. Ini cuma mau mengantar Lilies.

Silakan, jika mau pergi. Jangan sampai mengganggu kegiatan.

- Permisi, Bu. - Silakan.

Lilies!

- Tunggu! - Ada apa?

Kenapa kau pulang?

Untuk apa aku di sini? Kau ada tamu.

Itu tamu ibuku. Aku tidak suka.

Tak apa-apa.

- Lies, masuk! - Tak apa-apa.

- Silakan minum. - Terima kasih.

Lies.

Dik, aku dengar kau sedang suka latihan panah.

Tidak, lagi malas.

Kenapa?

Begini.

Bagaimana kalau aku buatkan busur panah dari kayu uling?

Itu mahal, dari Kalimantan.

Aku tidak mau, dan tidak butuh.

Lalu, apa yang bisa kubantu?

Andalanmu memang selalu mengiming-imingi dengan hadiah, ya?

Maksudmu?

Mengiming-imingi orang yang tak membutuhkan itu mubazir.

Lebih baik bantu anak yatim yang butuh bantuan dari orang kaya

yang tak tahu cara menghabiskan uangnya. Mengerti?

Bisa diulangi?

Mas, aku mandi dahulu.

Orang kaya tetapi bodoh!

Pasti dia suka aku.

3 Heroines subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for 3 Heroines

Kommentaarid

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left