Esimesed 200 rida.
Di tengah malam, Tokyo Tower akan mematikan lampunya.
Pasangan yang melihat ini bersama
akan hidup bahagia selamanya.
Mungkin aku hanya bisa berharap dan percaya pada takhayul seperti ini.
Aku menyukaimu.
Aku sangat menyukaimu.
Maaf.
Tidak apa-apa.
Aku hanya ingin memberitahumu.
Selamat pagi!
Besok?
Itu bagus sekali!
Benarkah?
Apa?
Selamat pagi!
Air ketubannya cukup.
Bayinya sehat.
Pemagang, kamu bisa mengelap gel ultrasoniknya?
Baik.
Biar kuseka perutmu.
Baik.
Dengarkan detak jantung bayinya.
Aku akan mengukur suhu tubuhmu.
Apa suhu airnya terlalu panas?
Tidak, sudah cukup.
"Praktik Perawatan Pasien Dewasa 3"
"Tahun Ketiga, Musim Gugur"
Selamat pagi! - Selamat pagi!
Selamat pagi!
Teruslah bekerja keras!
Kita ditugaskan ke Departemen Nefrologi kali ini.
Kita ditransfer ke departemen lain.
Para anak baru sangat bersemangat!
Dahulu kita seperti itu,
tapi sekarang...
Menyingkir!
Kalian mengganggu!
Selalu kesal.
Sangat mudah marah.
Kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Kita memulai pemagangan sangat pagi hingga pukul 5 sore.
Lalu kita harus menulis laporan pasien saat pulang.
Kita bahkan tidak punya waktu untuk tidur.
Tiga puluh halaman laporan untuk tiap pasien.
Semua waktu istirahat kita digunakan untuk menulis laporan.
Kita seharusnya memakai waktu itu untuk merawat pasien lebih baik.
Agar mendapat nilai, kita harus mengutamakan laporan
daripada membangun hubungan baik dengan pasien.
Itu sangat aneh.
Meski begitu, keahlian menulis laporan kita lebih penting
daripada keahlian merawat kita sekarang.
Itu sangat aneh.
Apa ada pemagang yang keluar lagi?
Dia dikritik
oleh perawat di departemen pemagangannya.
Dia disebut tidak layak dan tidak cocok menjadi perawat.
Begitu rupanya.
Kita juga sudah mendengar soal itu.
Mungkin kita bisa bertahan
dengan sedikit keajaiban.
Touno juga.
Menurutmu, bagaimana kabar Saeki?
Setelah dia pergi, dia belum bilang akan kembali ke sekolah.
Dia mengirim surat kepadaku.
Dia tinggal bersama anak-anaknya
di apartemen dekat rumah orang tuanya.
Jangan menyerah.
Kuharap orang seperti kamu
bisa menjadi perawat.
Aku yakin dia akan kembali.
Dia lebih dewasa dan bisa diandalkan daripada kita.
Ya. Dia juga seorang ibu.
Kita harus bersemangat dan bekerja keras hari ini!
Tunggu!
"Angels in White"
"Episode 6. Apa Kamu Punya Kenangan Dicintai?"
Tampaknya kamu akan menjalani tes darah hari ini.
Permisi.
Aku mengajak Pak Sato dari Departemen Nefrologi
Baik. - Tolong urus dia dengan baik.
Kita sudah lama tidak bertemu.
Aku ditransfer ke departemen lain.
Apa semua berjalan lancar?
Tidak terlalu baik, tapi tidak terlalu buruk juga.
Aku tahu kamu akan mengatakan itu.
Omong-omong,
perkumpulan sukarelawan pediatri yang pernah kuberi tahu padamu
akan berkumpul lagi malam ini.
Apa kamu punya waktu untuk hadir?
Bukankah kamu seharusnya mengundang Touno?
Apa kamu
mengirim pesan teks lagi kepadanya dan tidak dibalas?
Bukan seperti itu.
Kami sering bertemu belakangan ini.
Dia pasti akan membalas pesan teksku jika aku mengundangnya.
Tapi
kurasa dia menyukai orang lain.
Aku belum menyerah,
tapi kurasa tidak ada kesempatan bagi kami.
Tapi aku mengundangmu bukan karena itu.
Jika kamu masih memikirkan masalah tempo hari,
aku sudah melupakannya.
Dan aku ada kencan dengan pacarku malam ini.
Dia seusia denganku, seorang mahasiswa di klub Kendo.
Begitu rupanya.
Maaf soal itu.
Aku hampir dipukul dengan pedang bambu.
Ya, dia mahir bermain Kendo.
Dokter.
Aku segera ke sana.
Itu bagus. Kamu mendapat pacar yang baik.
Sampai jumpa.
Kita akan bermain apa? - Sepak bola.
Sepak bola. Baiklah. Mari kita mulai!
Aku menyukaimu.
Aku sangat
menyukaimu.
Apa kamu yakin ingin makan di sini?
Ya. Aku suka nasi goreng di sini.
Aku sangat bahagia kamu mengatakan itu!
Makanlah lebih banyak.
Aku menyiapkan siomai seperti biasa
dan setengah porsi ramen.
Baik.
Ini sangat lezat.
Nasi goreng istimewa buatan Ayah.
Pulanglah setelah kamu selesai makan!
Aku juga pembeli, Ayah.
Jangan panggil aku Ayah.
Miyaki, apa Chinatsu masih sibuk?
Dia juga pulang cukup larut tadi malam.
Aku tidak sanggup lagi menyelesaikan laporan ini.
Chinatsu agak ceroboh dan tidak bisa melakukan sesuatu setengah hati.
Aku menawarkan bantuan kepadanya,
tapi dia bilang itu laporan pasiennya sendiri.
Dia tidak hanya ceroboh.
Aku sering memperingatkan bahwa dia terlalu memaksakan diri.
Karena itulah dia tidak beruntung sejak kecil.
Meskipun begitu, dia sangat gigih dan bersikap positif.
Itu luar biasa, bukan?
Omong-omong,
kenapa kamu selalu kemari?
Tentu saja untuk bertemu Chinatsu.
Kamu tidak tahu malu mengatakan itu di hadapan orang tuanya.
Pulanglah setelah kamu selesai makan.
Pulanglah, Bocah Bodoh!
Ada apa?
Punggungnya cedera lagi!
Ada apa?
Punggung ayahmu sakit!
Lagi?
Sudah kubilang berulang kali agar Ayah berhati-hati.
Ayah sendiri bekerja terlalu keras!
Hei, Chinatsu,
ambilkan handuk basah.
Baik.
Mereka berdua sangat mirip.
Ya.
Ayah tidak apa-apa?
Berhentilah memanggilku Ayah! Aduh!
Ayah Chinatsu akan baik-baik saja, bukan?
Ya. Dia hanya butuh istirahat sebentar.
Aku akan memeriksanya secara rutin.
Lain kali
ayo kita pergi ke tempat lain.
Baiklah.
Kita berpacaran, bukan?
Kita harus menutup restoran untuk sementara.
Bagaimana mungkin kita bisa mengelola bisnis seperti itu?
Sakit!
Tapi Ayah tidak bisa bekerja seperti ini.
Kakak benar.
Selamat pagi!
Pagi!
Dia pergi ke rumahmu untuk membantu?
Ya. Dia bekerja sangat keras.
Silakan. Maaf membuatmu menunggu.
Hei, bersihkan di sana. - Baik.
Selamat datang! Untuk dua orang? Silakan duduk di bar.
Baik.
Pria ini cukup cekatan.
Ini air untukmu.
Bagaimana jika dia tidak pernah pergi?
Itu sangat menyeramkan.
Dia suka padamu.
Tapi aku tidak menyukai dia. Itu membuatku tidak nyaman.
Kita harus pergi.
Ya.
Shunya juga sangat cemas.
Dia cemas apa kamu mau berpacaran dengannya atau tidak.
Dia selalu membahas soal itu denganku.
Meski dia sangat menyebalkan, belakangan ini aku kasihan padanya.
Kamu harus meyakinkan dia.
Maaf.
Kenapa minta maaf? Apa artinya itu?
Itu bukan urusanku.
Itu masalah kalian berdua.
Aku ada kencan dengan pacarku malam ini.
Dia seusia denganku, seorang mahasiswa di klub Kendo.
"Aku sudah bicara dengan Rumi"
No comments yet. Be the first to leave one.