Esimesed 147 rida.
DOKUMENTER NETFLIX ORIGINAL
Tanya dia dahulu.
Kenapa tak kau saja?
Haid?
Katakan!
DISTRIK HARPUR, INDIA
ENAM PULUH KILOMETER LUAR NEW DELHI
Aku tahu apa itu, tetapi aku malu.
- Kau malu! - Aku tak bisa membahasnya.
Baik, tetapi kenapa kau begitu serius?
Kenapa itu terjadi? Apa yang terjadi di dalam tubuh?
Dia bertanya kenapa itu terjadi?
Kenapa bisa pendarahan?
Hanya Tuhan yang tahu.
Ini darah kotor yang keluar.
Bayi lahir karena itu.
Itu yang aku tahu.
Siapa di antara kalian yang tahu apa itu period ?
Pernah dengar?
Seperti jam sekolah? Pergantian jam yang ditandai bel?
Bukan.
Nona-nona...
Aku bertanya kepada kalian.
Kenapa kalian tidak menjawab?
Pernah dengar menstruasi?
- Ya, pernah. Itu semacam penyakit, bukan? - Penyakit?
Ya, kudengar itu penyakit yang paling sering menyerang wanita.
Nona-nona, setidaknya angkatlah tangan.
Ini masalah wanita.
Katakanlah.
Katakan.
Aku bersekolah sampai menginjak masa SMP,
tetapi saat aku mulai haid, situasinya menjadi sangat sulit.
Masalahnya adalah saat aku haid, aku sangat kesulitan untuk ganti kain.
Aku harus pergi ke tempat jauh untuk ganti.
Kain yang aku pakai menjadi basah sekali,
aku harus sering menggantinya,
dan setiap kali, aku harus pergi jauh.
Lalu ada para lelaki yang berkeliaran.
Mereka terus menatap,
jadi, aku tak bisa ganti kain di depan mereka.
Aku menunggu selama setahun setelah mulai haid,
berharap ada perubahan.
Saat tak ada yang berubah...
aku berhenti sekolah.
Kami tidak ke kuil saat haid.
Kami tidak beribadah saat haid.
Tetua di rumah mengatakan bahwa doa itu tidak didengar,
tak peduli seberapa sering kami berdoa.
Inilah aku melawan seluruh desa.
Bagaimana aku bisa bertahan sendiri?
Kata mereka, "Dia gila! Entah apa yang menyelimuti benaknya?"
Aku banyak mengamati anak perempuan tak punya banyak kebebasan,
terutama setelah pernikahan mereka.
Kami tidak didorong untuk bekerja atau menjadi mandiri.
Itu bukan untuk kami.
Aku ingin masuk kepolisian.
Kenapa kau ingin menjadi polisi?
Untuk menyelamatkan diriku dari pernikahan!
Karena dewi yang kami sembah...
juga wanita seperti kami.
Jadi, aku tak setuju dengan aturan
yang melarang wanita masuk kuil saat menstruasi
karena dianggap kotor.
Kurasa itu tidak benar.
Aku menemukannya di rumah.
Seperti setelan katun yang kupakai. Aku cuma pakai saat itu sudah usang.
Di malam hari saat tak ada orang, aku ambil kesempatan untuk melemparnya.
Ruby dan Jackie terkadang menggalinya.
Dibawa ke jalan.
Memalukan sekali.
Para gadis mendapati mereka berdarah
dan memakai kain apa pun yang bisa mereka temukan.
Bayangkan betapa gawat dan berbahayanya itu.
Itu mulai basah.
Awalnya di pertemuan kami,
kami biasa memberi tahu mereka
bahwa kainnya harus dicuci.
Kainnya tak boleh kotor.
Sekarang, kami membicarakan pembalut.
Ada banyak hal yang masih harus diubah.
Banyak yang harus diubah.
Anak dan ibu, suami dan istri tak saling membahasnya,
teman tak saling bicara.
Mens itu tabu terbesar di negaraku.
Aku Arunachalam Muruganantham,
pria yang menciptakan mesin pembalut wanita murah.
Misi kami adalah menjadikan India negara yang 100% memakai pembalut
dari level saat ini yang kurang dari 10%.
Ada desa bernama Kathikhera di dekat sini.
Kalian mungkin tahu. Desanya cukup dekat.
Ada mesin yang sedang dipasang di sana. Itu dikenal sebagai mesin Pad.
Mesin untuk membuat pembalut. Kalian tahu "pembalut", 'kan?
Ya? Tidak?
Tidak!
Aku belum pernah mendengarnya.
Kami tahu dari TV dan cerita, tetapi tak mampu membelinya.
Tak ada yang menggunakannya di keluarga kami.
Katanya jika pakai pembalut,
tak akan ada masalah ke mana pun kami pergi.
Tak ada yang mengejek kami karena memakai kain atau apa pun.
Maukah kau pakai pembalut, jika kami memberimu?
- Aku tak tahu cara pakainya. - Tidak basah.
Tunjukkan kepadaku.
Kupas dari sini?
Cara pakainya?
Halo! Matikan ponsel kalian.
Mulai besok, kalian lakukan sendiri. Dengarkan saja dahulu.
Suman, perhatikan bahan yang dia pakai di setiap langkah.
Dengarkan baik-baik.
Ini bahan baku utama untuk membuat pembalut.
Tangan kalian di sini, buka penutupnya, seperti ini.
Sampai di sini jelas atau aku seperti sedang sulap?
Jelas? Selesai.
Setelah melakukan ini tiga kali, geser nampannya.
Lanjutkan pelan-pelan, lalu biarkan.
Paham?
Taruh ini di sini, lanjutkan membungkusnya 10-20 kali.
Letakkan lurus, tekan pedal, dan akan terpotong lagi.
Kalian bisa, 'kan? Pembalut kalian siap!
Rekha, tanyakan Pamanmu soal ini. Apa dia tahu apa itu?
Apa maksudmu?
- Itu mesin apa dan apa fungsinya? - Dia tahu.
Tanya dia.
Paman, kau tahu ini apa?
Tidak, aku tak tahu yang terjadi di sini.
Menurutmu apa yang terjadi di sini?
Cuma ada mesin yang membuat popok "Huggies".
Popok untuk anak-anak. Hanya itu yang dia tahu.
Hanya itu yang aku tahu.
Kau belum bilang mesinnya di rumahnya.
Baiklah.
Pria di keluargaku tahu sejak awal.
Mereka tak bisa katakan di depan kita.
Paman tak tahu. Kami bilang itu mesin "Huggies".
Kau bilang sedang membuat "Huggies".
Itu dibuat untuk anak-anak…
- Aku tahu, tetapi aku lupa kata itu. - Pembalut untuk anak.
Ya, pembalut!
Aku ingin bilang aku bekerja,
tetapi dia akan bertanya pekerjaan apa.
Aku tak bisa bicara dengannya tentang itu.
Sebenarnya masalahnya adalah adanya patriarki.
Butuh waktu untuk membahas hal soal wanita.
Butuh waktu bahkan bagi kami wanita, tetapi itu akan terjadi.
Semua orang pasti mengira aku aktris dan kalian merekamku.
Aku tak tahu nasibku besok.
No comments yet. Be the first to leave one.