Esimesed 200 rida.
SPESIAL NETFLIX ORIGINAL
TEATER WALTER KERR
KOTA NEW YORK
DNA, kemampuan alami, dan profesi Anda
merupakan pengembangan dan pengabdian akan filosofi estetika.
Keberanian.
Hasrat murni akan ketenaran, cinta, pujian,
perhatian, wanita,
seks, uang.
Jika Anda menginginkan semua itu malam ini,
Anda akan membutuhkan ambisi
yang takkan pernah padam.
Itu adalah elemen yang akan berguna
jika Anda berhadapan
dengan teriakan 80.000 penggemar rock and roll.
Karena mereka menunggu Anda mengeluarkan sesuatu dari topi Anda,
sesuatu yang mengejutkan dan sangat bagus.
Sesuatu yang sebelum hal ini disukai,
hanya lagu yang berdasarkan rumor.
Aku datang dari daerah kota
di mana semuanya diwarnai dengan sedikit tipuan.
Begitu pun denganku.
Pada tahun 1972, aku bukanlah pembalap jalanan.
Aku bukan anak punk jalanan.
Aku adalah musikus di Asbury Park,
tapi aku bukanlah bintang rock.
Masa mudaku saat itu
yang tampil di bar band hardcore kini sudah lewat.
Aku punya grup musikus dan teman hebat
yang paham gaya bermainku dan aku memiliki tipuan sulap.
Aku berada di sini malam ini untuk membuktikan
kepada orang yang sukar memahami dan tak percaya,
terutama sekarang ini, diri kita sendiri.
Itulah tipuan sulapku dan seperti sulap bagus yang lainnya,
semua dimulai dengan persiapan.
Aku tak pernah memiliki pekerjaan yang jujur seumur hidupku.
Aku tak pernah menjadi buruh kasar.
Aku tak pernah bekerja kantoran.
Aku tak pernah kerja lima hari dalam sepekan sampai sekarang.
Aku tak menyukainya.
Aku tak pernah masuk ke dalam pabrik, tapi itu yang kutulis dalam laguku.
Yang ada di hadapan Anda ini adalah pria yang sangat sukses
menulis tentang sesuatu yang tidak pernah
dia alami dalam hidupnya.
Aku hanya mengarang semuanya.
Sehebat itulah aku.
Bagaimana bisa?
Pasti Anda bertanya, "Bagaimana keajaiban itu muncul?"
Sebenarnya,
awalnya
ada kegelapan yang menutupi.
Saat kecil, ada Natal, ulang tahun, liburan musim panas,
tapi sisanya merupakan lubang hitam yang tak berarti.
Lubang hitam tak berarti seperti pekerjaan rumah, pergi ke gereja,
pergi ke sekolah, pekerjaan rumah, pergi ke gereja.
Sekolah, pekerjaan rumah, gereja.
Sekolah, buncis,
buncis lagi, dan makin banyak buncis.
Namun, kemudian ada cahaya suci yang menyilaukan,
seorang manusia, seorang anak.
Anak daerah pinggiran kota di selatan.
Namun,
ada seorang pria yang baru dan dia telah membelah dunia.
Tiba-tiba,
terciptalah dunia baru.
Yang ada di bawah sabuk kalian.
Lalu,
di atas jantung kalian.
Pada Minggu malam tahun 1956,
di sebuah rumah sederhana di 39 1/2 Institute Street,
di dalam pikiran anak usia tujuh tahun,
revolusi pikirannya telah terukir!
Tepat di hadapan pihak yang berwenang!
Jika mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi
dan perubahan besar akibatnya,
perubahan besar yang akan muncul,
mereka akan menghentikannya,
atau menandatanganinya dengan sangat cepat.
Karena kami, anak-anak yang polos, tak dianggap, dan tak berdaya ini
akan menginginkan hal yang lebih.
Lebih banyak hidup,
cinta, seks, harapan,
kebenaran, dan kekuatan.
Lebih banyak jiwa.
Terlebih lagi, lebih banyak rock and roll.
Aku duduk dengan ibuku, pikiran anak usia tujuh tahunku menggebu,
menatap blue tube saat kesenangan terjadi.
Kesenangan yang sesungguhnya.
Hal yang menyenangkan, positif, memicu tarian,
bercinta, bermain gitar,
mengubah pikiran dan perasaan, menantang, membahagiakan,
dan membebaskan jiwa.
Eksistensi yang lebih bebas meledak di tempat yang tak diharapkan
di seluruh Amerika,
pada Minggu malam biasa.
Dunia telah berubah.
Dalam sekejap saja.
Dalam orgasme basah dan berkeringat yang menyenangkan.
Hal yang perlu Anda lakukan untuk dapat merasakannya
adalah berani menjadi diri sendiri.
Karena jin rock and roll yang keluar dari dalam botol mengatakan jika kalian
lahir di Amerika.
Teman-Temanku, perasaan, kebebasan, dan kesenangan ini
adalah hak Anda sepenuhnya.
Aku mendengarkan, percaya, dan terpanggil untuk turut terlibat.
Jadi, aku mempelajari pahlawan baruku.
Dia juga memiliki dua tangan, dua kaki, dan dua mata sepertiku.
Benar, dia Adonis.
Lalu, aku...
sangat menyeramkan.
Namun, itu bisa diurus belakangan.
Satu yang tak kumiliki yaitu benda yang tergantung di pinggulnya.
Yaitu gitar ini.
Gitarnya atau sebutan ayahku adalah, "Gitar sialan itu."
Namun, gitar itu merupakan kuncinya.
Gitar itu adalah pedang yang tertancap di batu,
gitar itu adalah kebenaran,
tapi dijual di toko Western Auto
seharga 25 dolar!
Jadi, aku memohon dan bersumpah kepada ibuku
agar menyewanya karena kami tak mampu beli
gitar dari Sekolah Musik Mike Deal di South Street.
Pada Sabtu siang, aku membawanya ke rumah.
Lalu, aku duduk di sofa ruang keluarga.
Aku lalu melepaskan tempat gitar dari kulit imitasi itu.
Aku membukanya dengan perlahan.
Dari dalam tempat gitar berlapis kain bulu hijau
tercium bau harum,
yang berasal dari kayu ceri,
kesenangan, kebebasan,
dan mimpi.
Aku belajar dengan sangat giat.
Aku belajar selama dua pekan berturut-turut.
Lalu, aku berhenti.
Itu terlalu sulit.
Belajar bermain gitar tak hanya sangat sulit,
tapi juga membosankan!
Berikan saja tiga kunci ajaibnya kepadaku!
Biarkan aku memainkannya,
dan bernyanyi.
Namun, usiaku baru tujuh tahun dan tanganku masih pendek,
lalu aku tak boleh membuang uang ibuku setiap pekannya.
Maka, aku segera mengetahui bahwa aku harus mengembalikannya.
Saat hendak mengembalikannya, aku memakainya sekali lagi.
Kubawa ke halaman belakang, tempat anak-anak berkumpul.
Aku menggelar pertunjukan pertamaku.
Aku memetiknya, menggoyangkannya, berteriak,
aku menyanyikan lagu omong kosong.
Aku membuat lubang di rumput.
Aku menggoyangkan bokong kecilku.
Yang terpenting, aku berpose dengan gitarnya!
Itu bagian terbaiknya!
Aku menari dan melakukan apa pun, kecuali memainkannya.
Aku tak bisa memainkannya.
Aku sangat payah sehingga mereka menertawakanku.
Aku mengembalikan gitarnya pada siang itu.
Aku pulang bersama ibuku.
Aku duduk di kursi belakang dan terdiam.
Aku berpikir.
Aku agak kecewa terhadap diriku sendiri.
Namun, di dalam diriku...
Di dalam diriku, aku tahu untuk sejenak,
hanya sejenak,
di hadapan anak-anak itu di halaman,
aku mencium kelemahan.
Selamat tinggal, New Jersey!
Aku akan terbang!
Semua orang
punya perasaan tidak keruan dengan kampung halaman.
Hal itu muncul saat kita tumbuh besar.
Contohnya aku.
Aku Tuan "Born to Run."
Aku Tuan "Thunder Road."
Aku dilahirkan
untuk berlari, bukan untuk diam.
Kampung halamanku, New Jersey,
adalah perangkap mematikan,
rap bunuh diri.
Dengarkan liriknya, mengerti?
Aku harus pergi, pergi sangat jauh.
Aku berasal dari jalanan. Garis putih di jalanan terlukis di nadiku.
Aku akan mengajak pacarku dan sudah merasa muak
dari kebobrokan di tempat ini.
Aku akan berlari...
dan takkan kembali.
Rumahku hanya 10 menit dari kampung halamanku.
Namun, lagu "Lahir Untuk Kembali"?
Siapa yang akan beli itu?
Tak seorang pun.
Tak seorang pun.
Di halaman depan kami, tak jauh dari teras,
ada pohon terbesar di kota itu.
Pohon itu menjulang tinggi, indah, itu pohon beech.
Di hari yang panas, aku berteduh di rantingnya.
Akarnya merupakan benteng untuk para prajuritku
dan kandang untuk kuda-kudaku.
Akulah orang pertama di blokku
yang memanjat hingga ke puncak.
Meninggalkan dunia...
yang sudah tak kupedulikan lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.