Esimesed 200 rida.
Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terburuk.
Pemerintah Sri Lanka bangkrut.
Jalanan dipenuhi para pengunjuk rasa.
Bensin. Gandum. Obat-obatan.
Antrean panjang untuk segalanya.
Di tengah kekacauan, pemerintah
beserta keluarganya telah kabur.
Pengunjuk rasa murka menyerbu Istana Presiden.
Reporter ini mengubah klip 30 detik,
menjadi episode penuh di OTT.
Sudah sepuluh menit diputar terus.
Bibi,
tolong ganti salurannya.
Satu negara telah bangkrut.
Sepuluh menit saja tidak bisa?
Generasimu memang gelisah dan manja.
Bukan salah kami lahir di masa yang lebih baik.
Lagipula, ini Sri Lanka.
India tidak bangkrut.
Hampir.
Hampir saja.
India?
India.
India kita?
India kita.
Ayolah!
India adalah ekonomi terbesar keempat.
India tempat kau tinggal,
dan tempat aku tumbuh besar,
sangatlah berbeda.
India sebelum dan sesudah 1991,
terasa seperti dua negara yang berbeda.
Menyusul invasi Irak ke Kuwait,
AS memperingatkan adanya perang.
Jika perang pecah,
harga minyak bisa melonjak
memicu inflasi di India.
Pakar bilang pemerintah
mungkin kesulitan mengendalikannya.
Pak, saya akan isi bensin dulu.
Baik.
Naikkan harga minyak. Hadapi amarahnya!
Naikkan harga minyak. Hadapi amarahnya!
- Oh, Pak Raman. - Selamat siang.
Selamat siang.
Saya perlu pakai loker saya.
- Azgaonkar. - Ya, Pak.
Antar dia ke ruang loker.
Mari, Pak.
Pak, bisnis saya sudah tamat.
Tanpa pinjaman, saya jadi gelandangan.
Saya tidak bisa meminjamkan lagi.
Saran saya.
Cari kerja.
Tidak ada lowongan, Pak.
Makanya saya buka bisnis ini.
Istri saya sedang hamil.
Masa depan apa yang bisa saya beri?
Saya tidak mau mengemis.
Saya seorang sarjana.
Pak, tolong pergi.
Tunggu, saya belum selesai. Pak, mohon.
- Pak, lakukan sesuatu. - Bawa dia pergi.
Saya sudah kenal Anda bertahun-tahun.
Permisi, Pak. Mohon tanda tangan di sini.
Saya mohon, Pak.
Isi 20 rupee. Kalau tidak, saya tidak pergi.
Atau saya tidak pergi.
Sudah saya isi.
- Apa lagi yang kau mau? - Sudah diisi?
Mesin ini curang.
Saya tahu motor saya.
Sudah, kan? Jalan sana.
Bukan urusanmu. Mundur.
Tangkimu penuh. Sekarang jalan.
Saya tidak akan pergi sebelum masalah selesai.
Kenapa tidak?
Lihat ke belakang!
Lalu lintas macet parah.
Kalau kau buru-buru, cari pom lain.
Pak, mesin tidak pernah bohong.
Simpan ceramahmu!
Sudahlah. Tolong jalan.
Jaga bicaramu.
Apa maksudmu?
Pergi dari sini.
Cari pom bensin lain.
Tenang.
Tenanglah.
Kenapa cari ribut?
Masuk, Pak. Saya yang urus.
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
Hei, kalau unjuk rasa ini memblokir kita, kita terjebak.
Ini kendaraan pemerintah.
Terus kenapa?
- Kau dan bosmu bukan orang penting. -Raghu.
- Hidup dari pajak kami, - Raghu...
- Dan keliling naik mobil mewah. - Masuk.
Jangan berkelahi.
Jalankan mobilnya.
Kau membuang waktu.
Kau telah merusak hidup kami.
Jangan sentuh mobilnya.
Naikkan harga, lalu hidup mewah!
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
- Bukan aku yang menaikkan inflasi! - Lalu siapa?
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
Jangan tanya aku.
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
Raghu, jalan!
Penguasa korup! Rakyat kelaparan!
Pergi dari sini.
Berhenti! Hentikan dia.
Berhenti! Halo! Hentikan dia!
Jangan keluar.
Pak, tolong tetap di dalam!
Hentikan dia! Tangkap dia!
Hentikan dia! Hentikan.
Seseorang hentikan dia!
Tidak, tidak, dengarkan aku dulu.
Dalam demokrasi, kau tidak bisa hanya mengeluh.
Setiap orang punya peran dan tanggung jawab.
Kau tidak bisa hanya...
Oh, Ayah pulang.
Mari dengar pendapatnya.
Akhirnya kau datang.
Putrimu menjalankan Parlemen di rumah.
Dia terus mengkritik Bala sejak tadi.
Jadi poin perdebatan kita adalah...
Madhvi, boleh aku bicara?
Apa yang dilakukan tiga pemerintah terakhir?
Skandal artileri, kekacauan Mandal.
Pemerintahan minoritas PM Shekhar,
didukung oleh kongres.
Jika inflasi dan harga BBM melonjak.
Semua akan menyalahkan pemerintah.
Rakyat kecil tidak berdaya.
Pemerintah terdiri dari orang seperti kita.
Mereka juga punya kekurangan.
Pembayar pajak, birokrat, kita semua dalam sistem.
Tanpa pinjaman, saya jadi gelandangan.
Istri saya sedang hamil.
Masa depan apa yang bisa saya beri?
Halo, Raman.
Dr. Singh di sini.
Maaf mengganggumu.
Ya, Pak. Selamat malam.
Bisa kau ke Delhi besok?
Tidak bisa dibahas lewat telepon.
Baik, Pak. Saya akan ke sana.
Pak, tolong. Satu pulpen saja.
Hanya dua rupee, Pak.
Pak, tolong satu saja. Dua rupee saja.
Ayolah, Pak.
Sepuluh rupee?
Sepuluh rupee. Saya bisa beri satu... dua...
- Tiga... - Tidak, simpan kembaliannya.
Ambil satu, tolong.
Terima kasih.
India Terbakar oleh Masalah Rakyat
oleh Aditi Verma.
Pak, silakan masuk.
Raman.
Dengar kau cukup berpandangan jauh.
Dia memprediksi tahun lalu bahwa.
India menuju krisis ekonomi.
Itu prediksi berdasarkan hitungan.
Saya tidak mengkritik siapa pun.
Kau melihat masalahnya,
pasti kau juga punya solusinya.
Laporan tahun '89 yang saya ajukan ke PM Gandhi...
Anda juga ada di sana.
Gubernur RBI, Tn. Batra, telah mundur.
Sesuai protokol, Deputi Gubernur...
Bapak Gandhi telah mengajukan namamu
untuk jabatan Gubernur RBI.
Tanda tangani surat penerimaannya.
Terima kasih, Pak.
AS memulai perang ke Irak dengan serangan udara.
India menyatakan prihatin namun tetap menjauh dari perang.
Omong kosong apa ini, Popat?
Nama saya Paresh, bukan Popat.
Kau anak magang, kan?
Ya, Bu.
Kalau begitu kau Popat.
Saya sudah cek semua fakta sebelum menulis.
Kau menjual koran atau buku ekonomi?
Mana ceritanya?
Kebenaran tanpa cerita hanyalah kebisingan.
Siapa pun bisa menulis soal inflasi.
Tapi pria yang membakar diri.
Itu cerita yang sebenarnya.
- Ya, Bu. - Keluar!
Maaf, Bu.
Selamat pagi, Pak.
Anak baik.
Beri dia kesempatan.
Begini. Kebohongan laku dengan sendirinya.
Aku menjual kebenaran, dan koranmu masih hidup.
No comments yet. Be the first to leave one.