Esimesed 200 rida.
(Produksi Drama Ini Dibantu Oleh Lembaga Konten Kreatif Korea.)
Jika sesuatu pudar karena matahari, hal itu akan menjadi sejarah.
Jika sesuatu bermandikan cahaya rembulan,
hal itu akan menjadi mitos belaka.
Itu berarti cerita kita hanyalah mitos saja.
Kita sedang romantis-romantisnya, kau tahu.
Tapi, kenapa aku terus memikirkannya?
Memikirkan apa?
Mi seafood yang kukatakan sebelumnya.
Aku terus memikirkan...
...kenapa bisa ada 12 kerang dalam semangkuk mi itu.
Ayah dan Ibuku terus melemparkan argumen bahkan saat di restoran.
Aku sangat gugup,
jadi aku terus menghitung jumlah kerang yang ada di mangkuk.
Ada 12 kerang. "Banyak juga, ya."
"Ayah, ada 12 kerang disini."
Aku ingin berkata seperti itu,
namun Ibuku terus melemparkan tatapan marah pada Ayahku.
Apa yang sebegitu penting?
Ayahku diam saja dan tak mengatakan apapun.
Hal itu membuat Ibuku semakin geram,
jadi dia mengatakan semua hal yang terlintas di benaknya.
Aku terus menghitung jumlah kerang di mangkuk itu.
Tak peduli berapa kali aku menghitungnya, jumlahnya tetap 12.
Menurutmu...
...apa yang membuat Ayahku merasa begitu penting?
Kau bilang kau adalah Dewa.
Kalau begitu kabulkanlah permohonanku.
Temukanlah aku dengan Ayahku.
Aku ingin bertanya padanya, kenapa dia meninggalkan tanggungjawab ini padaku sendirian...
...dan masih bisa tidur nyenyak di malam hari...
...dan menelan makanannya setelah meninggalkanku seperti itu.
Aku ingin dia bertanggungjawab atas itu.
Dia bahkan tak bisa menyelamatkan puterinya sendiri.
Atas hak siapa dia bisa menyelamatkan dunia? Jika aku bisa menanyakan hal itu padanya...
...tak ada hal yang kuinginkan lagi.
- Kau sudah coba mencarinya? - Belum.
Bagaimana kalau aku mencarinya dan dia ternyata ada di Korea?
Jika dia tak pernah mengunjungi kami padahal dia berada disini...
Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Apa itu benar-benar permohonanmu?
Bertemu Ayahmu dan menyampaikan hal itu padanya.
Kurasa begitu.
Kenapa?
Bukan apa-apa.
Suasanya enak sekali.
Apanya?
Kau tahu kenapa orang-orang menikah?
Karena mereka tak ingin berpisah setelah bersenang-senang sepanjang hari.
Saat kita hidup bersama, kita tak perlu berpisah.
Hidup bersama adalah sesuatu yang baik.
Apa ada pernikahan di Alam Para Dewa?
Bisa dibilang ada, namun bisa dibilang juga tidak ada.
Bagaimana maksudnya?
Kau boleh menikah jika mau,
namun itu tidak berarti apa-apa.
Apa? Kalau begitu,
apa mereka boleh berselingkuh?
Sangat boleh.
Itulah sebabnya tak ada yang tahu siapa Ibu dari Dewi Yuhwa.
Siapa Dewi Yuhwa itu?
Puterimu.
Ibu Ju Mong dan Nenek Raja Yuri.
Kau Kakek Raja Yuri, jadi dia adalah isterimu.
- Aku tak pernah menikah. - Lupakan.
Tak usah berpura-pura.
Kau sepertinya marah.
- Apa katamu? - Berikan aku segelas air.
Kenapa hukum dan sistem peraturan itu ada?
Kekuatan mereka berasal dari sesuatu yang mengikat.
Apa? Kebebasan?
Astaga, apa itu "Kerajaan Hewan" atau apa?
Apa itu karena mereka semua adalah Nn. dan Tn. Alam?
Omong-omong,
apa di Alam Para Dewa juga terjadi poligami?
Bagaimana kau bisa tahu?
Bahkan Dewa sekalipun memiliki banyak pasangan.
- Kau serius? - Tidakkah itu cukup jelas?
Kita tak menua ataupun mati.
Bagaimana caranya kita bisa hanya setia pada satu pasangan?
Kenapa?
Kalau begitu...
Sudah berapa kali kau menikah?
- Aku tak pernah menikah. - Lalu, mengenai Dewi Yuhwa...
Sadarlah, Wanita.
Berikan aku segelas air lagi.
Segelas lagi.
Hei, apa sebenarnya maumu?
Kau tak lihat?
Aku tak mau tidur.
Apa?
Jika kau tak mau tidur,
apa yang mau kaulakukan?
Nam Soo Ri bekerja malam ini.
Malam ini saja.
- Jadi? - Jadi...
Aku ingin...
Aku ingin nonton TV denganmu.
- TV? - Duduklah.
Dia terlihat asing.
Dia baru.
Perkenalkan dia. Siapa orang itu?
Sini.
- Pernakah kita bertemu? - Tidak.
- Yoon So Ah. - Ya?
Kenapa kau melakukannya?
- Aku membaca diarimu. - Apa?
Apa katamu?
Tidak semua orang bisa berbohong dihadapanku.
Kenapa kau membaca diari milik orang lain?
Kupikir itu kau tulis buatku...
...20 tahun lalu.
Apa?
Aku membaca puisi yang kautulis saat masih kecil.
Judulnya, "Pangkuan Ayah."
"Pangkuan Ayah adalah milikku."
"Pergi sana, Sang Yoo."
"Pangkuan Ayah adalah milikku."
"Terkutuklah kau, Sang Yoo." Kau sebut itu puisi?
Kau bilang kau adalah penulis puisi yang hebat saat masih kecil.
Apa tak ada siara ulang acara "Divine Dinner"?
Hei, aku tahu apa yang sedang kaupikirkan.
Jika aku punya kekuatan itu,
aku akan terus memasak buatmu hingga kau pergi.
Kapan kau akan pergi?
Sebuah pesan akan sampai.
Bisa saja besok, bukan?
Hubungan kita dibatasi oleh waktu.
Saat aku magang dulu,
aku bertemu seorang pasien yang mengidap penyakit terminal dan keluarganya.
Dan aku merasa bersalah.
Bagaimana aku bisa tahu apa yang sedang mereka rasakan?
Kucoba untuk menenangkan mereka...
...dengan cara yang sudah kupelajari.
Namun, aku tetap tak bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Mungkin menangis bersama mereka adalah ide yang lebih baik.
Aku lebih memilih mengeluarkan kata-kata yang tidak bertanggungjawab.
Namun, aku mempelajari sesuatu.
Aku melihat orang-orang menyiapkan perpisahan...
...dan semuanya setelah mereka berpisah.
Untuk keluarga yang ditinggalkan ataupun untuk diri mereka sendiri...
...mereka akan menemukan alasan kenapa mereka tak harus merasa berduka.
Pikiran mereka...
...akan menemukan sebuah tempat pada akhirnya.
Boleh aku tanya sesuatu?
Bagaimana denganmu?
Bagaimana kau hidup?
Aku masih punya 40-50 tahun lagi.
Tapi hidupmu takkan berakhir.
Bolehkah aku...
...meminta lebih?
Bolehkah aku memintamu untuk terus mengingatku...
...selamanya?
Apa yang kaulakukan?
Kau sudah bangun.
Aku bangun lebih awal, dan tak ada yang bisa kulakukan.
Ada siaran ulang acara "Divine Dinner."
Lalu?
Lalu apa?
Oh ho.
Kau sedang buat sarapan untukku?
Aku menemukan seseorang yang akan membuatkan sarapan untukku.
Aku hanya lapar.
Begitu, ya.
Kalau begitu aku akan tidur lagi.
Aku tak biasa sarapan soalnya.
Duduk.
Perutku akan terasa berat kalau aku sarapan.
Duduk.
Aku akan mandi dulu...
...untuk menghormati makanannya.
Dia sangat manis, tapi aku tak bisa memberitahunya.
Dia pasti akan ke ge-er-an.
Haruskah aku mencobanya saja?
Bagaimana kalau dia berubah?
Ini terlalu banyak untuk sebuah sarapan.
Siapa yang akan makan semua ini?
- Apa kau tahu kalau makanan itu... - Katakan saja kalau kau bahagia.
Lebih mudah begitu.
Duduklah.
Ayo makan.
Kau boleh makan duluan.
Jadi beginilah rasanya...
...saat seseorang memasakkan makanan untukmu.
Makanlah.
Ayo makan.
Aku mengunci pintunya tapi aku tak menemukan potnya.
Dia datang untuk memberikanku kuncinya. Dia tak menemukan potnya.
Aku sudah memikirkannya.
Kau takkan ke klinikmu untuk sementara waktu.
Aku tak tahu apakah aku harus mengirimkannya padamu...
...atau memintamu menemuiku.
- Kau tak boleh melakukannya. - Aku tahu.
Itulah sebabnya aku kemari.
- Kau mau teh? - Tak perlu.
Tak ada aturan yang pasti, kok.
Tapi di rumahku, ada aturannya.
Kita tak minum teh di pagi hari.
Kita hanya sarapan nasi.
No comments yet. Be the first to leave one.