Paris is us (Paris est à nous)

Paris is us (Paris est à nous) (Paris est à nous)

Laadige alla Indonesian subtiiter

Väljalaske info

Paris Is Us 2019 NF WEB-DL
Kommenteerib Putra14
Netflix Retail.

Sildid

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Avaldatud: 2019-02-22
Allalaadimised: 6
Kuulmispuudega: No

Indonesian subtiitrite eelvaade

Esimesed 200 rida.

NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN

Kau mengenaliku?

Kau tak ingat aku?

- Aku teman Cyril. - Benar!

Apa kabar?

- Baik. Kau? - Aku baik.

Siapa namamu?

- Apa? - Siapa namamu?

Anna. Siapa namamu?

- Greg. - Benar. Apa kabar?

Baik, dan kau?

- Kau sendirian? - Ya.

Aku sudah satu jam memanggil temanku.

Aku tak tahu di mana mereka.

Aku terdesak keluar. Semua berdesakan.

Aku juga.

- Aku tidak tahu. - Benarkah?

Boleh aku sentuh rambutmu?

Rambutmu lembut...

Ini tidak sama.

Kita punya sesuatu yang kuat.

Apa?

Kau dan aku?

Tak pernah kurasakan ini.

Apa ini nyata?

Mungkin kita tak akan bangun bersama dan tak akan bertemu lagi.

Ceritakan semuanya.

Rahasia terpendam.

Seperti apa?

Aku tak tahu.

Ceritakan tentang masa kecilmu.

Ketika aku masih kecil,

kubayangkan saat menutup mata,

orang-orang akan lenyap.

Mereka hanya muncul untuk kulihat.

Bagiku, hidup itu sebuah permainan besar dan aku tokoh utamanya.

Kukira semua akan hilang setelah aku mati.

Seluruh dunia akan musnah.

Aku agak gila.

Tak apa-apa. Lanjutkan.

Aku besar di desa.

Cukup membosankan.

Saat tak boleh menonton TV, saudariku dan aku akan keluar

dan menatap pesawat di langit.

Kadang dua jejak awan bersilangan.

Kuanggap itu sebagai pertanda.

Kurasa sesuatu akan segera terjadi.

Sepertinya aku berharap hal buruk terjadi.

Seperti pesawat berjatuhan.

Seakan perlu pemicu dalam diriku untuk akhirnya bisa merasa...

hidup.

Berhenti merokok terlalu banyak.

Kau merokok terlalu banyak. Bahkan lebih parah daripada aku.

Terima kasih.

Satu tahun lalu, kau hanya merokok sesekali.

- Jangan mengaturku. - Kau lebih parah.

- Jangan... - Kau dahulu jarang merokok.

Apa kau sadar kau selalu mengaturku?

Aku tak memaksamu pergi keluar.

Tetapi kulakukan demi kau.

Aku lelah, tak ingin pergi keluar di hari Minggu.

- Pulanglah. - Tak apa-apa,

- kita lewatkan waktu bersama. - Kita bersenang-senang.

Lihat mereka, mengejar kebosanan mereka,

seakan itu hal penting tahun ini.

- Itu Konser Musik atau pawai? - Sudahlah.

Baiklah.

Kebanyakan musik sampah.

- Mereka tambah dengan musik mereka. - Apa?

Sudah banyak musik sampah. Tak perlu mereka tambahi lagi.

- Pemusik itu. - Mereka minum anggur merah,

memakai baret, main trombon, dan mengira mereka musisi.

Beberapa punya imajinasi, lainnya tak punya.

Beberapa tak mengerti dan lainnya sedikit lebih mengerti.

Kau yang mana?

Sedikit lebih mengerti.

Kuharap Barcelona mengiyakan. Barcelona sungguh mengagumkan.

Tunggu.

Kau mengatakannya padaku sekarang?

Aku tak tahu, aku menunggu jawaban.

Kau sudah memutuskan itu sebelum mengatakannya padaku?

Apa maksudmu?

Kau pikir aku ingin ke Barcelona?

- Kenapa tidak? - Kenapa aku ingin ke sana?

Aku tak tahu. Tempatnya hangat. Cuacanya cerah.

Kenapa harus beli apartemen sempit 28 m2 di Paris

kalau kita bisa beli rumah tepi laut di sana?

Kau tak peduli impianku.

Kau lakukan yang kau suka sendirian, punya pekerjaan, punya uang,

punya apartemen, dan aku sama sekali tak sesuai dengan rencanamu.

Apa maksudmu? Kenapa bisa begitu?

Kau pikir aku ingin ke Spanyol?

- Aku tak tahu. Kau tak ingin apa pun. - Aku ingin banyak hal!

- Seperti jadi pelayan? - Tunggu.

Apa yang kau katakan?

- Ulangi perkataanmu. - Kau ingin jadi pelayan?

Ya!

- Lalu belajar terapi fisik? - Aku akan lakukan itu.

- Kau mengatakannya dua tahun lalu. - Kau tak percaya padaku.

Kau tak ingin mendukung. Kau hanya ingin pergi dari Paris tanpaku.

- Terserah kau. Pergilah sendiri. - Kenapa aku harus pergi tanpamu?

Lalu, sekarang apa? Kau membuatku gila.

- Apa? Aku harus tenang? - Kau jadi gila.

- Kubicarakan pekerjaanku denganmu. - Baik! Kau bicara tentang impianmu!

Selalu saja tentang dirimu.

- Tunggu. - Kau ingin ke Barcelona.

Kau ingin cari uang.

- Aku jelas tidak penting. - Siapa yang bayar sewa?

Bayar uang sewa membuatmu jadi orang terpenting?

Maafkan aku, tetapi kebetulan aku yang cari uang.

- Selalu saja tentang uang. - Apa?

Uang? Selain itu apa lagi?

- Ada... - Apa?

- Ada kau dan aku, aku tak tahu... - Masalahnya apa?

Kau ingin cari uang, kan?

- Jujur, ya. Memangnya kenapa? - Kemarilah. Ayo kita bicara.

- Apa masalah utamamu? - Aku ingin cari uang.

- Aku ingin hidup layak. - Lakukan tanpaku.

Aku sangat mengenalmu. Kau tak bisa hidup sendirian.

Bayangkan kita nanti.

Apa yang kau lihat?

Jangan dibayangkan.

Kita mungkin berjauhan.

Lalu, nanti bagaimana?

Aku tak tahu.

Itu akan memalukan.

Ulurkan tanganmu.

Kau takut apa yang akan terjadi?

Kau tak mau melakukan sesuatu?

Mungkin mencari kerja daripada berlari-lari tak jelas?

Kau mau apa dengan begini?

Sudah kukatakan padanya.

Tetapi dia berpikir kami harus pindah.

Aku tahu... Aku akan meneleponmu nanti.

Hidupmu...

cukup...

membosankan.

Hidupmu normal.

Apa maksudmu dengan "normal"?

Kau punya teman.

Kau punya karier.

Kau dekat dengan keluargamu.

Kau berkata aku membosankan.

Bukan begitu.

Aku menyukainya.

Tak ada yang suka padamu?

Aku tak percaya.

Tidak! Jangan!

Jangan!

Ikutlah denganku.

Ayo, ikutlah denganku.

Hanya untuk beberapa hari.

Aku tak punya pilihan.

Karena itu, ikutlah denganku.

Kau tak boleh meninggalkanku.

Kenapa kau tetap ingin di Paris?

Begitu aku dapat tempat,

kau bisa mengunjungiku beberapa hari.

Kenapa harus begitu?

Aku di sana. Kau mengunjungiku. Kalau kau tak suka, aku akan keluar.

- Itu bagus untuk kita. - Kenapa begitu?

Aku tak tahu.

Kau dan aku bisa memulai lagi.

Aku memimpikan pertemuan pertama kita.

Itu bukan kebetulan.

- Maksudmu... - Yang kita miliki itu unik.

Jangan kita rusak.

Kita selalu jujur.

Kita tak bisa mengakhirinya. Tidak sekarang.

Ikutlah naik pesawat.

Aku cinta padamu.

Para penumpang, kami informasikan bahwa kita sedang terbang.

Karena itu, kami ingatkan Anda bahwa lampu sabuk pengaman menyala.

Kami ingatkan Anda bahwa Anda harus tetap duduk

dengan sabuk pengaman terpasang.

Tidak diperbolehkan untuk memakai toilet saat ini. Terima kasih.

Aku terlalu banyak bicara?

Aku sedang menatapmu.

Sekarang giliranmu.

Ketika saudariku kecil,

dia bermain The Sims.

Aku melihatnya berjam-jam.

Dia menjelaskan padaku kalau itu seperti kehidupan manusia dalam sebuah permainan.

Aku ingat rasa penasaran apakah kita juga ada dalam sebuah permainan.

Tanpa menyadarinya.

Jangan ejek aku.

Tentu tidak.

Pernahkah kau berpikir kalau Paris, hidup kita,

dan bahkan semesta ini,

bagian dari sebuah permainan besar?

Seolah-olah realitas,

atau mungkin, pengalaman kita tentang realitas,

adalah dunia virtual.

Seperti program dalam komputer.

Mungkin program ini datang

dari luar dunia ini

dan di luar waktu.

Dan hidup kita, mungkin juga semuanya...

kota ini...

sebenarnya dunia virtual

Kommentaarid

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left