Esimesed 200 rida.
A NETFLIX ORIGINAL COMEDY SPECIAL
Brand itu bodoh.
- Dia itu pengecut. - Kepemimpinan kuat dan stabil.
Brand mau mewawancaraiku.
Brand ikut aksi protes di Downing Street.
Amerika akan kembali berjaya.
Kau tak pernah memilih?
- Brand itu lelucon. - Tidak, memang itu buruk?
Jadi...
Baik, jangan mengolok.
Kupastikan hubungan kita. Siapa yang sudah melihat penampilanku?
Katakan, "Ya."
Bagi kalian yang sudah melihatku
pasti paham kalau tujuan utama penampilanku
untuk menyakinkan kalian bahwa dalam diri kita
ada sebuah esensi.
Jika esensi itu bersatu dalam diri kita
maka sesungguhnya jika saling terhubung,
akan ada energi suci yang terangkai.
Diri kita, lingkungan, dan mungkin dunia akan berubah.
Itulah alasanku,
tapi jujur saja, ada motivasi finansial di baliknya.
Jika kau habiskan waktu menyalahkan semua media,
mencari nafkah di media saja sulit.
Twentieth Century Fox tak akan tertarik mempekerjakanmu
kalau kau mengomentari Rupert Murdoch
bagian dari organisasi global
yang mencegah orang biasa punya kuasa demokratis
dan bilang dia seperti
testis mengerut berkacamata.
Baiklah.
Kurasa ini saatnya. Agak aneh, 'kan?
Baru 18 bulan lalu aku mencoba jatuhkan pemerintahan
dari kamarku, di Internet.
Memalukan memang. Menarik.
Semua diawali dari wawancara Ed Miliband.
Ini sulit bagiku, sungguh, karena aku ini penurut.
Jika sudah sekali, aku tak mau lagi.
Kalian paham? Tak harus di saat-saat penting,
biasanya di saat-saat sederhana
saat ditanya, "Bisa jemput aku di bandara?"
Kubilang, "Ya," tapi aku tak serius.
Aku tak bisa berada di bandara.
Di dalam kepalaku, tanggapanku, "Kau orang baik?"
Ya.
Aku bersedia mewawancarainya,
ketika saatnya tiba, aku tak mau melakukannya.
Kataku pada rekan produserku,
"Aku tak mau mewawancarainya."
Lalu katanya, "Wawancara dia sekarang. Dia sudah di rumah!"
Kubilang, "Baik, akan kulakukan,"
tapi hanya jika saat wawancara,
dia duduk di pinggir tempat tidurku.
Ada penasihat datang dan bilang,
"Wawancara ini batal jika dia duduk di kasurmu,"
Kenapa?
"Karena kalian terlihat baru bercinta."
Jadi, karena pergeseran makna itulah
aku ditempatkan di tempat yang sedikit berbeda
dalam ceritanya.
Dan semua itu diperparah oleh tingkahku saat wawancara
dalam program terkini terserius
Newsnight bersama Jeremy Paxman.
Saat itu, kukatakan banyak hal yang kuyakini,
hal yang benar,
tapi dalam acara yang membicarakan
ketidakstabilan sementara dan kemungkinan berubah,
layak rasanya mencoba beberapa kepribadian.
Kumulai dari
sifat ceria, bersahabat, dan rendah hati.
Tapi adakalanya aku terlalu cepat
berubah serius. Lihatlah.
Aku tak kenal banyak editor politik.
Boris juga editor, 'kan?
Rambutku urakan, punya humor yang cukup bagus,
aku tak tahu soal politik, cocok.
Benarkah kau tak memilih?
Ya, aku tak memilih.
Tak mungkin. Tak akan pernah.
Urus saja masalahmu.
Aneh sekali.
Selama wawancara, suasana kian menegang,
dan entah kenapa, kutinggalkan
sifat rendah hati khas pria Essex-ku
demi kegemaran hip hopku pada grime MC
dan karakter Stormzy,
saat itu aku sangat menghayati sifat itu, sampai aku lupa cara melafalkan "Aktor".
Kenapa naif? Kenapa aku tak berhak hanya karena aku aktor?
Karena aku seorang aktor Bukan orang bodoh dari X Factor
Atau petani di ladang naik traktor
Keadaan memanas.
Sepertinya Paxman kubuat terpojok.
Inilah saatnya kugandakan sifat Danny Dyer,
penuh Raymondo Winston,
dan kugunakan slang Cockney yang berirama
yang hanya dimengerti di Canning Town, London Timur,
sekitar tahun 1982,
menyalahkan mendiang kerabat Jeremy Paxman atas pekerjaan seks komersialnya.
Aku pernah melihat programmu,
kau mencari pendahulumu
dan kau lihat nenekmu yang terpaksa menjual diri.
Kau menangis.
Selamat Natal.
Kulihat dirimu di program TV Di mana nenekmu harus jual diri
Seks oral dengan pria
Sampai mereka ejakulasi di hadapannya
Kau menangis!
Itulah Newsnight.
Bukan begitu anggapan orang lain soal Newsnight, 'kan?
Pahamilah lebih dalam.
Ini bukan soal menjual diri dan ejakulasi.
Ini soal grafik. Perhitungan.
Propaganda yang baik.
Lihatlah sekesal apa Jeremy Paxman saat aku membicarakannya.
"Dia hanya oral seks."
Lelucon akan figur-figur kuat
dapat berarti gerbang menuju kejayaan media,
pemerintah, dan bisnis besar.
Dan jika kau melawan kemauan penguasa di hadapan semua orang,
itu jadi motivasiku.
Kau harus hadapi banyak hal. Dengar.
Inilah judul berita yang membahas diriku
saat itu.
Yang pertama, dari koran The Sun,
"Russel Brand pindah ke Suriah."
Mustahil!
Aku saja kesulitan di Henley-on-Thames.
Aku gegar budaya.
Kalian tahu?
Tanyakanlah kebenaran media
saat kau menganalisis alasan mereka menamakan diri mereka sendiri.
Nama koran itu pasti menyesatkan. Contohnya, The Sun.
"Ya, nama kami berasal dari matahari."
Apa? Bola penuh api di tengah sistem tata surya kita,
yang tanpanya tak ada cahaya, kehidupan, fotosintesis,
atau konsepsi dewa-dewi di zaman dahulu?
"Ya, itulah asal nama kami."
Baiklah. Apa beritanya?
"Kebohongan, dada, bingo. Sampah."
Teruskan.
Mereka pakai teknik itu.
Pemilihan nama yang menyesatkan.
The Mirror.
"Kamilah The Mirror. Kamilah cerminan Anda."
"Aku pelacur. Lihat."
Ya, broadsheet pun
tak terkecuali dalam penamaan yang menyesatkan dan gegabah ini.
The Guardian.
"Hei, aku memang bukan ayahmu,
tapi percayalah padaku. Kubantu kau berpikir."
Yang terburuk ialah Daily Mail. Jangan merasa bersalah
kalau kau lihat produksi, publikasinya.
Kubaca Daily Mail daring,
kadang saat malam, selinganku saat masturbasi.
Fanatik seperti biasanya. Kadang aku terpaku.
Ini judul Daily Mail
yang, jujur, kusukai karena penggunaan kata "Menyesal."
Kata itu puitis
dan indah, tak biasa ada di dalam judul berita.
Seperti judul lagu Smiths.
Dan aku suka Morrissey, kuakui.
Dengarkan, "Russell Brand menyesal,
'ISIS tak mau merekrutku.'"
ISIS tak mau merekrutku Krisis tak merenggutku
Jihadi John, ada apa? Ada apa, Jihadi John?
Seharusnya kami merekrutmu
Terima kasih.
Ini menarik.
"Russell Brand mengadakan revolusi dan menyebut mahasiswa Cambridge,
'Banci Harry Potter.'"
Aku mengatakannya.
Tapi ini di luar konteks.
Memang di Cambridge, aku bercanda di depan mereka.
Konteksnya tak jahat.
Bukan seperti, "Terima kasih sudah mengundangku."
"Selamat malam, Banci Harry Potter."
Aku bercanda. Semua lancar.
Tentu kita tahu
cara kerja media utamanya membangun narasi palsu,
mengkhayal, menipu.
Tak semua orang tahu semua dirancang agar kau terus tertipu.
Karena itu, kadang aku disalahkan atas hal aneh.
Seperti ini, dengar. Siapa yang tahu soal Illuminati? Katakan ya.
Ya!
Seharusnya mereka itu perkumpulan rahasia.
Mereka menguasai dunia. Semua tahu mereka.
Aku dituduh jadi anggotanya. Lihat.
"Jangan percaya Russel Brand."
"Dia gay, reptil luar angkasa, terlibat Illuminati."
Kurasa saat kau menuduh seseorang
seekor reptil atau anggota Illuminati,
entah dia itu gay atau bukan, pasti kau biarkan, 'kan?
Aku datang dari dimensi lain Kukuasai industri finansial
CIA, MI5, dan keluarga kerajaan Inggris
"Menarik sekali. Siapa itu?"
"Pacarku, Barry."
"Ya, Tuhan!"
"Tenang."
Anggap saja begitu.
Yang ini juga nyata.
No comments yet. Be the first to leave one.