Esimesed 136 rida.
Kenapa? Kenapa?
Wah, itu menakutkan dan sangat mengerikan, ya.
Sangat menyeramkan.
Hitoe, apa yang akan kamu lakukan?
Kalau kamu melihat makhluk menakutkan seperti itu.
Ah, bagaimana, ya?
Apa lebih baik pura-pura tidak lihat saja, ya?
Atau mungkin, kita harus berdoa?
Ah, itu dia. Banyak yang bilang begitu, ya.
Lalu, menebar garam,
dan membawa tasbih atau benda pengusir hantu?
Kalau benar-benar berbahaya, kita bisa minta bantuan paranormal.
Astaga, banyak banget cara penanggulangannya. (Aku mendapatkannya!)
Ya ampun, banyak pula benda pengusirnya.
Memangnya kamu pernah mengalami hal seram sendirian?
Pembuangan airnya tersumbat, tuh.
Apa? Kok bisa?
Bukan karena rambut Kakak?
Mana mungkin.
Ada yang seram-seram, loh.
Eh, serius? Aku mau menontonnya.
Lagi pula, di mana Ibu?
Bakal pulang malam.
Oh?
Oh, itu Lilin-lilin Murni.
Kakak suka sama lilin murni tidak?
Tidak.
Meski bilang begitu, jangan memburu pakaian dalamku, ya.
Hei, apa yang kamu lakukan?
Tak ada apa pun di situ!
Hei!
Hei, ayo kita pergi!
Nanti kukasih makan!
Ayolah!
Miko, nanti kamu telat.
Ya.
Miko, mau bawa payung?
Tidak perlu.
Ramalan cuaca di televisi bilang kalau hari ini akan hujan.
Nanti bisa beli payung di miniswalayan.
Aku berangkat.
Selamat jalan...
Loh?
- Selamat pagi! - Pagi!
Ah, jam pertama malah Matematika.
Lo, bukannya nanti ulangan?
Parah banget!
Pagi!
Pagi, Hana.
Oh, kenapa kamu tahu kalau itu aku?
Karena tonjolannya.
Reaksimu datar banget?
Karena masih pagi.
Oh?
Meme! Kamu membelinya?
Ya, di Villevan.
Eh? Bagusnya!
Aku juga mau!
Ada kelinci favorit Hana juga, loh.
Kelimbda!
Kelinci Lambda!
Ya, mirip, kok.
Kelimbda itu sering dijual secara terbatas, jadinya langsung habis, deh.
Meski bilang begitu,
kamarmu penuh boneka seperti itu, 'kan?
Kok kamu bisa tahu?
Minggir!
Ah, maaf.
Hei.
Bukan apa-apa.
Siapa dia?
Siswi kelas sebelah?
Oleh sebab itu...
Hal terpenting di bagian ini
adalah memikirkan alasan kenapa protagonis jadi harimau.
Sejujurnya ini agak membingungkan.
Bagaimana, ya?
Bagaimana menurut kalian?
Jika kita menjadi harimau,
dan mulai melupakan sisi kemanusiaannya..
Yotsuya!
Ah, ya?
Bisakah kamu membaca bukunya dari halaman 57?
Baik.
Eng...
Saat kelompok itu mencapai puncak bukit,
mereka berbalik sesuai apa yang diperintahkan
dan memandangi rerumputan di hutan.
Sesaat setelah itu,
mereka melihat harimau melompat dari balik semak.
Harimau itu sudah—
Aku lapar!
Bukannya kamu sudah makan roti?
Itu seperti makanan pembuka?
Perutnya besar sekali.
Mungkin ini karena metabolismeku yang cepat.
Aku cepat lapar.
Apa itu baik-baik saja?
Kemarin, aku kelaparan lalu terbangun.
Saat aku melihat jam, aku kaget.
Ternyata masih jam tiga pagi.
Kaget kenapa?
Habisnya, cuma ada sisa makan malam di kulkas.
Cuma ada daging goreng, dumpling, dan hamburg.
Itu 'kan lebih dari cukup.
Selain itu, ternyata jamku juga ikut berhenti.
Oh?
Sering banget berhentinya.
Apa baterainya sedang lapar, ya?
Ah, lampuku juga sering mati sendiri, loh.
Apa seluruh rumahku sedang lapar?
Mana mungkin?
Hana?
Hei, kamu makan rotiku, 'kan?
Eh? Apa maksudmu—
- Hentikan, Miko! - Ada bekasnya, nih.
Hei, kapan-kapan mau beli pakaian dalam?
Boleh.
Mantap!
Akhir-akhir ini, bra-ku terasa sempit.
Informasi yang tidak penting.
Oke, akan kutabung uang jajanku!
Oh, lampunya hijau!
Sampai besok, ya.
Ya.
Sampai jumpa!
Cepat! Cepat!
Loh?
Jatuh kali, ya?
Kemungkinan terakhir cuma di tempat ini saja.
Sedikit lagi...
Sial banget.
Harusnya aku bawa payung saja.
Jadi basah semua.
Rokku juga basah kuyup.
Bus berikutnya...
No comments yet. Be the first to leave one.