Surga Yang Tak Dirindukan 2

Surga Yang Tak Dirindukan 2

Laadige alla Indonesian subtiiter

Väljalaske info

Surga Yang Tak Dirindukan 2 2017 NF WEB-DL
Kommenteerib Putra14
Netflix Retail.

Sildid

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Avaldatud: 2019-02-28
Allalaadimised: 45
Kuulmispuudega: No

Indonesian subtiitrite eelvaade

Esimesed 200 rida.

Aku masih di jalan.

Maaf, rapatnya terlambat satu jam,

George mengatur ulang kunjungan proyek kami di Hongaria.

Sudah pasti, tak mundur lagi?

Jadwalku di Budapest sudah kupadatkan jadi lima hari

agar kami bisa bersamamu.

Jangan cemas, aku akan menyusul.

Tolong ambil obatku dan taruh di depan.

- Dan koperku juga. - Ya.

- Hati-hati, Mas. - Ya.

Assalamu'alaikum. Kamu di mana?

Di rumah sakit.

Rumah sakit?

Kenapa, Mas? Siapa yang sakit?

Aku tak apa-apa! Hanya...

Tadi ada kecelakaan di jalan.

- Korbannya... - Perempuan?

Ya.

Tetapi tenang, keluarganya sudah kutelepon.

Mereka menuju ke sini, jadi, bisa kutinggal.

Jangan, Mas.

Kamu tunggu di sana hingga keluarganya datang.

Nadia dan aku bisa naik taksi.

Kita bertemu di bandara. Assalamu'alaikum.

Pak Pras?

Dok, apa kabar?

Ini kejadian lagi, ya?

Tetapi ini... Bagaimana kondisinya?

Tenang saja.

Dia baik-baik saja.

Dia tak hamil, bukan, dok?

Jangan khawatir, Pak Pras.

Dia ingin menemuimu.

Tak usah. Aku harus pergi lagi.

Tenang, Pak, dia lebih stabil. Silakan masuk.

Terima kasih, Mas.

Aku tak tahu harus bicara apa.

Sama-sama.

Hanya mau bicara itu?

Tak ada masalah pribadi atau masa lalu...

Tidak, Mas. Sekali lagi, terima kasih banyak.

Safina!

Ya Allah!

Kamu kenapa?

Kenapa?

Aku baik-baik saja.

Ibu, Ayah.

Ini Mas Prasetya.

Jadi itu calonmu yang ingin dikenalkan ke Mami nanti sore?

Bukan, Bu. Bukan, Pak.

Bukan.

Dia membantuku saat kecelakaan.

Terima kasih.

Kebaikan Anda tak akan kami lupakan.

- Terima kasih. - Sama-sama, Pak.

- Dia ke meja pendaftaran. - Arini!

Om Amran! Om Hartono!

Kenapa kalian ke sini?

Kenapa ramai rombongannya?

Tanya Pak Romantis ini.

Kenapa dia memaksa ke sini.

Siapa wanita yang mau dikencani, Amran?

Wanita dari negeri tetangga.

Kenapa jauh sekali?

Bukan, dia mahasiswa Malaysia yang berkuliah S2 di UGM.

Sekarang jadi manajer Ny. Prasetya.

- Sheila? - Sudahlah.

Ayo kita ke sana.

Kau jadi wawancara?

Jadi, Sheila.

Kenapa tak ceritakan?

- Pasti kau sudah tahu. - Ya!

- Di mana Pras? - Sedang di rumah sakit.

Katanya dia menolong orang kecelakaan.

- Perempuan? - Perempuan?

Aduh!

Kenapa kamu tenang saja?

Jika terjadi lagi bagaimana?

Jangan berpikiran buruk.

Kenapa kalau perempuan?

Pria punya jatah nikah empat kali.

Kenapa selalu pikirkan nikah?

Sudahlah.

Titip Nadia, ya.

- Ayo duduk di sini. - Baik.

Kenapa kita di sini? Ayo pulang.

Tidak. Aku mau lihat Sheila dahulu.

Baik. Aku bawa pas masuk pesawat.

Kita harus naik pesawat sekarang!

Tn. Prabu, maaf, aku harus pergi.

Ya, tak apa-apa. Jika ada yang kurang, saya kirim surel.

Baiklah.

Sheila.

Masih ingat aku?

Seseorang yang...

Aku jadi malu.

Kamu hati-hati, ya.

- Ada sesuatu untukmu. - Apa ini?

Yang bisa membuatmu nyaman dalam perjalanan.

Obat tidur, maksudmu?

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia makin memanas

gara-gara bantal.

Terima kasih, Amran.

Sama-sama, jangan dibuang, ya.

Ya. Sampai jumpa.

Sampai jumpa.

Saat mendarat telepon aku, Sita pun minta ditelepon.

- Salam untuk Sita. - Ya.

Ayo, Sayang.

- Bunda. - Ya?

Di mana Ayah?

Ayah?

JADWAL BUDAPEST HARI KE-1

Panji Rindu Alam?

Dia pemandu wisata kita.

Baik.

Baik. Itu kita. Ayo, cepat.

Ayo, Sayang.

Nadia tak mau naik pesawat sebelum bertemu Ayah.

Kenapa bicara begitu, Sayang?

Apa Bunda tak mau bertemu Ayah sebelum naik pesawat?

Nadia, kita terlambat. Kita harus masuk sekarang. Ya?

Ayah tak mengantar kita, tetapi selalu mendoakan kita.

Kini kita harus pergi, ya? Ayo.

Jangan takut, ya? Bunda pun tak takut.

Astaga. Pejabat seperti ini yang membuat jalanan macet.

Lihat, itu Pras!

Kejar dia.

Pras!

- Ayo. - Tidak. Kalian saja.

- Sebentar. - Aku pulang dahulu.

Sheila.

Sedang apa kau?

Kamu berisik. Diamlah.

- Sheila, Hartono. - Jangan sebut Sheila.

- Kita pulang? - Ya.

Ayah!

Ayah!

Nadia.

- Nadia. - Sheila.

Sheila.

- Jangan panggil dia! - Sheila.

- Ayah. - Tuan Putri.

Maaf Ayah terlambat.

Ayah tak terlambat, tetapi tepat.

Korban yang kutolong itu anak kepala polisi Yogya.

Dia kirim pengiring mengantarku.

Bagaimana keadaannya?

Syukurlah, beres.

Syukurlah.

Aku lega bisa bertemu denganmu sebelum berangkat.

Aku merasa bersalah jika tak bertemu sebelum berangkat.

Berarti Bunda bohong.

Bunda bilang tidak takut.

Sudah waktunya, Bu.

Sebentar ya.

Kamu jaga kesehatan.

- Jangan terlalu lelah. - Ya.

Jangan lupa minum vitamin.

Ya.

Semoga perjalanan ini sungguh jadi ibadahmu, Sayang.

- Amin. - Amin.

- Jaga dirimu, ya? - Ya.

Kami pergi. Assalamualaikum.

Waalaikum salam. Sampai jumpa.

- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.

Pras, anak polisi itu cantik?

- Sudahlah. - Apa?

Kau mau kencani dia juga? Katanya mau bersama Sheila?

Empat, Har. Empat.

Sepele. Pria bisa dapat empat.

Ini empat bagimu.

Satu saja gagal, bagaimana mau empat? Banyak omong.

Aduh.

Sheila!

Aduh.

Cukup!

Kau memang berbakat.

Bagaimana menurutmu?

Luar biasa!

Terima kasih.

Peter, aku mau tunjukkan sesuatu.

Ini.

Ini asli dari Indonesia?

Ya.

Jokowi pakai cincin seperti ini.

Siapa Jokowi?

Presiden kami.

Berapa harganya?

Satu juta Forint.

Aku bisa pergi ke Indonesia dengan uang sebanyak itu.

Aku harus ke bandara.

Bagaimana dengan 500 ribu Forint?

Mbak Arini?

Saya Panji. Panji Rindu Alam.

Saya ditugaskan panitia untuk menemani Anda selama di sini.

Maaf, saya bukan Arini.

Saya dari Malaysia.

Oh, Malaysia.

Sheila. Malaysia.

Surga Yang Tak Dirindukan 2 subtitles in other languages

Kommentaarid

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left