Esimesed 200 rida.
Dalam hidupku, aku hanya melukis ekspresi jujur dari diriku sendiri.
Untuk mengatakan apa yang tidak bisa aku lakukan dengan cara lain.
Aku melukis karena keinginanku.
Siapa sangka noda warna itu bisa hidup kembali
dan membantu seseorang hidup?
Meksiko itu seluruh alam semestaku.
Aku senang.
Aku berlari melewati setiap sudut halamanku
dan aku bisa berteriak dan tertawa dari bawah pohon.
Ibuku sangat religius.
Dia mengundang para pendeta untuk Mengadakan Misa di rumahku
dan teman-temannya akan datang untuk berdoa rosario.
Sementara semua orang berdoa
Aku berusaha untuk tidak tertawa.
Aku ingat saat bertanya tentang Misteri Alkitab.
Mereka selalu ngomong, "Untuk lebih mengabdikan diri kepada Tuhan."
Tapi aku terus mengganggu pendeta itu dengan berbagai pertanyaan.
Bagaimana Kristus dilahirkan?
Apa Bunda Maria benar-benar perawan?
Mereka mengusirku karena memanjakannya untuk anak-anak lain.
Ayahku fotografer.
Aku terpesona dengan studionya.
Ayah ateis dan satu-satunya di rumah yang membaca
buku-buku tentang sains, geografi, dan sejarah.
Aku pergi ke mana-mana bersama ayahku.
Dia bakal melukis lanskap kecil-kecilan di tepi sungai
dengan cat air dan cat minyak.
Ayah menyimpan kotak catnya yang tersimpan di studionya.
Dan aku sangat menginginkan kotak itu.
Hijau
cahaya hangat yang bagus
Magenta
Aztek
Merah Meksiko
darah tua dari pir berduri
Coklat
warna molé
bumi
Kuning
matahari dan kebahagiaan
Aku gadis yang berjalan melalui dunia yang penuh warna
dari bentuk-bentuk yang nyata.
Semuanya misterius dan menyimpan rahasia.
Mengartikan dunia itu seperti sebuah permainan.
Aku bercita-cita jadi dokter
jadi aku menghadiri Sekolah Persiapan Nasional.
Awalnya aku tidak suka karena aku harus naik ke atas bersama gadis-gadis lain.
Semua gadis akan berkata
"Frida agak aneh."
Aku akhirnya berteman dengan sebuah kelompok bernama Cachuchas.
Kami memakai topi
dan aku satu-satunya gadis.
Ketika Frida tiba di sekolah dia memberontak
dan menentang tradisi.
Dia tertarik pada pemuda pemberontak
dan dia bergabung dengan kelompok kami.
Aku mengikuti Cachuchas kemana-mana
dan mengambil bagian dalam semua aktivitas mereka.
Kami mengikatkan petasan pada seekor anjing
dan kami mengirimkannya ke sekolah.
Kami mendatangkan malapetaka dan membuat semua kelas ditangguhkan.
Frida sedang berdiri di koridor sambil tertawa.
Aku pergi ke kelas khusus cowok alih-alih pergi ke tambang.
Aku hampir tidak lulus kelas
atau aku menyontek demi mendapatkan nilai bagus.
Alejandro punya aura pemimpin di sekolah.
Dia mengambil bagian dalam semua aksi protes mahasiswa.
Aku tertarik pada orang-orang cerdas.
Aku memilih orang-orang yang kurasa lebih unggul dariku.
Alexku
Alex kesayanganku
Alexku
Aku mau Alejandro meniduriku
tapi dia lebih suka menceramahiku hal-hal baik.
Dia bakal membacakan puisi
dan memberiku ciuman dan pelukan.
Aku pikir semua itu memberikan kesenangan.
Nafas
aroma
ketiak
cinta
abyss
Hari itu aku naik bus bersama Alejandro.
Aku duduk di sebelah pegangan tangan dan Alejandro duduk di sampingku.
Tak lama setelah naik bus kecelakaan dimulai.
Sebuah troli mendekati bus kami dengan perlahan
memukul tepat di tengah.
Bus itu punya elastisitas yang aneh.
Semakin bengkok.
Ketika mencapai titik puncaknya
perlahan meledak jadi ribuan keping.
Bukan kekerasan
tapi diam.
Pelan-pelan.
Pegangan itu menusukku seperti pedang menembus banteng.
Bohong kalau seseorang menyadari kecelakaan itu.
Kebohongan yang membuat seseorang menangis.
Aku tidak menangis.
Aku tidak mengerti jenis luka yang kuderita.
Aku pikir aku keluar tanpa cedera.
Aku terhempas sampai di bawah troli.
Segera setelah aku bisa bangun, aku mencari Frida.
Ngeri, aku menyadari kalau sepotong besi menembus tubuhnya.
Seorang pria berkata, "Kita harus mengeluarkannya."
Dia meletakkan lututnya di tubuh Frida dan menariknya keluar.
Frida berteriak sangat kenang kamu tak bisa mendengar sirene ambulans.
KECELAKAAN BUS
Para dokter tidak mengira mereka bisa menyelamatkannya.
Bakal memakan waktu lama memperbaiki tulang panggulku yang patah.
dan menyembuhkan luka di kakiku.
Dokter berpikir aku harus tetap seperti ini
selama tiga atau empat bulan.
Sekarang aku menghuni dunia yang penuh rasa sakit
transparan
seperti es.
Tidak ada lagi misteri.
Kecelakaan itu menghancurkanku
tapi setidaknya malaikat maut tidak membawaku.
Semua orang menyuruhku tidak putus asa
tapi tidak ada yang tahu bagaimana rasanya di posisiku
setelah bebas di jalanan sepanjang hidupku.
Aku merasa terjebak di dinding di kamarku.
Aku sendirian dengan jiwaku.
Ibuku merancang alat kayu di mana aku bisa melampirkan surat-suratku.
Dia juga menggantungkan cermin di atas tempat tidurku jadi aku bisa menggunakan diriku sebagai model.
Aku mulai melukis potret teman-temanku.
Agustus yang terhormat.
Aku melukis potretmu dengan cinta.
Alicia yang cantik
Aku mengirimkan semua cintaku padamu. Temanmu, Friducha.
Miguel, adik laki-lakiku
jangan pernah melupakan Cachucha nomor 9
Frida Kahlo.
Alex
ini agar kamu tidak melupakanku.
Jangan berhenti menulis untukku.
Ini potretku, Alex.
Akan tiba di rumahmu dalam beberapa hari.
Aku mohon, gantung rendah-rendah
jadi kamu bisa melihatnya seolah-olah kamu menatap lurus ke arahku.
Setelah satu tahun dalam banyak pemeran
Aku masih merasa kesakitan dan punya sedikit kekuatan.
Tapi aku mau lebih produktif dengan kesehatan yang tersisa.
Ketika Revolusi dimulai aku menyadari apa yang sedang terjadi.
Aku berusia empat tahun saat aku menyaksikan Zapata, berjuang melawan kemapanan.
Para petani mengangkat senjata untuk merebut roti yang dimiliki orang kaya.
Tanah dan kebebasan.
Di Meksiko, coraje berubah jadi kasar saat kami menghadapi ketidakadilan.
Aku merasakan sakitnya orang-orang yang tertindas.
Aku merasa perlu berjuang untuk mereka.
Itu sebabnya begitu mereka mengizinkanku berjalan pasca kecelakaan
Aku bergabung dengan partai Komunis.
SENI MEKSIKO MENCERMINKAN NILAI-NILAI BARU
SENI DAN REVOLUSI
Semangat Revolusi
adalah dasar dari tekadku.
Diego Rivera sedang melukis lukisan dinding di Dinas Pendidikan.
Diego salah satu kamerad komunis.
Karya kreatifnya melayani revolusi sosial.
Dia punya selera yang bagus.
Dia mengagumi segala sesuatu yang memancarkan keindahan
entah itu berasal dari wanita atau gunung.
Aku cuma melihatnya dari jauh tapi aku sangat mengaguminya.
Suatu hari aku membawakannya empat lukisan dan seperti yang aku katakan
"Diego! Tiarap!"
Aku melihat ke bawah perancah dan melihat gadis berusia sekitar delapan belas tahun.
Dia punya tubuh yang semok dan wajah yang cantik.
Dengar, aku tidak datang untuk menggodamu.
Meskipun kamu wanita, aku datang untuk menunjukkan lukisanku padamu.
Kalau kamu tertarik, beri tahu aku. Jika tidak, tidak apa-apa.
Jadi aku bisa menemukan yang lain cara untuk membantu orang tuaku.
Aku terkesan.
Kanvasnya terungkap energi ekspresif yang tidak biasa.
"Menurutku, kamu harus melanjutkan rutinitas melukis," kataku sekaligus.
Dia bilang, "Kamu punya bakat."
Saat itulah hubunganku dengan Diego dimulai.
Diego pemuda yang besar.
Matanya yang terus melotot tidak pernah diam
seolah-olah dibuat khusus untuk pelukis.
Bibirnya yang tebal selalu terlihat senyum nakal tapi kadang lembut.
Dia menerima tendangan karena mendengarnya berbicara.
Dia bakal menggodanya dan membuatnya kesal.
Aku melihat Diego punya pacar baru.
Dia gadis yang masih muda.
Seketika, dia melukisnya jadi mural.
"Kamu punya wajah seperti anjing," katanya padanya.
"Dan kamu," jawabnya, "punya wajah katak."
Wajah Kodok
jadi nama favoritnya untuknya,
bervariasi dengan julukannya...
Perut gendut
dan terkadang lunak...
Diego kecil
Kemudian dia mulai meminta pendapat soal karyanya sendiri.
Putusannya terkadang sangat tidak menguntungkan.
Dia bakal menggerutu, tapi keesokan harinya, dia mengubah detail yang menyinggung.
Saya dulu berpakaian seperti anak laki-laki.
Tapi saat aku mulai melihat Diego, aku mengenakan gaun Tehuana tradisional.
Kamu bakal dipanggil Auxochrome, orang yang menangkap warna.
Aku, Kromofor, yang memberi warna.
No comments yet. Be the first to leave one.