Esimesed 200 rida.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
PUSAT MEDIS YULJE
Hei, Ratu Parkir!
Tolong parkirkan, ya.
Aku "Ratu Parkir"?
Lantas kenapa kau balik badan? Tolong cepat!
Belikan aku kopi!
Aku tunggu di lobi!
Selamat pagi, Dokter! Maaf.
Kenapa minta maaf? Aku yang minta maaf karena membuatmu terbangun.
Masih ada waktu sebelum mulai.
- Kau bisa tidur lagi. - Tidak perlu.
Asyik! Halo, Semua!
Ini punyaku?
Kapan kau ganti baju?
Aku tidak mungkin masuk lobi dengan pakaian itu.
Aku hendak menengok pasien. Jadi, sekalian buang air
dan ganti baju secepat kilat.
Begitu?
Tidak seperti dugaanmu.
Sfingter anusku masih kuat. Jangan berpikir yang aneh!
Kenapa dia?
Tidurnya nyenyak sekali.
Bangun pagi memang sulit. Aku juga begitu.
Astaga.
Sekarang kau harus ikut ke akhirat.
Tinggalkan semua yang kau miliki di dunia nyata
dan ikutlah denganku.
Sekarang?
Masih banyak yang harus kulakukan.
Hei, bangun!
Dokter, kau masih hidup.
- Hentikan! - Sungguh?
Apa...
Dokter Yong tampak lelah sekali!
Kau sudah ambil cuti? Pasti lebih baik setelah rehat.
Masih belum,
- tetapi aku akan pergi bulan depan. - Begitu?
Dokter Chae bilang setidaknya kami harus libur musim panas selama sepekan.
Jadi, para dokter residen ambil cuti bergantian.
Aku juga ingin cuti sepekan saja.
Dokter, apa yang akan kau lakukan bila cuti setahun dan tidak bekerja?
- Aku? - Dia pasti ingin belajar.
Tidak.
Aku mau tinggal di Gangneung, Sokcho, atau Tongyeong.
Aku mau ke tempat seperti itu hanya untuk setahun.
Aku ingin hidup setahun saja di tempat yang tak terlalu besar atau terlalu kecil,
sebagai dokter di sana.
Pertanyaannya, "Mau apa jika tak bekerja?"
Main setiap hari lebih bosan.
Sama sekali tidak! Hal menyenangkan di dunia ini begitu banyak.
- Kau saja yang main. - Baik!
Aku ingin bekerja di rumah sakit kecil
daripada besar.
Aku ingin berdedikasi kepada tiap pasien.
Dahulu ada program dokumenter bernama Success Tale di MBC.
Hentikan!
Kalau acara itu masih ada,
aku yakin kisahnya bisa jadi tiga episode.
Aku akan pergi ke gunung dan pantai di waktu luang.
Klinik di desa lebih sibuk. "Waktu luang"? Jangan mimpi!
Bagaimana denganmu, Dokter?
Aku...
Aku tak pernah pikirkan itu.
Kuasumsikan punya anak?
Tidak. Seratus persen lajang.
Kelab! Aku harus pergi ke kelab.
Aku akan pergi ke kelab malam dan menari sepanjang malam.
Telapak kakiku tidak akan menyentuh tanah lebih dari satu detik.
- Seperti ini. - Lalu siang harinya?
Belanja.
Aku sangat suka kota. Aku sangat suka Seoul.
Dibanding cahaya bintang dan bulan di desa, aku lebih suka...
Papan neon mewah di kota
Itu lebih... Apa istilahnya? Itu membuatku bahagia.
Bukankah kau memotret bunga belakangan ini?
Ada bunga di mal.
Bunga yang bermekaran di area apartemen.
Kufoto bunga yang tersusun rapi di toko bunga samping pujasera
dan lantai satu basemen mal.
Ayo! Saatnya menengok pasien.
Aku juga harus menengok pasien. Memang kau saja?
Kota yang mewah
Berisik!
Akan kujawab dalam 72 jam.
Kau sedang menyusun strategi perang? Santai saja.
Kalau begitu, aku minta waktu sepekan.
Baiklah. Jangan lupa makan.
Baik. Aku selalu makan dua piring nasi.
Maaf, Bu. Kondisi bayinya mendadak memburuk.
Aku harus cepat ke Unit Perawatan Intensif Pediatri.
Bukankah pemeriksaan kesehatan boleh datang sendiri?
Bu, gastroskopi pasti terakhir.
Sepertinya bisa kutemani Ibu saat itu.
Tentu bisa sendiri. Memang ibu bocah?
Namun, endoskopi sedasi di rumah sakit ini harus didampingi wali.
Astaga, merepotkan sekali!
Berarti orang tanpa suami, anak,
teman, pacar, dilarang endoskopi sedasi?
Ibu juga tahu. Makanya ibu naik taksi agar tidak menyetir. Lagi pula...
- Permisi. - Ya?
Pusat pemeriksaan kesehatan di mana?
Di gedung sebelah, basemen satu.
Kau bisa keluar dahulu dan ke gedung itu,
atau ke basemen satu yang langsung dari sini.
Kau ramah sekali.
- Terima kasih. - Baik.
Lupakan! Ibu tidak membutuhkanmu.
Biar ibu urus sendiri endoskopi ini. Kau bekerja saja!
Sudah!
Hei, Kim Jun-wan! Kau punya pacar?
Benar. Kita bicara nanti.
Dia peramal atau apa?
Pasien agak demam 37,8 derajat dini hari dan diberi obat demam.
Sekarang sudah membaik.
Aku sudah lihat hasil rontgen tadi pagi.
Aku rasa kau demam karena paru-parumu belum terbuka.
Meski sulit, kau harus rajin meniup spirometer.
Aku tidak bertenaga karena hanya makan bubur setiap hari.
Mulai besok kami siapkan nasi.
Mulai besok beri menu biasa untuknya.
Baik.
Boleh makan daging?
Aku sangat ingin makan bulgogi.
Sekarang pun...
aku seperti mencium aroma bulgogi.
Bulgogi Seoul. Ya, 'kan?
Yang bumbunya manis
dan diberi banyak daun bawang.
Ditambah dua sendok makan bawang putih cincang,
sedikit sirop pati, serta banyak jamur enoki dan shitake. Ya, 'kan?
Tercium...
Nenek! Tidak boleh. Dia harus puasa.
Tidak. Astaga...
Besok kau operasi, Kek. Kau tak boleh makan ini.
Dokter...
Dia akan operasi besar. Perutnya dirobek panjang.
Dia tak boleh dioperasi dalam keadaan lapar.
Agar operasi lancar, setidaknya dia harus makan besar
sekali saja. Bukan begitu, Dokter?
Tidak begitu, Nek.
Kakek, kau bisa makan berat sebanyak mungkin nanti setelah operasi.
Jika kini makan, kau tak bisa operasi dan harus puasa lagi.
Kalau bertahan sekarang,
aku akan buat kau bisa makan enak sampai umurmu 100 tahun. Ya?
- Baiklah. Biar kusimpan di kulkas. - Baiklah.
Untung saja Dokter tahu. Jika tidak, bahaya.
Padahal operasinya besok.
Dokter, tunggu! Dokter!
Minum ini.
Cucuku yang membelinya.
Rasanya manis dan lezat. Enak sekali.
Maaf, Nek. Kami tidak boleh menerima hal semacam ini.
Bahaya jika kami menerimanya.
Astaga. Sekaleng kopi juga tidak boleh?
Bukan apa-apa.
Aku merasa bersalah karena membuat keributan hari ini.
Kau baik sekali. Kami terima ketulusanmu.
Berikan padaku.
Terima kasih.
Tampaknya memang enak.
Kali ini kuterima, Nek. Namun, jangan berikan lagi lain kali.
Baik. Tidak akan ada lain kali.
Nikmati kopinya.
- Terima kasih. - Ya.
Perawat Song Su-bin! Kita ke Bangsal VIP.
Aku dan Pak Song akan ke kamar Pak Go Yeong-min di Bangsal VIP.
Tunggu.
Apa?
Kau boleh ikut.
Ayo.
- Anakmu ingin berhenti sekolah? - Ya.
Dia bilang tak sanggup terus sekolah.
Kita tak bisa mencegah kalau dia bilang tak sanggup.
Apa boleh buat?
- Kelas dua SMP, ‘kan? - Ya.
Astaga.
Saat kubilang, "Setidaknya kau harus lulus SMP."
- Dia mau ikut Ujian Kesetaraan. - Apa?
Dia akan kerja paruh waktu untuk beli kamera dan komputer,
dan minta aku tak ikut campur.
Dia alien, bukan anakku.
Selamat siang. Astaga!
Sepertinya kau datang begitu selesai syuting.
Selamat siang.
Aku syuting semalaman dan sudah cukup lama di sini.
Aku hanya belum menghapus riasan.
Ayahmu sedang tidur?
Ya. Dia baru saja tertidur.
- Selamat siang. - Selamat siang.
Astaga.
Meski operasi sederhana, hari berikutnya selalu paling sulit.
Dia pasti merasa lebih baik besok.
Tolong beri tahu untuk tahan sehari ini saja.
Tadi dia menonton TV denganku sampai tertidur.
Dia bilang baik-baik saja, tidak ada yang sakit.
Aku harus mentraktirmu kapan-kapan.
Boleh.
Bagaimana kalau siang ini?
Boleh.
No comments yet. Be the first to leave one.