Esimesed 200 rida.
Ibu!
Ibu!
Ya Tuhan.
Masjid Bantul Nurul Huda masih jauh?
Tidak.
Allah, berkatilah jiwa ibuku.
Demi nama Allah...
Nanti ada Panggung Krapyak. Namanya Kandang Manjangan.
Dari sana ke selatan. Sudah dekat dari sana.
Tanya orang saja di sana.
- Terima kasih, Pak. - Ya. Sama-sama.
Har, ayo.
Hebat! Bos kita sudah bangun.
Pras, mau turun derajat, gantikan menyetir sebentar?
Dia baru bangun! Masih melayang. Nanti nyawa kita yang melayang.
Jaga omonganmu! Omongan itu doa. Hati-hati.
Tak apa-apa. Biar aku menyetir.
Bagus. Kau penuh pengertian, Pras.
Kini giliranku merenungkan nasib ekonomi Indonesia.
Kau mau tidur, tetapi banyak omong.
Kau cerewet!
Adik-adik! Siapa yang mau dengar dongeng Madaniah?
- Aku! - Ayo ke sini.
Ayo.
- Ayo, kita mendongeng. - Pelan-pelan.
Amran, kita sudah sampai di Krapyak. Mesti ke mana lagi?
Ibu...
- Kenapa itu? - Pras!
- Awas! - Ibu!
Jika menolong orang, harus ingat nyawamu juga.
- Kita tak ada waktu. Ayo. - Ibu Dedeh.
- Mau ke mana? - Ke masjid.
Masjid? Tunjukkan jalannya.
Pras, kita harus...
Bawakan sepedanya.
Pras, kau tahu pentingnya observasi ini untuk kelulusan kita.
Masjid akan tentukan semester ini kita akan jadi arsitek atau tidak.
Jangan buang waktu untuk ini.
Kau pergi lebih dahulu, aku menyusul.
Kau pergi dahulu untuk memotret.
Aku urus ini dahulu.
- Jaga dia! - Apa ini? Kau siapa?
Pras, ini siapa? Pras!
Pada hari yang cerah, di kediaman Madaniah dan ayahnya,
Madaniah bertanya kepada ayahnya,
"Ayah, bagaimana caranya supaya aku bisa masuk surga?"
Salat lima waktu, membaca Quran.
Apa?
Salat lima waktu, membaca Quran.
- Assalamualaikum - Waalaikum salam.
Hasbi?
Hasbi, ada apa?
- Aku jatuh dari sepeda. - Ya Tuhan. Ada yang sakit?
Aku tak apa-apa, Mbak. Ditolong oleh Mas ini.
Assalamualaikum.
Waalaikum salam.
- Terima kasih sudah menolong Hasbi. - Ya.
Lain kali kau hati-hati.
Aku sudah hati-hati, Mbak.
Sungguh? Baiklah.
- Aku sudah hati-hati. - Baca doa saat keluar rumah?
Kita lanjutkan ceritanya, ya?
Madaniah berjanji kepada ayahnya.
"Ayah, aku berjanji.
Aku akan selalu mendoakan Ayah dan Ibu,
supaya masuk surga."
Surga itu adalah tempat...
Kau lama gara-gara ini!
Ya Tuhan.
- Itu kecantikan Indonesia sejati. - Dan juga, surga...
Bisa gagal jadi sarjana karena jatuh cinta.
Pras, jika lihat gadis seperti ini, langsung lamar.
Langsung dinikahi supaya resmi, Pras.
Dinikahi? Ayo cepat pergi.
Kalian pergi lebih dahulu.
Aku mau pastikan Hasbi baik-baik saja.
Kau licik.
Lamar dia.
Ayo!
Adik-adik,
surga itu tempat untuk orang-orang yang selalu bersyukur
juga orang-orang yang selalu ikhlas.
Tak ambil wudu?
Dan juga...
Wudu di sana.
Ya.
Oh ya...
Kenalkan, aku Prasetya.
Aku Citra Arini. Panggil saja Arini.
"Surga hanyalah tempat bagi orang-orang yang bersyukur dan ikhlas."
Kalimat yang indah.
Terima kasih.
Mas.
Mau jadi imam, bukan?
Apa? Secepat itu?
Salat memang harus disegerakan.
Ya Tuhan! Maksudmu imam salat?
Ya, mau.
Hati-hati menyeberang.
Hasbi, jangan ikut lari.
Jadi ke rumahmu?
Jangan sekarang.
- Kenapa? - Aku berjanji ke ibuku, mau antar dia.
- Hasbi, jangan lari dahulu, ya? - Itu pangeranmu.
- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.
Sita, kau mengganggu. Ayo ke sini.
Kenalkan sahabat-sahabatku.
- Hai, Sita. - Halo.
- Amalia. - Prasetya.
Rumah Lia dekat dengan rumahku.
Di daerah Muntilan. Hanya 30 menit dari Yogyakarta.
Jadi, kalau ke kampus, kami berangkat bersama.
Tetapi jika terlalu malam, mereka menginap di rumahku, di kota.
Sekalian coba jadi anak kota.
Kau menyebalkan.
Aku boleh minta nomor teleponmu?
Jangan salah.
Angka nolnya terlalu banyak.
Aduh!
- Terima kasih. - Sama-sama.
Bagaimana kalau mau ke Masjid Nurul Huda di Bantul?
- Bantul? - Ya, lewat mana?
Sebentar.
Pak, tolong antar mas ini ke masjid Nurul Huda di Bantul.
Ya.
Aku pamit dahulu.
- Hati-hati. - Terima kasih.
- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.
Aku mau jual pulsa telepon.
Akan ada pelanggan setia di sini.
- Boleh kumodali? - Aku mau.
- Assalamualaikum. - Waalaikum salam.
Apa kabar, Arini?
- Adik-adik, siapa... - Syukurlah, aku baik. Apa kabarmu?
Baik. Bagaimana kabar Hasbi?
Kabar Hasbi baik, dia sehat.
Sekarang Hasbi sudah bisa berlari.
Dia menjadi asistenku. Ke mana-mana dia bawa boneka.
Terima kasih. Adik-adik, setelah ini Kak Arini akan mendongeng Madaniah!
Kenapa suka sekali mendongeng?
Mendongeng itu sedekahku.
Dalam dongeng, aku menitip ilmu untuk anak-anak.
Kau cerdas dan puitis.
Kau hanya memuji.
Kau suka apa?
Aku suka menggambar bangunan.
Hotel? Apartemen?
Sekolah, asrama, madrasah, dan masjid.
Panti asuhan.
Itu favoritku.
Oh ya? Kenapa?
Aku anak panti asuhan.
Maaf. Aku tidak tahu.
Tak apa-apa, Arini.
Semoga kau jadi arsitek terkenal.
Aku tak ingin jadi terkenal.
Aku ingin membuat dunia di sekitarku tak seperti duniaku dahulu.
Kalau begitu, kudoakan semoga semua impianmu terwujud.
Amin.
Ayah ingat saat kau masih kecil.
Kau serius dengan anak Solo itu?
Maksud Ayah, Pras?
Apa kau serius?
Kau yakin dia bisa menjadi pria yang baik untukmu?
Siapa yang bisa menjamin orang itu baik atau tidak?
Tergantung kita yang memercayainya.
Dan...
Kau percaya dengannya?
Atas restu Ayah.
Kalau begitu, Ayah lega. Kau serius dengannya.
Terima kasih, Arini,
sudah memercayaiku.
Tidak ada yang bisa kuberikan untuk membahagiakanmu,
kecuali diriku sendiri.
Untukku, kebahagiaan tidak diberikan.
Tetapi bersama-sama kita ciptakan dengan saling percaya.
Di situlah surga kita.
Jika Allah mengizinkan,
aku akan menjaganya bersamamu.
Amin.
Jangan pernah sakiti Arini.
Panjang umurnya
- Ini untuk Ibu. - Sayang.
Adik-adik, ayo makan.
Ini dia putri yang ulang tahun. Selamat ulang tahun.
- Selamat ulang tahun, Sayang. - Terima kasih.
Kenapa kau hanya bersama Sybil? Suamimu mana?
Sibuk. Sudahlah, tak usah dibahas, nanti aku kesal.
Nadia, coba tebak aku bawa apa.
Berikan kepadanya.
Harus katakan apa?
- Terima kasih. - Sama-sama.
Bu, ada tamu istimewa di sana.
Siapa? Sebentar, ya.
- Ayo bermain. - Pergilah.
Sita, kapan kau menikah?
Jangan terlalu lama pacaran. Nanti kena fitnah.
- Assalamualaikum, Mas Muslimin. - Waalaikum salam.
Silakan duduk.
- Silakan duduk. - Terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.