نخستین 200 خط.
Kayak mana, Dim?
Masih lama?
Tinggal dua kalimat lagi, terus aku kirim ke Pak Endy, Pak.
Orang percetakan tadi sudah aku suruh tunggu.
Tapi macam mana,
bininya pembukaan tujuh pula.
Terpaksa dia harus menyusul ke rumah sakit.
Kalau kita ada iklan, pasti kupasang. Tapi kita sudah lama tidak ada iklan.
Kalau artikelmu tidak masuk, ya bolong.
UNGGAH
Kelar.
Tinggal tunggu Pak Endy setuju.
Ini aku tulis sudah hati-hati banget biar tidak ada revisi.
- Biar bisa langsung naik cetak. - Ya, pasti kau harus hati-hati.
Ini yang kau tulis perusahaan besar.
Investornya pejabat-pejabat.
Berita besar banget, Pak.
Sepuluh ribu hektare hutan lindung dikeruk secara ilegal buat tambang nikel.
Tidak ada yang berani bicara.
Plus, puluhan pekerjanya mati secara mencurigakan.
Ngeri, Pak.
Wah, terus kau lihat ke sana langsung?
Iya, Pak.
Dari Balikpapan masih tujuh jam lagi naik mobil ke Hutan Nehea.
Aku beberapa kali ke hutan Kalimantan, tapi yang ini memang misterius banget.
Seru sekali, tidak sabar aku baca artikelmu.
Artikel terbaikku.
Pak Endy pasti suka banget!
Hebat kau!
Halo, Pak?
Seperti ini artikelnya? Kau memang masih magang?
- Ke sini kau, sekarang! - Baik, Pak.
Aduh.
Aku merokok ke bawah, ya, Dim!
Kabari kalau sudah dikirim!
Permisi, Pak.
Kau jauh-jauh ke Kalimantan
menghabiskan uang kantor cuma buat bikin berita kayak gini?
Kau bikin berita pembunuhan kayak berita-berita daring.
Kau wartawan ekonomi!
Soal penambangan ilegalnya ada, Pak.
Tapi yang menarik tentang kematian para pekerja…
Kau tidak paham koran kita mau bangkrut?
Orang masih baca koran kita karena artikel kita berbobot!
Kalau beritamu sama saja kayak yang lain, terus untuk apa mereka masih langganan?
Kau punya waktu 20 menit buat revisi.
Pengantarnya adalah
penggundulan hutan lindung sepuluh kali lebih luas dari perizinannya.
Dan perusahaan anak wakil presiden terlibat.
Itu!
Baik, Pak.
Goblok.
Halo?
Mengurus artikel bisa editor. Tidak harus pemimpin redaksi.
Aku baru berhentikan editorku hari ini.
Aku tidak bisa gaji!
Kalau perusahaan sudah tak bisa ditolong, ya sudah kau pulang.
Selamatkan rumah tanggamu.
Aku bangun koran ini dari nol! Sebelum aku kenal sama kau!
Koran ini lebih penting dari rumah tanggaku!
Ya sudah, dah.
Bangsat!
Dimas…
Pak Vijay.
Tolong…
Selamat pagi!
Pagi!
Hari ini seperti kemarin,
sama seperti besok.
Seperti biasa.
Kalian yang menentukan apakah hari kalian berjalan lancar,
atau penuh masalah.
Kalian tahu aturannya.
Kalian patuh, kalian hidup tenang.
Kalian melawan, kalian rasakan konsekuensinya.
Satu-satunya kebebasan kalian di sini
adalah kalian bisa pilih sendiri bagaimana kalian ingin menjalani hari ini.
Paham?
Paham!
Semua lengkap?
Lengkap!
Kurang satu!
- Turun. - Aku sakit, Pak.
Kalau berdiri, kepalaku pusing, Pak.
Berdiri!
Tolol.
Dia tidak punya agama!
Kau bilang apa?
Jadwal satu setengah jam ke depan kegiatan ibadah.
Dia tidak punya agama.
Jadi, dia bisa istirahat biar sembuh.
Sepertiga kegiatan kalian di lapas adalah ibadah.
Jadi, kalau tidak beragama, bisa sepertiga hari istirahat?
Agama tidak memaksa orang sakit untuk ibadah.
Kalau kau pikir kau lebih pintar dariku,
mending kau tidak usah berpikir saja.
Karena otakmu terlalu kecil dibanding otakku.
Kenapa kau tidak membacot lagi?
Lagi membayangkan jadi aku, ya?
Lagi apa kau sekarang kalau jadi aku?
Sepertinya tidak akan kerja di tempat bangsat kayak gini.
Aku kerja di sini
karena aku bisa!
Ayo.
Lepaskan!
Ayo! Lawan!
Ayo.
Ayo!
Kau di sini seperti tahi.
Jadi, kalau ada yang masih mau mengurusimu kayak aku,
kau bersyukur saja.
Tidak usah banyak tingkah.
Percayalah!
Aku keras
karena ini yang kalian butuhkan.
Aku adalah obat penyakit hati kalian.
Kalian semua ada di sini karena kesalahan kalian sendiri.
Jadi, kalian tidak punya hak untuk mengeluh,
tidak punya hak untuk meminta apa pun!
Kalian hanya perlu diam, ikut aturan.
Sekarang semua beribadah!
Punya atau tidak punya agama!
Bawa ke kandang.
Tidak kau lempar bisa juga, sih. Dan tidak merugikanmu juga.
Aku taruh pelan-pelan, tapi aku ludahi dulu mau?
Itu Anggoro kenapa sih cari masalah pagi-pagi sama Jefry?
Daripada dia ini mati digebuk?
Aku tidak minta dibantu Anggoro. Dia yang merasa semua orang harus dibantu.
Ya, memang kita kalau tidak dekat sama Anggoro,
mampus semua.
- Tidak. Aku selamat-selamat saja. - Kau saja tadi kayak ayam sayur.
Anggoro juga tidak jago-jago amat.
Tapi orang respek sama dia, Six.
Itu karena bawaannya saja.
Kalau aku tinggi dan ganteng kayak dia, semua orang respek sama aku.
Banyak orang tinggi dan ganteng diinjak. Anggoro itu jiwa pemimpinnya tinggi.
Makanya orang respek sama dia.
Kau?
Kau selamat gara-gara orang masih percaya kalau kau bisa lihat setan benaran.
Kau bohong bisa lihat hantu?
Kalian mau bikin aku mati?
Sebelum mati, mending kau mengaku biar tak banyak dosa.
- Ya, benar. - Six.
Kau benaran tidak punya agama? Kalau mati nanti ke mana?
Waktu itu aku sakit, dia baca-baca, aku sembuh.
Kau menipuku, ya?
Tapi kau sembuh, 'kan?
Berengsek.
Lagian kau mantan dosen percaya hal kayak gitu.
Jadi makanan orang yang tidak perlu pintar.
Tapi Six benar juga, Pen.
Kau baca buku tiap hari, tapi kau sama saja kayak kita.
Seharusnya Jefry tahu kau pintar agar bisa adu otak
biar dia tahu di sini ada orang pintar juga.
Dia jadi ceramah mulu tiap hari, sok memberi kita motivasi.
Bang.
Anggoro di mana, Bang?
Anggoro tidak ada. Sudah, jangan di sini.
Tolong aku, Bang.
Tak ada urusan dengan kami, sana!
Kalau tidak ditolong Anggoro, mati aku, Bang.
Dia lagi di kandang. Dia juga tidak bakalan bisa menolongmu!
Tidak ada, Anggoro tidak ada, Fiq. Sana! Nanti kami kena.
Hei!
Bajingan kalian semua, ya!
Jangan macam-macam sama aku!
Kau pikir ini tempat bapakmu?
Tak ada yang gratis di dunia ini, Bangsat!
Dengar, Semuanya!
Makanan dibuang ke lantai,
orang di luar sana makan nasi basi saja sujud syukur!
Berengsek kalian semua!
Tidak punya otak kalian, dasar anjing!
Jilat, tidak? Kalian semua, jilat!
Kau ada yang jenguk.
Suruh balik saja.
Memangnya aku babumu?
Kau yang kasih tahu sana.
Kasihan aku lihat muka mereka.
Ibu kalian di mana?
Aku cuma berdua, Pak, sama Didi.
Untuk apa kalian ke sini?
Kita sudah dua bulan tidak ketemu.
Kami kangen, Pak.
Ibu diajak ke sini tidak mau.
Jadi, kami nebeng sama tetangga. Dia bawa angkot, kebetulan lewat sini.
Kalau ibu kalian tidak mau ke sini, berarti dia sibuk cari uang buat kalian.
Tidak, Pak.
Ibu…
Ibu sepertinya sering pergi sama Pak Alexander.
Alexander siapa?
Jadi, dia teman kerja Ibu di toko roti.
Dia mulai sering datang ke rumah tiga bulan yang lalu.
Awalnya sering disuruh pulang sama Ibu. Tapi dia datang terus.
Dan hati Ibu sepertinya mulai luluh deh, Pak.
Kami tidak mau Ibu kawin lagi, Pak.
Kami tidak mau punya bapak kayak dia.
Kenapa?
Soalnya…
Dia…
No comments yet. Be the first to leave one.