نخستین 200 خط.
Pasang Iklan? Via Whatsapp: 082243376641
"Seorang perempuan mesti punya sesuatu
melebihi kecantikan.
Sedikit kesedihan.
Sedikit tangisan.
Sedikit perasaan merindu.
Irama patah hati.
Kecantikan yang datang dari kesedihan menjadi perempuan."
SERIAL NETFLIX ORIGINAL Jangan Menghilangkan Credit, Follow IG Kami : dongdotmovie
Sudah sampai, Nyonya.
Ini pasti salah.
Kurasa kau membawaku ke tempat yang salah.
Tak salah, Nyonya. Ini lubang nerakamu.
Yang Mulia pikir kau akan ke Copacabana?
Ayah? Ayah memanggilku?
SÃO PAULO, SEHARI SEBELUMNYA
Kau tampak begitu cantik.
Ada masalah?
Ayah tak yakin kalau kita bisa berdua saja malam ini.
Ayah. Terima kasih.
Agar kau bisa menyurati Ayah. Tiap hari.
Ayolah, Ayah. Tiap hari?
Bukan begini yang Ayah bayangkan...
keluarga kita terpisah.
Ayah sadar anak-anak seharusnya meninggalkan sarangnya, bukan?
Aku cuma sedikit tertunda.
Itu mungkin Pedro.
- Halo? - Halo.
Pedro, aku tak bisa mendengarmu!
- Maria, aku tak... - Halo?
- Kau mesti... - Pedro? Halo?
- Pedro! - Maaf...
Maaf.
Halo?
Aku istri Pedro.
Sudah lama aku tak jumpa Tn. Pedro.
Kupikir mungkin dia kembali ke São Paulo.
Permisi.
Terima kasih.
Pelan-pelan minumnya, Ligia.
Setidaknya satu, supaya ini menyenangkan.
Kita tak kemari untuk bersenang-senang. Ini bisnis,
jadi tolong tetap tersenyum yang manis.
Bukankah selalu begitu?
Permisi, aku segera kembali.
Terima kasih.
Terima kasih sudah jauh-jauh datang kemari.
Kami tak akan melewatkannya.
Aku masih bisa tahu saat kau berbohong, Ny. Ligia Soares.
Kukira mungkin kau datang karena aku.
- Apa kau mau aku datang? - Ya.
Yang sungguh kuinginkan adalah permintaan maaf.
Kubilang...
Aku tahu persis yang kau bilang. Kau salah.
Itu sudah lama sekali.
Bisa kita mulai dari awal di Rio?
Lihat ada siapa.
- Ligia. - Tn. Ademar.
Kau sudah menjadi perempuan yang cantik. Gadis kecil itu...
Kau selalu baik hati, Pak.
Maria Luiza, aku baru bilang ke ayahmu
kami akan menjagamu dengan baik di Rio.
- Aku senang mendengarnya. - Kini begitu banyak yang terjadi.
Kau memilih waktu yang tepat untuk membuka restoran.
Itu benar, fesyen, musik...
Kau masih menyanyi?
Tidak. Sudah berhenti.
Sayang sekali.
Suaramu selalu menghentikan langkah orang.
Pedro?
Pedro?
Halo?
Pedro menelepon semalam. Dia minta maaf
katanya dia sibuk menyiapkan pembukaan restoran pekan depan.
Atas nama Pedro, begitu juga diriku,
kalian semua diundang ke pesta makan malam lainnya,
hanya kali ini, sambil mendengar suara laut di Rio.
- Itu lebih baik. - Bagus sekali.
Astaga. Ademar akan membunuhku.
Ayahku membayarmu untuk menangani masalah! Kenapa bisa tak tahu soal ini?
Aku pengacara, bukan pengasuh suamimu.
Apartemennya berantakan. Setidaknya kupikir itu apartemen kami.
Sesuatu terjadi kepadanya.
Kau harus memberi tahu polisi, wali kota, presiden, dan Paus!
Baik. Tenang, Maria Luiza. Tenang...
Tenang. Kuberi tahu kabar yang tak enak.
- Silakan. - Menurut pengalamanku,
saat lelaki mendadak menghilang,
biasanya terkait dengan perempuan lain.
Dan ada gosip.
Kami tak membayarmu untuk memberi hipotesis.
Kau mesti bicara segera dengan Ademar, beri tahu dia ini terjadi tiba-tiba.
Kita tak ada yang bisa...
Tidak!
Ayahku tak boleh tahu soal ini.
Baiklah kalau begitu.
Jadi, kau yang akan membayarku mulai saat ini?
Kau tahu apa yang akan kita lakukan
begitu sampai di Rio de Janeiro?
- Apa? - Kita akan berenang di laut!
Kini tutup matamu dan bayangkan laut, coba dengarkan.
Dengar suara ombaknya? Perlihatkan kepada Ibu.
Ibu ganti pakaian.
Ayahmu tak suka yang tadi. Suami bahagia, hidup pun bahagia.
Jadi, itu rahasia pernikahan 30 tahun kalian.
Salah satunya.
BERSAMA SELAMANYA
Itu bohong.
"Kita akan tinggal di Rio". Semua impian kita...
Bohong. Semuanya bohong...
Aku amat mencintaimu. Pedro.
Ada orang di rumah?
Astaga!
Apa kau sudah gila, coba membakar seisi gedung?
Duduk di sana meratap juga tak akan menyelesaikan apa pun.
Makanlah, Nyonya.
Kau bisa memercayai resep nenekku.
Sama-sama.
Terima kasih.
Ini tepatnya kenapa kadang kurasa perempuan lebih baik sendiri.
Kau membakar setumpuk pakaian. Apa itu milik suamimu?
Jelas dia melakukan hal yang tak bisa dimaafkan.
Kau tinggal di sini?
Terasa begitu. Aku bekerja untuk seseorang di atas.
Aku untung, wanita angkuh itu tak suka apa pun
lebih dari dua hari di kulkasnya.
Kini kau yang beruntung. Makanlah.
Astaga, apa yang akan kukatakan kepada putraku?
Aku berjanji kami semua akan hidup di sini bersama.
Semua akan baik-baik saja, Nyonya.
Anak-anak itu tangguh.
Kadang lebih tangguh dari kita.
Kau punya anak?
Tidak.
Kami punya...
seorang putra.
Tuhan tak pernah memberi cobaan yang melebihi kemampuan kita.
Esok akan jadi hari yang baru.
Kini makanlah.
Terima kasih...
Adelia.
Terima kasih, Adelia.
Aku Maria Luiza.
Ayo, katakan saja, "Aku sudah bilang."
Tidak. Aku tak akan lakukan itu.
Katakan saja.
Aku bilang jangan percaya dia lalu kau marah denganku.
Kau diamkan aku bertahun-tahun.
Aku merasa begitu naif dan bodoh saat ini.
Aku tak mengerti kenapa...
Ligia, selama Pedro di Rio,
kau pernah bicara dengannya?
Kau tahu kira-kira dia ada di mana?
Maaf, aku tak tahu...
Boleh aku minta tolong?
Tolong jangan beri tahu Augusto.
Jangan sekarang.
Kau akan bilang apa ke orang-orang di São Paulo?
Yang sebenarnya.
Maria Luiza, astaga, jangan naif begitu.
Kau mau aku bagaimana?
Katakan dia tewas.
Kau sudah gila, Ligia? Aku tak bisa bilang begitu.
Itu lebih tak memalukan daripada yang sebenarnya.
Bunuh dia, anggap dia tewas. Katakan apa pun yang kau mau.
- Halo. - Hai.
Kau kembali dari São Paulo!
Ya, cuma semalam, untuk hadiri pesta.
Ini teman lama, Maria Luiza.
Dia berkunjung ke Rio.
Ini iparku, Thereza.
Senang bertemu.
- Maaf, di sini ciumnya dua kali. - Satu lagi.
Kau tak pernah bilang punya ipar.
Benarkah? Dia baru pindah kemari dari Paris.
- Ya, baru saja. Dua tahun lalu. - Apa sudah selama itu?
- Kau tinggal di Paris? - Ya. Sudah pernah ke sana?
- Belum. - Kau mesti berkunjung.
Jujur, aku lebih memilih laut dan gunung Rio dari Paris kapan pun.
- Kau akan ke pesta Roberto nanti malam? - Tentu.
- Kami akan ke acara kecil ini... - Sama sekali tidak kecil.
- Ini pesta di kapal. - Siapa Roberto?
Dia sama-sama teman kami, punya perusahaan rekaman.
Kami meninggalkan marina pukul 16.00. Ikut kami saja.
Tidak. Terima kasih undangannya, tetapi aku ada hal yang mesti diurus,
lalu aku akan kembali ke São Paulo.
- Senang bertemu. - Sama-sama.
- Sampai nanti. - Pukul 16.00.
- Dia kelihatannya baik. - Ya, dia luar biasa.
Itu dia. Kenapa dengannya?
Tak ada apa-apa. Dia keluarga. Tentu aku menyayanginya,
tetapi kita tak bisa memilih, bukan?
Benar.
Ikut saja nanti malam.
Mungkin akan bagus agar kau bisa lupakan masalahmu?
Demi masa lalu.
SEPULUH TAHUN SEBELUMNYA
Jangan berisik, Ligia.
Sedikit lagi saja. Aku tak mau sampai di sana berkeringat.
Dasar anak manja!
No comments yet. Be the first to leave one.