نخستین 200 خط.
Astaga...
Eun Hee Nuna, aku penasaran tentang banyak hal.
Eun Hee Nuna. Maaf.
Aku tahu apa itu artinya keluarga.
Maaf, boleh lihat yang itu?
Maaf, boleh minta 3 kalung ini yang modelnya sama?
Cincinnya 1, tapi kalungnya 3?
Ya.
Maaf karena aku gak ngasih tahu soal keputusan terbesarku...
selama 26 tahun hidupku.
Aku kabur, karena aku tahu, pasti keluargaku...
bakal ngelarang kalau aku bilang ke mereka.
Aku udah lama punya cita-cita ini,
tapi aku gak sepenuhnya bahagia.
Aku pikir, kabur dari keluarga bisa membuatku tenang.
Kalau Hyung bisa jelasin baik-baik ke kakak-kakaku, dan bisa hibur mereka,
mereka pasti bisa percaya, dan bisa jaga Ayah dan Ibu.
Maaf ya, Hyung.
Apa hanya ini...
arti diriku, untuk Jiwoo?
Apakah aku keluarga yang ingin dia lepaskan?
Harus bagaimana dengan keluargaku?
Kita semua benar-benar...
tidak tahu antar satu sama lain.
Sekarang Jiwoo sudah dewasa.
Dia bisa pergi kemanapun dia mau.
Termasuk dari keluarganya.
Dia bisa pergi kalau dia mau.
Tidak ada gunanya lagi, sekarang.
Aku mau beritahu Onni.
Sekarang aku tidak akan...
menyimpan rahasia lagi.
Sekarang aku akan menyelesaikannya dengan Onni.
Onniii!!
Sepertinya dia tidak mau menjelaskannya pada kita.
Mungkin dia mau beritahu, tapi tidak bisa.
Karena belakangan ini banyak hal yang terjadi.
Mungkin dia pikir kita akan melarangnya.
Dia sudah cukup umur untuk menikah sendiri.
Kita bisa apa lagi selain menunggu?
Tapi, ada sesuatu yang aneh untukku.
Siapa yang minta bayaran, sebelum saling bertemu?
Berhenti berpikir.
Apa iya harus bisa menang melawan pasien yang besok mau dioperasi?
Aduh, aku sudah tua.
Aku tidak tahu harus yang mana lagi.
Tapi aku bisa lihat.
Biasanya memang bisa kelihatan, saat gilirannya orang lain.
Iya, hubungan kita sekarang "orang lain".
Bukan begitu.
Nah gitu dong.
Aku tidak sembunyikan buah darimu...
supaya bisa dimakan oleh anak-anak.
Buah yang tidak dimasukkan ke dalam kulkas...
adalah untuk para orang tua di panti jompo...
tempat dimana aku jadi relawan.
Aku selalu simpan di tempat itu, supaya tidak tercampur dengan buah milik kita.
Kau pasti sangat kaget.
- Maaf. - Aku juga maaf.
Aku tahu kau salah paham dan marah...
karena buah-buahan.
Tapi...
aku sengaja untuk tidak menjelaskannya.
Melihatmu salah paham...
membuatku lega.
"Ya. Bencilah aku, salah pahami aku..."
"karena aku tidak mau memberi buah untukmu."
Aku membiarkanmu.
Seperti itulah kita hidup selama ini.
Kita tidak berusaha untuk saling menjelaskan.
Mendengarmu berkata begitu,
sekarang akupun sadar...
kenapa aku menyimpan obat tidur itu.
Hanya gara-gara buah-buahan itu?
Bukan begitu.
"Suatu hari nanti, dia akan menemukan obat tidurku."
"Lalu dia akan tahu, betapa aku ingin segera mati."
Aku ingin kau menemukannya, lalu menyesal.
Itulah kenapa aku menyimpan obat tidur, meskipun aku tidak pernah mau mati.
Untuk membuatmu sakit hati.
Kim Sang Shik-nim, waktunya untuk pindah kamar.
Kenapa, tiba-tiba?
Masa sih... Dia tuh agak pelit kalau soal uang.
Gak mungkin dia sampai ditipu.
Menurutku dia gak pelit soal uang.
Dia sering neraktir teman-temannya.
Dia pelitnya cuma sama kita berdua?
Onni tahu Jiwoo seperti ini?
Mana aku tahu.
Dibanding Chan Hyuk, aku tidak banyak tahu tentang Jiwoo.
Masalah keluarga kita sekarang...
ibarat seperti lemari yang isinya penuh sesak,
dan saat dibuka, isinya langsung tumpah semua.
Kenapa lagi? Ada masalah lain?
Ya.
Eh... Yoon-seobang.
Sedang apa kau disini?
Pasti sulit karena harus berpuasa.
Tidak makan untuk sementara, apa susahnya.
Jadi yang memindahkan aku kesini itu, kau?
Aku tidak keberatan dirawat dikamar...
bersama dengan pasien lainnya.
- Saya memikirkan kondisi Ibu. - Iya, iya betul.
Menantuku memang pengertian.
Enak ya.
Bagaimana kau bisa tahu?
Ibu saya, melihat Ibu di rumah sakit.
Dia mengenaliku tapi pura-pura tidak lihat.
Kenapa tidak beritahu Eun Joo?
Biar nanti kami yang urus.
Kami beritahu dia sesudah operasinya selesai.
Mereka semua akan segera datang kesini.
Kalau Eun Joo tahu Ayah dan Ibu ada disini,
Eun Joo pasti sedih.
Kenapa galak banget ke menantumu?
Ibu mertuamu sedang bad mood karena kondisiku ini.
Kenapa Ayah dan Ibu tidak beritahu kita?
Begitu aku beritahu Ibu tentang perceraianku,
dia bilang itu gara-gara dia yang ingin "lulus".
dan menyalahkan dirinya sendiri.
Konyol sekali.
Jadi sekarang mereka tidak akan beritahu kita...
kalau mengalami suatu masalah...
karena takut membebani kita?
Bukan berarti kita tidak akan tahu. Tapi buat apa memperburuk keadaan?
Kedepannya, mereka harus beritahu kita.
Letak tumornya ada di bagian yang tidak bagus.
Kemungkinan besar Ayah akan mengalami efek sampingnya.
Ayah bisa amnesia lagi.
Penglihatannya jadi lemah.
Atau bisa juga mengalami kelumpuhan.
Aku yakin, Ayah dan Ibu sudah tahu efek sampingnya.
Kita harus temui mereka. Jangan menangis terus.
Mukaku biasa aja kan?
Ibu, Ayah, apa iniiii???
Kita kaget banget tahu gak?!!
Aigu!
Gak apa-apa.
Kalau sakit ya harusnya bilang dong.
Mana si bungsu?
Si bungsu harus ada disini, supaya makin rame.
Dia lagi sibuk ya?
Kemarin dia gak pulang, jadi Ibu telpon, tapi gak diangkat.
Biasanya kalau dia gak jawab telpon, pasti langsung telpon balik.
Si bungsu lagi dinas diluar.
Kapan?
Oh... kerjanya mendadak.
Apa... kemana?
Itu anu...
Kemana ya?
Dia ke luar negeri.
- Apa? - Dia kerjanya ke luar negeri?
Waahh si bungsu sudah besar.
Kalau begitu, jangan sampai dia tahu.
Dia pasti tahu kalau sudah pulang nanti. Jadi, jangan ganggu kerjaan dia.
Dia itu kan anaknya cengeng, dan sayang sama keluarganya.
Kalau dia tahu Ayah disini, pasti langsung balik lagi.
Jangan kasih tahu.
Ya.
Jangan khawatir.
Suk-ssi...
Aku takut...
kalau aku hilang ingatan lagi.
Aku takut kalau aku tidak bisa ingat lagi...
selamanya.
Tidak perlu takut.
Kau bisa lupakan semua kenangan buruk...
dan mengisinya lagi dengan kenangan yang indah.
Kami bawa pasien ke dalam.
Operasinya berjalan lancar.
Waktu operasinya lama, karena letak tumornya ada di bagian yang kurang baik.
Kami sudah melakukan yang terbaik.
Kita tunggu sampai pasien siuman.
Sekarang semuanya tergantung pada pasien.
Terima kasih.
Terima kasih.
Operasinya lancar.
Operasinya lancar, Syukurlah, ya?
Sang Shik-ssi...
Sang Shik-ssi...
- Ayah. - Ayah.
- Ayah. - Sang Shik-ssi...
SANG SHIK-SSI!!!!
Code blue untuk pasien Kim Sang Shik!
Code blue: kode gawat darurat di rumah sakit.
SANG SHIK-SSIII!!!
- AYAH!!! - SANG SHIK-SSIII!!!.
Ayah!!
- Sang Shik-ssi!!!. - Permisi.
Ibu!!
Ibu...Ibu!
Astaga...
Kau kuat seperti batu.
Kau tidak boleh kalah melawan penyakitmu.
Aku hidup sendirian sebatang kara,
tapi kau membuatku bisa berfoto keluarga, untuk pertama kalinya.
dan memanggilku "Ayah". Anak pertamaku.
Yang selalu tersenyum hangat...
seperti mentari di musim semi. Anak keduaku.
Yang membuatku sayang setiap melihatnya. Anak bungsuku.
No comments yet. Be the first to leave one.