نخستین 200 خط.
Aku ingin tanya.
Kau syuting film karena butuh uang
atau karena ingin film-mu ditonton banyak orang?
Tentu saja karena ingin film-ku ditonton banyak orang.
Lalu, kenapa kau tak coba beli barang baru dan upload film-mu di internet?
Karena setahuku, hal-hal aneh di internet bisa mendapatkan jutaan viewers.
Jutaan orang melihatnya?
Oh, benarkah?
Aku rasa aku bisa mencobanya.
Wah, jutaan orang..
Berarti banyak orang yang akan lihat film-ku!
Hei, anakku. Berat badanmu bertambah?
Di Taipei sedang musim dingin, jadi aku harus makan banyak.
Kau kan sudah semakin tua. Perhatikan pola makanmu.
Maksud kami kau cukup tampan.
Kenapa dikamarmu ada suara pria?
Itu suara TV. Aku sedang menonton TV.
Putar kameranya. Ayah ingin lihat.
Cepat.
Aku sudah bilang kan itu cuma suara TV.
Besok Ayah libur , Ayah ingin mengunjungimu.
Jangan. Belakangan ini aku sangat sibuk.
Jangan cemas. Kesehatanmu lebih penting.
Aku lelah sekali. Aku mau mandi dulu. Dah.
Memang tak apa sembunyikan ini dari Ayahmu?
Tidak juga.
Kau ingin aku bicara langsung dengan Ayahmu?
Itu lebih buruk lagi.
Kalau kita yang beritahu, Ayahmu akan menerimanya kan?
Ayahku tak akan menerimanya. Hidupmu bisa dalam bahaya.
Aku rasa lebih baik kita beritahu Ayahku setelah bayi ini lahir.
Setidaknya kau cuma dipukul, bukan mati.
Karena Ayahku tidak ingin cucunya tidak punya ayah.
Oh, benarkah?
Subtitle dari Lovers on the Metro Team @ Viki Diterjemahkan oleh indri danti22
Metro of Love Shotgun Wedding - part 3
Lihat, kaki bayi kita panjang sekali.
Tentu saja, itu karena kaki Ibunya juga panjang. Itu pewarisan sifat.
Aiyo...
Hei, dia mirip sepertiku. Besar sekali.
Ayah me**m sekali.
Kalau aku tidak begitu, anak kita juga tidak akan pernah ada.
Sini.
Aku rasa aku harus cari pekerjaan tetap.
Agar kau dan bayi kita bisa hidup dengan baik. Aku tidak akan syuting film lagi.
Kalau kau ingin syuting, syutinglah.
Soal uang tidak masalah. Kau tidak harus buru-buru mengembalikannya.
Syuting yang waktu itu, aku rasa aku tidak punya bakat di situ.
Makanya aku tidak mau syuting lagi.
Hei, itu cuma kesalahan kecil. Kau ingin menyerah begitu saja?
Aku ini sangat realistis.
Aku sudah syuting film sebelumnya.
Aku rasa sudah waktunya mewujudkan impianmu untuk keluar negeri.
Aku memang ingin sekali pindah, tapi aku tidak ingin membebanimu.
Lakukan saja apa yang harus kau lakukan.
Kau dengar?
Aku akan berusaha.
Hei, memangnya itu kopermu? Sampai harus ditarik segala? Kau mau ke bandara?
Aku tidak bisa membawanya.
Walau tak bisa dibawa, kau tetap harus membawanya. Kalau rusak, kau mau bayar? Dasar payah!
Maaf, tolong beri aku kesempatan lagi.
Semangat.
Hati-hati.
Lin Xiang Hai, upahmu dipotong!
Oh, benarkah?
Pak, kau mencari siapa?
Aku mencari anakku.
Hei, kenapa kuncinya ada ditanganmu?
Aku dan pacarku tinggal di sini.
Kau tinggal dengan pacarmu?
Iya. Untuk menghemat uang.
Aku sudah pernah ditendang 3 pemilik kontrakan, makanya dia mengijinkanku tinggal.
Aku mengerti.
Untung saja anakku tidak punya pacar.
Punya pacar seperti ini, sudah membuatku muak.
- Apa Bapak Ayahnya Xiao Xian? - Bukan.
Nama pacarmu siapa?
Xiao Xian.
XIAO XIAN?!!
Dasar kurang ajar! Kau ini sedang mabuk?
Tanpa seijinku, kau berani berhubungan dengan anakku?
Tunggu...
Oh, Xiao Xian ini! Gadis mengerikan! Berani sekali dia.
Kau cuma bisa menghasilkan uang sedikit tapi menganggap dirimu hebat.
Lihat bajumu.
- Kau membuatku semakin marah. - Tunggu. Tunggu.
Kita bicara didalam, oke? Kita bicara didalam.
- Cepat! - Iya.
- Berdiri yang benar! - Baik.
Pekerjaanmu apa?
Sutradara.
Sutradara? Kau pernah garap film apa?
Cuma... film-film indie. Aku tidak punya banyak penghasilan.
- Apa itu film por**? - Bukan.
Aku garap film epik.
- Di keluargamu masih ada siapa? - Ibuku.
- Ibumu kerja dimana? - Di toko roti.
Kau dibayar berapa?
- Sekitar 8 dolar. - Tidak apa, kau kan sutradara. Pasti uangmu sudah banyak.
Tapi gajiku cuma 8 ribu - 9 ribu dolar TWD.
Apa? Cuma 8 ribu - 9 ribu dolar TWD?
Uang dari hasil penjualan babiku bahkan lebih besar dari gajimu.
Sepertinya Xiao Xian mewarisi sifat ini darimu.
Xiao Xian memang mewarisinya dariku. Lalu kenapa?
Dia nendang begini atau begini?
Penelope.
Ini untukmu.
Ini untukku?
Baunya enak! Kau yang memasak?
Ayahmu datang ke sini.
Kau sudah pulang?
Ayah.
Kau baik-baik saja. Syukurlah, kau masih ingat Ayahmu.
Kau bahkan tinggal dengan pria seperti ini.
- Kalau Ayah tidak mengunjungi... - Dia sudah tahu.
Paling tidak, kita harus coba bertahan hidup malam ini.
Ayo. Ayo. Ayo. Makan.
Lepas dulu jaketmu kalau mau makan.
Anakku, kau semakin gendut. Kau harus hati-hati.
Aku kan sudah bilang belakangan ini aku banyak makan.
Oh. Ayo. Makan. Makan.
Kapan kau akan pindah?
Aku tak berencana untuk pindah.
Kau ini tinggal dengan dua wanita.
Aku tidak yakin.
Ayah, dia tinggal di sini tidak gratis. Kenapa memaksanya pindah?
Aku sudah lihat dengan jelas.
Hal ini sama seperti daging babi ini.
Yang ditinggalkan terlalu lama, kemudian jadi basi, membusuk dan dipenuhi belatung.
Belatung itu akan bergantung padamu dan pelan-pelan akan menggerogotimu. Saat kau sadar, semuanya sudah terlambat.
Paman, jangan cemas. Aku akan jaga Xiao Xian. Aku akan tanggung jawab.
Diam kau!
Gajimu cuma 8 ribu - 9 ribu dolar TWD. Bagaimana kau akan tanggung jawab? Kau ingin dipukul?
Ayah. Kalau Ayah tidak terbiasa, habiskan makanan Ayah lalu pulang.
Kenapa kau bersikap seperti ini pada Ayah?
Kau menginginkan pacarmu bukan Ayahmu sendiri.
Aku bukan tidak menginginkan Ayah.
Tapi karena dia adalah ayah dari anakku.
Kau hamil?!
Aku bukan tidak menginginkan Ayah.
Tapi karena dia adalah ayah dari anakku.
Kau hamil?!
Ya Tuhan! Kau bahkan belum menikah.
Hancur sudah semuanya. Kepalaku semakin sakit.
Hei, kau tega sekali.
Kau tak beritahu Ayah kau sudah punya pacar.
Kau tak beritahu Ayah kalau kalian tinggal bersama.
Kau bahkan tidak ingin beritahu Ayah kalau Ayah akan punya cucu?
Duduk.
- Kapan kalian nikah? - Kami sudah direstui?
Semuanya sudah jadi begini!
Kau sendiri?
Ini cara yang sangat bagus. Jadi kami tidak perlu menikah.
Kalau bukan karena bayi itu,
aku pasti akan membalikkan meja ini.
Makan. Makan. Makan. Jangan biarkan anakmu kelaparan.
Anak muda, malam ini minumlah denganku.
Baik.
Anak buruk,
anakku itu punya perawakan bagus.
Dia juga punya karir yang bagus dan berprestasi.
Aku tidak mengerti
kenapa dia mau pacaran dengan pria miskin sepertimu?
Karena dia suka kopi yang aku buat.
Kopi?
Kau bisa saja beli kopi ditempat lain. Kau tidak pantas untuknya.
Aku membuatnya dengan cinta.
Itu bukan karena kau membuatnya dengan cinta,
tapi karena kau beruntung. Aku mengerti.
Kalau kau menikahi anakku,
aku akan beri rumah
dan sebidang tanah sebagai maharnya.
Tidak, aku akan bergantung pada diriku sendiri.
- Ahhhhhh! - Anak buruk ini!
Aku sudah bicara baik-baik.
Tapi rupanya kau tidak tanggapi kata-kataku.
Beraninya kau! Padahal kau sudah buat anakku hamil.
Aku tidak akan balas dendam karena hal ini. Kau melakukannya lagi.
- Kau mau nikahi anakku atau tidak? - Mau. Aku mau. - Kau setuju?
Ayo minum.
Bangun! Bangun!
- Pagi, Paman. - Ayo cepat bangun.
- Hari ini aku ada iklan. - Iklan apa?
Jangan biarkan Xiao Xian tahu. Ayo. Ayo. Bangun. Bangun.
Cepat. Cepat. Ganti bajumu.
Ini adalah hari yang sangat penting.
Bangun! Bangun!
Xiao Xian, menikahlah denganku.
Terima! Terima! Terima!
Terima! Terima! Terima!
Terima! Terima! Terima!
Hei, aku tidak mengerti.
Padahal cuaca hari ini cerah sekali.
Kenapa Xiao Xian tidak menerimanya?
Mungkin karena pakaiannya terlalu jelek.
Merah itu keindahan dan kebahagiaan.
Aku rasa itu karena kau punya wajah pembawa sial.
Melihat wajahmu saja, Xiao Xian tidak mau menerima lamaran ini.
Paman. Jujur saja. Dalam keadaan begini, aku rasa tak semua wanita mau menerima lamaran ini.
Yang benar? Padahal aku sudah habiskan banyak uang.
No comments yet. Be the first to leave one.