نخستین 200 خط.
Buried Hearts
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF.
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM SITUASI AMAN.
Bisa beri kami waktu sebentar?
Melihatmu akan menikah,
rasanya kini aku sanggup menghadapi Sunho.
Memang selama ini tidak sanggup?
Kau menikahi istri sahabatmu tepat setelah dia mati.
Jadi, kukira kau tak pernah merasa bersalah atau malu.
Kita hanya perlu memasuki tempat acara seperti ini.
Sesuai keinginanmu dan kakekku,
yaitu Ketua Cha Gangcheon,
aku tak akan menghancurkan pernikahanku
dengan keluarga jaksa ini.
Namun, jawablah satu hal saja.
Apa ayahku benar-benar mati kecelakaan?
Eunnam, aku tak membunuh…
Ayahmu, Yeo Sunho.
Itu yang ingin kau tanyakan, 'kan?
Soal apakah aku membunuh ayahmu.
Kami mengalami kecelakaan.
Sunho yang kurang beruntung mati.
Sementara aku selamat.
Hanya itu.
Aku juga punya pertanyaan.
Soal Seo Dongju.
Apa kau sungguh bisa mengakhirinya?
Bisa gawat jika dia menahanmu setelah tahu kau pewaris Daesan.
Bagaimana kau tahu soal itu?
Apa Ibu dan Kakek juga tahu?
Ibumu tahu.
Aku belum beri tahu kakekmu.
Cucunya yang sudah bertunangan tinggal bersama pria lain?
Itu bukan topik yang pantas dibahas dengan mertua.
Aku yakin kau paham sifat Dongju.
Dia tidak akan menahanku.
Bagaimana bisa kau jatuh dan berakhir memar di pipi begitu?
Kau tampak seperti habis dipukul.
Ini…
Aku sedang mencuci tangan dan wastafelnya basah.
Aku bertumpu untuk becermin, lalu terbentur.
Begitulah, Bibi.
Konon hari pernikahan tak akan mulus.
Kini kau sungguh terbentur hingga wajahmu memar.
Astaga. Coba kemari.
- Astaga. - Buka mulutmu.
Bagaimana kau akan menghadapi mertuamu?
Lalu bagaimana kau akan hadapi ibumu setelah kau mati nanti?
Astaga, Bibi.
Kenapa berpikir sejauh itu?
Aku yakin Ibu tersenyum dari atas
karena menyukai menantunya.
Hei, kau begitu menyukainya?
Sebesar itu?
Dongju,
saat kau membaca pesan ini,
aku pasti sudah menikah.
Pastikan kau membalas dendam
dengan menggandeng tangan wanita lain.
Hatiku pasti tercabik karena cemburu,
tapi akan kuterima.
Ketua Cha ingin bertemu.
Berjanjilah tak membuat keributan.
Baru kau boleh menemuinya.
Minggir.
Dia tumbuh tanpa ibu,
jadi punya banyak kekurangan.
Tolong dipahami.
- Profesor Yeom. - Ya, Kak.
Kerendahan hati yang berlebihan tidak bagus.
Sebagai pamannya, aku bisa jamin
Huicheol adalah pengantin pria istimewa, bukan hanya di kalangan jaksa,
melainkan di dunia hukum.
Bukankah begitu?
Ya.
Upacara pyebaek sudah siap?
Staf akan memberi tahu jika semua sudah siap.
Bagus.
Kau…
Kau jalang luar biasa.
Apa kau tahu itu?
Kau benar.
Aku tidak butuh jam tiruan ini lagi. Ambillah.
Ini asli.
Seo Dongju.
- Berhentilah dari Daesan. - Hei, Yeo Eunnam.
Bersikaplah sewajarnya.
Kau bangun di kasurku pagi ini, lalu menikahi pria lain siang harinya.
Kau menipuku dengan berkata jam ini palsu. Apa itu belum cukup?
Aku tak akan meninggalkan Daesan. Paham?
Huh Ildo tahu soal hubungan kita.
Dia bahkan tahu aku menyembunyikan identitas darimu.
Cheon Guho yang mengusirku dari pernikahanmu.
Dia bekerja di bawah Yeom Jangseon.
Tampaknya Ketua Cha belum tahu.
Jika tahu, dia tidak akan menyuruhku menyiapkan acara pernikahanmu.
Apa kau pernah
memiliki niat menikahiku sedikit saja?
Tidak.
Aku bahkan berniat melamarmu hari ini tanpa tahu apa-apa.
Aku akan melamarmu, tapi kau malah menikahi pria lain.
Pernikahan ini mendatangkan banyak saham untuk Daesan.
Inilah pernikahan yang kumau.
Sepenting itu sampai kau rela menikahi pria yang bahkan tak kau cintai?
Bukankah aku yang kau cintai?
Pernikahan yang kuinginkan tidak butuh cinta.
Pakai saja jam itu.
Aku lebih tak ingin orang melihat tato di tanganmu.
Coba kulihat.
Hei, sekarang sudah sempurna.
Kapan kau sampai?
Sudah lama.
Kau tidak demam, tapi terlihat lelah.
Ada apa, Stephanus?
Aku baik seperti kau lihat.
Melihat bunganya, sepertinya ini untuk Pentakosta.
Kukira kau tak peduli soal gereja,
tapi kau mengingatnya?
Wanita yang tinggal bersamamu… Namanya Eunnam, 'kan?
Kapan akan kau kenalkan?
Aku dicampakkan.
Sudah kubilang, 'kan?
Jangan terlalu percaya diri dengan penampilanmu.
Sulit untuk tak percaya diri dengan wajah begini.
Wanita itu pasti sudah gila.
Dia mencampakkan Dongju yang tampan ini?
Suster Agnes!
Tak apa. Tuhan pasti memahami.
- Kau mau aku memakinya? - Biar aku yang memaki.
Kau doakan saja.
Karena aku sudah tak mau.
Gantikan aku mendoakannya.
Agar dia tetap sehat
dan hidup dengan baik.
Baiklah.
Kau boleh memaki sepuasmu.
Aku akan…
Berdoa untuk Eunnam.
Seo Dongju!
Stephanus!
Ambil ini.
Masukkan ke dalam teh dan minum selagi hangat. Ini enak.
Kalau memang enak, minumlah sendiri.
Ayolah. Setengah tubuhmu milik siapa?
Milikmu.
Aku pamit.
- Jangan lupa makan. - Ya, baiklah.
Kau harus meminumnya.
KETUA CHA PANGGILAN MASUK
Ya, Ketua Cha.
Brankas minuman sudah kosong, Direktur Seo.
Baik, akan kuisi.
Huh Ildo tahu soal hubungan kita.
8 TAHUN LALU
Halo, Pak.
Aku dihubungi saat main golf, jadi sama sekali tidak fokus.
Tak ada dasi?
Astaga.
Ketua Cha tidak suka pebisnis yang tak memakai dasi.
Katanya kurang berkelas.
Aku pasti diomeli lagi.
Lebih baik aku yang diomeli.
Jadi, kau penemu kesalahan di laporan keuangan Daesan Energy?
Berapa banyak mereka berusaha menipuku?
LAPORAN PEMERIKSAAN TERKAIT DATA IMPOR DAESAN ENERGY
Ya, Ayah.
Suruh Ildo menemuiku.
Tunggu.
Direktur Choi tak suka telur mentah. Kenapa dua gelas?
Kau tahu cara memakannya?
Aku belum pernah coba.
Akan kucoba.
Ini telur premium.
Ya?
Kau melihatku menekan sandinya, 'kan?
Apa?
Maafkan aku.
Bukalah dan ambil isinya.
Aku tak mungkin membuka brankasmu.
Jika kau bisa membukanya,
maka hanya kau dan aku yang tahu sandi brankas minuman itu.
Bukankah itu menarik?
Sudah kubilang,
dia punya memori fotografis dan akan ingat segala yang dilihat.
Ini.
Dengan meminum ini, siapa yang butuh ginseng?
Aku datang, Ayah.
Kau boleh pergi.
Kau sudah bekerja keras untuk audit.
Aku sudah mendekorasi kamar pengantin di lantai dua.
Kenapa diminta melakukannya lagi?
Untuk apa menghabiskan malam pertama di kamar tamu?
Astaga, sungguh.
Tunggu.
Begitu rupanya.
Kurasa mereka ingin jauh dari yang lain.
Menghabiskan malam panas bergairah tanpa terganggu siapa pun.
Cukup.
Baik, aku akan diam.
Astaga!
No comments yet. Be the first to leave one.