نخستین 200 خط.
KING THE LAND
Kau masih marah?
Maafkan aku. Aku tak akan mengulanginya.
Kau tahu apa salahmu?
Tentu saja. Maafkan aku.
Maaf karena apa?
Semuanya.
Aku minta maaf apa pun salahku.
Lupakan saja.
Apa pun salahmu, kau pasti mengulanginya.
Aku sudah tak berharap padamu.
Aku tak akan mengulanginya
dan akan lebih memperhatikanmu.
Bagaimana kalau kita berlibur
setelah aku tak sibuk sekitar dua atau tiga pekan lagi?
Kau ingin ke Gangneung, 'kan?
Benar, ke Sokcho.
Ya, Sokcho.
Kau ingin makan jang kalguksu di sana.
Sujebi kentang.
Itu dia.
Ikut denganku, ya?
Aku ingin bicara. Ayo pergi ke tempat tenang.
- Bicara soal apa? - Kita bicarakan di sana.
Tidak bisa dibicarakan di sini saja?
Kenapa?
Aku ada janji dengan anggota klub.
Ini janji penting.
Jadi,
alih-alih meredam amarahku,
kau mampir hanya agar bisa tenang bertemu teman.
Jangan bilang begitu.
Aku sengaja menunggumu dan mengundur janji itu.
Aku sudah berusaha memaklumimu karena manusia itu berbeda
dan ingin berupaya maksimal sebab aku yang memilihmu.
Namun…
kurasa toleransi tak pantas untuk kau yang tak menghargaiku.
Kau tak berhak mendapat pengertianku.
Baiklah.
Biar kuberi tahu mereka aku terlambat. Kita makan dahulu.
Gimbap saja yang simpel, ya?
Ayo.
Kenapa? Kau tak mau makan gimbap?
Kita putus.
Aku merasa bersalah pada diriku karena masih memacarimu.
Apa maksudmu?
Konon pasangan bisa hancur
bila kita terus mengalah.
Kurasa aku telah menghancurkanmu.
Aku sudah kemari demi kau,
tetapi kau egois, enggan mendengarkanku.
Sebentar.
Halo. Semua sudah kumpul?
Kalian minum dahulu saja.
Tidak, sebentar lagi beres. Aku segera ke sana.
Ada sedikit masalah.
Sebentar saja. Tunggu.
Terserah pesan apa. Lagi pula, kita patungan.
Nanti kuhubungi lagi.
Sa-rang!
Sa-rang!
Tunggu!
Jangan bilang…
aku sedang cemburu
atau semacamnya?
Aku cemburu?
Cemburu?
Tidak masuk akal.
POLISI
Dilarang buang sampah di jalan raya.
Perlihatkan SIM-mu.
Ini.
Pak, tolong ambil barangmu.
Tolong buang ini.
Tugas kami bukan membuangkan sampah.
Maaf.
Kau beli itu untuk pacarmu?
Bukan.
Melihatmu membuang hadiah,
tampaknya terjadi sesuatu.
Itu tidak benar.
Contohnya, wanita itu punya pria lain.
Kami bisa menebaknya dengan jelas
sebab ini sering terjadi.
Dia pasti cantik.
Ya,
benar.
Dia
sangat cantik.
Murah senyum pula.
Itu bagian dari pekerjaannya.
Cantik dan murah senyum.
Kau bisa takluk oleh wanita semacam itu saat lengah.
Jadi, jangan lengah dan segera mantapkan hatimu
sebelum terbuai harapan palsunya.
Dia bukan orang macam itu.
Kau sudah terbuai.
Lupakan.
Lupakan tilangnya.
Ambil ini. Kau boleh pergi.
Kenapa?
Bereskan proses tilangnya.
Aku kasihan kepadamu.
Kau tak perlu keluar uang. Belilah miras, dan sadarkan dirimu.
- Paham? - Kau salah paham.
Kau pria, kenapa lemah sekali?
Aku tahu karena sering menjadi korban…
Lupakan.
Kau tak akan sadar meski kuceritakan.
Pergilah.
Biarkan dia mempermainkanmu.
Kau harus mengalaminya agar menyesal.
Saat itu, kau akan ingat aku.
Kau boleh pergi.
Astaga.
Silakan pergi.
Pergi!
Dengar perkataanku baik-baik.
Kau sudah menemui berapa orang?
Bertemu orang?
Berpacaran.
Aku sibuk.
Baiklah.
Kau tak pernah punya pacar
dan kelihatannya banyak uang.
Maka, kau adalah sasaran empuk.
Benar, 'kan? Yang membuatmu gila
adalah kau pun tak paham akan perasaanmu.
Kau bingung apa kau benar-benar menyukainya,
sekadar penasaran,
atau sedang jatuh cinta.
Benar, 'kan?
Kenapa aku bisa tahu?
Wanita pujaanku pun sangat cantik.
Wajahnya penuh cinta.
- Cinta? Sa-rang? - Apa kau…
tahu lagu ini?
Mata, hidung, dan bibirmu
Belaian tanganmu saat menyentuhku
Semua, hingga kuku mungilmu
Aku tak sanggup melupakannya
dan merasa sanggup mati puluhan kali demi dirinya.
Aku menyesal tak merebutnya.
Mestinya aku berteriak, "Akulah kekasihmu, bukan pria itu!"
Namun, sejak aku meragu
dan berpaling hari itu…
hari-hariku terasa bagai neraka.
Semangat.
Astaga.,
Apa-apaan ini, di depan orang yang baru kukenal?
Sampai jumpa!
Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Anda akan dialihkan…
PAENG
PANGGILAN TERAKHIR
NENEK
NENEK
Halo, Nek.
Tentu sudah makan. Ini sudah malam.
Nenek sudah makan?
Besok aku ke sana besok?
Ya, aku libur.
Aku ingin makan masakan Nenek.
Tentu, masakan Nenek itu yang terbaik.
Ya.
Aku paling suka makanan Nenek.
Nenek mau makan sesuatu?
Besok kubelikan.
EPISODE 4
SEMUR KEPALA SAPI GUKBAP
Menantuku,
kami minta dua botol soju.
Ya, sebentar kuantar dua botol soju.
Astaga.
Soju-nya pasti lebih enak karena diantar oleh menantuku.
Ini yang terakhir, ya?
Lekas habiskan, lalu tidur.
Buat apa tidur? Kita bisa puas tidur saat mati nanti.
Kau bahas itu lagi.
Sedikit saja, ya?
Menantuku, minta kkakdugi yang banyak.
Baik, kuambilkan kkakdugi.
Sudah dibawakan Nenek.
Kenapa cucuku
kau panggil
menantu?
Astaga, aku memanggil menantuku yang baik hati.
Kenapa malah nenek jahat yang datang?
Masa bodoh.
Padahal kalian tak punya putra.
Awas kalau kalian panggil cucuku menantu lagi.
Kalian bahkan tak punya anak laki-laki.
Paham?
Menantuku,
- minta sebotol arak beras. - Kau…
Ya, menantu siap siaga.
Dasar kau ini.
Ini dia.
Kau
tidak sedang ada masalah, 'kan?
Tidak ada.
No comments yet. Be the first to leave one.