نخستین 200 خط.
SERIAL NETFLIX
KIM HYEON-JOONG
MOON SE-HOON
SHIN JI-YEON
KIM JUN-SIK
KANG SO-YEON
CHOI SI-HUN
AN YEA-WON
SONG JI-A
OH JIN-TAEK
PULAU NERAKA
Hyeon-joong, mau olahraga?
- Ayo! - Kami mau bermain tangkap bola.
- Bagus. Ya! - Bagus.
- Aduh. - Ya ampun.
- Sampai jumpa. - Kau kuat.
Jangan pergi!
Hei!
Kau ahli lari, 'kan?
Hanya pelari cepat yang tertinggal di sini.
Kira-kira, bagaimana perasaan kedua pria itu?
Kalau Kyuhyun ada di posisi itu, bagaimana perasaanmu?
- Jika aku jadi… - Moon Se-hoon.
Mungkin di dalam hati ini, perasaanku sudah runtuh.
- Ya. - Jika aku di posisi Se-hoon.
Itu pasti. Cintanya bertepuk sebelah tangan
- Dia terus memberikan perasaannya, - Ya.
tapi tak pernah dapat jawaban. Dia pasti akan berkecil hati.
Seberapa pun percaya dirinya orang, jika terus ditolak, dia tak punya pilihan
- selain berkecil hati. - Ya.
Bagaimana tipe ideal Ji-yeon?
- Siapa? - Ji-yeon.
Pria pendiam, tangguh,
- dan bisa diandalkan. - Bisa diandalkan?
Kurasa seperti itu.
Kalau memang begitu, dia bisa merasa Jin-taek sangat memesona.
Itu benar.
- Teman yang makin lama makin memesona. - Benar.
Meski aku tidak mengetahui banyak hal tentang Ji-a,
tapi setelah mengobrol dengannya sambil makan siang
dan mengobrol dengan menatap matanya,
aku merasa sifat dan selera yang dimiliki Ji-a adalah tipe idealku.
Wanita berkarisma
yang pendirian teguh.
Namun, sebaliknya aku lebih penasaran tentang Ji-yeon.
- Kenapa? - Sangat berbanding terbalik.
Dia memiliki sifat…
Yang belum pernah kau alami sebelumnya?
Ya, aku tidak memiliki kesempatan untuk menemui wanita seperti itu.
Aku tahu kalau dia
tidak memiliki selera yang kusukai, dan tidak memiliki sifat yang kusukai.
Aku tahu dia sangat cantik. Dia cantik, putih, dan murah senyum.
Namun, setiap orang memiliki pemikiran
seperti, "Dia bukanlah tipe idealku."
Dia berbanding terbalik denganku.
Namun, melihatnya berbicara, justru…
Dia tak pasif?
Sebaliknya, dia wanita yang kuat.
Sebaliknya?
Ketika dari luar dia terlihat sangat lemah lembut,
kita jadi berpikir, "Rupanya begini sifatnya."
Aku yakin itu bukan sifat aslinya.
- Dia sangat kuat. - Ya.
Wanita yang tidak mudah…
- Terpengaruh omongan orang lain. - Benar.
Dia wanita yang sangat kuat, lebih daripada yang kau pikirkan.
- Itu yang kurasakan. - Begitu, ya.
Kalau begitu,
- menurutmu… - Ya?
Barusan, aku memanggil Ji-yeon
- dan berkeliling bersamanya. - Ya.
Kami pun mengobrol selama perjalanan.
Aku sudah jelas mengekspresikannya.
Kataku aku ingin mengobrol lebih banyak dan mengenalinya lebih mendalam.
Saat mendengar itu, aku melihat Ji-yeon serasa,
"Aku tidak begitu tertarik padamu."
Hal terburuknya adalah dia tak menyukaimu.
- Ya. - Namun, jika bukan begitu,
dia merasa sudah cukup mengobrol denganmu
dan ingin mengobrol lebih banyak dengan Jin-taek.
Itu pendapatku.
- Aku melihatnya seperti itu. - Jadi, bisa terlihat seperti itu?
Tentu.
Kupikir juga begitu.
Itu hanya pemikiranku saja.
Benar. Aku tahu itu yang kau pikirkan.
Ini sungguh yang pertama kali kurasakan. Aku merasakan kepahitannya.
Ya.
Sejujurnya,
kemarin aku pergi ke Pulau Surga bersama Ji-a,
dan merasa senang.
Namun, aku mengatakan ini kepada Ji-a.
"Bukankah lebih baik jika kita bisa mengobrol dengan yang lain
- selama masih ada waktu?" - Ya.
Setelah itu, hari ini, dia pergi lagi bersama Si-hun.
Di sisi lain, aku sedikit merasa sedih.
- Itu mengusikmu, 'kan? - Tentu.
Entah kenapa ini membuatku gugup. Kenapa hari ini begitu gugup?
Bagaimana kondisi tanganmu?
Tanganku? Tidak apa-apa.
Kau terlihat bahagia sekarang.
Sekarang…
perasaanku sangat senang
seperti sedang mabuk? Kau paham maksudku, 'kan?
Seperti sedang mabuk?
Ya, perasaan seperti sedang mabuk.
- Seperti itulah. - Apa kau mabuk karena aku?
Itu benar.
Kau sangat memahamiku. Aku memang seperti itu.
Namun, aku menjadi begini
setelah masak bersama denganmu.
- Padahal aku… - Kenapa?
sangat malu menatapmu, tapi kau terus mengajakku mengobrol.
Akan aku coba menyalakan apinya.
- Kau tahu caranya? - Aku belum pernah mencobanya.
- Aku pasti bisa. - Kau pasti bisa melakukannya.
- Panas! - Gawat.
Hati-hati.
- Kau tak apa? - Ya.
- Kau kena luka bakar? - Aku terluka.
Momen itu membuatku sangat berdebar.
Begitu, ya.
- Saat memasak bersama… - Masak bersama?
Saat itu aku kehilangan akalku.
- Itu alasan tanganmu terbakar. - Tanganku terluka.
- Aku… - Akan kutemani kau perawatan laser.
Untuk luka ini?
Kau mau menemaniku?
Kau mau menungguku?
Aku juga penasaran soal pertemuan pertama kita.
Aku merasa sangat berdebar.
Aku benar-benar tidak bisa menatapmu.
Namun, seingatku, kita pernah bertatapan mata
sekali.
Kau mungkin tidak mengingatnya, tapi aku ingat pernah sekali menatapmu.
- Tidak terlalu panas, 'kan? - Tidak, aku sangat kepanasan.
- Hanya akan tambah panas. - Ini gila.
Bagaimana pandangan pertamamu saat itu?
Kukira kau tidak memandangiku.
Tidak. Aku sering sembunyi-sembunyi memandangimu.
Jadi, kau memperhatikan orang secara sembunyi-sembunyi, ya?
Aku sangat menyukai perasaan itu.
Rasanya seperti cinta yang tak terbalas.
- Kau tahu? - Sungguh? Haruskah pergi? Aku?
Tidak. Aku sangat senang.
Astaga, Ji-yeon bukanlah orang yang seperti itu.
Namun, yang jelas, dia lebih banyak mengekspresikan perasaannya
dibandingkan saat datang bersama Ji-yeon.
- Dia sangat berdebar sekarang. - Ya.
- Namun, dia tenang, saat bersama Ji-a. - Benar.
Namun, di sini, kita serasa bisa mendengar suara detak jantungnya.
- Kita merasakan perbedaan yang jelas. - Ya.
Karena selama ini aku belum bisa menyimpulkan perasaanku.
Apa karena orang ini sangat cantik sehingga aku tidak berani menatapnya,
atau apakah ada sesuatu yang membuatku berdebar
setiap kali bertatap mata dengannya?
Jantungku berdebar kencang.
Kau berdebar, Oppa ?
Ya.
Kau banyak bicara saat kita berdua.
- Ya, 'kan? - Ya.
Saat bersama orang yang sudah akrab denganku,
tingkat ketegangan dalam diriku menjadi berubah.
Jika bersama wanita yang kusukai, aku makin banyak menunjukkan perhatianku.
Aku juga akan makin perhatian.
Aku hanya perhatian pada pacarku.
- Sungguh? - Ya, tidak ada yang tahu.
Menggemaskan.
Apa itu juga menggemaskan untukmu, Oppa?
Nanti kau bisa pingsan.
Ya.
Ji-a sungguh luar biasa.
Dia pandai membuat orang terpikat.
Ya.
Padahal aku sudah beberapa kali mengirimkan sinyal padamu melalui mata.
- Melalui mata? - Ya.
Oppa , kau harus memandangi mataku dengan baik.
- Begitu, ya? - Aku wanita yang berbicara dengan mata.
Aku pun mulai merasakannya perlahan.
Yang pasti, aku sendiri bisa merasakan perbedaan
antara aku yang kemarin dan aku yang sekarang.
- Begitu, ya. - Kurasa begitu.
Bagaimana denganmu?
Aku yang kemarin dan sekarang?
- Ya. - Aku juga sangat berbeda.
- Sungguh? - Ya.
Maka aku akan berpikir positif.
Kau imut.
- Mari bersulang. - Bersulang.
PULAU SURGA AN YEA-WON & KIM JUN-SIK
Untuk merayakan keberhasilan kita keluar dari Pulau Neraka dan masuk ke Pulau Surga
Kita sudah bekerja keras.
Kita sudah bekerja keras.
Ini sangat enak.
Inilah rasanya Surga.
Enak sekali. Ini sungguh enak.
Aku tak tahan untuk tak tersenyum.
Melihat makanan ini, aku jadi teringat sesuatu.
- Kau tentara juru masak, 'kan? - Tentara juru masak?
Memangnya bukan?
No comments yet. Be the first to leave one.