نخستین 200 خط.
ZainuddinAri
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
ZainuddinAri mempersembahkan
Umar bin Khattab
Episode 3
Mana Abu Bakar, Usman, Abu Ubaidah
atau Abdurrahman bin Auf?
Kita hanya tahu pengikutnya adalah kaumnya yang melindunginya.
Karenanya, mereka menyiapkan untuk mengumumkan agamanya.
Bagaimanapun juga, mereka orang arif dan bijaksana, seperti yang kita pikirkan.
Bagaimana kita melindungi budak, pelayan kita dan siapa saja yang tak bijaksana?
Abu Walid.
Apa Muhammad mengatakan bahwa apa yang ia katakan adalah untuk dirinya sendiri?
Seperti Waraqah bin Naufal
dan Zaid Ibn Amr bin Nafil lakukan, hal seperti itu takkan masalah.
Kita akan membiarkannya.
Tapi ia menyatakan bahwa ia nabi, Rasulullah,
ditugaskan untuk menyampaikan peringatan. Siapa yang taat maka ia aman.
Siapa yang taat maka ia aman. Dan siapa yang ingkar maka ia mencelakakan dirinya sendiri.
Siapa saja yang mengikutinya tak menaati kita.
Demi Latta, ini bukan kata-kata yang mudah dikatakan lalu hilang begitu saja,
lalu kembali lagi menaati apa yang kita katakan.
Saat ia mengingkari berhala kita, ia memberontak kepada kita.
Saat pengikutnya bertambah, jumlah kita berkurang,
sampai kita kehilangan posisi kita dan tak memiliki kendali atas mereka.
Apa kita akan membiarkannya sampai tak bisa mengatasinya?
Kau lama sekali bawakan kita minum, Bilal.
Aku tak bisa mendahulukan yang muda sebelum para tetua.
Kita lebih butuh minum daripada tetua
yang tulangnya sudah kurus dan hilang kekuatannya.
Hus! Mereka mungkin bisa dengar.
Apa kau masih takut pada ayahmu?
Ya, sampai ia meninggal.
Kenapa kaubiarkan budaknya Jubair bin Mut'im mengalahkanmu kemarin?
Wahsyi?
Ia lebih kuat dariku. Kalau aku menang, mungkin hanya dalam mimpi.
Hidup ini akan jadi terbalik.
Benar sekali, kau bisa saja duduk dengan para tetua,
menjelaskan pendapatmu dan juga apa yang harus dilakukan terhadap Muhammad.
Bisa saja mereka setuju denganmu.
Apa kau menginginkannya, Bilal?
Sangat mudah bagi seseorang untuk melihat keinginan orang lain,
tapi mereka tak akan beranggapan begitu.
Apa yang bisa kulakukan kalau itu terjadi?
Kewajibanku sebagai budak, memberi susu domba, mengurus unta,
membawa air dan menemani kalian saat berkumpul.
Kau 'kan pandai dalam permainan tombak dan juga pandai dalam hal ini.
Kau bisa memberikan apa saja yang kita butuhkan.
Kehidupan akan jadi tak wajar kalau semuanya sempurna.
Kalau begitu, setiap orang tak akan membutuhkan yang lain.
Aku tak menyangka ia sangat bijaksana.
Ia bisa saja lebih berharga daripada pandainya ia dengan tombak.
Budak dengan kecerdasan lebih bahaya daripada budak dengan tombak.
Kau sudah menyebutkan hal yang pasti dan mengabaikan yang lain.
Kau menyebutkan Quraisy tapi bukan seluruh Arab.
Padahal kautahu bahwa banyak di antara mereka iri dengan posisi, harta dan kekuatanmu.
Mereka menerima kepemimpinanmu karena kekuasaanmu saja,
dalam agama yang kita anut,
dan kesucian Kakbah dengan kau sebagai penjaganya.
Muhammad menyatakan pesannya untuk seluruh manusia,
tapi ia mulai dengan sahabat dan keluarganya.
Tinggal menunggu waktu sebelum ia menjadikan dirinya bagian dari suku Arab lain.
Sebagian mereka akan menjadikan ini sebagai kesempatan untuk memberontak.
Ikuti Muhammad dan berperanglah dengan sebagian kekuatan yang kaupunya.
Itu adalah ide yang buruk.
Lagi pula, kenapa Tuhan memilih Muhammad sebagai nabi dan rasul,
padahal ada di antara kita yang lebih kaya dan terpandang?
Ya.
Abu Hakam!
Kalau Muhammad berbohong, ia tak akan menyatakan kenabian kepada orang lain.
Kalau ia mengatakan kebenaran, maka Tuhan memilih siapa yang Dia kehendaki,
tanpa pertimbangan orang lain.
Kau membuat kita bingung, Abu Walid. Kau mau kita mengabaikan Muhammad?
Kalian, para tetua Quraisy, tahu dengan baik
bahwa Bani Hasyim tak akan menyerahkan Muhammad pada kalian
sedangkan mereka tetap dalam agamanya tanpa perlawanan yang sengit.
Kita siap untuk itu.
Jadi kita bisa percepat apa yang bisa kita hindari.
Pemutusan hubungan sanak saudara, perpecahan dan kelemahan,
yang lainnya akan terpengaruh untuk menjauh dari kita.
Apa sudah ada yang mengatakan kalau yang ia katakan itu hanyalah perkataan biasa
dan kita kembali kepada keseharian kita, bukankah itu lebih mudah?
Jadi, apa yang benar-benar ditakutkan dari pesan Muhammad
adalah akibat yang kita sebutkan.
Apa kita akan mempercepat ini, dengan melawannya dengan pedang?
Kalau begitu bagaimana pendapatmu?
Kurasa kita bisa bicara pada pamannya, Abu Thalib.
Tak ada yang mencintai dan lebih baik pada kita sebagai pengikutnya selain Abu Thalib.
Ia senang mereka bersatu.
Ia yang bisa menghentikan Muhammad.
Kalau itu terjadi, kalian dapatkan yang kalian mau.
Bagaimana bisa kau tak setuju dengan pamanmu
dan bilang di depan para tetua Bani Abdi Manaf?
Bukankah tujuan pertemuan ini adalah setiap orang mengeluarkan pendapatnya
agar kita bisa setuju pada tindakan terbaik dengan hasil yang diinginkan?
Yang kaulakukan adalah menunjukkan bahwa pendapatmu lebih baik dari pamanmu.
Apa ini caramu mengabdi?
Masalahnya bukan pengabdian.
Kita mengejar satu tujuan, tapi dengan cara yang berbeda.
Dengan kau merendahkanku di depan Uthbah
dan para tetua Bani Abdi Manaf?
Kita tak berkumpul untuk berkompetisi dalam pendapat, seperti yang kukatakan.
Pertemuan kita adalah untuk menemukan cara agar Quraisy berada di jalur yang tepat.
Aku tak akan menyimpan pendapatku yang pantas untuk dilakukan,
meskipun itu menyetujui pendapat Kaum Bani Abdi Manaf dan tak setuju dengan Paman.
Aku tak setuju dengan Muhammad, bukan karena masalah pribadi.
Semua orang tahu bahwa siapa yang mencelanya adalah pembohong.
Aku tak setuju dengannya bukan karena iri terhadap Bani Hasyim.
Kalau ia termasuk Bani Adiy, aku akan tetap merasakan yang sama terhadapnya.
Ini mungkin pendapatmu, tapi ini bukan pendapat Uthbah,
atau pendapat lain dari Bani Abdi Syams dan Bani Abdi Manaf.
Apa kau tak lihat bagaimana ia gambarkan hal ini sesuatu yang tak terlalu serius?
Ia lakukan ini karena hubungannya dengan Bani Hasyim.
Mereka semua adalah Bani Abdi Manaf.
Meskipun saudara yang dekat bisa saja bersaing untuk kekuasaan.
Setiap orang berpikir kalau ia setara dengan sepupunya, ia takkan dibiarkan memimpin.
Ini selalu jadi masalah antara Bani Abdi Syams dan Bani Hasyim.
Tapi seharusnya Bani Makhzum yang pegang kepemimpinan,
dan kaumnya akan abaikan perselisihan yang lalu,
dan ingatlah, mereka semua termasuk Bani Abdi Manaf.
Kita sudah bersaing dengan Bani Abdi Manaf demi nama besar.
Mereka beri makan orang miskin, kita lakukan hal yang sama.
Mereka bantu orang yang membutuhkan, kita lakukan hal yang sama.
Saat kita bersaing dengan tingkat yang sama layaknya kuda pacuan berlari dengan sejajar,
mereka bilang mereka unggul dalam hal kenabian yang menerima wahyu dari langit.
Kapan kita, sebagai Bani Makhzum, dapatkan penghargaan seperti itu?
Kita tak boleh percaya sedikit pun padanya, meskipun ia bisa menunjukkan berbagai bukti.
Kita akan bermusuhan dengannya selama ia hidup.
Kalau kaumnya, Bani Hasyim, memaksa untuk melindunginya,
kita akan lawan mereka, apa pun hasilnya.
Umar, pelajarilah ini dari pamanmu.
Kulihat sikapmu belakangan, bertentangan dengan pandangan kuat Abu Hakam.
Demi Latta, ia tak marah dengan Muhammad seperti kita,
tapi karena iri terhadap Bani Abdi Manaf,
dengan kedua cabangnya, Bani Hasyim dan Bani Abdi Syams.
Orang ini licik dan bodoh, tapi kuat dan pintar.
Bagiku, tali sepatu Muhammad lebih berharga daripada Abu Hakam,
kecuali fakta bahwa Muhammad sudah tinggalkan kepercayaannya dan mengkritik nenek moyang kita.
Bagaimanapun, apa yang membuatnya cemburu? Kalau ini kejahatan yang kita lihat,
Muhammad sudah menempatkan kita dengan semua orang pada tingkat yang sama,
dimulai dari kaum kerabat yang paling dekat.
Karena Muhammad sudah menyamaratakan termasuk kaumnya atas kejahatan yang ia bawa,
seharusnya itu membuat kita semua kerja sama untuk menghentikannya.
Dalam hal ini kita setuju dengan Bani Makhzum dan seluruh Quraisy.
Hindun benar, Abu Walid.
Laki-laki bersaksi untuk istrinya.
Tak benar suami bersaksi untuk istrinya.
Harus lebih baik seorang ayah kepada putrinya.
Kalau Hindun laki-laki, ia bisa jadi pemimpin kaum.
Dan merupakan kekalahan Abu Sufyan. Ia mengalah pada istrinya tanpa menang sama sekali.
Anak yatim Abu Thalib adalah seorang nabi.
Dan aku, pamannya Abu Lahab, harus mengikuti dan menaatinya!
Kau lebih pantas sebagai nabi.
Benar, aku lebih pantas darinya.
Bagiku, bukti-bukti ini menunjukkan bahwa ia pembohong.
Ini kenyataan, bahwa aku yang seharusnya nabi kemudian diberikan kepadanya.
Hah! Dan tak cukup ia menyatakan dirinya dan berbangga-bangga di depanku.
Dan yang paling parah, ia jadikan kita sasaran empuk bagi semua suku Arab.
Ia dapatkan kelebihan, kita yang menanggungnya.
Apa kau mengingkarinya serta perbuatannya?
Ya. Tentu aku jadi musuhnya yang paling sengit. Quraisy pun mengetahuinya.
Jadi kau diampuni atas kejahatannya.
Ya, diampuni.
Tapi Bani Hasyim, mereka menaati Abu Thalib, bukan aku.
Bisakah kaulihat bagaimana mereka melihat padaku,
seperti melihat unta yang berpenyakit?
Kalau seluruh Quraisy sudah mengampuniku atas kejahatanku,
dan Bani Hasyim mencelaku
karena tak mengikuti keinginan mereka melindungi Muhammad,
maka akan ada orang Arab yang mengatakan
kalau aku bekerja sama dalam menentang keponakanku sendiri,
serta tak memerhatikan ikatan kekeluargaan.
Ini kesalahan besar dalam pandangan semua orang Arab.
Ummu Jamil, kau melihat kesulitanku? Aku yang kalah, bagaimanapun langkah yang kupilih.
Itu karena Muhammad menyusahkanku.
Apa ia tak dipuji? Ya, ganggu ia.
Aku bersumpah, akan kulakukan semampuku untuk gagalkan usahanya.
Aku akan cela dan menghinakannya, sampai orang berkata:
Pamannya bersaksi melawannya kalau ia mengatakan yang benar,
ia seharusnya yang pertama membantu dan membelanya.
Lakukan itu, Abu Mu'attib, Latta dan Uzza bersamamu,
dan aku bersamamu, kau akan lihat apa yang kulakukan terhadapnya.
Ganggu ia! Ganggu!
Saudaraku Umar, senang melihatmu.
Apa kabarmu, Saudariku?
Aku baik selama kau bersama kita.
Kalau kau, Said?
Aku baik, menikmati berkah.
Kau di sini? Kau lebih memilih ditemani saudari dan sepupuku dibanding denganku.
Tak ada yang bisa menggantikanmu, Umar.
Kau mau makan atau minum?
Minum saja.
Bagaimana hasil pertemuannya?
Mereka punya tujuan sama, tapi cara yang berbeda.
Ini bukan pertanda baik untuk Quraisy kalau tetap seperti itu.
No comments yet. Be the first to leave one.