نخستین 200 خط.
Aku amat menyayangkan ... apa yang terjadi pada Kirschblute.
Jreng!
Inilah babi yang habitat aslinya di luar Gran Mule!
Bercandanya jelek, Haruto.
Hm, reaksi kalian kurang mantap.
Seharusnya kalian tertawa, tahu!
Yah, lawakanmu garing, sih.
Eh?
Omong-omong, Anju pergi ke mana, sih?
Sekarang waktunya bergantian buat jatah memasak.
Hari ini Anju dapat jatah mencuci.
Kamu memang serbatahu, ya, Daiya.
Yah, habisnya semua cewek pada pergi, sih.
Kapan mereka pergi?
Kalau tak salah, habis sarapan pagi, sih.
Tapi, sekarang sudah mau tengah hari, nih.
Ah, benar. Mereka lama juga, ya.
Berarti, mereka lagi mandi. Artiannya, sekarang tepi sungai menjadi ...
... surga dunia!
Jangan, jangan! Enggak boleh begitu!
Jadi orang jangan kaku begitu, dong.
Mungkin saja besok kita sudah meninggal, lo!
Haruto, alasanmu itu-itu melulu, lah!
Oke, deh.
Aku enggak bakal lihatin Anju!
Pasti kelihatan, lah!
Maksudku, bukan itu masalahnya.
Aku takkan ikut!
Jangan bercanda ....
Terlepas kita ini kaum adam dan hawa, mereka itu sejawat kita yang berharga!
Mereka sejawat kita yang amat berharga!
Crot!
Segar!
Kaie!
Apa yang lagi kamu lakukan?
Jangan cuman duduk! Main sini, gih!
Yah, habisnya penampilan kita yang seperti ini agak gimana, gitu ....
Apa maksudmu?
Kalau dari sudut pandang lelaki, ini seperti surga dunia.
Hm?
Padahal tinggal ikutan main.
Nah, benar!
Lagian, apa boleh kita main air begini?
Kamu memang selalu serius kalau masalah beginian ya, Kaie.
Tak masalah, 'kan? Toh, cuciannya sudah beres.
Lagi pula, Shin juga sudah tahu dan memberi izin, 'kan?
Untuk soal beginian, dia lumayan pengertian, ya.
Si kapten muka datar itu.
Maaf, ya. Kalau kami kurang peka.
Soalnya hari ini kamu dan Shin enggak ada jatah tugas,
jadi seharusnya kami mencari-cari alasan agar kalian berduaan, ya.
Bu-Bukan begitu!
Aku sama sekali enggak ngarep, kok!
Apa yang kamu suka darinya?
Dari orang yang bahkan tak bisa ditebak isi kepalanya itu?
Sudah kubilang, bukan begitu!
Sama sekali enggak gitu, oi!
Omong-omong, menurutmu bagaimana, Kaie?
Soal Shin, ya?
Hm. Menurutku dia lumayan, sih.
Aku suka sisi pendiam dan penyabarnya.
He-He-Hei, Kaie!
Oh, begitu, toh.
Mumpung enggak ada yang menaruh perasaan sama dia,
berarti tak masalah kalau aku menggaetnya, 'kan?
Kalau gitu, entar malam langsung saja kuajak dia ngentot ala tradisi timur.
Kaie!
Anu, eng, aku tak punya rasa pada Shin, tapi ...
... eng, menurutku yang seperti itu enggak baik.
Maksudku, kita harus menjadi wanita yang bermartabat ....
Jadi, anu ....
Kurena, kamu imut banget!
Diamlah!
Kalian ini harus diapakan dulu biar paham?
Perbuatan kita benar-benar enggak bisa dimaafkan!
Justru kamu yang paling depan mengintipnya, Daiya.
Kenapa kamu malah ikutan, Daiya?
Aku mengawasi kalian!
Beberapa target terlihat! Siap siaga!
Gas!
Kalian sudah gila, ya?!
Aduh ....
Hah?!
Eh? Hei, tunggu .... Tidak mungkin ....
Daiya.
Terima kasih atas selama ini.
Jadi ....
Ada perlu apa, Daiya?
Seharusnya sekarang kamu bilang, "Kamu baik-baik saja?" dengan nada manis, lo, Anju
Wah, apa kamu baik-baik saja, Daiya?
Sebaiknya kalian juga keluar!
Aduh!
Theo?!
Ah ....
Jadi, sedang apa kalian?
Sedang apa? Eng, itu, lo.
Ya, 'kan, Haruto?
Ya, 'kan, Daiya?
Eh, aku?
Sudah kubilang, anu, itu, lo.
Ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada kalian.
Kalau cuma itu, tinggal pakai Para-RAID, 'kan?
Aku enggak yakin menggunakan RAID selagi kalian bareng-bareng itu ide yang bagus.
Ya, 'kan?
Bakal canggung juga kalau ternyata kalian sedang merumpi soal asmara, 'kan?
"Kurena sebenarnya suka sama Shin."
Bisa gawat kalau kami dengar hal seperti itu.
Malahan, memang itu yang sebenarnya terjadi.
Benar juga!
Lain kali, ayo bahas itu saat Shin menghubungi kita!
Aku penasaran seperti apa reaksinya.
Kurena sih sudah pasti, tapi Shin enggak bakalan.
Si Dewa Kematian pasti ekspresi mukanya enggak bakal berubah. Enggak asyik banget.
A-A-A-Aku tak pernah bilang begitu, tahu!
Berhenti ganggu aku, dong!
Kurena imut banget!
Jadi ....
Apa yang ingin kalian tanyakan?
Itu ....
Daiya.
Eh, aku lagi?
Eng, anu ....
Ngentot itu apa?
Kami minta maaf, oi!
Lo, di mana Daiya?
Noh!
Daiya!
Bisa bantu aku mengangkutnya?
Eh? Anu, apa terjadi sesuatu?
Cuma tikus lewat.
Tikus?!
Asal banget, deh.
Di sana ada tikus?
Iya.
Kurena.
Kenapa setiap malam wanita itu mengganggu kita?!
Padahal ini waktu yang berharga untuk kita habiskan bersama.
Padahal bisa saja besok kita akan mati!
Cuma sementara waktu ini, kok.
Lambat laun, si Tuan Putri sendiri yang berhenti menghubungi kita.
Anggap saja kita saling mengisi waktu luang.
Tapi, aku tak peduli dengan babi putih itu.
Seharusnya Shin segera menghancurkan dia.
Shin sendiri juga sebenarnya tak mau menghancurkan mereka, tahu.
Dan juga,
apa kamu sanggup bilang begitu pada Shin?
Hanya karena tak suka, kamu pun ingin Shin menghancurkannya.
Yakin mau bilang begitu padanya?
Maaf.
Tapi, tetap saja aku tak bisa memaafkannya.
Para babi putih itu membunuh papa dan mamaku.
Orang tuaku dipermainkan dan dijadikan samsak tembakan.
Babi putih itu sampah semua, tahu.
Aku takkan pernah memaafkan mereka.
Benarkah, Kirschblute?
Iya.
Saat aku memandanginya, bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari langit.
Cahaya menyelimuti bentangan angkasa.
Pemandangannya benar-benar indah.
Bintangnya benar-benar sebanyak itu, ya?
Iya. Benar-benar tak bisa dihitung, lo.
Hujan meteor, ya? Kalau itu, aku juga pernah melihatnya.
Benarkah?
Iya. Hanya saja,
di tengah-tengah medan tempur di mana kawan dan lawan berguguran itu,
ada seorang lelaki berdiri di sebelahku. Bukan begitu, Undertaker?
Enggak ada romantis-romantisnya, ya.
Ditambah lagi, Juggernaut kami kehabisan bahan bakar.
Sebelum Fido menemukan kami,
kami sama sekali tak bisa bergerak. Situasinya benar-benar menggelikan.
Fido?
Itu nama anjing kami.
Eh? Kalian juga memelihara anjing, ya?
Dia ini anjing yang beda dari yang lain, lo.
Dia tak menggonggong, melainkan bersuara "pi."
"Pi?" Eh?
Malam di medan tempur benar-benar mengerikan, lo.
Di tengah-tengah kengerian itu, cahaya pucat yang tak bersuara,
bergiliran melintas satu per satu, sampai memenuhi angkasa.
Waktu itu, aku sempat mengatakan hal aneh. Benar-benar aib seumur hidup.
Memangnya kau bilang apa, cok?
Enggak bakal kuberi tahu lah, bodoh.
"Kalau ini pemandangan yang kulihat di akhir hayatku,
kurasa enggak begitu buruk, sih."
Kenapa malah diberi tahu, sih?
Dia ketawa lepas saat mendengarnya, lo.
Mungkin aku takkan bisa melihat yang begituan lagi.
Aku juga ingin melihat hujan meteor.
Memangnya di sana enggak kelihatan, ya?
Pencahayaan di kota tak pernah padam, jadi ...
... jarang sekali bintang bisa terlihat di sini.
Ah, sudah pasti seperti itu, ya.
Saat malam, di sini benar-benar gelap.
Penghuninya sedikit dan tempatnya juga terpencil.
Saat masuk jam tidur, semua pencahayaan dipadamkan.
Makanya pemandangan bintangnya sering terlihat indah.
Bisa dibilang, itulah enaknya tinggal di sini.
Benarkah?
Iya.
Kirschblute, apa kamu membenci kami?
No comments yet. Be the first to leave one.