نخستین 194 خط.
Lagi-lagi aku ketiduran.
Segarnya!
Cahaya yang menyilaukan kota dan negeri ini turut menyinariku.
Menyinari tempat yang sudah kupilih,
dan juga perasaan yang terpatri dalam hatiku.
ZainuddinAri mempersembahkan
perjumpaan yang sulit diterka
hajimari sore ha aimai
namun semua titik temu terkesan rapi
kirei ni narabetai keredo
sebenarnya ada kata yang khusus hanya untukmu
hountou ni tsutaetai kotoba dake
namun semuanya tertutup dan terbelenggu
kanamihotsurete ienai
perlahan kutarik napas
yukkuri suikomi
berdoa agar harapan baikku kan terus berlanjut
yasashii kibou ga zutto tsudzuku you ni
apa kau bisa lihat tempat ini?
mieru kana kono basho ni iru koto wo
apa tanda penunjuk di jariku bisa menuntunku padamu?
yubisaki ni egaita michishirube todoku kana
kuyakin di kala ku tertawa hari ini
watashi ha kyou wo waraeru you ni
dirimu pun kan tersenyum esok
anata ha ashita hohoende kitto
itulah harapanku
kitto ne
Cerita
Janji untuk Kembali Berkilau
Ini.
Baik.
Oh, Nn. Shirayuki!
Selamat pagi!
Apa hari ini Anda mau kunjungi Pangeran Zen?
Bukan, Mitsuhide dan Kiki mengundangku kemari.
Anu, aku sempat terpikir,
sebenarnya benda apa yang menggantung di leher kakek itu?
Oh, itu tanda pengenal.
Tanda pengenal?
Seluruh pegawai istana memilikinya.
Siapa pun tak diperkenankan masuki kawasan istana tanpa kalung ini.
Oh, tapi Nn. Shirayuki pengecualian, kok.
Kami sudah dengar semuanya dari pangeran.
Silakan tunggu di pintu masuk.
Terima kasih banyak.
Selain bisa berteman dengan pangeran,
penampilan Nn. Shirayuki memang keren, ya?
Oi, ayo balik kerja.
Padahal kau juga berpikir begitu, 'kan?
Apa Anda ada keperluan dengan pangeran, Tuan?
Ya.
Kami mohon maaf.
Sekarang beliau sedang bersama tamu khusus.
Tamu khusus?
Dia lagi?
Wah, cantik seperti biasanya, ya?
Dia tak punya kedudukan apa-apa.
Tapi, lancang sekali gadis berambut merah itu mengaku sebagai temannya pangeran.
Warnanya terlalu vulgar.
Kami mengundangmu kemari untuk bantu Zen.
Memangnya ada apa?
Setelah dinas keluar istana tempo hari,
dia menyelinap untuk lihat-lihat daerah sekitar.
Menyelinap?
Ya, dia memang selalu begitu, sih.
Tapi kali ini, dia jadi terlambat kembali ke istana tanpa izin,
dan para menteri bawahannya terlihat menentang tindakannya.
Apa Zen jadi terbebani?
Tidak, hanya saja...
Dia sesali segala perbuatannya dengan cara mengurung diri dan bekerja tanpa henti di ruangannya.
Shirayuki?
Aku hanya salah dengar?
Ya, aku memang belum bilang apa-apa sih, tapi ini betulan aku, kok.
Zen, aku dan Kiki yang mengundangnya kemari.
"Daripada tidur, lebih baik aku bertemu Shirayuki."
Itu yang kaubilang, 'kan?
Itu sih, karena kalian memaksaku untuk tidur!
Sebelum kau tulis seluruh dokumenmu dengan kata "Shirayuki",
bagaimana kalau kau luangkan waktu dengannya?
Bikin salah tingkah saja.
Sebelum seluruh respons dokumennya menjadi "Shirayuki,", sebaiknya-
Mitsuhide, kita harus bicara nanti.
Anu, sebaiknya aku pulang saja, ya?
Maaf mengganggu-
Zen?
Dasar curang.
Kami sadar.
Maaf, kau jadi repot-repot datang kemari.
Tak apa. Kelihatannya kau kerepotan, ya?
Inilah akibatnya kalau aku berada di luar istana terlalu lama.
Karena suatu saat nanti, aku hanya ingin jadi pangeran nama saja.
Jadi, itu alasanmu paksakan diri?
Aku bekerja dua kali lipat dari biasanya, lo.
Aku tak mau ditentang lagi pas sedang keluar istana.
Zen.
Bukannya aku tak suka kerja di belakang meja,
hanya saja, rasanya aku jadi mudah lupakan dunia luar.
Negeri kami, Clarines, terbentang luas di balik dinding kastel ini.
Itulah yang kusuka dari negeri ini.
Ternyata negerimu memang indah, ya?
Oh ya, Zen-
Apa?
Kau mau istirahat dulu?
Maaf, aku mau istirahat dulu sebentar.
Bisakah kau di sini dulu sampai Mitsuhide datang?
Boleh.
Terima kasih.
Pasti dia lelah sekali, ya.
Meski sebagai seorang pangeran negeri ini pun, dia tetap berjuang.
Aku juga harus berjuang untuk penuhi tujuanku!
Baiklah!
Eh? Jadi, gadis rambut merah itu temannya Pangeran Zen, ya?
Zen, apa kau sudah bisa bangun?
Zen.
Di mana Shirayuki?
Tadi Mitsuhide mengantarnya sampai ke gerbang.
Oh, begitu.
Ya ampun, ada yang ketinggalan.
Pangeran Zen, maaf ganggu waktu istirahat Anda.
Oh, Tn. Haruka, ya.
"Jangan sembarangan bertemu dengan orang luar"?
Pasti Anda sadar dengan posisi sebagai pangeran negeri ini.
Jadi, Anda harus selektif dalam bergaul.
Demi melindungiku dan kedudukanku, 'kan?
Aku tahu, kok.
Kalau begitu, mohon berhenti undang gadis desa yang garis keturunannya tak jelas.
Apa dia ganggu Anda?
Bisa saja gadis itu manfaatkan Anda.
Bagaimana kalau dia hanya ingin penuhi keegoisannya,
atau minta Anda memperkenalkannya dengan raja?
Sudikah Anda dimanfaatkan oleh keegoisannya?
Menaikkan statusnya secara instan tanpa jerih payahnya sendiri.
Dengan berada di dekat gadis itu,
Anda akan terus dituai kritikan keras yang tak ada untungnya sama sekali!
"Menaikkan statusnya tanpa jerih payahnya sendiri", ya?
Begitu, ya.
Tapi, bagaimana kalau gadis tersebut melebihi dari semua perkiraan Anda?
Memangnya ada gadis yang seperti itu, Pangeran?
Justru itu alasanku bertanya pada Anda.
Kalau memang ada, saya akan dengan senang hati menemuinya.
Barusan dia ada di sini.
Anda juga melihatnya, 'kan?
Pangeran! Tujuan saya kemari bukan untuk bersilat lidah dengan Anda!
Aku juga tak berniat bersilat lidah dengan Anda, Tn. Haruka.
Saya mengerti.
Saya berharap Anda segera sadar akan kebenarannya.
Saya pamit undur diri.
Zen?
Aku butuh ganti suasana, jadi mau latihan dulu sebentar.
Pangeran keras kepala!
Bujukanku tak mempan untuk ubah pikirannya.
Ternyata, jalan satu-satunya memang harus bicara langsung dengan gadis itu.
Laksanakan.
Apa harus kumulai sekarang, ya?
Ini terlihat seperti pucuk putih herba, tapi daunnya sedikit berbeda.
Kalau tak salah, menurut buku...
Eh? Apa mungkin ketinggalan di tempat Zen?
Eh?
Mulai sekarang, Nn. Shirayuki dilarang masuk?
Kenapa tiba-tiba begini?
Nn. Shirayuki sudah kantongi izin sebagai tamu khusus Pangeran Zen.
Izin tersebut sudah dicabut.
Eh? Mustahil!
Perintah langsung dari pangeran,
"Perihal perizinan masuk Shirayuki: Karena menuai kritik dari bawahanku,
ke depannya dia tak diizinkan masuki kawasan istana lagi."
Tak mungkin.
Mohon pengertiannya untuk terima keputusan berat pangeran.
Aku permisi dulu.
Hoi, tunggu sebentar.
Kalau begitu, tolong beri tahu pangeran bahwa kami baru saja izinkan Nn. Shirayuki masuk.
Apa?
Tak lama sebelum kau datang.
Katanya, ada bukunya yang tertinggal.
Jangan-jangan, dia sedang bersama pangeran?
Cih, apa dia mendengarku?
Zen dikritik?
Tapi, apa benar perintah itu berasal dari Zen?
Kalau sekarang aku tinggalkan istana, apa mungkin sudah tak bisa mengunjunginya lagi?
Sekalipun terjadi sesuatu pada Zen?
Aku ingin dengar dari mulutnya langsung.
Kau yang di sana, tunggu!
Rambut merah itu...
Apa Anda Nn. Shirayuki?
Ah, ya.
Oh, sudah kuduga.
Kudengar Anda adalah tamu khusus Pangeran Zen.
Mohon maaf atas kelancanganku.
Tak apa-apa.
Tak ada masalah. Ayo kembali.
Memang, aku sadar betul.
Selama ini, aku bisa temui Zen berkat kedudukannya di istana ini.
Oleh karena itu,
No comments yet. Be the first to leave one.