نخستین 200 خط.
Dalam rangka pembuatan Blue Planet II,
kami menelusuri setiap sudut dunia bawah laut.
Kami berhadapan dengan satwa-satwa luar biasa,
dan menemukan wawasan baru tentang kehidupan di bawah laut.
Selama bertahun-tahun kita mengira bahwa lautan begitu luas
dan penghuninya tak terhitung jumlahnya
sehingga tak satu pun yang bisa berdampak pada mereka.
Tapi kini kita tahu bahwa itu salah.
Kini laut di bawah ancaman yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.
Dalam episode terakhir ini,
kita akan bertemu para perintis yang berupaya membalikkan keadaan.
Orang-orang yang membantu menyelamatkan penghuni laut paling rentan
dan mendedikasikan hidup mereka untuk melindungi lautan.
Tapi apakah waktunya sudah mendesak?
Banyak orang percaya bahwa laut kita telah mencapai titik krisis.
Jadi, serapuh apa planet biru kita?
Musim dingin di Lingkar Arktik.
Setiap tahun, perairan Norwegia adalah tempat
bagi salah satu tontonan satwa liar terbesar di lautan.
Milyaran ikan haring memenuhi kawasan ini.
Tim Blue Planet II menghabiskan tiga tahun
mendokumentasikan peristiwa menakjubkan ini.
Berlimpahnya mangsa seperti ini menarik para predator
dalam jumlah yang luar biasa.
Paus pembunuh
dan paus bungkuk.
Tapi migrasi ini tak selalu begitu berlimpah.
Leif Notastad adalah ilmuwan perikanan asal Norwegia.
Ini salah satu perikanan paling penting
yang kami miliki selama berabad-abad di sepanjang pesisir Norwegia.
Tapi di akhir 1960-an,
ikan haring yang kita lihat di sini mengalami keanjlokan.
50 tahun lalu penangkapan ikan begitu intensif,
yang membuat ikan haring menghilang.
Paus pembunuh dianggap pesaing dan ratusan dari mereka dibunuh.
Baru setelah pemerintah Norwegia membuat larangan keras
sehingga jumlah ikan haring mulai meningkat kembali.
Sekarang, ini sekali lagi sebuah perikanan produktif besar-besaran,
dimonitor secara dekat oleh tim ilmuwan.
Ahli biologi kelautan Eve Jourdain adalah ahli paus pembunuh setempat.
Dari 1982, paus pembunuh dilindungi di Norwegia
dan di sini adalah populasi paus pembunuh terbesar di dunia.
Kini jumlah paus pembunuh di sini mencapai ribuan.
Tapi dengan begitu banyaknya mulut yang perlu makan, termasuk kita,
bisakah kesalahan masa lalu dihindari?
Untuk menjawab pertanyaan penting ini,
Eve dan timnya menggunakan tag kamera multi sensor.
Dengan tag kami mencoba melihat bagaimana paus pembunuh berinteraksi dengan mangsa mereka.
Bagaimana mereka berburu dan segalanya tentang perilaku di bawah air
yang tak bisa kami lihat dari atas kapal.
Sebuah tag dipasangkan pada paus pembunuh dalam posisi yang tepat.
Ini dia. Dimulai.
Tembakan yang bagus.
Ini metode yang aman. Dengan penghisap.
Jadi tak melukai paus sesudahnya, yang mana ini sangat kami sukai.
Selagi meneliti paus pembunuh,
Eve menangkap perubahan mencemaskan pada perilaku mereka.
Mereka melakukan cara termudah untuk mendapatkan makanan.
Kami melihat para paus pembunuh itu menunggu
kapal-kapal nelayan menurunkan jaring.
Aksi itu seperti lonceng tanda makan,
lalu semua paus pembunuh di area ini berhimpun.
Cukup banyak ikan haring yang lolos dari jaring
dan itulah yang dicari-cari paus pembunuh.
Tapi taktik baru ini berbahaya, seperti yang disaksikan Eve.
Kami di sana untuk memantau perilaku paus pembunuh
yang mencari makan di sekitar jaring.
Dan kami sadar, salah satu jantan besar terjebak dalam jaring.
Saat nelayan mulai menarik jaringnya,
paus pembunuh itu mulai panik dan berusaha menarik sekuat mungkin.
Paus pembunuh itu berjuang meyelamatkan diri.
Peraturan ketat mengharuskan para nelayan
memperoleh izin sebelum membuka jaring mereka.
Tapi itu butuh waktu.
Prosesnya lama.
Kami pikir paus itu akan mati kelelahan.
Untunglah, para nelayan mendapat izin
untuk melepas jaring mereka agar paus yang kelelahan itu bisa terbebas.
Sungguh melegakan, paus pembunuh itu selamat hingga akhir
dan akhirnya kembali ke keluarganya.
Dengan adanya persaingan langsung antara mamalia laut dan manusia,
kecelakaan tak terhindarkan.
Dua hari setelah pemasangan tag pada paus pembunuh,
tag-tag itu terlepas dan Eve mengumpulkannya.
Tag ini dipenuhi rahasia,
karena terpasang pada paus selama beberapa hari
dan akan mengungkap apa saja tepatnya yang dilakukan paus-paus itu.
Rekaman dari tag mengungkap teknik berburu secara terperinci.
Mereka menyelam di bawah gumpalan ikan
lalu menjungkir ke belakang.
Hantaman ekor membuat ikan haring terhuyung-huyung.
Eve bahkan bisa memecahkan berapa banyak ikan yang diambil pau pembunuh.
Mereka bisa membunuh hingga 30 haring dengan sekali hantaman ekor.
Lalu yang cukup memukau adalah
masing-masing dalam kelompok berbagi haring yang sudah mati.
Dan bukan paus pembunuh saja yang makan di sini...
paus bungkuk pun ikut masuk ke dalam pesta.
Mereka juga sudah dipasangai tag dan dipantau,
memberi gambaran lengkap bagi ilmuwan perikanan Leif
tentang banyaknya ikan haring yang dimakan
Paus kemungkinan mengambil kurang lebih 1%.
Nelayan mengambil kurang lebih 10%.
Jadi keseimbangan di sana cukup bagi semuanya.
Mengingat bahwa kita berhasil menjaga persediaan yang berkelanjutan
dan cara yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Tapi hal itu mengestimasi bahwa hampir pertiga perikanan laut
dieksploitasi berlebihan.
Pemulihan luar biasa jumlah ikan haring di sini
menunjukkan apa yang bisa terjadi jika perikanan dikelola secara cermat.
Perlakuan buruk kita pada laut berdampak banyak.
Sebagian bisa diprediksi,
tapi ada sebagian yang sedikit lebih mengejutkan.
Asia Tenggara.
Terumbu karang di sini salah satu yang terkaya di bumi.
Ahli biologi kelautan Steve Simpson,
menemukan betapa pentingnya suara
bagi satwa yang hidup di kota karang yang ramai ini.
Kita baru-baru kini menyadari saat mendengarkan bawah laut
bahwa ikan-ikan yang menciptakan semua suara ini.
Mereka gunakan suara untuk memikat pasangan.
Untuk mencoba dan menakuti predator.
Ada suara pop, dengkuran, blups dan hentakan.
Ada keseluruhan bahasa di bawah air yang baru saja mulai kami tangani.
Dengan menggunakan hidrofon multi-arah yang canggih,
Steve berusaha memahami paduan suara yang luar biasa ini
dengan meneliti ikan yang membuat suara.
Salah satu ikan sangat banyak bersuara.
Ia mungkin penghuni terumbu paling terkenal.
Ikan badut.
Selagi membuat film untuk tayangan seri,
kami mengikuti keluarga ikan badut kuning
saat mereka mencari tempat yang cocok untuk meletakkan telur.
Ini kegiatan yang bising.
Bagi ikan badut, suara sangat penting.
Mereka seharian berbicara satu sama lain.
Kau mendapat dominansi dan kepatuhan.
Kau membuat yang lain memanggil satu sama lain.
Tampaknya mereka juga menggunakan suara
untuk melindungi diri dari predator yang berburu di sekitar terumbu.
Termasuk dari ikan kerapu sunuk.
Bisakah kerapu tiruan ini membodohi ikan badut?
Mereka langsung bereaksi.
Dengan meniru predator,
Steve merekam panggilan peringatan mereka tanpa membahayakan mereka.
Kau bisa mendengar suara denyut mendalam betina
saat mencoba menakut-nakuti ikan kerapu sunuk.
Dan semua yang kecil hanya bersuara pop, pop, pop.
Seolah berkata, "Aku masih aman. Aku masih hidup."
Jadi mereka punya bahasa suara yang mereka gunakan
hanya untuk berusaha dan mempertahankan koloni dari kerapu sunuk ini.
Tapi temuan itu mengarah pada kekhawatiran serius.
Ikan ini benar-benar mengusir predator dengan suara pop.
Tapi segera saat kapal lewat, mereka tampak terganggu.
Segala kebisingan itu benar-benar mengubah cara ikan berperilaku.
Tak bisa mendengar karena terhalang suara bising kapal di atas,
keluarga ini tak bisa memperingati satu sama lain akan adanya bahaya.
Maka kini mereka rentan terhadap serangan.
Bayangkan berapa banyak kapal yang berlalu-lalang.
Semua kapal, semua pengeboran lepas pantai.
Segala kebisingan yang kita buat di laut
menyadarkanmu seberapa banyak kita meredam kebisingan biologis alam,
merampas kemampuan satwa untuk bicara satu sama lain.
Segala kebisingan ini memiliki konsekuensi serius bagi banyak ikan terumbu
karena bayi-bayi mereka, tak lama setelah menetas, tersapu ke lautan.
Di sanalah mereka mencari makan dan bertumbuh hingga cukup kuat untuk kembali.
Dan untuk menemukan terumbu, mereka menggunakan suara.
Merekan mendengarkan. Menguping segala suara yang bisa mereka dengar
dan menggunakannya untuk memilih terumbu yang ingin mereka jadikan sebagai rumah.
Tapi jelas karena kita menambah segala kebisingan ini ke lautan,
suatu keajaiban jika mereka bisa mendengarkan terumbu.
Kebisingan buatan manusia kini ada di segala pelosok laut.
Dan berdampak pada segala jenis satwa laut.
Dari ikan kecil
hingga paus raksasa.
Tapi Steve yakin ada solusinya.
Kebisingan di laut adalah masalah nyata.
Tapi itu sesuatu yang bisa kita kontrol.
Kita bisa memilih di mana dan kapan kita membuat kebisingan.
Kita bisa langsung mengurangi jumlah kebisingan yang kita buat
dan bisa mulai melakukannya saat ini.
Kita baru kini mulai menyadari
ada dampak dari kebisingan kita pada penghuni laut.
Bentuk polusi lain begitu tak asing.
Sejak penciptaannya ratusan tahun lalu,
plastik menjadi bagian integral dalan hidup keseharian kita.
Tapi setiap tahun, sekitar delapan juta ton plastik
berakhir di lautan.
Dan itu bisa mematikan.
Saat memfilmkan Blue Planet II,
para kru menemukan plastik di setiap samudera.
Bahkan di lokasi-lokasi paling terpencil.
Georgia Selatan.
900 mil utara Antartika,
gurun terisolasi ini adalah tempat berkembang biak
bagi sejumlah besar pinguin dan gajah laut.
Di situ juga tempat bertelur favorit bagi burung terbesar di udara.
Seekor albatros pengelana.
Di sini kita mempelajari upaya keras
orangtua renta yang memberi peluang terbaik bagi anak-anaknya untuk bertahan.
Tiap-tiap orangtua setia menjelajah ribuan mil mencari ikan dan cumi
No comments yet. Be the first to leave one.