نخستین 200 خط.
"Park Ju Mi, Choi Myung Gil"
"Kim Min Jun, Han Da Gam"
"Jeon No Min, Yoon Hae Young"
"Gee Young San, Yoo Jung Hoo"
"Lee Da Yeon, Kim Chae Eun, Hwang Mi Na"
"Durian's Affair"
"Semua orang, organisasi, lokasi, dan kejadian"
"Dalam drama ini hanyalah fiksi"
"Hewan direkam sesuai panduan"
"Episode Dua"
Ada gerhana bulan malam ini. Ayo ke taman dan menonton.
Tunggu. Gerhana bulannya malam ini?
Ibu belum pernah melihatnya.
Aku juga.
Sudah dimulai.
Apa? - Astaga!
Aku sudah memikirkannya, Bu.
Deung Myung pasti mengatur acara yang menegangkan.
Kenapa dia melakukan itu?
Untuk bersenang-senang. - Tanpa memberi tahu penjaga?
Dia pasti menyelinap masuk diam-diam.
Mereka tidak mungkin hantu atau pasien bangsal kejiwaan.
Mereka menunggu sinyal di kolam
dan pingsan karena hipotermia.
Tanya dia.
"Paman Chi Jung"
Maaf.
Astaga.
Apa Ibu menelepon?
Toiletnya di sebelah sana.
Kamu mau kopi?
Kamu mengenalnya?
Kamu mengenalku?
Aku ingin melindungimu.
Selamanya.
Dol Soe.
"Dol Soe"?
Astaga!
Jangan.
Bibi.
Astaga.
Apa yang terjadi?
Dia bersikap seperti mengenalmu.
Dia pasti salah orang.
Haruskah kita memanggil paramedis?
Mencurigakan sekali.
Apa pingsan adalah keahliannya?
Astaga.
Kamu tampak cantik.
Bagaimana perasaanmu, Nona?
Aku sudah ingin menangis.
Jangan menangis di hari baik seperti ini.
Kudengar pengantin priamu sangat tinggi.
Kalau begitu, dia pasti tidak tampan.
Mereka bilang pria tinggi tidak ada gunanya.
Itu tidak selalu benar.
Ini dia.
Lihat dia.
Ini dia. - Astaga.
Itu dia.
Astaga.
Cantiknya.
Hati-hati melangkah.
Perlahan. Santai saja.
Pengantin wanita, beri hormat dua kali.
Apa? - Sial.
Kami tidak bisa melihat. - Kita harus pergi.
Kamu pasti tahu, tapi namaku Eon.
Kamu cantik.
Tadi, aku hanya melihat wajahmu sebanyak ini.
Aku Eon.
Namaku So Jeo. Artinya "menanam padi".
Suaramu juga indah.
Kamu menyanjungku.
Aku serius.
Kamu punya nama yang tidak bisa dilupakan orang.
Jadi, Jeo.
Jangan menggodaku.
Aku tidak menggodamu.
Kamu juga bisa menyebut namaku.
Panggil aku dengan namaku.
Seorang wanita tidak boleh berani...
Suami dan istri setara.
Mereka bilang suami adalah langit dan istri adalah tanah.
Langit ada karena tanah,
dan tanah ada karena langit.
Langit melihat tanah,
dan tanah melihat langit.
Mereka harus saling berhadapan selamanya.
Begitulah menurutku.
Apa aku salah?
Kamu sangat menerima.
Selain itu,
karena kita menikah dengan keluarga besar,
kamu pasti tahu nama orang tuaku.
Aku tahu nama ayahmu.
Nama keluarga ibuku Du,
dan nama kecilnya Ri An.
Aku tidak tahu ada klan Du.
Mereka berasal dari Dureung dan itu nama keluarga yang langka.
Namanya indah.
"Ri An".
Dia sama cantiknya dan aku mengatakan itu
bukan hanya karena dia ibuku.
Dia baik dan murah hati,
tapi juga punya sisi feminin.
Aku akan melakukan yang terbaik untuk menenangkannya
agar dia tidak kecewa.
Terima kasih.
Mari kita
berteman selama seratus tahun.
Kita akan saling percaya dan mengandalkan,
dan saling memberi kekuatan.
Dari banyak orang di luar sana, kita menjadi suami dan istri.
Apa itu tidak istimewa?
Kamu pasti lelah.
Kamu?
Aku bukan hanya membaca buku.
Aku juga berolahraga.
Aku sekuat para pelayan pria.
Kamu mau lihat?
Tidak, aku tidak ingin tahu.
Kamu tidak ingin tahu?
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Kamu pikir aku gegabah dan sembrono?
Tidak.
Jangan khawatir.
Aku anak tunggal,
tapi aku tidak dimanjakan.
Aku akan menjadi
suami yang bisa diandalkan bagimu.
Aku akan memperbaiki kebijaksanaan dan kebajikanku
agar tidak merusak reputasimu.
Sepertinya kita sudah akrab.
Orang dewasa akan khawatir jika kita terlalu lama menyalakan lilin.
Aku akan memadamkannya.
Haruskah kubuka jendelanya
dan membiarkan cahaya bulan masuk?
Ya.
Ini malam yang indah.
Lihat.
Bulan tepat di atas kita.
Jangan mengharapkan perlakuan khusus.
Aku tidak bisa menjamin itu.
Yang akan kuingat hanyalah
So Jeo yang kulihat di sini sekarang.
Itu memalukan.
Tidak ada yang bisa melawan waktu.
Hatiku memiliki matanya sendiri.
Bahkan jika rambutmu memutih,
mata hatiku akan mengingat wajah yang kulihat malam ini.
Kamu serius?
Ya.
Itu sangat menyentuh.
Kamu akan segera melihat
aku menepati janjiku.
Aku diberi tahu bahwa suami yang peduli
pendapat dan perasaan istrinya adalah yang terbaik.
Siapa yang memberitahumu itu?
Pengasuhku.
Hatiku
seperti cahaya dari bulan.
Bersinar lembut?
Jelas, tanpa kekhawatiran,
dan tenang.
Apa kamu kecewa?
Kesan pertamaku di pernikahan.
Kamu membawa diri dengan baik.
Itu bukan pujian.
Kurasa aku biasa saja.
Itu pujian.
Kamu pernah bertaruh?
Kita tidak bisa tidur seperti ini.
Kita akan bersuten
dan yang kalah membuka pakaian.
Satu per satu.
Batu, kertas, gunting.
Batu, kertas, gunting.
Batu, kertas, gunting.
Batu, kertas, gunting.
Aku tidak pernah kalah sesering ini.
Tunggu.
Manis sekali.
Tanganmu lembut.
Di bawah sinar bulan,
apa pun terlihat indah.
Apa wajahku
terlihat manis?
Aku akan menyentuh tanganmu.
Kali ini.
aku menang.
Tubuhku
tidak terasa seperti milikku lagi.
Haruskah aku melepas jubahnya sendiri?
Aku tidak mau.
Kenapa ada begitu banyak cinta
di matamu?
Aku penasaran berapa kaus kaki yang akan dibawa pengantin wanita.
Kamu membawa sepuluh saat menikah.
Bersihkan mejanya juga.
No comments yet. Be the first to leave one.