스승의 은혜
نخستین 200 خط.
Diterjemahkan oleh, Fobonovo
Diterjemahkan oleh, Fobonovo
Diterjemahkan oleh, Fobonovo
Oh Mi-hee, Seo Young-hee.
- Apa yang kamu buat? - Mahkota.
- Wah, cantik sekali. - Kubuat untuk bu guru.
- Ibu Park! - Lanjutkan mainnya.
Young-min! Buka pintunya! Kumohon!
Untuk Guruku Tersayang A.K.A. REUNI BERDARAH
Sial...
Nyalakan lampunya.
Baik, pak.
Pak!
Ayo berangkat!
Ramai sekali tempat ini sekarang.
Ke rumah sakit, kan?
Iya. Apalagi, sebentar lagi aku pensiun.
Wanita tua itu memang- pasien tetap rumah sakit ini.
Dia memiliki masalah pada jaringan sarafnya.
Tapi yang pasti.
Dia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
Memang kadang susah untuk dijelaskan.
Kapan kira-kira mereka akan sadar?
Perempuan muda itu nampaknya akan segera sadar.
Tapi wanita tua itu kondisinya masih belum membaik...
Suaminya mengidap kanker sebelum akhirnya dia...
Benarkan? Terima kasih.
Wanita muda itu sudah sadar.
Dua orang warga bilang kalau wanita tua itu membesarkan...
seorang anak yang cacat di ruang bawah tanah rumahnya.
Cacat?
Sudah lama sekali tidak ada kabar tentangnya, tapi akan kucoba mencaritahu lagi.
Jika dia sekarang masih hidup, maka dia seusia dengan korban-korbannya.
Baiklah, tetap kabari aku.
NAM Mi-ja PARK Yeo-ok
Aku mengerti kau cukup terguncang tapi...
Aku akan kesini lagi nanti malam.
Tunggu.
Kondisi kesehatannya bertambah buruk dan terus memburuk.
Dia kelihatan sangat bahagia dalam setahun terakhir ini.
Begitu pula denganku.
Dia mengajakku tinggal dengannya setahun- yang lalu, ketika aku tidak tahu harus kemana.
Dia menganggapku seperti putrinya sendiri.
Aku ingin melakukan sesuatu untuknya.
Kemudian aku teringat pada mereka.
Dia pasti akan senang sekali...
jika dia dikunjungi oleh anak-anak didiknya dulu.
Mereka masih belum datang, mungkin masih dalam perjalanan.
Bagaimana kalau menunggu di dalam saja?
Aku tidak apa-apa.
Biar saya bantu.
Mi-ja
Rambutku. Apa aku terlihat sakit?
Tidak, sama sekali tidak.
Boleh saya potongkan rambutnya?
Iya, ini percuma saja. Aku ingin berdandan untuk mereka.
Saya ambil gunting dulu.
Ibu suka?
Iya, cantik sekali.
Mi-ja! Mi-ja!
Sejak kapan mereka semua...
Ada apa, bu?
Tidak, tidak apa-apa.
Kamu Kim Myung-ho, kan?
Wah, kau sudah dewasa.
Sini, biar ibu bisa lihat kamu.
Saya akan pergi merapikan barang dulu.
Baiklah.
- Bu PARK? - Ya?
Semoga ibu panjang umur.
Agar kami memiliki kesempatan untuk balas budi.
Iya.
Terima kasih.
- Kalian sudah sampai. - Wow! Mi-ja, kau kelihatan cantik.
Senang bisa bertemu denganmu, Eun-young.
Aku juga. Pasti sulit buatmu tinggal disini.
Tidak, aku baik-baik saja.
- Jadi siapa saja yang akan kesini? - Hanya yang bisa aku hubungi saja.
- Myung-ho sudah datang. - Myung-ho?
- Lama tidak bertemu, kawan. - Iya, aku juga.
- Eun-young. - Bagaimana kabarmu?
Masuklah dan temui ibu Park dulu.
- Iya. - Ayo.
Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi sambil minum arak.
Tentu.
Dar-bong! Ayo naik!
- Siapa ya? - Aku?
- Soon-hee. - Apa?
- Si muka babi, Soon-hee? - Jangan panggil aku begitu lagi.
Wow! Kau benar-benar Soon-hee?
Pasti susah ya berkendara kesini?
Tidak juga.
- Bagaimana kesehatan ibu? - Aku sehat wal'afiat.
Maaf, seharusnya kami lebih sering kemari mengunjungi ibu.
Tidak usah, ibu sudah senang bisa bertemu kalian sebelum ibu meninggal.
Jangan bicara begitu.
Mi-ja sudah bilang kan, kalau kami sudah menikah?
Ya...
Kalian memang pasangan serasi.
Dulu ibu juga pernah bilang begitu.
Ibu bilang kalau kami sangat cocok.
Benarkah?
Ibu tidak suka kalau ketua dan wakil ketua- kelas sama-sama orang miskin.
Sambil mengeluh ibu bilang kalau- sebaiknya kami memang bersama-sama.
Sekarang, kami berdua akan menempuh hidup baru bersama.
Mohon doa restu ibu, meski ibu tidak bisa- hadir di acara pernikahan kami.
Tentu saja.
Dia itu seorang guru, kan?
Tidak bisa dipercaya dia masih menyimpan- gambar-gambar ini.
Yang ini sepertinya...
- kelihatan tidak asing? - Iya.
Kutebak kau yang menggambarnya.
Tidak mungkin.
Dia bilang ini gambar-gambar kita.
Jung-won menemukan semuanya di ruang bawah- tanah beberapa hari lalu.
Jung-won?
Kau ingat anak yang dipanggil si pemalu?
Yang berhenti sekolah setelah ibunya mengalami kecelakaan?
Dia tetap di kota ini saja dari dulu.
- Aku juga baru tahu. - lya.
Aku lupa kalau disini pemandangannya begitu indah.
Berkat Mi-ja, kita punya kesempatan untuk reunian begini.
Tadinya kupikir kita tidak akan- ketemu lagi.
Aku merasa ada sesuatu yang harus kuselesaikan disini.
Mi-ja itu...
Selain kepribadian ibu Park yang seperti itu, ditambah lagi dia sakit.
Bagaimana Mi-ja bisa tahan dengan itu?
Dia sudah tidak sama seperti dulu lagi.
Sepertinya dia tidak bisa apa-apa tanpa Mi-ja.
Kurasa juga begitu.
Kudengar kau...
Se-ho! Myung-ho! Apa kabar kalian!
Dar-bong!
Lama tak jumpa, teman!
Hei teman-teman.
Dasar bodoh, kalian- tidak ingat suaraku?
Soon-hee?
Halo, nona-nona!
- Hi, Soon-hee - Selamat datang.
Kalian tidak berubah.
- Dimana bu Park? - Ada di dalam.
Wow, Mi-ja! Kamu cantik.
Dan kau tidak berubah.
- Mari masuk. - Baik
Bu Park. Ini aku. Soon-hee!
- Soon-hee? - Iya, Soon-hee
Bu Park...
aku benar-benar kangen!
Senang bisa bertemu denganmu.
Berat badanmu turun drastis, tapi tetapi- masih terlihat seperti dulu.
Masa?
Apa kabar? Masih ingat saya?
Tentu saja. Kau Dar-bong, kan. Kau anak yang suka olahraga itu.
Wah, saya terharu ibu masih- mengingat saya.
Masih suka bercanda, ya.
Oh, bu Park, Kapan saya pernah bercanda?
Ah, hampir saja lupa.
Semoga sehat dan panjang umur.
Kenapa kakimu?
Sepertinya ibu sudah lupa, ya.
Pernah sekali disuruh jongkok seharian, dan membuatku celaka...
ketika bermain sepak bola esok harinya.
Jongkok?
Ibu tidak ingat?
Tidak juga.
Tidak apa-apa, itu salah saya sendiri.
Saya kangen banget sama ibu.
Wow, apa ini?
Kamu mau minum itu, ya?
- Terbuat dari apa? - Buah raspberi.
Boleh nyicip?
Tentu, aku buat iseng-iseng saja. Tapi tidak ada yang minum itu disini.
Hai, kau tidak apa-apa kan kalau pulang besok saja?
Kau lupa? Ini Jung-won
Di sekolah dulu dia duduk disebelah Myung-ho.
Maksudmu, dia si pemalu?
Hei, Myung-ho! Ayo sini!
Kenapa tidak gabung dengan mereka? Kau senang bertemu mereka, kan?
Tentu saja senang. Makanya aku minum-minum begini.
- Jangan kebanyakan minum. - Semua perempuan sama saja.
Apa Jung-won sering datang kemari?
Kadang-kadang ia datang membantu mengurus rumah ini.
Dia dekat dengan bu Park?
Dia hanya menyapa ketika ia datang.
Ingat apa yang terjadi dulu?
Dia pergi keluar kelas setelah- ia buang kotoran di celananya.
Itu sudah lama sekali, dia mungkin sudah lupa.
Ibunya mengalami kecelakaan saat itu, dan dia pun berhenti sekolah.
Tidak ada yang pernah mendengar kabarnya- lagi setelah itu.
Apa menurutmu kau bisa melupakan kejadian seperti itu?
Ada apa?
Coba lihat itu.
- Ini arangnya. - Terima kasih.
Hei, Soon-hee! Kerjakan sesuatu!
Kaupikir kami ini pembantumu, apa?
Aku membantu dengan tidak melakukan apa-apa.
Kau tahu kan kalau aku ini orangnya- sembrono.
Iya kan, Mi-ja?
Kalau begitu ajak bu Park jalan-jalan.
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.