نخستین 181 خط.
Terakhir, taburkan sedikit tanaman yang ditumbuk.
Ya, silakan masuk!
Selamat pagi, Shirayuki!
Ini, aku bawa yang baru matang!
Wah, kelihatannya enak!
Aku taruh di sini, ya!
Punyaku juga sudah selesai.
Wah!
Hem, baunya enak! Begitu dimakan, pasti badanku langsung jadi segar!
Kulitmu juga akan lebih mulus!
Wah, asyik!
Kau sudah nyaman tinggal di Clarines?
Ya. Rencananya hari ini aku mau cari kerja.
Oh, semangat yang bagus.
"Siapa pun harus kerja kalau mau makan". Ya, 'kan?
Ya!
Baiklah, sampai nanti!
Terima kasih banyak!
Ini adalah Wistal, ibu kota kerajaan Clarines.
Karena warna rambut merahku tak lazim,
putra mahkota Tanbarun pun memaksaku untuk jadi selirnya,
jadi aku pergi dari kampung halamanku
dan memulai hidup baru di kerajaan seberang ini.
Tadinya aku sudah pasrah dan terima nasibku begitu saja,
tapi kemudian aku diselamatkan Zen, pangeran kedua kerajaan Clarines.
Sekarang, aku tinggal di kerajaan ini.
Tinggal di kota ini, di jalan hidup yang kuyakini.
ZainuddinAri mempersembahkan
perjumpaan yang sulit diterka
hajimari sore ha aimai
namun semua titik temu terkesan rapi
kirei ni narabetai keredo
sebenarnya ada kata yang khusus hanya untukmu
hountou ni tsutaetai kotoba dake
namun semuanya tertutup dan terbelenggu
kanamihotsurete ienai
perlahan kutarik napas
yukkuri suikomi
berdoa agar harapan baikku kan terus berlanjut
yasashii kibou ga zutto tsudzuku you ni
apa kau bisa lihat tempat ini?
mieru kana kono basho ni iru koto wo
apa tanda penunjuk di jariku bisa menuntunku padamu?
yubisaki ni egaita michishirube todoku kana
kuyakin di kala ku tertawa hari ini
watashi ha kyou wo waraeru you ni
dirimu pun kan tersenyum esok
anata ha ashita hohoende kitto
itulah harapanku
kitto ne
Cerita
Mengikuti Suara Hati
Tukang kebun, pelukis, buruh pabrik reparasi gerobak.
Kok tak ada, ya.
Kalau begitu...
Tabib herba?
Benar.
Aku mau melamar sebagai ahli herba.
Hem.
Saat ini, kami belum butuh pegawai tambahan.
Tapi, kau yang mau melamar, nih?
Jangan nilai orang dari penampilannya, tahu.
Bagaimana kalau ada pelanggan yang dengar?
Ya, ya.
Maaf, ya.
Di sini ada banyak tanaman obat langka yang tak bisa kudapatkan di rumah.
Bukan hanya itu, bahkan ada jenis tanaman yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Maaf, menunggu lama.
Apa ini yang Tuan cari?
Dia juga salah satu pelanggan di sini?
Ya. Orangnya masih muda, tapi sudah jadi ahli herba terkenal di istana.
Eh? Di istana?
Begitulah, dia ahli herba istana.
Kau pasti juga sudah tahu,
tapi hanya orang paling cerdas dan berbakat saja yang bisa jadi ahli herba resmi di istana.
Clarines termasuk kerajaan yang sangat moderat,
dan mendukung orang-orang yang punya bakat.
Hebat. Clarines sudah sangat maju dalam ilmu pengobatannya, ya.
Ini persyaratannya kalau mau jadi ahli herba istana.
Kalau bisa lulus tes yang hanya diadakan sekali tiap tahunnya,
kau bisa bekerja di Istana Wistal sebagai asisten ahli.
Ah, terima kasih banyak!
Kalau kau juga ahli herba, kenapa tak coba ikut tesnya saja?
Ya, tesnya lumayan sulit, sih.
Berhenti!
Maaf, aku mau bertemu dengan Kiki atau Mitsuhide dari unit pengamanan khusus.
Ja-Jangan-jangan, kau ini...
Mohon maaf. Kami sudah diberi tahu kalau Nona adalah tamu Pangeran Zen.
Shirayuki!
Pa-Pangeran Zen!
E-Eh, kau sedang apa di sini, Zen?
Aku sedang lemaskan badan.
Badanku bisa jadi lembek kalau duduk terus di belakang meja.
Jadi maksudnya, kau sedang kabur dari pekerjaan administrasimu?
Begitulah.
Sudah lama aku tak melihatmu belakangan ini.
Kita bertemu lagi, Shirayuki.
Pangeran Zen! Kau ada di mana?
Kau pasti ke sini karena ada perlu, 'kan, Shirayuki?
Ah, ya. Aku harus bilang padamu kalau mau pergi keluar kota, 'kan?
Makanya-
Sip! Ayo pergi!
Eh?
Kita pergi sekarang juga!
Hoi, kalian. Tolong carikan alasan dan bilang ke Mitsuhide kalau aku sedang pergi.
Ba-Baik!
Ah. Aku permisi!
Pangeran Zen! Kau ada di-
Gunung Koto?
Ya.
Itu gunung yang letaknya di balik lautan, ya?
Untuk apa kau mau pergi ke sana?
Katanya di sana ada banyak tanaman obat.
Aku mau cari persediaan tanaman sekaligus belajar lagi tentang obat-obatan,
lalu apoteker di kota berikan beberapa rekomendasi tempat yang bagus.
Oh, mau belajar lagi? Bukankah kau sudah ahli soal tanaman obat?
Memang, tapi ada banyak hal juga yang belum aku ketahui.
Aku masih harus banyak belajar!
Kalau begitu, besok kuantar keliling hutan di daerah sini, deh.
Kau mau?
Tentu.
Terima kasih!
Clarines tempat yang sangat indah, ya.
Eh?
Pemandangannya sangat memikat hati.
Merah sekali!
Bu, kenapa warnanya bisa merah begitu, sih?
Rambut kakak itu warnanya merah sekali!
Kenapa? Kok bisa?
Hus! Jangan begitu! Diam saja dan habiskan makananmu!
Dasar.
Merahnya kelihatan sedap seperti apel, 'kan?
Ya!
Jadi mau makan!
Bu, aku jadi mau makan apel!
Kita makan apel, yuk!
Ya.
Hore!
Apel! Apel! Makan apel!
Wah, ramai sekali!
Orang-orang dari kerajaan lain lalu-lalang di tempat ini.
Segala macam sifat dan budaya melebur jadi satu di sini.
Oh, ada Pangeran Zen!
Saya baru dapat sake bagus, lo. Apa Anda tertarik untuk beli lagi?
Jangan hari ini, deh. Nanti aku ke sini lagi.
Baik.
Dia kenalanmu?
Dia pedagang sake yang pernah kutemui di kota.
Sejak itu, aku selalu beli oleh-oleh untuk prajuritku darinya.
Oh.
Zen, kenapa kau selalu kabur dari istana?
Ha?
Pangeran Raj di Tanbarun selalu suruh pengawalnya
untuk bawakan apa pun yang dia mau ke dalam istana.
Dia juga selalu mengamuk kalau para pengawalnya sampai gagal.
Kita semua jadi kesal dengarnya.
Wajar saja kalau begitu.
Tadi kau bilang sendiri, kalau tempat ini sangat indah, 'kan?
Ya.
Menurutku juga begitu.
Di sini masih ada segunung keindahan yang mungkin belum sempat kudatangi.
Makanya, aku mau cari tahu dan kunjungi lebih banyak tempat lagi.
Obat yang bagus dibuat dari tanaman obat yang bagus.
Tanaman obat yang bagus hanya tumbuh di dataran yang bagus.
Aku mau belajar lebih banyak lagi tentang dataran ini,
dan juga tanaman yang tumbuh di dalamnya.
Sepertinya, kita ini punya kemiripan, ya?
Sebentar lagi kapalnya akan berangkat!
Ah, sudah waktunya naik!
Sebentar lagi kapalnya akan berangkat!
Semoga dapat tanaman yang bagus, ya!
Ya. Aku akan kembali sebelum malam!
Kau lihat rambut merahnya, 'kan?
Ya, warnanya lumayan langka.
Pasti harganya mahal kalau dijual.
Ini bisa diracik jadi obat yang bagus.
Salam kenal.
Kelihatannya kau sedang semangat, ya?
Acara kaburku hari ini lumayan seru, sih.
Baguslah.
Berarti tugas administrasinya bisa dibereskan dengan semangat yang sama, 'kan?
No comments yet. Be the first to leave one.