نخستین 200 خط.
Tanpa Takdir.
diterjemahkan oleh: D A N D E R
Banjarmasin, 21 Juni 2014
Aku pulang lebih awal hari ini.
Tadi aku minta izin pada guru...
...untuk mengizinkanku pulang lebih awal.
Kuberikan surat buatan ayah yang isinya tentang alasan keluarga.
Dia bertanya padaku alasannya.
Kubilang padanya bahwa ayah dipanggil untuk kerja paksa.
Dia mengangguk. Lalu aku langsung pulang ke toko.
Ayah bilang dia sudah menunggu.
Halo. Bagus sekali hiasanmu itu.
Kau akan melepasnya segera,
sebentar lagi penjajahan ini akan berakhir.
Apa gurumu mengizinkanmu pulang?
Ya. Kubilang bahwa ayah dipanggil untuk kerja paksa.
- Lalu? - Dia mengizinkan.
Jadi, toko ini resmi dijual, Tn. Suto.
Urusan menjadi lancar jika berbisnis denganku, Tn. Koves.
Mungkin kita harus menyingkirkan semuanya...
... sebelum pihak berwajib mengetahui bisnis ini.
Harga tak pernah setinggi ini!
Kuserahkan padamu. Aku percaya padamu.
Jadi, lebih baik menyerahkan barang-barangnya sekarang.
- Barang-barang? - Tentu, barang-barangnya!
Nanti kubuatkan kwitansinya.
Oh, ayolah, Tn. Suto... Kita tak perlu hal semacam itu.
Aku tahu kau mempercayiku, Tn. Koves,
tapi ada cara yang benar untuk melakukan sesuatu.
Benar, kan, Nyonya Koves?
Dan kita akan terus berhubungan.
Jika ada hal yang tak beres.
Kami mengandalkan bantuan dan pengalamanmu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sampai jumpa dan semoga berhasil.
Aku hanya bisa bilang, Tn. Koves...
Kita akan segera bertemu lagi.
Kuharap begitu.
Satu hal lagi yang perlu dikhawatirkan.
Bukankah kita seharusnya menerima kwitansi itu?
Itu tak berguna karena para polisi akan memeras kita nanti.
Apa kau menjual toko ini demi aku?
Aku mengerti apa maksud kalian.
Itu rahasia, mengerti?
Halo, ya, ini aku.
Maaf, aku tak mengizinkanmu menemuinya hari ini.
Aku ingin dia tetap bersamaku untuk hari ini... sebelum aku pergi.
Usiamu sudah hampir 15 tahun.
Aku tahu ayahmu bisa mengandalkanmu untuk bisa bertindak benar di hari menyedihkan ini,
Ibumu menelepon.
Tidak, tak bisa. Ini hari terakhirnya. Ibu dengar?
Tentu, senin. Benar.
Aku tak memerlukan itu lagi.
- Apa kau lapar? - Sangat.
Kenapa kau tak makan?
Aku tak bisa makan.
Jangan bersedih.
Aku akan merindukanmu.
Jaga dirimu baik-baik.
Begitu pula dengan kami.
Kami akan tetap di sini sampai kau pulang.
- Benar, kan, Gyurka? - Ya.
Teruskan makanmu.
Aku tak lapar.
- Halo. - Halo.
Jangan! Bodoh!
Bagaimana dengan malam tadi, saat serangan udara?
Ketika kita naik ke loteng? Ada suara bom.
Aku takut. Tapi kau mengambil kesempatan.
Apa kau marah?
Bisa kau ke rumahku sore ini? Main kartu.
Oh, tidak bisa.
Ayahku dipanggil untuk kerja paksa.
Aha. Kalau besok?
Kita main lusa saja. Mungkin.
Oh, sayang sekali.
Kenapa ini harus terjadi?
- Anakku. - Oh, ibu, duduklah.
- Kau akan pergi? - Banyak juga orangnya.
- Ada apa? - Biar kubilang padamu.
- Ya... - Benar, duduklah.
Ya... tapi di sana...
Ini akan baik saja. Lagipula kita belum makan.
Negosiasi rahasia sedang dilakukan.
Aku tak bisa bilang lebih dari itu.
Informasi yang dapat dipercaya.
Sama seperti taruhan balapan...
... yang selalu kau menangkan.
Sebelum Vili membuka toko taruhannya,
dia pernah menjadi pengelola bursa saham terbaik.
Jerman menyadari bahwa tak ada harapan bagi mereka di garis depan.
Mereka memanfaatkan Yahudi seperti kita
untuk mencari bantuan dari pihak sekutu.
Bagaimana dengan eksekusi masal di Polandia?
Itu lain lagi! Polandia tak sama dengan Hungaria.
Bagaimana dengan kamp Yahudi di daerah pedalaman?
Gertakan sensasional! Untuk menambah kekacauan.
Apa aku harus melaporkannya ke kamp pekerja?
Kurasa itu juga gertakan.
Tidak... aku tak menyarankannya,
tapi aku yakin kau akan segera pulang.
Untuk saat ini kita masih jadi korban pemerasan.
Negosiasinya akan segera membuahkan hasil.
Jika kau menjelaskannya sedetil mungkin,
aku takkan serugi ini!
- Aku ingin bicara denganmu. - Tentu. Nanti.
Aku ingin bicara denganmu.
- Ayahmu akan pergi besok. - Aku tahu.
Aku yakin kau juga tahu bahwa...
...masa kecil bahagiamu akan segera berakhir.
Takdirmu akan segera mengikuti takdir Yahudi lainnya.
Apa kau tahu maksud dari takdir Yahudi?
Ya, lambang bintang kuning, misalnya.
Dan masih banyak lainnya.
Ribuan tahun dianiaya tanpa belas kasih,
tapi kita hanya bisa sabar dan pasrah.
Kenapa?
Karena Tuhan melakukannya atas dosa kita,
dan hanya kepadaNya kita bisa mengharap belas kasih.
- Kau sudah berdoa untuk ayahmu? - Belum.
Aku tak mengerti atas maksud dari doa yang kita panjatkan.
Kurasa aku sering salah menyebutkannya.
Tapi setelah selesai berdoa, aku merasa...
bahwa kita sudah memberikan hal yang baik untuk ayah.
Namaku Steiner.
Selamat sore, bapak-bapak.
Tn. Steiner dan Tn. Fleischmann, tetangga kami...
Tak usah berdiri, kami hanya ingin mengucapkan selamat jalan.
Setiap sore aku mengamati perangnya,
dan aku akan menjadi bagian dari itu besok.
Tenang saja, nak, dan jangan bersedih!
Jangan khawatir, kami akan menjaga istrimu dan Gyurka.
Silakan makan lagi.
Aku tak suka daging babi!
Hanya itu yang bisa kudapat di pasar gelap.
Percayalah...
Semua ini akan segera berakhir.
Semoga Tuhan menolong kita...
untuk bisa menyatukan kita lagi di meja makan yang sama...
...dalam cinta, damai, dan kesejahteraan!
Sudah telat, Gyurka.
Aku tak mau membangunkanmu subuh tadi.
Aku akan kembali lagi nanti.
Sampai saat itu datang... jaga diri kalian.
Ibumu akan mencoba memanfaatkan kepergianku.
Mungkin dia akan berusaha menjemputmu.
Tapi kau tahu kau milik siapa.
Ibu tirimu membuatkan rumah untukmu,
tinggal saja di sana.
Kau harus tetap di sampingnya.
Aku akan menyuratimu nanti,
kau juga, Gyurka.
Nak!
Dia tiba-tiba memelukku.
Aku tak tahu kenapa aku menangis,
atau hanya karena kelelahan,
atau karena ayah menyuruhku tinggal di rumah buatan ibu tiriku,
aku sudah menyiapkan diri untuk saat-saat menyedihkan seperti ini.
Aku senang ini terjadi seperti yang seharusnya,
dan kurasa ayah juga senang.
Setelah itu dia menidurkanku.
Aku sangat lelah,
tapi kupikir setidaknya...
kami bisa mengantarnya ke kamp pekerja dan mengingat ini sebagai hari yang indah.
Perang ada di mana-mana...
Aku sendirian...
Aku merindukanmu.
Kau tahu itu keputusan ayah, bukan keputusanku.
Tapi semua ini tentangmu sekarang.
Kau menyayangiku?
Tentu saja.
Tapi kenapa kau memaksaku untuk tinggal dengan wanita itu?
Aku tak memaksa, tapi...
Cinta tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
- Kupikir kau tak sayang padaku. - Itu tak benar.
Itu menurutmu, dan ayah.
Dan aku sudah tak bisa melawan ayah lagi,
karena dia sudah ada di kamp pekerja.
Pergi sekarang.
Jam malam akan segera diwajibkan.
Itu tak berlaku untukku. Aku punya izin.
Jadi, kau akan mulai besok.
Aku senang dia punya izin.
Kau benar, sayang.
Aku tak mendengar apapun selain perang, orang-orang menghilang.
Jangan sok menjadi nabi akhir zaman!
Menghindari kenyataan juga tak ada gunanya.
Dan apa yang ditulis teman kita?
Apa yang mereka berikan?
Mereka sehat saja, dia bisa mengatasi pekerjaannya,
perlakuan mereka juga manusiawi.
Apa isi kalimat yang digarisinya itu?
Selama suratnya datang dengan rutin, tak masalah.
Setidaknya dia mengirim surat.
Bagaimana caramu pergi ke tempat kerja?
Dengan kereta lokal, kurasa?
Kau membuat anak itu kebingungan.
Kau harus naik bis.
Jadi, kereta atau bis?
- Kereta. - Bis.
No comments yet. Be the first to leave one.