نخستین 198 خط.
Biar kuperiksa satu hal.
Kau bisa kembali sekarang.
Anggap saja
semua ini adalah mimpi.
Aku akan pergi.
Itu membiru saat kau mencoba mengambilnya kembali,
lalu kembali normal?
Bagaimana itu bisa terjadi?
Bagaimana denganmu?
Warnanya langsung membiru sekaligus.
Lalu secara naluriah aku tahu
aku menjadi manusia sejak saat itu.
Lalu? Bagaimana perasaanmu?
Aku tahu itu terjadi sesaat, tapi warnanya tidak pernah berubah.
Rasanya sangat aneh bagiku.
Kurasa sedikit.
Lalu?
Ini bukan tentang aku. Dia temanku.
Pria yang tinggal bersamanya...
Biar kuperiksa satu hal.
[Tiba-tiba ingin memeriksa sesuatu, lalu memegang tangannya.]
Apa yang dia incar?
Incar apa? Ini alasanku tidak berhubungan dengan mereka yang belum berkencan.
Itu disebut mengekspresikan kasih sayang.
Menurutmu apa yang ingin dia periksa? Cinta mereka.
Bagaimanapun, temanmu menikah muda.
Dia belum menikah. Dia tinggal bersamanya.
Tapi itu bukan kasih sayang. Mereka tidak saling menyukai.
Apa? Mereka tinggal bersama meskipun tidak saling menyukai? Kenapa?
Begini... Banyak hal terjadi, jadi, akhirnya dia
- punya hal berharga dalam dirinya... - Apa?
Dia hamil?
Dia tidak hamil, tapi...
Aku...
Kau tidak tahu cara mewarnai sisa Kelereng-nya biru.
Aku harus mengawasinya untuk saat ini.
Akhirnya aku mengerti.
Kau tidak akan membiarkan sembarang manusia berada di sisimu.
Kelereng itu masuk ke tubuhnya
seolah-olah dia pemiliknya tepat sebelum 1.000 tahunmu berakhir.
Itu terjadi sesaat, tapi itu bahkan membiru.
Aku mengerti kenapa kau berpikir ini takdir.
Pokoknya, bersikap baiklah kepadanya semampumu
dan lakukan semua yang kau bisa.
Kenapa aku harus melakukan itu?
Mungkin ini kesempatan terakhirmu.
Menurut pengalamanku, manusia memancarkan
energi terbaik saat mereka bahagia.
Jadi, aku berusaha keras membuat mereka bahagia.
Apa yang kau lakukan?
Aku mengencani mereka.
Tidak ada cara lain bagi mereka untuk bisa lebih bahagia daripada itu.
Benar juga.
Berkencanlah dengannya selagi ada kesempatan.
Omong kosong.
Maksudku karena berkencan adalah cara terbaik untuk membuat mereka bahagia.
Dan tentu saja, aku tahu betapa kau benci
berpura-pura mencintai dan berada di sisi manusia.
Tapi kau tidak punya pilihan lain.
Belajarlah untuk bersabar
dan cobalah mengencaninya.
Kenapa kau bilang...
Lantas, kenapa kau memelukku?
Begini...
Maksudku, aku memikirkan alasanmu melakukan itu.
Tapi kau yang melakukan hal aneh, jadi, kenapa aku harus pusing?
Jadi, aku memutuskan untuk bertanya kepadamu.
Apa yang terjadi?
Awalnya,
aku benar-benar akan melepaskanmu.
Tapi kemudian aku tersadar
bahwa aku harus tinggal sendirian untuk mencari tahu hal ini,
dan itu membuatku merasa putus asa.
Jadi, dengan kata lain,
kita seperti terjebak di pulau terpencil,
tapi kau merasa harus membiarkanku kabur sendirian
seolah-olah satu-satunya rekanmu pergi?
Semacam itu.
Kurasa aku bisa memahami perasaanmu,
jadi, aku akan memaafkanmu.
Tapi mulai sekarang, jangan memberikan harapan palsu.
Orang-orang akan salah paham dengan perbuatanmu.
Bagaimana jika itu bukan kesalahpahaman?
Jika aku bilang ingin menjadi pacarmu, apa kau akan mengizinkanku?
Jika aku bilang ingin menjadi pacarmu,
apa kau akan mengizinkanku?
Tidak akan.
Karena aku seekor gumiho?
Kau bukan tipeku.
Tapi kenapa kau bertanya?
Aku merasa
cemas dan tidak bisa berpikir benar,
jadi, ini pasti gejala sakau.
Begitu rupanya.
Kenapa aku bilang begitu?
Itu alasan yang payah.
Mari kita menghilangkan pengar kita dahulu.
Aku tidak punya waktu. Aku harus memakai riasan.
Aku mau muntah sekarang.
Dam, kau sudah selesai?
Jika kau punya waktu, ayo makan.
Ayo.
Seon-woo, halo.
- Halo. - Hei.
Kau sudah mengurus masalah itu?
Ya, berkat kau. Terima kasih banyak.
Masalah apa?
Begini, aku...
Dia punya masalah dengan suatu proyek, jadi, aku membantunya.
Begitu rupanya, Dam.
Aku penasaran proyek apa itu. Kau tidak menanyaiku, mahasiswi terbaik,
- tapi malah mengganggunya? - Kau.
Kau tidak pergi?
Haruskah aku pergi?
Baiklah. Sampai jumpa.
Kau yakin menyukai Dam, bukan aku?
Baiklah. Aku akan pergi.
- Aku mau... - Mari makan.
Kita bilang akan makan bersama.
Benar juga. Hari ini?
Aku tidak membawa cukup uang tunai hari ini.
Aku memasukkan sebagian besar uangku ke rekening tabunganku
- dan uang sakuku... - Ayo pergi.
Apa? Aku benar-benar tidak punya uang.
[Pasta tomat, salad caesar, pasta bayam, carbonara, steik]
Seon-woo, aku sudah menegaskan bahwa aku tidak punya uang.
Aku yang bayar.
[Aku suka makan kau traktir. Carbonara untukku.]
Kalau begitu, aku pesan carbonara.
[Menolak sesuatu hanya relevan saat kita menurunkan tirai.]
- Dua carbonara. - Tentu.
Maafkan aku, Seon-woo.
Aku meminta bantuanmu, lalu membuatmu mentraktir makan juga.
Lupakan saja. Aku memang berniat begitu.
Aku ingin makan bersamamu.
Apa? Denganku?
Dia membangun dinding untuk semua pria, sama seperti arti namanya, Dam.
Itu seperti Tirai Besi. Tidak ada yang bisa lewat.
Tae-jin mencoba menggodanya,
tapi dia langsung menolaknya. Lucu sekali.
Kau membandingkanku dengan Tae-jin?
Baiklah, kau terlihat jauh lebih baik.
Tapi kalian berdua terkesan seperti bedebah.
Dam mungkin tipe orang yang menyukai karakter, bukan penampilan seseorang.
Tepat sekali.
Kurasa Gye Seon-woo pun tidak bisa mendapatkan Lee Dam.
Kenapa wajahmu seperti itu? Kau merasa percaya diri?
Lantas, mari bertaruh dan lihat apa dia akan jatuh cinta kepadamu.
Itu ide yang sangat menarik.
Mari bertaruh 100.000 won. Kau mau?
Baiklah.
Ini untukmu.
Apa kursi ini kosong? Boleh aku berbagi bukumu?
[Kami akan bertemu di gerbang belakang hari ini. Mau ikut?]
Kenapa dia melakukan ini kepadaku?
Aku hanya frustrasi melihatmu membuang-buang waktumu.
1.000 tahunmu akan segera berakhir, dan bagaimana jika kau benar-benar...
Beranikan dirimu dan ajak dia berkencan.
Aku sudah melakukannya.
Tentu saja.
Apa? Benarkah? Kau melakukannya?
Lalu? Apa katanya?
Dia tidak mau berkencan denganku.
Karena kau seekor gumiho?
Karena aku bukan tipenya.
Dahulu orang bilang gumiho memesona, tapi tidak lagi.
Bagaimanapun, maafkan aku.
Kau menerima saranku, lalu hanya mempermalukan dirimu sendiri.
Aku tidak menerima nasihatmu.
Aku tidak berniat melakukan itu, tapi dia tampak sama sekali tidak peduli,
jadi, itu terlontar begitu saja.
Ya, jangan memohon kepada gadis yang tidak mau
untuk berkencan denganmu.
Sepertinya berkencan denganmu bukan kebahagiaannya.
Benar, manusia lemah terhadap hadiah.
Kenapa kau tidak memberinya banyak hal yang dia sukai?
Jika dia suka pakaian, beri dia pakaian.
Jika dia suka aksesori,
belikan barang-baran dari berlian, emas, safir, kerang permata,
dan mutiara.
Kerang permata adalah mutiara.
Apa? Sejak kapan?
Kau sebaiknya belajar daripada mencampuri urusanku.
- Lupakan saja. - Kau takut dicambuk?
Sistem pendidikan sudah banyak berubah.
Kau tidak akan dicambuk guru seperti kita dahulu.
Kuharap kau punya keberanian untuk mendaftar kelas. Dah.
Aku tidak percaya pria ini.
Baiklah, Jagoan.
Semuanya pamer bahwa dia cendekiawan elite dari Seonggyungwan.
Sesuatu yang dia suka.
- Kau suka mengabaikan orang? - Apa?
Kubilang kami akan bertemu di gerbang belakang.
Benar juga, aku harus pulang lebih awal...
Lantas, lupakan saja hari ini.
Ayo menonton film akhir pekan ini.
Kenapa kau ingin pergi denganku?
Tidak mungkin.
No comments yet. Be the first to leave one.